Images (2)

Mengapa Siswa SMP Perlu Belajar Tidak Menunda Pekerjaan Sekolah?

Menunda pekerjaan sekolah merupakan kebiasaan yang cukup mudah terjadi pada siswa SMP. Ketika mendapatkan tugas dengan batas pengumpulan yang masih beberapa hari lagi, siswa mungkin merasa masih memiliki banyak waktu sehingga memilih mengerjakannya nanti. Pada awalnya, keputusan tersebut terlihat tidak terlalu bermasalah. Namun, ketika kebiasaan menunda dilakukan berulang kali, tugas dapat menumpuk dan akhirnya harus dikerjakan dalam waktu yang sangat terbatas. Kondisi tersebut bukan hanya membuat siswa terburu-buru, tetapi juga dapat mengurangi kesempatan untuk memahami materi dan memeriksa kembali hasil pekerjaan.

Masa SMP menjadi periode yang tepat untuk mulai membangun kebiasaan mengerjakan tanggung jawab secara lebih teratur. Siswa tidak harus langsung memiliki jadwal belajar yang sangat ketat. Hal yang lebih penting adalah memahami bahwa memulai pekerjaan lebih awal dapat membuat proses belajar terasa lebih ringan. Kebiasaan tersebut juga membantu siswa mengenali bahwa waktu yang tersedia perlu digunakan dengan pertimbangan, terutama ketika terdapat beberapa tugas dan kegiatan sekolah yang berjalan bersamaan.

Mengapa Siswa Sering Menunda Tugas?

Ada berbagai alasan yang membuat siswa menunda pekerjaan. Terkadang tugas terlihat terlalu sulit sehingga siswa tidak tahu harus mulai dari mana. Pada kondisi lain, tugas dianggap membosankan sehingga siswa memilih melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan. Ada pula siswa yang merasa lebih nyaman bekerja ketika tenggat waktu sudah dekat karena tekanan waktu membuat mereka merasa lebih terdorong.

Masalahnya, cara tersebut tidak selalu menghasilkan pekerjaan yang maksimal. Ketika tugas baru dikerjakan beberapa jam sebelum dikumpulkan, siswa memiliki lebih sedikit waktu untuk memahami instruksi, mencari informasi, memperbaiki kesalahan, atau meminta bantuan apabila menemukan bagian yang belum dipahami. Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan baik justru dikerjakan secara terburu-buru.

Menunda juga dapat menjadi kebiasaan karena siswa terbiasa mengatakan bahwa pekerjaan tersebut masih bisa dilakukan nanti. Karena itu, mengatasi kebiasaan menunda bukan sekadar menyuruh siswa menjadi lebih rajin. Siswa perlu memahami penyebab dirinya menunda dan menemukan cara sederhana untuk mulai bergerak.

Memulai dari Bagian yang Paling Mudah

Salah satu cara sederhana untuk mengurangi kebiasaan menunda adalah memulai dari bagian tugas yang paling mudah. Siswa tidak selalu harus langsung menyelesaikan pekerjaan dalam satu waktu. Ketika tugas terasa besar, langkah pertama dapat dibuat sesederhana mungkin.

Misalnya, siswa mendapatkan tugas membuat laporan. Daripada langsung memikirkan seluruh isi laporan, siswa dapat memulai dengan membaca instruksi dan menentukan tema. Setelah itu, ia dapat membuat daftar informasi yang perlu dicari. Beberapa langkah kecil tersebut sudah termasuk kemajuan karena pekerjaan yang sebelumnya belum disentuh mulai memiliki bentuk.

Memulai dari bagian yang mudah juga dapat mengurangi rasa berat ketika melihat tugas. Setelah satu bagian selesai, siswa biasanya lebih mudah memahami langkah berikutnya. Dari sini, siswa dapat belajar bahwa pekerjaan besar tidak selalu harus diselesaikan sekaligus.

Membuat Batas Waktu untuk Diri Sendiri

Tenggat yang diberikan guru bukan satu-satunya batas waktu yang dapat digunakan siswa. Siswa juga dapat membuat target pribadi sebelum batas pengumpulan sebenarnya. Misalnya, jika tugas harus dikumpulkan pada hari Jumat, siswa dapat menargetkan pekerjaan utama selesai pada Rabu sehingga Kamis dapat digunakan untuk pemeriksaan dan perbaikan.

