Keterbatasan Manusia, hanya Mengetahui Sesuatu Secara Lahir Saja

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِرْجِعُوْۤا  اِلٰۤى  اَبِيْكُمْ  فَقُوْلُوْا  يٰۤاَ بَا نَاۤ  اِنَّ  ابْنَكَ  سَرَقَ  ۚ وَمَا  شَهِدْنَاۤ  اِلَّا  بِمَا  عَلِمْنَا  وَمَا  كُنَّا  لِلْغَيْبِ  حٰفِظِيْنَ
“Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah, Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui dan kami tidak mengetahui apa yang di balik itu.” (QS. Yusuf 12: Ayat 81)
Keterbatasan manusia, hanya mengetahui sesuatu secara lahir saja
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Karena tidak lagi ada peluang bagi anak-anak Nabi Yakub untuk mengubah keputusan Al-Aziz, mereka menyerah. Mereka dengan berat hati meninggalkan Bunyamin. Saudara tertua mereka, karena merasa gagal menjaga Bunyamin, pun tetap tinggal di Mesir. Ia berpesan kepada mereka, “Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah kepadanya dengan lembut, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu, Bunyamin, telah dituduh mencuri piala raja, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui secara lahir, dan kami tidak mengetahui apa yang di balik itu.
Keterbatasan  manusia hanya mengetahui yang lahir.
وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا
“Kami tidak bersaksi kecuali berdasarkan apa yang kami ketahui”
– Manusia hanya bertanggung jawab atas apa yang tampak (zhahir)
– Manusia tidak memiliki akses kepada hakikat batin dan takdir Allah
– Pengetahuan manusia terbatas, parsial, dan bisa keliru
Mereka (saudara-saudara Yusuf):
– Melihat bukti lahiriah (piala ada pada Bunyamin)
– Menyimpulkan sesuai hukum dan fakta yang terlihat
– Tidak mengetahui bahwa semua itu bagian dari rencana Allah dan rekayasa Yusuf
Maka ayat ini menegaskan: keterbatasan manusia dalam mengetahui kebenaran secara utuh.
2. Tadabbur dari QS Yusuf 81;
A. Prinsip keadilan dalam Islam: menilai yang lahir, bukan yang batin. Ayat ini menjadi dasar kaidah:
“Hukum dan kesaksian dibangun atas yang tampak, bukan atas yang gaib.”
Manusia:
– Menilai berdasarkan bukti
– Bersaksi berdasarkan ilmu
– Tidak dituntut mengetahui niat tersembunyi
Yang Maha Mengetahui batin hanyalah Allah.
B. Pengakuan jujur atas keterbatasan diri
“Kami tidak mengetahui perkara yang gaib”
Ini adalah akhlak ilmu:
– Tidak mengklaim tahu segalanya
– Tidak memaksakan tafsir atas hal yang di luar pengetahuan
– Berani berkata “kami tidak tahu”
Ini pelajaran besar di zaman spekulasi dan tuduhan.
C. Tragedi manusia: berkata benar tapi tetap menyakitkan
Secara fakta, ucapan mereka benar:
– Bunyamin “terbukti” mencuri
– Mereka bersaksi sesuai pengetahuan
Namun secara hakikat:
– Mereka menyampaikan kabar yang sangat menyakitkan Ya’qub
– Mereka sendiri tidak memahami rencana Allah
Tadabburnya:
Ucapan yang benar secara lahir belum tentu mencerminkan kebenaran hakiki.
D. Kontras antara ilmu manusia dan ilmu Allah
Dalam satu kisah:
– Saudara Yusuf: tahu sebagian
– Nabi Ya’qub: punya firasat dan keyakinan
– Yusuf: tahu rencana lahiriah
– Allah: menguasai keseluruhan skenario
QS Yusuf 81 mengajarkan:
Jangan tergesa-gesa menilai takdir hanya dari satu potongan peristiwa.
3. Inti tadabbur (ringkasan)
Beberapa inti pelajaran dari QS Yusuf 81:
1.Manusia hanya mengetahui yang tampak, Allah mengetahui hakikat
2.Kesaksian dan penilaian manusia selalu terbatas
3.Kejujuran ilmiah adalah mengakui batas pengetahuan
4.Takdir Allah sering berjalan di balik peristiwa yang tampak buruk
5.Jangan menghakimi sepenuhnya sebelum kisah selesai
Doa agar diselamatkan dari kesimpulan yang salah
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Allahumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah
“Ya Allah, tampakkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kami untuk mengikutinya; dan tampakkan kebatilan sebagai kebatilan