Participants raising hand at seminar

Bagaimana Cara Membentuk Kebiasaan Bertanya Aktif di Kelas bagi Siswa SMP?

Kegiatan belajar di kelas bukan hanya tentang mendengarkan penjelasan guru dan mencatat materi. Siswa juga perlu terlibat secara aktif agar benar-benar memahami apa yang sedang dipelajari. Salah satu bentuk keterlibatan tersebut adalah berani mengajukan pertanyaan ketika menemukan materi yang belum dipahami.

Namun, tidak semua siswa terbiasa bertanya. Sebagian mungkin merasa malu karena takut pertanyaannya dianggap terlalu sederhana. Ada juga yang khawatir teman-temannya akan menertawakan ketika jawabannya ternyata sudah dijelaskan sebelumnya. Padahal, pertanyaan merupakan bagian penting dari proses belajar karena menunjukkan bahwa siswa sedang berusaha memahami sesuatu secara lebih mendalam.

Mengapa Bertanya Penting dalam Proses Belajar?

Ketika guru menjelaskan materi, setiap siswa memiliki tingkat pemahaman yang berbeda. Ada yang langsung mengerti setelah mendengarkan penjelasan, sementara siswa lain membutuhkan contoh tambahan atau penjelasan dengan cara yang berbeda.

Jika siswa memilih diam ketika belum memahami materi, kebingungan tersebut dapat terbawa ke pelajaran berikutnya. Hal ini terutama terjadi pada mata pelajaran yang materinya saling berkaitan. Kesulitan memahami satu konsep dasar dapat membuat materi selanjutnya terasa semakin sulit.

Dengan bertanya, siswa memiliki kesempatan untuk mendapatkan penjelasan yang lebih sesuai dengan bagian yang belum dipahami. Pertanyaan membantu mengubah proses belajar dari sekadar menerima informasi menjadi proses mencari pemahaman.

Bertanya juga dapat membantu guru mengetahui bagian materi yang masih membingungkan bagi siswa. Ketika ternyata banyak siswa memiliki pertanyaan yang sama, guru dapat memberikan penjelasan tambahan sebelum melanjutkan ke pembahasan berikutnya.

Tidak Ada Pertanyaan yang Terlalu Sederhana

Salah satu hambatan terbesar siswa untuk bertanya adalah rasa takut dianggap tidak pintar. Padahal, setiap orang memiliki bagian materi yang berbeda-beda untuk dipahami. Sesuatu yang sederhana bagi satu siswa belum tentu sederhana bagi siswa lainnya.

Misalnya, dalam pelajaran matematika, seorang siswa mungkin memahami cara menggunakan sebuah rumus, tetapi belum mengerti mengapa rumus tersebut dapat digunakan. Pertanyaan mengenai alasan tersebut justru dapat membantu siswa mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.

Guru dan teman sekelas juga perlu menciptakan suasana yang tidak membuat siswa takut bertanya. Kelas yang sehat bukan kelas yang tidak memiliki pertanyaan, tetapi kelas yang memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya dan berdiskusi.

Bagaimana Cara Mengatasi Rasa Malu?

Rasa malu ketika ingin bertanya sebenarnya cukup normal, terutama bagi siswa yang belum terbiasa berbicara di depan banyak orang. Karena itu, siswa tidak harus langsung memaksakan diri mengajukan pertanyaan yang panjang atau rumit.

Siswa dapat memulainya dari pertanyaan sederhana yang memang berkaitan dengan materi. Setelah beberapa kali mencoba, rasa gugup biasanya dapat berkurang karena siswa mulai terbiasa mendapatkan perhatian ketika berbicara di depan kelas.

Jika masih merasa terlalu gugup, siswa dapat terlebih dahulu mencatat pertanyaannya di buku. Setelah itu, pertanyaan tersebut dapat disampaikan kepada guru ketika ada kesempatan. Cara bertahap seperti ini dapat membantu membangun keberanian tanpa membuat siswa merasa terlalu tertekan.

Pertanyaan yang Baik Tidak Harus Sulit

Bertanya aktif bukan berarti siswa harus selalu mengajukan pertanyaan yang rumit. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang membantu memperjelas atau memperdalam pemahaman.

Beberapa bentuk pertanyaan yang dapat digunakan siswa antara lain:

  • Pertanyaan klarifikasi: “Apa maksud dari istilah tersebut?”
  • Pertanyaan sebab-akibat: “Mengapa hal tersebut bisa terjadi?”
  • Pertanyaan penerapan: “Apakah konsep ini bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari?”
  • Pertanyaan perbandingan: “Apa perbedaan antara kedua konsep tersebut?”
  • Pertanyaan lanjutan: “Kalau kondisi tersebut berubah, apakah hasilnya juga akan berbeda?”

Dengan mengenal beberapa bentuk pertanyaan, siswa tidak perlu bingung setiap kali ingin berbicara. Mereka dapat memilih jenis pertanyaan sesuai dengan bagian materi yang sedang dipelajari.

Mendengarkan Juga Bagian dari Kebiasaan Bertanya

Siswa yang aktif bertanya tetap perlu menjadi pendengar yang baik. Jangan sampai siswa mengajukan pertanyaan tanpa memperhatikan penjelasan guru atau teman yang sedang berbicara.

Mendengarkan dengan baik membantu siswa mengetahui apakah pertanyaannya sudah pernah dijelaskan. Selain itu, ketika teman mengajukan pertanyaan, jawabannya mungkin justru menjelaskan sesuatu yang sebelumnya belum dipahami oleh siswa lain.

