Tadabur dari QS Yunus ayat 54; Salahsatunya Setiap Jiwa Bertanggung Jawab Atas Perbuatannya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَوْ  اَنَّ  لِكُلِّ  نَفْسٍ  ظَلَمَتْ  مَا  فِى  الْاَ رْضِ  لَا فْتَدَتْ  بِهٖ  ۗ وَاَ سَرُّوا  النَّدَا مَةَ  لَمَّا  رَاَ وُا  الْعَذَا بَ  ۚ وَقُضِيَ  بَيْنَهُمْ  بِا لْقِسْطِ  وَهُمْ  لَا  يُظْلَمُوْنَ
“Dan kalau setiap orang yang zalim itu (mempunyai) segala yang ada di Bumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Kemudian diberi keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Yunus 10: Ayat 54)
Setiap jiwa yang zalim akan menebus dosanya dengan segala yang dimilikinya, namun tidak akan diterima, karena Allah akan mengadili mereka dengan adil
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menjelaskan bahwa seandainya tiap-tiap orang yang menganiaya diri mereka dengan mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain, mempunyai seluruh kekayaan yang ada di bumi, dan diberi kesempatan kepada mereka untuk menebus diri mereka, agar mereka selamat dari siksa Allah dengan seluruh kekayaan yang mereka miliki, tentulah kesalahan mereka tidak seimbang dengan tebusan mereka itu. Apalagi pada saat itu tobat atau tebusan  tidak dapat diterima lagi.
Tidak ada perlindungan lagi bagi mereka untuk menyelamatkan diri dari siksaan Allah. Namun demikian, mereka berusaha menyembunyikan penyesalan itu. Hal yang demikian itu karena mereka telah benar-benar menyadari bahwa segenap usaha yang mereka lakukan tidak ada gunanya lagi, baik ia menjerit sekuat-kuatnya atau membungkam seribu bahasa. Pada saat itu keputusan Allah telah ditetapkan di antara mereka dengan seadil-adilnya. Mereka akan merasakan balasan dari seluruh tindakan mereka, yang secara fanatik mengikuti nenek moyang mereka yang tetap bergelimang dalam kemusyrikan.
Apabila mereka mendapat siksaan serupa itu tidaklah dapat dikatakan bahwa Allah menganiaya mereka, tetapi mereka sendirilah yang menganiaya diri mereka. Siksaan Allah yang akan menimpa mereka itu digambarkan sebagai berikut: “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.” (an-Naba/78: 40)
“Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). (al-Furqan/25: 28)
“Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Quran) ketika (Al-Quran) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia. (al-Furqan/25: 29).
QS. Yunus ayat 54 memberikan banyak pelajaran (tadabbur) yang mendalam bagi manusia, di antaranya:
1. Keadilan Allah Tidak Bisa Dihindari; Ayat ini menegaskan bahwa pada hari kiamat, tak seorang pun bisa lari dari keadilan Allah. Bahkan jika seseorang ingin menebus dirinya dengan seluruh kekayaan dunia, itu tidak akan diterima.
2. Kesadaran Datang Terlambat Tidak Berguna; Orang zalim mungkin baru sadar ketika azab datang atau di hari kiamat, namun penyesalan saat itu tidak berguna. Ini mengingatkan kita agar bertobat dan memperbaiki diri sejak sekarang, bukan nanti.
3. Setiap Jiwa Bertanggung Jawab Atas Perbuatannya; Setiap manusia akan memikul sendiri akibat dari amalnya, tidak bisa mewakilkan atau membeli keringanan. Ini memperkuat pentingnya kesadaran pribadi dalam berbuat baik dan meninggalkan kezaliman.
4. Zalim adalah Perbuatan yang Paling Merugikan; Zalim di sini mencakup segala bentuk pelanggaran terhadap hak Allah dan hak sesama manusia. Ayat ini menunjukkan bahwa kezaliman akan dibalas dengan sangat berat, bahkan tidak bisa ditebus dengan harta sebesar apa pun.
5. Harta Dunia Tidak Bisa Menyelamatkan di Akhirat; Meski seseorang memiliki segala yang ada di bumi, itu tak ada nilainya di hadapan Allah jika ia tidak beriman dan bertakwa. Tadabbur ini mengingatkan kita untuk tidak tertipu oleh dunia.
Secara keseluruhan, ayat ini mengajak kita untuk:
  • Segera bertobat,
  • Menjauhi kezaliman, dan
  • Menyadari bahwa harta dan kekuasaan tidak bisa menyelamatkan kita di akhirat.
“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang bertobat dari kezaliman, dan jangan Engkau jadikan aku termasuk orang yang menyesal pada hari di mana harta dan kedudukan tak berguna. Kumpulkanlah aku bersama hamba-hamba-Mu yang saleh, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang.”