Orang Kafir di Zaman Nabi, Walaupun Bertemu Nabi dan Melihat Mukjizat Tetap tidak Beriman

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاَ قْسَمُوْا  بِا للّٰهِ  جَهْدَ  اَيْمَا نِهِمْ  لَئِنْ  جَآءَتْهُمْ  اٰيَةٌ  لَّيُؤْمِنُنَّ  بِهَا  ۗ قُلْ  اِنَّمَا  الْاٰ يٰتُ  عِنْدَ  اللّٰهِ  وَمَا  يُشْعِرُكُمْ  اَنَّهَاۤ  اِذَا  جَآءَتْ  لَا  يُؤْمِنُوْنَ

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa jika datang suatu mukjizat kepada mereka, pastilah mereka akan beriman kepada-Nya. Katakanlah, Mukjizat-mukjizat itu hanya ada pada sisi Allah. Dan tahukah kamu, bahwa apabila mukjizat (ayat-ayat) datang, mereka tidak juga akan beriman.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 109)

Orang kafir di zaman nabi walaupun bertemu nabi dan melihat mukjizat tetap tidak beriman

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Muhammad bin Ka’ab berkata, “Orang Quraisy berkata kepada Nabi saw, “Wahai Muhammad, engkau menceritakan bahwa Musa a.s. memiliki tongkat yang dipukulkan ke batu, lalu keluar dua belas mata air, Isa a.s. menghidupkan orang-orang mati dan kaum samud memiliki unta. Maka datangkanlah kepada kami sebagian hal tersebut, kami akan mempercayaimu.” Rasulullah saw menjawab, “apa yang kalian mau?” Orang Quraisy menjawab, “Bukit Safa jadikan emas.” Rasul menjawab, “kalau aku lakukan, apakah kalian mengimaniku.” Mereka menjawab, “ya, demi Allah kami semua mengikutimu.” Lalu Rasulullah saw berdoa, maka datanglah Jibril a.s. dan berkata, “jika engkau mau Bukit Safa dijadikan emas, namun saya tidak diperintahkan untuk mendatangkan mukjizat, untuk didustakan kecuali ditimpakan siksa, atau dibiarkan agar bertobat sebagian mereka.” Maka Allah menurunkan ayat ini.

Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan bahwa seandainya Nabi dapat mendatangkan mukjizat seperti yang mereka harapkan, niscaya mereka akan percaya bahwa ayat-ayat yang diterima Nabi itu benar-benar datang dari Allah dan mereka akan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa keingkaran mereka kepada ayat-ayat Allah telah memuncak. Mereka sebenarnya tidak sanggup memahami bukti-bukti kebenaran yang terkandung dalam ayat-ayat yang diterima oleh Nabi, kemudian mereka mengusulkan agar diturunkan tanda-tanda kebenaran yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka hanyalah mencari-cari persoalan untuk menjatuhkan pribadi Nabi dengan jalan meminta turunnya mukjizat, padahal mukjizat-mukjizat itu diberikan berdasarkan izin Allah dan kebijaksanaan-Nya, tidak tergantung pada kehendak serta kemauan seseorang.

Allah memerintahkan kepada Nabi bahwa sesungguhnya ayat-ayat itu datang dari Allah semata, jadi kekuasaan menurunkan wahyu itu tidak di tangan Muhammad melainkan di tangan Allah yang diberikan menurut kehendak-Nya.
Allah berfirman: Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. (ar-Ra’d/13: 38)

Sesudah itu Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin yang mengharapkan datangnya mukjizat kepada Nabi, untuk memenuhi permintaan orang-orang kafir itu bahwa meskipun diturunkan mukjizat sesuai dengan permintaan mereka, mereka tidak akan pernah beriman. Oleh sebab itu orang Islam tidak perlu menghiraukan tuntutan mereka.

Orang kafir di zaman nabi walaupun bertemu nabi dan melihat mukjizat tetap tidak beriman, muslim diakhir zaman tidak bertemu nabi dan tidak melihat mukjizat tapi beriman ini yang luar biasa.

Umar bin Khatthab pernah berkisah. Saya bersama Rasulullah SAW sedang duduk-duduk. Rasul SAW bertanya kepada para sahabat, “Katakan kepadaku, siapakah makhluk Allah yang paling besar imannya?” Para sahabat menjawab, “Para malaikat, wahai Rasul”. Nabi SAW bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat”. Para sahabat menjawab lagi, “Para Nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah SWT, wahai Rasul”. Rasulullah SAW bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu.

Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat”. “Wahai Rasul, para syuhada yang ikut bersyahid bersama para Nabi,” jawab mereka kembali. Rasul bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat”. “Lalu siapa, wahai Rasul?,” tanya para sahabat. Lalu Nabi SAW bersabda, “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku.

Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman”. Alquran sebagai sumber kebenaran telah ada di hadapan kita. Cara mengamalkannya telah diberikan oleh Rasulullah SAW lewat hadis dan sunnah-sunnahnya.

Ajakan untuk berbuat kebaikan pun “berseliweran” di sekitar kita. Apa yang kurang? Tinggal kemauan untuk menggali dan mengeksplorasi saja yang kita perlukan. Allah SWT pun telah memberikan contoh bagaimana orang-orang yang ingkar. Gambaran kehancuran kaum-kaum yang menolak kebenaran ada di hadapan kita. Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut itu, maka di antara umat itu ada orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.” (QS An-Nahl [16]: 36).

Andaikan boleh berandai-andai. Tidak ada jaminan bagi kita untuk lebih baik bila kita hidup sezaman dengan Rasulullah SAW. Mungkin kita akan menjadi salah seorang penentang dakwah mereka. Sekarang kita bisa lapang dada menerima seruan untuk beriman kepada Allah karena kita lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Islam. Namun, apa jadinya kalau kita hidup lima belas abad lalu; satu zaman dan satu tempat dengan Rasulullah SAW, lalu menerima seruan seperti itu? Mungkin kita akan bergabung dengan Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan, atau kaum kafir Quraisy lainnya untuk menghalangi dakwah Rasulullah SAW.

Umat di zaman nabi Musa, ikut nabi Musa yang tidak punya kekuasaan dan masanya sedikit atau ikut Firaun yang punya kekuasaan dan masanya banyak.

Semoga kita istiqomah di jalan kebenaran bukan ikut yang masanya banyak dan mempunyai kekuasaan.