Kisah Para Nabi Adalah Pelajaran bagi Orang yang Berakal dan Petunjuk Bagi Orang yang Beriman

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

لَـقَدْ  كَا نَ  فِيْ  قَصَصِهِمْ  عِبْرَةٌ  لِّاُولِى  الْاَ  لْبَا بِ  ۗ مَا  كَا نَ  حَدِيْثًا  يُّفْتَـرٰ ى  وَلٰـكِنْ  تَصْدِيْقَ  الَّذِيْ  بَيْنَ  يَدَيْهِ  وَتَفْصِيْلَ  كُلِّ  شَيْءٍ  وَّهُدًى  وَّرَحْمَةً  لِّـقَوْمٍ  يُّؤْمِنُوْنَ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf 12: Ayat 111)

Kisah para nabi adalah pelajaran bagi orang yang berakal dan petunjuk bagi orang yang beriman

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Sebagai penutup Surah Yusuf, Allah kembali mengingatkan bahwa pada kisah para nabi dan rasul, termasuk kisah Nabi Yusuf, terkandung pesan-pesan untuk dipelajari dan dihayati manusia. Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. Kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat atau sekadar dongeng pelipur lara, tetapi kisah-kisah itu membenarkan kandungan kitab-kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat, Zabur, dan Injil, yang menjelaskan segala sesuatu tentang prinsip-prinsip nilai yang dibutuhkan manusia guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebagai petunjuk menuju jalan lurus dan rahmat yang penuh berkah bagi orang-orang yang beriman

Kisah para nabi jelas dan nyata, tidak semua orang mengambil pelajaran. Berikut beberapa tadabbur yang bisa direnungkan:

1. Karena hati tidak siap menerima kebenaran; Pelajaran bukan hanya soal informasi, tapi soal kesiapan hati. Orang yang hatinya tertutup oleh kesombongan atau hawa nafsu, kisah sebesar apa pun tidak akan mengubahnya. Bukan kurangnya bukti, tapi kurangnya kerendahan hati.

2. Karena hanya membaca, tidak merenung; QS Yusuf:111 menyebut: “‘ibrah li ulil albab” (pelajaran bagi orang berakal). Artinya perlu akal yang aktif dan hati yang hadir, bukan sekadar tahu ceritanya. Banyak orang hafal kisah Nabi Yusuf, tapi tidak meneladani:
– kesabarannya,
– penjagaan diri dari maksiat,
– tawakal saat dizalimi.
– tetap tawadhu pada saat punya kekuasaan

3. Karena lebih mengikuti hawa nafsu daripada petunjuk; Kisah para nabi sering menuntut perubahan. Dan perubahan itu berat. Maka sebagian orang lebih memilih nyaman dalam kebiasaan lama.

4. Karena hidayah adalah karunia Allah; Sejelas apa pun kisah itu, hidayah tetap milik Allah. Yang mau membuka diri, Allah tambah petunjuknya. Yang menolak, Allah biarkan dalam pilihannya.

Refleksi untuk diri kita. Pertanyaannya bukan lagi: “Kenapa orang lain tidak mengambil pelajaran?”

Tapi:
“Apakah saya sudah benar-benar mengambil pelajaran?”
– Saat dizalimi, apakah saya sabar seperti Yusuf?
– Saat diuji godaan, apakah saya menjaga diri?
– Saat berhasil, apakah saya tetap tawadhu’?

Intinya, kisah para nabi tidak kurang jelas, yang sering kurang adalah kesungguhan hati kita untuk berubah.
Alhamdulillah QS Yusuf selesai, 111 hari tidak terasa dan usia kita berkurang. Doa Mengambil ‘Ibrah dari Surah Yusuf

Allāhumma yā Mu‘allimal-kitāb, ajarkanlah kami hikmah dari setiap kisah yang Engkau turunkan.

“Yā Allāh, jadikanlah kami termasuk ulul albāb yang mampu mengambil ‘ibrah, bukan hanya membaca kisah, tetapi meneladani kesabaran, keteguhan, dan keikhlasan para nabi.

Sebagaimana Engkau menjaga Nabi Yusuf dalam kesendirian dan godaan, jagalah hati kami dari maksiat dan tipu daya dunia.

Sebagaimana Engkau muliakan beliau setelah ujian panjang, teguhkan kami dalam sabar, dalam tawakal, dan dalam husnuzan kepada-Mu.

Jangan Engkau jadikan Al-Qur’an hanya lewat di lisan kami, tetapi turunkan ia ke dalam hati, akhlak, dan langkah hidup kami.

Tambahkan usia kami dalam ketaatan, dan jadikan sisa umur kami lebih baik dari yang telah lalu.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn