Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Belajar di sekolah tidak selalu berarti menerima penjelasan dari guru kemudian mengerjakan tugas. Dalam proses pembelajaran, siswa juga perlu memiliki kesempatan untuk mencari tahu, menghubungkan informasi, dan menguji pemahamannya sendiri. Salah satu cara sederhana yang dapat membantu proses tersebut adalah bertanya. Pertanyaan yang muncul di dalam kelas menunjukkan bahwa siswa sedang berusaha memahami sesuatu, terutama ketika materi yang dipelajari memiliki bagian yang belum sepenuhnya dimengerti.
Meski terlihat sederhana, kebiasaan bertanya ternyata tidak selalu mudah bagi setiap siswa. Ada siswa yang takut pertanyaannya dianggap terlalu sederhana. Ada pula yang khawatir ditertawakan teman ketika ternyata pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang dianggap sudah umum. Kondisi seperti ini membuat sebagian siswa memilih diam meskipun sebenarnya masih memiliki kebingungan terhadap materi.
Karena itu, budaya bertanya perlu dibangun sebagai bagian dari proses pembelajaran. Kelas dapat menjadi ruang yang membuat siswa merasa bahwa bertanya bukan tanda bahwa dirinya kurang pintar. Sebaliknya, pertanyaan dapat menjadi langkah awal untuk memahami materi secara lebih mendalam dan menemukan sudut pandang baru.
Ketika siswa mengajukan pertanyaan, sebenarnya ada proses berpikir yang sedang berlangsung. Siswa perlu memperhatikan informasi yang disampaikan, menemukan bagian yang belum jelas, kemudian menyusun kalimat agar pertanyaannya dapat dipahami. Artinya, bertanya bukan sekadar aktivitas berbicara, tetapi juga membutuhkan perhatian dan pemrosesan informasi.
Contohnya, ketika guru menjelaskan suatu konsep, siswa mungkin sudah memahami pengertian dasarnya tetapi masih bingung mengenai penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan seperti “bagaimana konsep ini digunakan dalam situasi tertentu?” dapat membuka pembahasan yang lebih luas. Siswa tidak hanya mengingat definisi, tetapi mulai mencoba menghubungkan materi dengan konteks yang berbeda.
Kebiasaan seperti ini dapat membantu siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. Mereka tidak hanya menunggu penjelasan sampai selesai, tetapi ikut menentukan bagian mana yang ingin dipahami lebih jauh.
Salah satu alasan siswa enggan bertanya adalah anggapan bahwa pertanyaan harus disusun dengan sangat baik. Padahal, dalam proses belajar, siswa masih berada pada tahap membangun pemahaman. Wajar apabila pertanyaan yang disampaikan terkadang masih sederhana, belum lengkap, atau perlu diperjelas kembali.
Guru dapat membantu dengan meminta siswa menjelaskan bagian yang membuat mereka bingung. Dari jawaban siswa, guru dapat mengetahui letak kesulitan yang sebenarnya. Dengan demikian, pertanyaan sederhana pun dapat menjadi pintu masuk untuk pembahasan yang lebih jelas.
Lingkungan kelas yang terbuka juga membuat siswa lebih nyaman untuk mencoba. Ketika siswa mengetahui bahwa pertanyaan tidak langsung dianggap sebagai kesalahan, mereka memiliki keberanian yang lebih besar untuk menyampaikan rasa ingin tahu. Hal tersebut dapat membantu membangun suasana pembelajaran yang lebih interaktif.
Seiring bertambahnya pengalaman belajar, siswa dapat dilatih untuk membuat pertanyaan yang semakin terarah. Tidak semua pertanyaan harus panjang. Yang lebih penting adalah siswa mengetahui informasi apa yang sebenarnya ingin dicari.
Beberapa cara yang dapat digunakan siswa untuk mengembangkan pertanyaan antara lain:
Pertanyaan seperti “apa”, “mengapa”, “bagaimana”, dan “bagaimana jika” dapat membawa siswa pada jenis pemahaman yang berbeda. Semakin sering digunakan dalam pembelajaran, siswa dapat mulai membedakan pertanyaan yang hanya membutuhkan informasi dasar dengan pertanyaan yang mendorong mereka menganalisis sebuah persoalan.
Guru memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang membuat siswa berani bertanya. Respons terhadap pertanyaan dapat menentukan apakah siswa akan kembali bertanya pada kesempatan berikutnya. Ketika pertanyaan diterima dengan serius dan dijawab secara jelas, siswa akan merasa bahwa rasa ingin tahunya memiliki tempat di dalam kelas.
Guru juga dapat memberikan waktu khusus bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan setelah menjelaskan materi. Cara sederhana ini memberikan kesempatan bagi siswa yang membutuhkan waktu untuk menyusun pertanyaan. Tidak semua siswa dapat langsung berbicara ketika penjelasan baru selesai, sehingga ruang untuk berpikir beberapa saat dapat membantu.
