أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قَا لُوْا يٰهُوْدُ مَا جِئْتَـنَا بِبَيِّنَةٍ وَّمَا نَحْنُ بِتٰـرِكِيْۤ اٰلِهَـتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَـكَ بِمُؤْمِنِيْنَ
“Mereka (kaum ‘Ad) berkata, Wahai Hud! Engkau tidak mendatangkan suatu bukti yang nyata kepada kami, dan kami tidak akan meninggalkan sesembahan kami karena perkataanmu dan kami tidak akan mempercayaimu,” (QS. Hud 11: Ayat 53)
Kesalahan yang berulang, minta bukti yang nyata dan tidak mau meninggalkan praktek syrik
Dala tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini Allah swt menerangkan tantangan kaum Hud a.s. terhadap dakwah yang disampaikan Hud a.s. dengan cara membangkang dan mengatakan, bahwa Hud a.s. tidak memberikan bukti yang nyata sedikit pun yang menunjukkan kebenarannya sebagai rasul Allah, yang ditugaskan untuk menyampaikan dakwah kepada mereka. Sebab itu mereka tidak akan meninggalkan penyembahan berhala-berhala dan patung-patung hanya karena mendengar ucapannya yang tidak beralasan, dan menyatakan bahwa mereka tidak akan percaya kepadanya.
Tantangan kaum Hud yang keras ini, pada mulanya didasarkan kepada tidak-adanya bukti yang nyata yang disampaikan oleh Nabi Hud a.s. kepada mereka tentang kebenarannya sebagai rasul Allah. Akan tetapi bila diperhatikan dari cara, gaya, dan isi dari tantangan kaumnya itu, maka dapat disimpulkan bahwa mereka hakikatnya hanya membangkang, bukan karena tidak adanya bukti atau dalil yang nyata. Dengan adanya tantangan itu mereka tidak bisa diharapkan lagi untuk beriman. Pengulangan kesalahan yang dilakukan kaum nabi Nuh dan dilakukan juga oleh kaum nabi Hud
Persamaan kaum nabi Nuh dan kaum Hud yang tidak beriman ;
•Sama-sama melakukan syirik.
•Sama-sama menolak dakwah para nabi dengan alasan yang tidak logis.
•Sama-sama keras kepala dan mempertahankan adat/nenek moyang.
•Sama-sama dihancurkan oleh azab Allah setelah diberi kesempatan.
Hal yang bisa ditadaburi dari ayat ini
1.Sikap keras kepala kaum ‘Ad
•Mereka menuntut bukti, padahal dakwah Nabi Hud penuh dengan kebenaran dan tanda-tanda dari Allah.
•Ini menunjukkan bahwa sering kali penolakan bukan karena kurang bukti, tapi karena hati yang tertutup.
2.Kecintaan pada tradisi syirik
•Mereka berkata: “Kami tidak akan meninggalkan sembahan kami hanya karena ucapanmu.”
•Menunjukkan fanatisme buta pada adat dan nenek moyang, meski jelas salah.
3.Menolak kebenaran meski jelas
•Permintaan bukti hanyalah alasan. Mereka sudah menolak sebelum menimbang dalil.
•Sikap ini mirip dengan kaum kafir Quraisy yang menolak Rasulullah ﷺ, padahal mukjizat dan Al-Qur’an sudah nyata.
4.Pelajaran dakwah
•Dakwah para nabi tidak selalu ditolak karena kurangnya hujjah, tapi karena kesombongan.
•Maka seorang dai jangan putus asa, karena penolakan adalah sunnatullah bagi para pembawa kebenaran.
5.Kebebasan beriman dan berbuat syirik
•Allah tidak memaksa mereka beriman, tapi menegaskan konsekuensi penolakan.
•Ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati adalah bebas dari perbudakan syirik, bukan sekadar mempertahankan tradisi.
Doa Mohon Dijauhkan dari Syirik
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Allâhumma innî a‘ûdzu bika an usyrika bika syai’an wa anâ a‘lam, wa astaghfiruka limâ lâ a‘lam.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)