Cara tersebut memberikan ruang apabila terjadi kendala. Jika ternyata siswa membutuhkan informasi tambahan atau mengalami kesulitan pada bagian tertentu, masih tersedia waktu untuk mencari solusi. Sebaliknya, jika seluruh pekerjaan baru dimulai pada hari pengumpulan, pilihan untuk memperbaiki kesalahan menjadi jauh lebih terbatas.

Target pribadi tidak harus terlalu rumit. Siswa dapat menggunakan kalender, catatan kecil, atau daftar tugas untuk mencatat kapan pekerjaan harus dimulai dan kapan sebaiknya selesai. Yang paling penting adalah target tersebut realistis dan dapat dijalankan.

Membuat Daftar Pekerjaan agar Tidak Mudah Lupa

Ketika tugas mulai banyak, mengandalkan ingatan saja dapat membuat siswa lupa terhadap pekerjaan tertentu. Karena itu, membuat daftar tugas dapat menjadi kebiasaan sederhana yang membantu mengurangi penundaan.

Daftar tersebut dapat berisi nama tugas, mata pelajaran, batas pengumpulan, dan status pengerjaan. Siswa dapat memberikan tanda ketika tugas sudah dimulai, sedang dikerjakan, atau selesai. Dengan melihat daftar secara rutin, siswa dapat mengetahui pekerjaan apa yang harus diperhatikan.

Contohnya:

  • Tugas matematika — latihan soal.
  • Bahasa Indonesia — membaca materi.
  • IPA — laporan praktikum.
  • Bahasa Inggris — latihan presentasi.
  • Proyek kelompok — menyelesaikan bagian masing-masing.

Daftar seperti ini membuat tugas yang ada di dalam pikiran menjadi lebih terlihat. Siswa tidak perlu terus-menerus mengingat semuanya sekaligus sehingga dapat lebih mudah menentukan pekerjaan yang harus dilakukan terlebih dahulu.

Mengurangi Gangguan Ketika Mulai Mengerjakan

Kadang-kadang masalah menunda bukan karena siswa tidak ingin mengerjakan tugas, melainkan karena terlalu banyak gangguan. Ponsel, media sosial, permainan, video, atau percakapan dengan teman dapat membuat waktu pengerjaan menjadi lebih panjang tanpa disadari.

Karena itu, siswa perlu belajar menciptakan kondisi yang mendukung ketika akan mulai belajar. Tidak harus selalu berada di ruangan yang benar-benar sunyi. Yang lebih penting adalah mengurangi gangguan yang membuat perhatian terus berpindah.

Sebelum mulai mengerjakan, siswa dapat menyiapkan buku dan alat yang diperlukan, menentukan pekerjaan yang akan diselesaikan, kemudian menyimpan hal-hal yang tidak berkaitan dengan tugas. Setelah satu bagian selesai, siswa dapat mengambil jeda. Dengan pola seperti ini, kegiatan belajar menjadi lebih terarah daripada terus berpindah antara tugas dan hiburan.

Sekolah Dapat Membantu Membentuk Kebiasaan Tepat Waktu

Kebiasaan tidak menunda tidak hanya dibentuk melalui nasihat. Lingkungan sekolah juga dapat menjadi tempat siswa berlatih mengatur pekerjaan. Tugas dengan batas waktu, proyek bertahap, presentasi, praktik, dan berbagai kegiatan sekolah memberikan pengalaman kepada siswa untuk mengatur proses pengerjaan.

Di SMP Al Ma’soem Bandung, siswa mengikuti pembelajaran dengan berbagai aktivitas yang tidak hanya berpusat pada satu bentuk kegiatan. Keberagaman aktivitas tersebut dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar menyesuaikan cara mengatur pekerjaannya. Ketika terdapat tugas akademik dan kegiatan lain dalam waktu yang berdekatan, siswa perlu mulai memahami mana pekerjaan yang harus dipersiapkan lebih awal.

Peran guru juga penting dalam membantu siswa memahami tenggat. Guru dapat memberikan instruksi yang jelas mengenai pekerjaan yang harus dilakukan dan waktu pengumpulannya. Dari pengalaman tersebut, siswa dapat belajar bahwa deadline bukan sekadar tanggal terakhir, tetapi bagian dari proses mengatur tanggung jawab.

