Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَ ۙ
الَّذِيْنَ يَجْعَلُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ
“Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang yang memperolok-olokkan (engkau),”
“(yaitu) orang yang menganggap adanya tuhan selain Allah; mereka kelak akan mengetahui (akibatnya).” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 95 dan 96)
Orang yang Mengejek Kebenaran Berasal dari Hati yang Dipenuhi Kemusyrikan
QS. Al-Hijr ayat 95 dan 96 lebih kuat jika dibahas bersama, karena secara makna keduanya merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan.
- Ayat 95 menjelaskan jaminan Allah kepada Rasulullah SAW; “Sesungguhnya Kami memelihara engkau dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan.”
- Ayat 96 menjelaskan siapa orang-orang yang memperolok-olokkan itu, yaitu: “Orang-orang yang menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain (berbuat syirik); kelak mereka akan mengetahui (akibatnya).”
Dua ayat ini turun ketika Rasulullah SAW menghadapi gelombang ejekan, hinaan, dan cemoohan dari para pemuka Quraisy. Mereka bukan hanya menolak dakwah beliau, tetapi juga berusaha merendahkan Al-Qur’an dan mempermalukan Rasulullah SAW di hadapan masyarakat. Namun Allah menenangkan hati Nabi dengan sebuah jaminan yang sangat agung, “Sesungguhnya Kami sendiri yang akan melindungimu.” Allah menegaskan bahwa orang-orang yang mengejek Rasulullah tidak akan mampu menggagalkan risalah yang beliau bawa.
Menariknya, ayat berikutnya langsung menjelaskan siapa sebenarnya orang-orang yang gemar mengejek tersebut. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan sesembahan selain Allah, yaitu kaum musyrikin. Ini menunjukkan bahwa ejekan terhadap kebenaran bukan sekadar persoalan adab atau akhlak yang buruk, tetapi bersumber dari kerusakan akidah. Hati yang dipenuhi kemusyrikan sulit menerima cahaya tauhid sehingga kebenaran justru dijadikan bahan olok-olokan.
Kemusyrikan tidak selalu berupa menyembah berhala sebagaimana kaum Quraisy. Pada zaman sekarang bentuknya jauh lebih beragam. Ada orang yang menjadikan harta sebagai tujuan hidup, jabatan sebagai segala-galanya, popularitas sebagai ukuran kebenaran, atau hawa nafsu sebagai pedoman hidup. Apa pun yang ditempatkan lebih tinggi daripada ketaatan kepada Allah dapat menyeret manusia kepada bentuk-bentuk syirik yang harus diwaspadai.
Ketika hati telah dikuasai oleh selain Allah, maka kebenaran sering kali dianggap sebagai ancaman. Karena itu, kita melihat pada zaman ini masih ada orang yang mencemooh syariat Islam, menganggap jilbab sebagai simbol keterbelakangan, mengolok-olok orang yang memelihara jenggot atau bercadar, mengejek orang yang rajin ke masjid, meremehkan penghafal Al-Qur’an, bahkan menjadikan ajaran agama sebagai bahan candaan demi memperoleh perhatian di media sosial. Fenomena seperti ini mengingatkan kita bahwa ejekan terhadap agama bukanlah sesuatu yang baru. Rasulullah SAW telah mengalaminya terlebih dahulu.
Bagi siapa pun yang berusaha menyampaikan kebenaran, ayat ini merupakan sumber ketenangan. Jangan berhenti berdakwah hanya karena dicibir, difitnah, atau diremehkan. Selama dakwah dilakukan dengan hikmah, ilmu, dan akhlak yang baik, perlindungan Allah lebih kuat daripada makar manusia. Allah tidak menjanjikan bahwa jalan dakwah akan bebas dari ujian, tetapi Allah menjanjikan bahwa kebenaran tidak akan dikalahkan oleh ejekan.
Di sisi lain, ayat ini juga menjadi peringatan keras agar seorang Muslim menjaga lisannya. Jangan sampai kita ikut-ikutan meremehkan syariat Allah atau menjadikan simbol-simbol agama sebagai bahan lelucon. Bisa jadi sesuatu yang dianggap lucu di dunia justru menjadi penyesalan besar di akhirat. Karena itulah Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Mereka kelak akan mengetahui (akibatnya).” Kalimat yang singkat ini mengandung ancaman bahwa setiap ejekan terhadap kebenaran akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap bersih dari segala bentuk kemusyrikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Semoga Allah meneguhkan kita untuk mencintai kebenaran, menghormati syariat-Nya, dan tetap istiqamah menyampaikan risalah Islam dengan hikmah meskipun menghadapi ejekan dan penolakan. Aamiin.

