Orang yang Paling Zalim Adalah yang Berdusta Atas Nama Allah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَنْ  اَظْلَمُ  مِمَّنِ  افْتَـرٰ ى  عَلَى  اللّٰهِ  كَذِبًا  ۗ اُولٰٓئِكَ  يُعْرَضُوْنَ  عَلٰى  رَبِّهِمْ  وَ  يَقُوْلُ  الْاَ شْهَا دُ  هٰۤؤُلَآ ءِ  الَّذِيْنَ  كَذَبُوْا  عَلٰى  رَبِّهِمْ  ۚ اَ لَا  لَـعْنَةُ  اللّٰهِ  عَلَى  الظّٰلِمِيْنَ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata, Orang-orang inilah yang telah berbohong terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim,” (QS. Hud 11: Ayat 18)
Orang yang paling zalim adalah yang berdusta atas nama Allah, dan pada Hari Kiamat mereka akan diadili, disaksikan kebohongannya, serta mendapat kutukan dan tempat yang paling buruk
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah SWT menjelaskan bahwa orang yang paling zalim (paling aniaya terhadap diri sendiri dan orang lain) adalah:
  • Orang yang berdusta atas nama Allah, baik melalui ucapan maupun perbuatan.
  • Mereka mengingkari hukum-hukum Allah dan menyebarkan keyakinan yang salah tentang Allah, seperti:
  • Menganggap ada yang bisa memberi syafaat (pertolongan) di akhirat tanpa izin dari Allah, seperti para pemimpin atau tokoh yang diagungkan secara berlebihan.
  • Mengatakan bahwa Allah punya anak, seperti orang Arab jahiliyah yang menyebut malaikat sebagai anak perempuan Allah, atau orang Nasrani yang menyebut Nabi Isa (Yesus) sebagai anak Allah.
  • Mendustakan para rasul Allah, dengan tujuan agar orang lain tidak mengikuti ajaran mereka.
Semua perbuatan mereka itu akan diperlihatkan di hadapan Allah pada Hari Kiamat. Pada hari itu, tidak ada lagi yang bisa disembunyikan. Para malaikat, para nabi, dan orang-orang beriman akan menjadi saksi atas kejahatan dan kebohongan mereka.
Akhirnya, Allah akan mengutuk mereka dan memberikan balasan yang setimpal karena mereka telah berbuat zalim. Mereka akan mendapat tempat yang sangat buruk di akhirat.
Allah juga berfirman dalam Surah al-Mu’min ayat 52:
“Itulah hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim, dan bagi mereka laknat serta tempat tinggal yang buruk.”
Hud 18  ini mengajarkan kita untuk menjaga lisan dan keyakinan agar tidak tergelincir dalam kesesatan. Kejujuran dalam menyampaikan agama dan kehati-hatian dalam berakidah adalah kunci keselamatan di dunia dan akhirat.
Doa agar dijauhkan dari kedustaan atas nama Allah dan diberi kejujuran dalam beragama:
اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ الْكَذِبِ عَلَيْكَ، وَارْزُقْنِي صِدْقَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَثَبِّتْنِي عَلَى الْحَقِّ حَتَّى أَلْقَاكَ، وَنَجِّنِي مِنَ الظُّلْمِ وَأَهْلِهِ.
Allâhumma ajirnî minal-kadhibi ‘alayk, warzuqnî shidqal-qauli wal-‘amal, wa tsabbitnî ‘alal-ḥaqqi ḥattâ alqâk, wa najjinî minaz-zulmi wa ahlih.
“Ya Allah, lindungilah aku dari berdusta atas nama-Mu, anugerahkanlah aku kejujuran dalam ucapan dan perbuatan, teguhkan aku di atas kebenaran hingga aku berjumpa dengan-Mu, dan selamatkan aku dari kezaliman dan para pelakunya.”