Percaya Adanya Kebangkitan setelah Kematian

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلَوْ  تَرٰۤى  اِذْ  وُقِفُوْا  عَلٰى  رَبِّهِمْ  ۗ قَا لَ  اَلَـيْسَ  هٰذَا  بِا لْحَـقِّ  ۗ قَا لُوْا  بَلٰى  وَرَبِّنَا  ۗ قَا لَ  فَذُوْقُوا  الْعَذَا بَ  بِمَا  كُنْتُمْ  تَكْفُرُوْنَ

“Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah engkau melihat peristiwa yang mengharukan). Dia berfirman, Bukankah (kebangkitan) ini benar? Mereka menjawab, Sungguh benar, demi Tuhan kami. Dia berfirman, Rasakanlah azab ini, karena dahulu kamu mengingkarinya.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 30)

Mereka mengaku hari kebangkitan itu memang benar ada, setelah menemui kematian

Percaya Adanya Kebangkitan Setelah Kematian Adalah Keimanan.

Telah dinyatakan dalam banyak ayat Al-Qur’an, bahwa Allah bersumpah akan menghidupkan kembali manusia setelah kematian pada hari kebangkitan, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (wahai Muhammad), “Tidak demikian, demi Tuhanku, sungguh! Kamu akan dibangkitkan kembali oleh Allah.” (QS. At-Taghabun, 64:7), “Katakanlah (wahai Muhammad): “Allah-lah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-Jathiyah, 45: 26).

Beriman kepada hari kebangkitan adalah salah satu rukun Iman, seperti ditetapkan dalam hadits shahih dalam Ash-Shahihain, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Saw. sedang bersama manusia, tiba-tiba seseorang berjalan mendatangi beliau kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah iman itu?” Rasulullah Saw. bersabda, “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, para Rasul-Nya, hari bertemu dengan-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan yang akhir.” (HR. Al-Bukhari).

“Iman ialah kamu percaya sepenuh hati kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Kebangkitan dari kubur setelah mati, dan adanya kadar (ketentuan) Allah semuanya.” (HR. Bukhari melalui Umar bin Khaththab r.a.).

Urusan akhirat yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an adalah hari kebangkitan. Allah menyebutkannya terkadang dengan nama Al-Ba’ts (hari kebangkitan), Ar-Ruju’ (hari kembali), Al-Liqa’ (hari pertemuan), Al-Ihya (hari dihidupkan kembali), Al-Ikhraj (hari dibangkitkan dari kubur), An-Nusyur (hari semua makhluk dikumpulkan), Ar-Radd (hari dihidupkan kembali), Al-Mashir (hari manusia kembali kepada Tuhan untuk dihisab), dan Al-Ma’ab (hari manusia kembali untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya).

Menghidupkan Kembali bagi Allah adakah Mudah

Beriman kepada hari kebangkitan setelah kematian adalah tidak diingkari oleh siapa pun kecuali bila dia orang sombong. Karena menghidupkan kembali manusia setelah kematian, jauh lebih mudah bagi Allah daripada awal menciptakan manusia setelah sebelumnya tidak ada. Pengingkaran dan penolakan tentang adanya kebangkitan hanya muncul dari kesombongan. Dan tidak ada orang yang dengan yakin mengingkari kebangkitan, kecuali setelah orang tersebut dengan yakin mengingkari penciptaan dirinya yang pertama kali. Iblis saja meyakini adanya kebangkitan karena ia mengetahui bahwa membangkitkan manusia dari kematian jauh lebih mudah bagi Allah daripada penciptaan pertama.

Allah menjadikan kehidupan ini sebagai tempat ujian dan beramal. Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya kepada manusia agar manusia beribadah kepada-Nya. Allah menciptakan tempat lain (akhirat) kepada manusia sebagai pembuktian akan kebijaksanaan dan keadilan-Nya untuk memberi pahala orang yang telah berbuat baik dan memberi siksa kepada orang yang berbuat jahat sesuai dengan amalnya masing-masing. Tidak ada satu makhluk pun yang diciptakan Allah dengan sia-sia dan dibiarkan begitu saja.

