4 Makna Penting Dari Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

4 Makna Penting Dari Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Memasuki bulan Rabiul Awal adalah momen yang bersejarah bagi umat Muslim sedunia. Bagaimana tidak, pada waktu tersebut, tepatnya 12 Rabiul Awal, lahirlah seorang utusan Nabi terakhir yang mengenalkan Islam ke muka bumi, yaitu lahirnya Nabi Muhammad SAW. Banyak di antara umat Muslim memperingatinya sebagai bentuk rasa cinta dan kasihnya kepada Baginda Rasulullah SAW, salah satunya adalah Yayasan Al Ma’soem yang melenggarakan Tausiyah bersama Ust. Kang Mega, putra dari Kang Ibing (Almarhum) dan dihadiri oleh seluruh civitas Al Ma’soem.

Kebiasaan-kebiasaan lain yang umum dilakukan oleh umat Muslim pada momen tersebut adalah berkumpul dan membaca Al Qur’an bersama, mendengar kisah teladan Nabi Muhammad SAW sepanjang hidupnya dan lain sebagainya. Tidak hanya berbentuk tausiyah, tetapi bisa pula melalui karya seni ataupun karya unik lainnya. Apapun caranya, itulah bentuk suka cita umat Muslim yang terus dilestarikan dari masa ke masa.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki sejarahnya tersendiri. Dalam sumber catatan Ahmad Tsauri (2015) yang berjudul Sejarah Maulid Nabi, Khaizuran (170 H/786 M) menyerukan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi, Madinah. Selanjutnya dari Madinah, Khaizuran menyambagi Makkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Makkah, namun kali ini dilakukan di rumah-rumah mereka.

Sebagai ibunda dari Khalifah al-Rasyid pada masa Dinasti Abbasiyah, Khaizuran punya pengaruh yang besar untuk menggerakan masyarakat Muslim di Arab. Langkah ini dilakukan untuk terus menginspirasi warga Arab dan umat Islam terhadap kisah, teladan dan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Sumber lain mengatakan bahwa seorang jenderal dan pejuang Muslim Kurdi dari Tikrit nan tersohor, Salahuddin Ayyubi, menghimbau umat Islam di seluruh dunia agar setiap memasuki tanggal 12 Rabiul Awal merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW secara massal.

Salahuddin percaya bahwa tradisi peryaaan maulid Nabi menjadi tradisi baik yang mampu meningkatkan semangat juang. Hari tersebut dianggap sebagai ajang syiar agama alih-alih perayaan bersifat ritual (seperti Idul Fitri dan Idul Adha). Maka mulailah Salahuddin menggunakan momen Haji untuk menyebarkan informasi tersebut kepada jama’ah Haji untuk ikut merayakan hari Maulid Nabi di kampung halaman masing-masing.

Itulah tadi sekilas tentang sejarah dari lahirnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang bisa dijadikan pembelajaran. Sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan Salahuddin, setidaknya terdapat 4 makna yang bisa didapatkan. Mari simak penjelasannya berikut!

Nilai Spiritual

Dalam peringatan Maulid Nabi, umat Muslim yang merayakan akan mulai bergairah kembali dalam beragama. Mereka akan kembali mengingat baik sejarah, ajaran maupun kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan umat muslim. Ini bisa menjadi bentuk cerminan rasa cinta dan penghormatan pula, sehingga beribadah bisa kembali khusyuk dan memulai kembali amalan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW.

Nilai Moral

Dengan mengingat kembali kisah hidup Rasulullah SAW, ini bisa menjadi alat untuk kembali melakukan perbuatan baik yang diajarkan oleh Beliau dan disenangi oleh Allah SWT. Kita sebagai umat muslim bisa mulai mempraktikan sifat-sifat terpuji dan mau mendengar nasehat dari para ulama dalam menuntut ilmu.

Nilai Sosial

Sebagai sebuah perayaan besar yang melibatkan banyak orang, peringatan maulid Nabi dapat menjadi sarana untuk bisa bersosialisasi dengan umat muslim lainnya. Bentuk bersosialisasi ini tidak hanya sekedar bertemu sapa, tetapi juga sarana beramal dengan memberikan jamuan makanan kepada peserta maupun faikir miskin yang menghadiri majilis Maulid.

Nilai Persatuan

Yang terakhir ini juga selaras dengan nilai yang dibawakan oleh Salahuddin al-Ayubi yaitu nilai persatuan. Jadi diceritakan bahwa Salahuddin sebagai panglima perang ingin mempersolid kekuatan dan persatuan pasukan Islam ketika menghadapi perang Salib di masa tersebut.

Tentunya hal ini akan berbeda maknanya di masa sekarang. Namun yang jelas, dengan berkumpul dan melatunkan shalawat+berdzikir bersama bisa menumbuhkan rasa kesatuan sebagai umat Muslim. Selain itu mendengar kisah dari Nabi Muhammad SAW dapat menyatukan pandangan dan rasa yang sama untuk terus berbuat kebaikan.

 

Penulis: Gumilar Ganda