Tipu Menipu atau Curang Sudah ada Sejak Kaum Madyan

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

‎ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

‎سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.  

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ لٰى  مَدْيَنَ  اَخَاهُمْ  شُعَيْبًا  ۗ قَا لَ  يٰقَوْمِ  اعْبُدُوا  اللّٰهَ  مَا  لَـكُمْ  مِّنْ  اِلٰهٍ  غَيْرُهٗ  ۗ قَدْ  جَآءَتْكُمْ  بَيِّنَةٌ  مِّنْ  رَّبِّكُمْ  فَاَ وْفُوا  الْكَيْلَ  وَا لْمِيْزَا نَ  وَلَا  تَبْخَسُوا  النَّا سَ  اَشْيَآءَهُمْ  وَلَا  تُفْسِدُوْا  فِى  الْاَ رْضِ  بَعْدَ  اِصْلَا حِهَا  ۗ ذٰ  لِكُمْ  خَيْرٌ  لَّـكُمْ  اِنْ كُنْتُمْ  مُّؤْمِنِيْنَ 

 

“Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu’aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di Bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.”

(QS. Al-A’raf 7: Ayat 85)

Tipu menipu/ curang sudah ada sejak kaum Madyan

Tafsir Lengkap Kemenag

Kementerian Agama RI

Ayat ini menceritakan bahwa kaum Madyan yaitu kaum Nabi Syu’aib tidak bersyukur kepada Allah disamping mereka mempersekutukan-Nya. Akhlak mereka sangat buruk sehingga kehidupan mereka bergelimang dalam penipuan, sampai kepada urusan tukar-menukar, timbang-menimbang. Menurut suatu riwayat jika orang asing datang berkunjung, mereka sepakat menuduh bahwa uang yang dibawa orang asing itu palsu, dengan demikian mereka menukarnya dengan harga (kurs) yang rendah sekali. Kepada kaum ini Allah mengutus Nabi Syu’aib agar dia menunjukkan kepada mereka jalan yang benar dan meninggalkan kecurangan dalam takaran dan timbangan.

Sebagaimana biasanya bahwa Allah memperkuat kenabian setiap Nabi-Nya dengan mukjizat seperti diketahui dari hadits Abu Hurairah, yaitu:

“Tidak seorang Nabi pun dari kalangan nabi-nabi kecuali diberikan kepadanya tanda-tanda kenabiannya yang menjadikan manusia percaya kepadanya. Sesungguhnya yang diberikan kepadaku ialah wahyu yang disampaikan kepadaku yaitu (Al-Qur’an). Maka aku mengharap bahwa aku akan mempunyai pengikut yang lebih banyak daripada pengikut-pengikut nabi-nabi pada hari Kiamat”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Tidak terdapat satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang menerangkan tentang mukjizat yang diberikan kepada Nabi Syu’aib. Fakhrur Razi dalam tafsirnya, mengutip az-Zamakhsyari dalam tafsirnya “Al-Kasysyaf” mengatakan bahwa di antara mukjizat Nabi Syu’aib, yaitu dia memberikan tongkatnya kepada Nabi Musa. Tongkat itulah membinasakan ular-ular besar milik tukang-tukang sihir Firaun. Juga dia berkata kepada Nabi Musa, bahwa kambing-kambing ini akan beranak semuanya berbulu hitam putih, kemudian ternyata benar sebagaimana yang diucapkannya itu.

Kaum  Madyan ditimpa oleh azab yang disebut sebagai “saiqah” atau gempa yang menghancurkan mereka karena mereka menolak ajaran Nabi Shaleh dan terjerumus dalam kemaksiatan, kemungkaran serta penyembahan berhala. Allah mengutus Nabi Saleh untuk mengingatkan mereka agar kembali kepada kebenaran, namun mereka tetap membangkang. Sebagai akibatnya, mereka ditimpa oleh azab yang membinasakan.

Dosa dosa umat terdahulu disampaikan dalam al Quran supaya jadi ibrah/pelajaran, supaya tidak berulang, kenyataannya banyak dosa dosa umat terdahulu yang diikuti umat umat yang berikutnya sehingga dalam al Quran diingatkan;

وَيْلٌ  لِّلْمُطَفِّفِيْنَ 

“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!”

(QS. Al-Muthaffifin 83: Ayat 1)

Tafsir Lengkap Kemenag

Kementerian Agama RI

Azab dan kehinaan yang besar pada hari Kiamat disediakan bagi orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang. Allah telah menyampaikan ancaman yang pedas kepada orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang yang terjadi di tempat-tempat jual beli di Mekah dan Madinah pada waktu itu.

Diriwayatkan bahwa di Madinah ada seorang laki-laki bernama Abu Juhainah. Ia mempunyai dua macam takaran yang besar dan yang kecil. Bila ia membeli gandum atau kurma dari para petani, ia mempergunakan takaran yang besar, akan tetapi jika ia menjual kepada orang lain ia mempergunakan takaran yang kecil.

Perbuatan seperti itu menunjukkan adanya sifat tamak, ingin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri walaupun dengan jalan merugikan orang lain. Terhadap orang seperti itu, Nabi Muhammad telah memberi ancaman yang pedas sekali seperti tersebut dalam hadits ini:

Ada lima perkara yang dibalas dengan lima perkara: Tidak pernah suatu kaum yang melanggar janji, melainkan Allah akan membiarkan kaum itu dikuasai musuhnya. Tidak pernah mereka yang memutuskan suatu perkara dengan hukuman yang tidak diturunkan oleh Allah, melainkan akan tersebar luaslah kefakiran di kalangan mereka. Perzinaan tidak pernah meluas di kalangan mereka secara luas, melainkan akan tersebar luaslah bahaya kematian. Tidak pernah mereka yang berbuat curang dalam menakar dan menimbang, melainkan mereka akan kehilangan kesuburan tumbuh-tumbuhan dan ditimpa musim kemarau. Dan tidak pernah mereka yang menahan zakat, melainkan akan diazab dengan tertahannya hujan (kemarau yang panjang). (Riwayat ath-thabrani dari Ibnu ‘Abbas).

Perilaku curang bukan hanya dalam takaran saja, tapi banyak perilaku perilaku curang yang lain, di atas disebutkan seperti menahan zakat.

Semoga kita selalu berperilaku jujur dalam segala aspek kehidupan…