“Mahasuci Allah Yang ditangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk, 67: 1-2).

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”. (QS. Al-Mukminun, 23: 115).

“…sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shaleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka.” (QS. Yunus, 10: 4).

Tidur Dapat Dijadikan Contoh Kematian

Tidur dapat dijadikan contoh kecil dari peristiwa kematian, sedangkan bangun dari tidur merupakan contoh kebangkitan dari kematian. Jadi, adanya aktivitas bangun dan tidur ini dapat dijadikan bukti adanya kehidupan dan kematian.

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am, 6: 60).

Di antara tanda-tanda Allah yang besar tentang bukti adanya kebangkitan ruh dan jasad adalah Ahlul Kahfi yang telah dibangunkan dari tidurnya selama 309 tahun, sebagaimana Allah berfirman, “Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya …” (QS. Al-Kahfi, 18: 21).

Salah satu contoh dalil-dalil Indrawi ini adalah “Allah telah menghidupkan orang mati di dunia ini”. Semua makhluk di dunia ini dihidupkan oleh Allah. Dengan demikian, jika Allah mampu menghidupkan, berarti Ia pun mampu mematikan, dan menghidupkannya kembali. Beberapa kisah dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang pernah dimatikan Allah kemudian dihidupkan kembali.

Kisah Nabi Ibrahim a.s. ketika ia memohon kepada Allah SWT agar Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya, bagaimana Ia menghidupkan yang sudah mati. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih empat ekor burung. Masing-masing bagian tubuh burung tersebut dipisahkan dan diletakkan di atas gunung disekitarnya. Lalu Nabi Ibrahim a.s. memanggil kembali burung-burung itu dan datanglah burung-burung itu kepadanya.

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Rabb-ku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati” Allah berfirman, ‘Apakah kamu belum percaya?’ Ibrahim menjawab, ‘Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya.’ Allah berfirman, ‘(Kalau demikian), ambillah empat ekor burung, lalu jinakkanlah burung-burung itu kepadamu, kemudian letakkanlah tiap-tiap seekor daripadanya atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah dia, niscaya dia segera akan datang kepadamu.’ Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah, 2: 260).

Kisah Pembunuhan Dikalangan Bani Israil

Kisah seorang terbunuh di kalangan Bani Israil. Allah memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi dan memukulkan bagian sapi tersebut ke tubuh seorang yang sudah mati. Kemudian Allah menghidupkan kembali orang tersebut sehingga dapat memberitahukan kepada orang banyak tentang siapa yang membunuh dirinya.

“Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu.’ Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah, 2: 72-73).

Kisah kaum Nabi Musa a.s. yang tidak mempercayai risalah yang di bawa Nabi Musa. Mereka mengatakan, “Kami tidak akan mempercayaimu, hai Musa sampai Tuhanmu membuktikan kekuasaan-Nya pada kami.” Kemudian Allah mematikan mereka dan setelah itu menghidupkannya kembali.

“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang,” karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah, 2: 55-56).

Semua kisah di atas merupakan bukti nyata tentang adanya kebangkitan setelah kematian. Semua peristiwa tersebut, pada saat kejadiannya, dapat ditangkap oleh indra manusia. Itulah kekuasaan Allah. Allah menjelaskan pula bahwa Ia mengetahui bagaimana tanah memakan jasad, kulit, tulang, dan rambut manusia. Bagaimana pula hancurnya dan kemana perginya semua itu. Bagi Allah, tidak ada satu hal pun yang tidak diketahui-Nya. Allah telah memerintah Rasul-Nya untuk bersumpah dengan nama-Nya Yang Mahasuci akan adanya hari kebangkitan.

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhubahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam apabila hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya, kemudian mengucapkan,
ALLOHUMMA QINII ‘ADZAABAK, YAWMA TAB’ATSU ‘IBAADAK.

“Ya Allah, jauhkanlah aku dari siksaan-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu (yaitu pada hari kiamat).”