Allah subhanahu wata’aala berfirman;
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَا لَتْ اَوْدِيَةٌ بِۢقَدَرِهَا فَا حْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّا بِيًا ۗ وَمِمَّا يُوْقِدُوْنَ عَلَيْهِ فِى النَّا رِ ابْتِغَآءَ حِلْيَةٍ اَوْ مَتَا عٍ زَبَدٌ مِّثْلُهٗ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْحَـقَّ وَا لْبَا طِلَ ۗ فَاَ مَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءً ۚ وَاَ مَّا مَا يَنْفَعُ النَّا سَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَ رْضِ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 17).
Kebenaran seperti air akan bertahan, kebatilan seperti buih akan hilang
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Ayat berikut merinci kekuasaan Allah yang tidak dimiliki oleh berhala sesembahan orang-orang musyrik Mekah. Allah telah menurunkan dalam bentuk curahan air hujan dari langit, maka mengalirlah ia, yakni air hujan yang dicurahkan itu, di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat yang beraneka ragam, ada pula buihnya seperti buih arus itu.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang mana yang benar dan mana yang batil. Adapun buih, lambang dari kebatilan, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, dan manfaat itu akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang mau berpikir.
Kebenaran seperti Air akan Bertahan, Kebatilan seperti Buih akan Hilang
Tadabbur Surah Ar-Ra’d Ayat 17. Allah memberikan perumpamaan yang sangat indah dalam ayat ini: hujan turun dari langit, air mengalir di lembah-lembah, lalu muncul buih di permukaannya. Buih tampak banyak dan mengembang, tetapi akhirnya hilang. Sedangkan air yang memberi manfaat tetap tinggal di bumi.
Dari sini ada beberapa pelajaran penting. Pertama, kebenaran bersumber dari Allah, sebagaimana hujan turun dari langit. Manusia tidak menciptakan kebenaran, tetapi hanya bisa menyiapkan hati untuk menerimanya. Kedua, setiap lembah mengalir menurut ukurannya. Hati manusia berbeda-beda daya tampungnya. Ilmu yang sama bisa menghidupkan satu hati, tetapi hanya lewat begitu saja pada hati yang lain. Masalahnya bukan pada hujan, melainkan pada luasnya lembah.
Ketiga, kebatilan seperti buih: tampak besar, ramai, dan menguasai permukaan, tetapi kosong dan tidak berakar. Ia mungkin memukau sesaat, namun pasti lenyap dan yang keempat, ukuran nilai dalam Islam adalah manfaat. Yang bermanfaat akan menetap, yang tidak bernilai akan tersapu. Inilah hukum Allah yang tidak berubah.
Akhirnya, ayat ini mengajarkan keyakinan: yang hak akan bertahan, yang batil akan gugur. Air menetap, buih lenyap.
Jadilah air yang menetap dan menghidupkan. Jangan jadi buih yang ramai sesaat, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama).
Doa agar Menjadi Manusia yang Bermanfaat
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي نَافِعًا لِعِبَادِكَ،
وَاجْعَلْ عَمَلِي بَاقِيًا لَا يَذْهَبُ سُدًى
Allahumma aj‘alnī nāfi‘an li ‘ibādika,
waj‘al ‘amalī bāqiyan lā yadhhabu sudā.
Ya Allah, jadikan aku bermanfaat bagi hamba-hamba-Mu, dan jadikan amalanku tetap tinggal serta tidak sia-sia.

