Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِ مَّا يَنْزَغَـنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَا سْتَعِذْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 200)
Sering seringlah membaca Ta’awudz
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang kemungkinan Nabi Muhammad digoda setan, lalu dia tidak dapat melaksanakan prinsip di atas. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya, agar selalu memohonkan perlindungan kepada Allah jika golongan setan datang, dengan membaca “Taawwuz”, yaitu: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”.
Allah swt Maha Mendengar segala permohonan yang diucapkan dan Maha Mengetahui apa yang terlintas dalam jiwa seseorang, yang dapat mendorong dia berbuat kejahatan atau kesalahan. Jika doa itu dibaca orang yang tergoda itu dengan hati yang ikhlas dan penghambaan diri yang tulus kepada Allah, maka Allah akan mengusir setan dari dirinya, serta akan melindunginya dari godaan setan itu.
“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Quran, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sungguh, setan itu tidak ada akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan”. (an-Nahl/16:98-99)
“Tidak seorang pun di antara kamu sekalian melainkan didampingi temannya dari jenis jin. Berkatalah para sahabat: Engkau juga hai Rasulullah? Beliau menjawab, “Saya juga”. Hanya Allah menolong aku menghadapinya maka selamatlah aku dari padanya.” (Riwayat Muslim dari Aisyah ra. dan Ibnu Masud)
Meskipun dalam ayat ini perintah ditujukan kepada Rasul, namun perintah ini meliputi seluruh umatnya yang ada di dunia ini.
Adapun yang dimaksud dengan taawwuz;
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku berlindung kepada Alloh dari godaan setan yang terkutuk.”
Makna kalimat tersebut adalah, “Aku berlindung kepada Alloh subhanahu wata’ala dari kejelekan godaan setan agar dia tidak menimpakan bahaya kepadaku dalam urusan agama maupun duniaku.”
Setan selalu menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kalian. Oleh sebab itu, maka jadikanlah diri kalian sebagai musuh baginya. Setan bersumpah di hadapan Alloh subhanahu wata’ala untuk menyesatkan umat manusia. Alloh subhanahu wata’ala menceritakan sumpah setan ini di dalam Al-Quran:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ
“Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang taat di antara hamba-hamba-Mu.” (QS. Shod [38]: 82-83)
Dengan demikian tidak ada yang bisa selamat dari jerat-jerat setan kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Alloh subhanahu wata’a
Isti’adzah atau ta’awwudz merupakan bentuk permohonan perlindungan diri kepada Alloh subhanahu wata’ala, dan hal ini termasuk bagian dari ibadah. Karena pada hakikatnya hanya Alloh subhanahu wata’ala yang dapat melindungi seorang hamba dari godaan setan yang terkutuk.
Oleh sebab itu ta’awudz tidak boleh ditujukan kepada selain Alloh subhanahu wata’ala. Karena menujukan ibadah kepada selain Alloh subhanahu wata’ala adalah kesyirikan.
Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang sangat takut kepada kesyirikan sampai-sampai beliau berdoa kepada Alloh subhanahu wata’ala. Hal ini sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
“Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada berhala.” (QS. Ibrohim [14]: 35)
Ini menunjukkan bahwa tauhid yang kokoh akan menjadikan kelezatan di dalam hati kaum mukminin. Orang-orang yang bisa merasakan kelezatannya hanyalah mereka yang benar-benar memahami makna-maknanya.
Harus diketahui bahwa setan yang berusaha menyesatkan umat manusia ini terdiri dari golongan jin dan manusia. Hal ini sebagaimana disebutkan Alloh subhanahu wata’ala di dalam ayat berikut:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً
“Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi berupa setan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya manusia.” (QS. al–An’am [6]: 112)
”A’udzu billahi min ash-shaytani r-rajim.”
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”