Mengubah Pola “Nanti” Menjadi “Mulai Sekarang”

Perubahan kebiasaan dapat dimulai dari kalimat yang sederhana. Ketika siswa berpikir, “Nanti saja,” mereka dapat mencoba menggantinya dengan, “Apa satu hal kecil yang bisa saya kerjakan sekarang?” Pertanyaan tersebut membuat pekerjaan terasa lebih konkret.

Jika tugasnya membaca beberapa halaman, siswa dapat memulai dari beberapa halaman pertama. Jika harus membuat presentasi, siswa dapat membuka dokumen dan menulis judulnya terlebih dahulu. Jika ada latihan soal, siswa dapat mengerjakan beberapa nomor awal. Langkah kecil tersebut jauh lebih bermanfaat daripada terus memikirkan pekerjaan tanpa benar-benar memulainya.

Semakin sering siswa mempraktikkan pola tersebut, semakin mudah bagi mereka untuk memulai pekerjaan. Tujuannya bukan membuat siswa selalu bekerja tanpa istirahat, melainkan membantu mereka menghindari kebiasaan menunggu sampai tekanan menjadi terlalu besar.

Menunda Bukan Berarti Malas

Penting juga bagi orang tua dan guru untuk tidak langsung memberikan label “malas” ketika siswa menunda pekerjaan. Kebiasaan tersebut dapat muncul karena berbagai penyebab, termasuk tugas yang terasa sulit, kurang memahami instruksi, tidak tahu cara memulai, atau kesulitan mengatur beberapa tanggung jawab sekaligus.

Pendekatan yang lebih membantu adalah mencari tahu bagian mana yang membuat siswa berhenti. Jika masalahnya adalah tugas terlalu besar, pekerjaan dapat dibagi menjadi beberapa tahap. Jika siswa tidak memahami materi, ia dapat diarahkan untuk bertanya. Jika terlalu banyak tugas, siswa dapat dibantu membuat urutan prioritas.

Dengan memahami penyebabnya, siswa dapat belajar menyelesaikan masalah yang sebenarnya, bukan sekadar merasa bersalah karena belum mengerjakan tugas. Hal ini penting agar perubahan kebiasaan muncul dari kesadaran, bukan hanya karena takut dimarahi.

Kebiasaan Kecil yang Bisa Dilatih Setiap Hari

Tidak menunda pekerjaan sekolah dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Siswa tidak harus mengubah seluruh rutinitas dalam satu hari. Beberapa kebiasaan berikut dapat menjadi latihan:

  • Mencatat setiap tugas setelah diberikan.
  • Membaca instruksi sebelum menentukan kapan akan mengerjakannya.
  • Memulai tugas sesegera mungkin meskipun hanya sebagian.
  • Membagi tugas besar menjadi beberapa bagian.
  • Menentukan target selesai sebelum deadline.
  • Menghindari gangguan selama waktu pengerjaan.
  • Memeriksa kembali pekerjaan sebelum dikumpulkan.

Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat membantu siswa memiliki pola kerja yang lebih teratur. Seiring waktu, siswa dapat mulai mengenali sendiri kapan dirinya cenderung menunda dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

Belajar Menghargai Waktu yang Dimiliki

Pada akhirnya, belajar tidak menunda pekerjaan merupakan bagian dari belajar menghargai waktu. Siswa memiliki waktu yang terbatas dalam satu hari, sementara tanggung jawab sekolah dapat terus bertambah. Jika seluruh pekerjaan ditunda sampai mendekati deadline, waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk belajar dengan tenang justru berubah menjadi waktu mengejar tugas.

Sebaliknya, ketika siswa mulai mengerjakan pekerjaan lebih awal, mereka memiliki kesempatan untuk memahami materi secara lebih baik. Mereka juga memiliki ruang untuk melakukan kesalahan, mencari bantuan, memperbaiki hasil, dan beristirahat tanpa terus memikirkan tugas yang belum selesai.

Kebiasaan tersebut tidak harus sempurna sejak awal. Ada kalanya siswa tetap terlambat atau lupa mengerjakan sesuatu. Yang penting adalah menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi. Dengan latihan yang konsisten, siswa SMP dapat perlahan membangun cara belajar yang lebih teratur, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang mereka miliki.