Tujuan Berperang dalam Islam

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

‎ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

‎سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَقٰتِلُوْهُمْ  حَتّٰى  لَا  تَكُوْنَ  فِتْنَةٌ  وَّيَكُوْنَ  الدِّيْنُ  لِلّٰهِ   ۗ فَاِ نِ  انْتَهَوْا  فَلَا  عُدْوَا نَ  اِلَّا  عَلَى  الظّٰلِمِيْنَ

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan kecuali terhadap orang-orang zalim.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 193)

Tujuan perang
1. Menghilangkan fitnah
2. Bukan untuk agama, dilarang diperangi supaya jadi Islam
3. Bukan untuk mencari musuh
4. Menghilangkan kezaliman.

Dalam Al Quran kata fitnah digunakan untuk arti sesuatu yang berat dan memberatkan (Asy Syiddah). Dalam Al Qur’an, kata fitnah dalam berbagai bentuknya diulang sebanyak 44 kali dan digunakan untuk beberapa makna. Makna fitnah yang harus diperangi oleh Islam, dihubungkan dengan ayat sebelumnya, fitnah yang dimaksudkan adalah siksaan dan penganiayaan yang sangat kejam dan melampaui batas-batas perikemanusiaan, seperti interogasi disertai penyiksaan. Pernyataan Al Quran bahwa “Fitnah lebih besar dari pembunuhan.” (QS. Al Baqarah, 2 : 191) dimaksudkan karena musyrikin Mekah yang menganiaya kaum muslimin, menyiksa mereka dengan berbagai siksaan jasmani, perampasan harta dan pemisahan sanak keluarga, teror serta pengusiran dari tanah kelahirannya, bahkan menyangkut agama dan keyakinan mereka.
Untuk pemaknaan inilah maka fitnah harus diperangi, sampai penganiayaan dan penzaliman berhenti. Poso Sulawesi Tenggara muslim teraniaya dan dibantai, ormas Islam datang melakukan perlawanan, penganiayaan dan kezaliman berhenti.

Perang bukan untuk agama, diperangi supaya jadi orang Islam, Quran melarangnya. Memaksa untuk masuk Islam aja dilarang apalagi diperangi supaya masuk Islam, itu dilarang.

لَاۤ  اِكْرَاهَ  فِى  الدِّيْنِ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256)

Hal ini mengindikasikan bahwa tidak boleh ada paksaan bagi seseorang dalam memeluk suatu agama, termasuk untuk memeluk agama Islam.
Bukan untuk menciptakan permusuhan, musuh identik dengan memutuskan silturahmi, tidak beriman seseorang yang memutuskan silaturahmi, dan pahala yang besar bagi seseorang yang mendamaikannnya

Rasulullah Saw bersabda,

“Tidak ada perbuatan yang dilakukan seseorang (setelah amalan wajib) yang lebih baik dari mendamaikan diantara manusia. Dia berkata yang baik dan mengharapkan kebaikan.”

Perang untuk menghentikan kezaliman

Perang badar menjadi peristiwa besar bagi umat Islam. Perang besar pertama bagi umat Islam ini juga bertepatan dengan momentum Nuzulul Quran yakni peristiwa diturunkannya Alquran ke bumi. Namun, sekali lagi, sejatinya Islam bukanlah agama perang.

Dalam Islam, menurut Cendikiawan Muda Habib Husein Ja’far Al Hadar, perang adalah jalan terakhir untuk memerangi kezaliman. Hal itu dilakukan untuk melawan orang yang memerangi umat Islam.

Ketika ada orang yang berusaha memerangi kaum muslimin, “Maka umat Islam memerangi balik untuk kemudian menghentikan mereka dalam menzalimi umat Islam. Bukan untuk menguasai, apalagi menyebarkan agama Islam.

Semoga kita selalu menghindar dan terhindar dari berbagai fitnah