Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Jika dilihat dari kejauhan, sebuah galaksi dapat tampak seperti kumpulan bintang yang tersusun dalam pola tertentu. Salah satu bentuk yang menarik adalah galaksi spiral, dengan lengan-lengan panjang yang mengelilingi bagian pusatnya. Bima Sakti, galaksi tempat Tata Surya berada, termasuk dalam kelompok galaksi spiral berbatang atau barred spiral galaxy.
Namun, Bima Sakti sebenarnya tidak memiliki bentuk spiral seperti pusaran air yang seluruh bagiannya berputar sebagai satu benda. Lengan spiral merupakan bagian dari struktur galaksi yang terbentuk melalui dinamika gravitasi dan pergerakan materi dalam skala sangat besar.
Karena Bumi berada di dalam Bima Sakti, manusia tidak dapat mengambil foto seluruh galaksi dari luar. Gambaran mengenai bentuknya diperoleh dengan memetakan posisi bintang, gas, debu, dan berbagai objek lain menggunakan pengamatan dari dalam galaksi. Cara astronom menyusun gambaran tersebut dapat menjadi contoh menarik bagi siswa tentang bagaimana ilmu pengetahuan bekerja ketika objek yang dipelajari tidak dapat dilihat secara langsung dari luar.
Ketika membayangkan galaksi, siswa mungkin langsung memikirkan miliaran bintang. Padahal, struktur galaksi jauh lebih kompleks.
Bima Sakti terdiri atas bintang, planet, gas, debu antarbintang, serta materi gelap yang tidak dapat dilihat secara langsung. Semua komponen tersebut dipengaruhi oleh gravitasi.
Sebagian besar bintang Bima Sakti berada di dalam struktur yang disebut cakram galaksi. Di dalam cakram tersebut terdapat lengan spiral yang menjadi wilayah dengan konsentrasi gas, debu, dan bintang tertentu yang lebih tinggi.
Di bagian tengah terdapat tonjolan pusat atau bulge, sedangkan struktur seperti batang yang memanjang di wilayah pusat menjadi salah satu alasan Bima Sakti dikategorikan sebagai galaksi spiral berbatang. Di luar struktur tersebut terdapat halo galaksi yang mencakup gugus bintang tua serta distribusi materi gelap dalam skala yang sangat luas.
Lengan spiral bukanlah barisan bintang yang terikat secara permanen seperti benda padat. Salah satu cara memahaminya adalah dengan melihat lengan spiral sebagai wilayah dengan kepadatan materi yang lebih tinggi yang bergerak melalui cakram galaksi.
Konsep ini sering dijelaskan menggunakan density wave, atau gelombang kepadatan. Ketika gelombang kepadatan bergerak melalui cakram galaksi, bintang dan awan gas dapat melewati wilayah tersebut.
Gas yang berada di wilayah dengan kepadatan lebih tinggi dapat mengalami tekanan dan pemampatan. Kondisi tersebut dapat membantu memicu pembentukan bintang baru.
Akibatnya, lengan spiral sering menjadi wilayah yang kaya akan gas, debu, dan bintang muda. Beberapa bintang yang terbentuk di sana kemudian bergerak mengikuti orbitnya sendiri mengelilingi pusat galaksi.
Bima Sakti memiliki gravitasi yang sangat besar, tetapi bintang-bintang tidak otomatis jatuh ke pusat galaksi.
Salah satu alasannya adalah bintang memiliki kecepatan gerak menyamping. Kondisi ini dapat dibandingkan dengan konsep orbit planet mengelilingi Matahari. Gravitasi menarik objek menuju pusat, sementara gerak objek membuatnya terus bergerak mengikuti lintasan.
Pada skala galaksi, situasinya jauh lebih kompleks karena bintang dipengaruhi oleh gravitasi seluruh distribusi massa galaksi, bukan hanya satu benda di pusat.
Matahari sendiri mengorbit pusat Bima Sakti dengan kecepatan yang sangat tinggi dan membutuhkan waktu sekitar 230 juta tahun untuk menyelesaikan satu putaran galaksi. Perjalanan satu kali orbit tersebut sering disebut sebagai tahun galaksi.
Tidak persis. Ini merupakan salah satu bagian yang sering disalahpahami ketika membayangkan galaksi spiral.
Bintang-bintang memiliki orbit masing-masing. Mereka tidak selalu berada di lengan spiral yang sama sepanjang hidupnya. Lengan spiral lebih tepat dipahami sebagai pola kepadatan yang dapat dilewati oleh bintang dan gas.
Bayangkan sebuah jalan raya yang mengalami kemacetan di titik tertentu. Mobil-mobil terus bergerak melewati area tersebut, tetapi kepadatan kendaraan di titik itu tetap dapat terlihat tinggi. Dalam analogi sederhana tersebut, lengan spiral lebih mirip wilayah kepadatan tinggi daripada barisan bintang yang bergerak bersama.