Di sekolah Al Ma’soem Bandung, kegiatan pembelajaran dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu melalui diskusi, tugas, presentasi, maupun kegiatan akademik lainnya. Ketika siswa terbiasa mengajukan pertanyaan, proses belajar dapat berjalan secara dua arah. Guru menyampaikan materi, sementara siswa memberikan respons melalui pertanyaan dan pemikiran yang mereka miliki.
Kemampuan bertanya tidak hanya berguna ketika siswa tidak memahami pelajaran. Dalam kehidupan sehari-hari, bertanya dapat membantu seseorang memeriksa informasi sebelum langsung mempercayainya. Ketika menemukan suatu pernyataan, siswa dapat belajar mempertanyakan sumber, alasan, bukti, atau konteks dari informasi tersebut.
Misalnya, ketika memperoleh informasi dari internet, siswa dapat bertanya dari mana informasi tersebut berasal dan apakah terdapat sumber lain yang mendukungnya. Kebiasaan tersebut membuat siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga belajar memeriksa informasi secara lebih kritis.
Hal ini menjadi semakin penting karena siswa hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Berbagai informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik, tetapi tidak semuanya memiliki kualitas yang sama. Kemampuan bertanya dapat menjadi salah satu langkah awal untuk membangun kebiasaan berpikir secara lebih hati-hati.
Sebuah pertanyaan yang muncul dari satu siswa terkadang dapat berkembang menjadi pembahasan yang melibatkan seluruh kelas. Ketika guru melemparkan kembali pertanyaan tersebut kepada siswa lain, mereka mendapatkan kesempatan untuk memberikan pendapat berdasarkan pemahaman masing-masing.
Proses seperti ini membuat kelas menjadi lebih dinamis. Siswa tidak hanya mendengar jawaban dari guru, tetapi juga dapat melihat bahwa sebuah persoalan mungkin memiliki lebih dari satu sudut pandang. Perbedaan jawaban kemudian dapat dibahas berdasarkan alasan dan informasi yang tersedia.
Diskusi tersebut juga mengajarkan siswa untuk mendengarkan. Ketika teman menyampaikan jawaban berbeda, siswa perlu memperhatikan penjelasannya sebelum memberikan tanggapan. Dengan begitu, budaya bertanya dapat berkembang menjadi budaya belajar yang mencakup bertanya, mendengarkan, menjelaskan, dan menanggapi.
Siswa yang belum terbiasa bertanya tidak harus langsung aktif dalam setiap pembelajaran. Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari langkah kecil. Misalnya, siswa dapat mencatat bagian yang belum dipahami selama guru menjelaskan, kemudian memilih satu pertanyaan untuk disampaikan ketika sesi diskusi dibuka.
Cara lain adalah menuliskan pertanyaan terlebih dahulu sebelum mengucapkannya. Dengan begitu, siswa memiliki waktu untuk menyusun kalimat dan menentukan informasi apa yang ingin diketahui. Jika pertanyaan masih terasa kurang jelas, siswa dapat meminta bantuan guru untuk mengarahkannya.
Siswa juga dapat memperhatikan pertanyaan yang diajukan oleh teman. Dari sana, mereka dapat belajar bahwa setiap orang memiliki rasa ingin tahu yang berbeda. Pertanyaan teman bahkan bisa membantu siswa menemukan bagian materi yang sebelumnya belum terpikirkan.
Sekolah dapat menjadi tempat yang tepat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu karena siswa berhadapan dengan banyak bidang pengetahuan. Setiap mata pelajaran memiliki konsep, persoalan, dan cara berpikir yang berbeda. Dengan membiasakan diri bertanya, siswa mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi materi lebih jauh daripada sekadar menghafal informasi.
Pada akhirnya, keberanian bertanya tidak harus diukur dari seberapa sering seorang siswa berbicara di depan kelas. Yang lebih penting adalah adanya kemauan untuk mencari pemahaman ketika menemukan sesuatu yang belum jelas. Siswa dapat belajar bahwa tidak mengetahui suatu hal bukanlah akhir dari proses belajar. Justru dari ketidaktahuan tersebut dapat muncul pertanyaan, pencarian informasi, diskusi, dan pemahaman baru.
Kebiasaan bertanya yang dibangun sejak sekolah juga dapat membantu siswa menjadi pembelajar yang lebih aktif. Mereka terbiasa mencari alasan, memahami proses, menghubungkan informasi, dan tidak takut mengakui ketika ada bagian yang belum dimengerti. Dari ruang kelas yang memberi tempat bagi pertanyaan, siswa dapat belajar bahwa rasa ingin tahu merupakan bagian penting dari perjalanan pendidikan.