Nabi Nuh; Rasul Pertama yang Mengajarkan Tauhid

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

لَقَدْ  اَرْسَلْنَا  نُوْحًا  اِلٰى  قَوْمِهٖ  فَقَا لَ  يٰقَوْمِ  اعْبُدُوا  اللّٰهَ  مَا  لَـكُمْ  مِّنْ  اِلٰهٍ  غَيْرُهٗ  ۗ اِنِّيْۤ  اَخَا فُ  عَلَيْكُمْ  عَذَا بَ  يَوْمٍ  عَظِيْمٍ

“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat).” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 59)

Kisah Nabi Nuh, rasul pertama yang mengajarkan ajaran tauhid.

Patung-patung dari pemimpin-pemimpin mereka yang semula dibuat untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa mereka, mereka jadikan sembahan atau sekutu Allah

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Setelah pada ayat yang lalu diterangkan tentang nikmat Allah berupa hujan yang bisa menumbuhkan tanah tandus dan tanamtanaman sebagai bukti keesaan Allah untuk menghidupkan orangorang yang telah mati pada hari Kiamat, pada ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya Allah menyebutkan kisah beberapa nabi terdahulu dan umatnya sebagai pelajaran bagi umat Nabi Muhammad. Penyebutan kisah-kisah nabi ini dimulai dari Kisah Nabi Nuh, rasul pertama yang mengajarkan ajaran tauhid.

Pada ayat ini Allah menceritakan tentang kisah Nabi Nuh dan kerasulannya. Pada masa antara Nabi Adam dan Nabi Nuh dunia mulai membangun peradabannya. Manusia mula-mula masih menyembah Allah menurut agama yang dibawa oleh Nabi Adam. Tetapi lama-kelamaan karena kesibukan dalam kehidupan duniawi mereka mulai menjauhkan diri dari agama sehingga semangat beragama mulai menurun. Ajaran tauhid yang bersemi di hati sanubari mereka mulai pudar.

Patung-patung dari pemimpin-pemimpin mereka yang semula dibuat untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa mereka, mereka jadikan sembahan atau sekutu Allah, karena menurut paham mereka patung-patung itu dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah. Akhirnya mereka lupa kepada Allah, dan memandang bahwa patung-patung itulah tuhan yang diharapkan kebaikannya, dan dimohon nikmat anugerah dan ditakuti siksaannya.

Setelah kepercayaan manusia kepada Allah memudar di masa itu maka Allah tidak membiarkan mereka terus-menerus dalam kesesatan. Oleh karena itu, Allah mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya. Kisah tentang kerasulan Nabi Nuh ini ditujukan kepada orang-orang Arab yang berada di Mekah dan sekitarnya yang mengingkari kerasulan Nabi Muhammad. Pengetahuan mereka tentang sejarah para rasul dan umat-umat pada masa dahulu sangat sedikit sekali karena mereka sekadar mendengar dari orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berada di sekitar mereka.

Allah dalam ayat ini meyakinkan mereka bahwa sebenarnya Allah telah mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya untuk memperingatkan mereka akan kemurkaan Allah disebabkan kekufuran mereka. Setelah Nuh diutus menjadi Rasul dia menyeru kaumnya yang kafir agar meninggalkan berhala dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan Pencipta segala sesuatu Dialah Tuhan yang sebenarnya. Manusia wajib menyembah-Nya dengan penuh khusyuk dan tawadhu’. Nabi Nuh mengemukakan kepada kaumnya tentang kekhawatirannya bahwa mereka akan memperoleh siksaan yang sangat pada hari pembalasan nanti jika mereka tidak mengindahkan seruannya.

Sebagian mufassirin memandang bahwa hari pembalasan yang dimaksud pada ayat ini adalah hari terjadinya taufan. Selanjutnya kekhawatiran yang dikemukakan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya menunjukkan bahwa Nabi Nuh telah berputus-asa setelah menjalankan dakwah dalam masa yang cukup lama, namun tidak ada tanggapan dari kaumnya, sebagaimana diketahui dari ayat-ayat berikut:
Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran). (Nuh/71: 5-6).

Nabi nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia

Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa setiap umat itu ada Rasulnya, Likulli Ummatin Rasul; bagi setiap umat ada Rasulnya. Jumlah Nabi dan Rasul itu banyak dan yang dinyatakan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, dan disepakati oleh ulama sebanyak 25 orang. Para Nabi dan Rasul itu diutus untuk umat pada zamannya.

Sejarah para Nabi dalam Al-Qur’an dinyatakan dengan jelas, bahwa ajaran semua Nabi itu sama, yaitu tauhidullah (mengesakan) Allah, menyembah hanya kepada Allah, serta patuh melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah.

Berbeda dari Nabi-nabi sebelumnya yang diutus hanya untuk kaumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah subhanahu wata’ala untuk semua manusia. Beliau diutus oleh Allah untuk melanjutkan perjuangan para Nabi/Rasul sebelumnya, menyempurnakan, melengkapi dan dalam batas-batas tertentu mengoreksi ajaran-ajaran para Nabi yang telah diubah atau disalahartikan oleh para pengikutnya.

Beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Inni Rasulun Ilaikum Jami’an. Kepada umatnya beliau pun menyampaikan agar Islam yang dibawanya itu disampaikan kepada seluruh umat manusia.

وَمَاۤ  اَرْسَلْنٰكَ  اِلَّا  كَآ فَّةً  لِّلنَّا سِ  بَشِيْرًا  وَّنَذِيْرًا  وَّلٰـكِنَّ  اَكْثَرَ  النَّا سِ  لَا  يَعْلَمُوْنَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’ 34: Ayat 28).

سَمِعْنَا  وَاَ طَعْنَا  غُفْرَا نَكَ  رَبَّنَا  وَاِ لَيْكَ  الْمَصِيْرُ

Sami’na wa atho’na ghufronaka robana wa ilaykal mashir

“Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 285)