Tentu saja dinamika galaksi jauh lebih rumit daripada kemacetan lalu lintas. Gravitasi, kecepatan orbit, gas, pembentukan bintang, dan struktur materi gelap semuanya dapat memengaruhi bentuk serta kestabilan lengan spiral.
Bahan utama pembentukan bintang adalah awan gas dan debu yang sangat besar. Ketika kondisi tertentu menyebabkan awan tersebut mengalami keruntuhan gravitasi, bagian-bagiannya dapat membentuk bintang baru.
Lengan spiral memiliki konsentrasi gas dan debu yang relatif tinggi. Ketika materi melewati wilayah dengan kepadatan lebih besar, gas dapat mengalami pemampatan.
Proses tersebut dapat meningkatkan peluang terbentuknya bintang baru. Karena itu, lengan spiral sering terlihat lebih terang ketika diamati pada panjang gelombang tertentu yang menunjukkan keberadaan bintang muda dan gas aktif membentuk bintang.
Bintang-bintang yang sangat muda juga dapat menjadi petunjuk bagi astronom ketika memetakan struktur galaksi yang tidak bisa dilihat secara keseluruhan dari posisi Bumi.
Menentukan bentuk rumah sendiri jauh lebih sulit daripada memotret objek dari luar. Astronom tidak dapat meninggalkan Bima Sakti untuk mengambil satu foto dari jarak yang cukup jauh.
Sebagai gantinya, mereka menggabungkan berbagai jenis pengamatan. Survei bintang dapat digunakan untuk mengetahui posisi dan pergerakan objek. Pengamatan inframerah membantu melihat melalui sebagian debu yang menghalangi cahaya tampak, sementara gelombang radio dapat digunakan untuk memetakan gas tertentu yang tersebar di galaksi.
Data dari berbagai pengamatan kemudian digabungkan dengan model komputer. Dari pola distribusi bintang, gas, dan objek lainnya, astronom dapat memperkirakan struktur besar Bima Sakti.
Misi seperti Gaia juga memberikan data posisi dan gerakan dalam jumlah sangat besar sehingga pemahaman mengenai struktur Bima Sakti dapat terus diperbaiki.
Salah satu bagian paling menarik dari struktur galaksi adalah sesuatu yang tidak dapat kita lihat secara langsung: materi gelap.
Materi gelap tidak memancarkan atau memantulkan cahaya dengan cara yang dapat dideteksi teleskop biasa. Keberadaannya disimpulkan dari pengaruh gravitasi terhadap objek yang dapat diamati.
Pergerakan bintang di galaksi menunjukkan bahwa jumlah materi yang terlihat tidak cukup untuk menjelaskan seluruh efek gravitasi yang terukur. Karena itu, para ilmuwan menggunakan konsep materi gelap untuk menjelaskan sebagian besar massa tambahan yang memengaruhi dinamika galaksi.
Materi gelap diperkirakan membentuk halo luas di sekitar Bima Sakti. Struktur tersebut ikut berperan dalam lingkungan gravitasi tempat cakram galaksi berada. Namun, detail mengenai sifat sebenarnya dari materi gelap masih menjadi salah satu pertanyaan besar dalam fisika modern.
Tidak. Galaksi bukanlah struktur yang benar-benar statis.
Bintang terus terbentuk dan mati, gas berpindah, awan molekul berinteraksi, dan gravitasi terus memengaruhi pergerakan berbagai komponen. Bima Sakti juga berinteraksi dengan galaksi-galaksi lain di lingkungan sekitarnya.
Dalam skala waktu yang sangat panjang, galaksi dapat mengalami perubahan struktur. Bima Sakti diperkirakan akan mengalami interaksi besar dengan Galaksi Andromeda pada masa yang sangat jauh di masa depan.
Perubahan tersebut tidak berlangsung seperti tabrakan dua benda padat. Jarak antarbintang sangat besar sehingga interaksi galaksi lebih banyak melibatkan perubahan orbit dan struktur gravitasi dalam skala luas.
Bentuk spiral bukan sekadar pola indah di langit. Struktur tersebut memberikan informasi mengenai bagaimana materi bergerak dan bagaimana bintang terbentuk dalam sebuah galaksi.
Dengan mempelajari Bima Sakti, siswa dapat melihat hubungan antara gas, debu, bintang, gravitasi, dan materi gelap. Mereka juga dapat memahami bahwa astronomi tidak selalu bergantung pada foto langsung. Posisi, cahaya, gerakan, dan data dari berbagai instrumen dapat digabungkan untuk menyusun gambaran mengenai sesuatu yang tidak dapat dilihat secara keseluruhan.
Menariknya, manusia hidup di dalam Bima Sakti, tetapi tetap dapat mempelajari bentuk galaksi tersebut dari lingkungan sekitarnya. Dari pengamatan terhadap ribuan hingga jutaan objek, astronom perlahan menyusun peta struktur galaksi yang ukurannya jauh melampaui pengalaman sehari-hari.