Kebiasaan mendengarkan dan bertanya sebenarnya saling berkaitan. Semakin baik siswa memperhatikan penjelasan, semakin besar kemungkinan mereka menemukan bagian yang menarik untuk ditanyakan.

Guru Dapat Membangun Budaya Bertanya

Guru memiliki peran besar dalam membentuk suasana kelas yang mendorong siswa untuk aktif bertanya. Salah satu caranya adalah dengan tidak langsung menilai pertanyaan berdasarkan mudah atau sulitnya.

Guru dapat memberikan respons yang membuat siswa merasa pertanyaannya dihargai. Bahkan jika jawabannya sudah terdapat dalam penjelasan sebelumnya, guru dapat mengarahkan siswa untuk menemukan kembali informasi tersebut tanpa mempermalukannya.

Selain itu, guru dapat menyediakan sesi khusus untuk pertanyaan. Misalnya, setelah menyampaikan satu materi, guru memberikan beberapa menit kepada siswa untuk menuliskan hal yang masih membingungkan. Cara tersebut dapat membantu siswa yang belum percaya diri berbicara secara spontan.

Pembelajaran yang Interaktif Membantu Siswa Lebih Berani

Suasana belajar yang interaktif juga dapat membuat kebiasaan bertanya berkembang secara alami. Diskusi kelompok, presentasi, praktik, proyek, dan sesi tanya jawab memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk menyampaikan rasa ingin tahu.

Ketika siswa terbiasa berdiskusi, mereka tidak hanya belajar mengajukan pertanyaan kepada guru, tetapi juga belajar menanggapi pertanyaan teman. Hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan komunikasi sekaligus memperluas sudut pandang.

Berbagai aktivitas pembelajaran di lingkungan SMP Al Ma’soem Bandung dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk melatih keterlibatan tersebut. Semakin sering siswa diberikan ruang untuk berbicara dan berdiskusi, semakin besar kemungkinan mereka terbiasa menyampaikan hal-hal yang belum dipahami.

Orang Tua Bisa Melatih Anak Bertanya di Rumah

Kebiasaan bertanya tidak hanya dapat dibentuk di sekolah. Orang tua juga dapat menciptakan suasana di rumah yang membuat anak merasa nyaman mengungkapkan rasa ingin tahunya.

Ketika anak bertanya mengenai sesuatu, orang tua tidak harus selalu memberikan jawaban secara langsung. Sesekali, orang tua dapat mengajak anak mencari jawabannya bersama atau menanyakan pendapat anak terlebih dahulu.

Misalnya, ketika anak bertanya mengapa suatu peristiwa dapat terjadi, orang tua dapat mengatakan, “Menurut kamu, apa penyebabnya?” Dari percakapan sederhana tersebut, anak belajar bahwa bertanya dapat menjadi awal dari proses berpikir, bukan sekadar cara mendapatkan jawaban.

Manfaat Bertanya Tidak Hanya untuk Nilai

Kebiasaan bertanya dapat memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar membantu mendapatkan nilai yang lebih baik. Siswa belajar mengungkapkan rasa ingin tahu, menyampaikan pemikiran, mendengarkan jawaban, dan mengevaluasi informasi yang diterima.

Kemampuan tersebut juga dapat membantu siswa ketika bekerja dalam kelompok. Ketika ada sesuatu yang belum jelas dalam pembagian tugas, siswa yang terbiasa bertanya akan lebih mungkin meminta penjelasan daripada membuat asumsi sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, kemampuan bertanya menjadi penting. Seseorang tidak mungkin mengetahui semua hal. Dengan berani bertanya kepada orang yang lebih memahami, siswa dapat memperoleh informasi sekaligus belajar menghargai pengetahuan orang lain.

Bagaimana Jika Pertanyaan Siswa Tidak Langsung Terjawab?

Tidak semua pertanyaan dapat langsung dijawab. Ada pertanyaan yang membutuhkan pencarian informasi lebih lanjut, terutama jika berkaitan dengan topik yang luas atau membutuhkan contoh tambahan.

Situasi tersebut justru dapat menjadi pengalaman belajar yang menarik. Guru dapat mengajak siswa mencari informasi bersama atau memberikan sumber yang dapat digunakan untuk menemukan jawabannya.

Siswa juga dapat belajar bahwa tidak mendapatkan jawaban secara instan bukan berarti pertanyaannya tidak penting. Terkadang, proses mencari jawaban justru memberikan pemahaman yang lebih mendalam daripada sekadar menerima jawaban jadi.

Membentuk Kebiasaan dari Hal-Hal Kecil

Tidak semua siswa akan langsung berubah menjadi aktif bertanya dalam satu hari. Kebiasaan tersebut perlu dibangun secara bertahap. Siswa dapat menetapkan target sederhana, misalnya berusaha mengajukan satu pertanyaan ketika benar-benar menemukan bagian materi yang belum dipahami.

Setelah terbiasa, siswa dapat mulai memperhatikan jenis pertanyaan yang membuatnya semakin memahami materi. Dari sana, kemampuan berpikirnya dapat berkembang karena ia tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga mulai mempertanyakan alasan, hubungan, dan penerapan dari suatu informasi.

Pada akhirnya, keberanian bertanya merupakan salah satu bentuk keberanian untuk belajar. Siswa tidak perlu takut terlihat belum mengetahui sesuatu, karena sekolah memang menjadi tempat untuk mengetahui hal-hal yang sebelumnya belum mereka pahami. Dengan dukungan guru, teman, dan keluarga, kebiasaan bertanya dapat tumbuh menjadi budaya belajar yang membuat siswa lebih aktif, kritis, dan percaya diri dalam mengikuti proses pendidikan.