Sekolah untuk Sekolah bukan sebagai ajang Arogansi Diri siswa !!

24 Oktober 2019 | Dibaca : 337x | Oleh : EM
Sekolah untuk Sekolah bukan sebagai ajang Arogansi Diri siswa !!

Perubahan zaman merubah sebuah Didikan menjadi lebih hati hati, jauh sebelum zaman "santuy" era 70'an hingga 90'an adalah masa emas dimana pendidikan benar benar mendidik siswa untuk menjadi siswa yang malu dan segan terhadap guru, didikan yang cukup keras memang sepertinya tidak bisa di terapkan pada siswa zaman sekarang, ya banyak sekali berita miris dimana hanya dengan jurus cubitan seorang guru dilaporkan ke polisi,, atau video yang viral dimana siswa SMK membawa Parang karena hape nya disita guru, atau berita yang viral dimana siswa menegak miras di depan gurunya yang sedang mengajarkan sebuah mata pelajaran dan terakhir seorang siswa tega Membunuh Guru ngajinya karena di tegur merokok di lingkungan sekolah !! selamat datang di masa ini, masa kesantuyan pendidikan malah menjadi malapetaka bagi dunia pendidikan. haruskah kita kembali ke masa lalu?? agar guru lebih di hargai??

Era 70'an hingga 90'an, masa jauh dari kata milenial. pada masa itu teringat oleh penulis bahwa itu adalah masa emas dalam bidang pendidikan. Bagaimana tidak?? Jauh berbeda dengan zaman sekarang zaman dimana guru lebih di hargai dan dihormati. Masa dimana ada rasa Malu dan takut dalam artian Segan terhadap guru, sehingga siswa lebih terdidik dan guru lebih mendidik. Jika melihat ke masa lalu, teringat ketika penulis masih duduk di bangku SD ketika guru penulis yang bernama (alm) pak Mamat sedang mengajarkan pelajaran sejarah, dikarenakan penulis yang bosan dengan pelajarannya akhirnya saya memutuskan untuk bermain main dengan pensil saya yang di lepar lempar ke kepala teman depan bangku saya, dan alhasil penghapus papan tulis kapur yang terbuat dari kayu dan sebagian kain melayang menghempas kepala !! 

alhamdulilah Benjol dan Geneuk yang didapatkan hingga harus menjelaskan apa yang guru saya sampaikan di depan kelas, karena pelajaran Sejarah merupakan pelajaran favorit saya dan juga merupakan pelajaran yang selalu (alm) ayah saya jelaskan setiap malam, saya bisa menjelaskannya dengan lancar tanpa cacat sedikitpun. Pulang ke rumah bukan simpati yang saya dapatkan malah tambahan cacian dari orang tua yang memang menganggap saya anak yang bandel padahal saya hanya lebih aktif dari teman teman yang lainnya !! its the best counter attack !!

Teringat ketika masuk bangku SMP dan SMA, saya sekolah di sekolah swasta terbaik di Bandung Timur, Meskipun saya bukan siswa teladan tetapi saya cukup menjadi pusat perhatian khususnya guru BK dan Pak Mustajab selaku guru matematika. Penah saat itu karena memang sifat saya yang selalu aktif saya bercanda tanpa mengetahui Guru MTK saya ada dibelakang saya dan alhasil saya dimarahi dan harus mengerjakan soal yang beliau sudah PR kan namun dikarenakan saya belum mengerjakan saya jadi bahan olok2an teman sebaya.

Memang itu merupakan masa lalu yang indah, tetapi masa itu sepertinya tidak akan terjadi lagi di zaman sekarang. Guru ditutut untuk mengajarkan siswa sesuatu yang telah guru pelajari dan siswa diharuskan menyimak apa yang guru ajarkan merupakan sebuah hal yang baisa. lalu bagaimana menindak siswa yang bendel seperti saya?? sistem point yang digunakan di Al Ma'soem memang sepertinya sedikit efektif menangulangi itu semua tetapi bagi siswa bebal bagaimana??

haruskah melempar penghapus atau spidol seperti jaman saya dulu?? tidak, jurus paling jitu sekarang hanya mengikuti arus cobalah mengerti keadaan siswa karena pengalaman tidak pernah membohongi hasil. artinya saya selalu aktif (dalam artian negative) dikelas dikarenakan faktor tertentu dan saya yakini diri bahwa siswa yang aktif juga memiliki alasannya sendiri. dekati dan ijinkan mereka bicara biarkan mereka menjelaskan apa yang jadi unek unek mereka.

Karena sepertinya zaman sekarang tidak perlu kekerasan untuk mendidik dan untuk di hormati, cukup mengerti posisi seorang murid insya Allah Murid seperti saya akan menjadi murid yang lebih baik lagi ke depannya.  Namun jika sedikit menyinggung berita yang diterbitkan di Tribunews.com yang berjudul Guru Agama Tewas Ditikam Siswa karena ditegur merokok membuat hati semakin miris. sepertinya guru sudah tidak ada artinya lagi di mata siswa milenial, jikalau dunia pendidikan saja tidak bisa melawan sifat arogan siswa maka tips dari saya sendiri buatlah sekolah sendiri, dan buatlah peraturan sendiri. Karena sekolah itu untuk sekolah bukan sebagai sarana untuk hadir membawa raga dan pulang hingga sore saja !!

Bagikan :  

Informasi Menarik Lainnya

SD Al Ma'soem Sukses Selenggarkaan Semifinal OSK 2017
10 April 2017
Jatianngor – SD Al Ma’soem sukses menyelenggarakan Olimpiade Sains Kuarak (OSK) 2017 untuk yang ke-4 kalinya. Sudah semenjak tahun 2013 lalu, SD Al ...
1 Januari 1970
...
Kuliah Umum Perdana Mahasiswa STKOM – STIBANKS; Tantangan Revolusi Industri 4.0
12 September 2018
Hari pertama kegiatan perkuliahan mahasiswa STKOM & STIBANKS Al Ma’soem, seperti tahun-tahun sebelumnya, disambut dengan penyelenggaraan kegiatan ...
Lulusan SMA Al Ma'soem Tertinggi yang di terima PTN
2 Juni 2020
Ilustrasi : salah satu peserta didik Al Ma'soem yang berprestasi hingga ke India   Trend positif penerimaan siswa/siswi lulusan SMA Al ...
Berprestasi di Lomba Scrabble se-jabar
5 Oktober 2016
Satu lagi siswa SMA Al Ma’soem yang berhasil menorehkan prestasi yang baik, Mohamad Bagas X MIA 2, dengan meraih Juara Harapan 1 pada Lomba Scrabble ...

Informasi Pendaftaran

Selamat Hari Santri Nasional 2020
Brocure SMP SMA
Brocure SMP SMA
Download File
Keseharian Santri
Kunjungan Jokowi ke Al Ma'soem
Presiden Joko Widodo memberikan pidato dan bingkisan bagi siswa Al Ma'soem

Almasoem Group

Yayasan Al Ma'soem Bandung (YAB)
Jl. Raya Cipacing No. 22
Jatinangor – Sumedang

Telp. (022) 7798204 – 7798243 – 7792448 – 

+6281122700227

E-mail: info@masoem.com

Youtube Chanel : Ma'soem TV

IG : almasoembdg

Bagikan :
Copyright © Almasoem.sch.id 2020
All rights reserved
Scroll Top