Kesadaran Dosa Melahirkan Tanggung Jawab

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَلَمَّا  اسْتَا۟يْـئَسُوْا  مِنْهُ  خَلَصُوْا  نَجِيًّا  ۗ قَا لَ  كَبِيْرُهُمْ  اَلَمْ  تَعْلَمُوْۤا  اَنَّ  اَبَا كُمْ  قَدْ  اَخَذَ  عَلَيْكُمْ  مَّوْثِقًا  مِّنَ  اللّٰهِ  وَمِنْ  قَبْلُ  مَا  فَرَّطْتُّمْ  فِيْ  يُوْسُفَ  ۚ فَلَنْ  اَبْرَحَ  الْاَ رْضَ  حَتّٰى  يَأْذَنَ  لِيْۤ  اَبِيْۤ  اَوْ  يَحْكُمَ  اللّٰهُ  لِيْ  ۚ وَهُوَ  خَيْرُ  الْحٰكِمِيْنَ
“Maka ketika mereka berputus asa darinya (putusan Yusuf) mereka menyendiri (sambil berunding) dengan berbisik-bisik. Yang tertua di antara mereka berkata, Tidakkah kamu ketahui bahwa ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan (nama) Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf? Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri ini (Mesir), sampai ayahku mengizinkan (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang terbaik.” (QS. Yusuf 12: Ayat 80)
Kesadaran atas janji kepada Allah dan dosa masa lalu menuntut tanggung jawab, keteguhan prinsip, serta penyerahan keputusan akhir hanya kepada keadilan Allah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah mengabarkan bahwa tatkala saudara-saudara Yusuf berputus asa karena Yusuf menolak salah seorang dari mereka untuk menggantikan Bunyamin, mereka lalu berkumpul untuk merundingkan secara rahasia apa yang akan mereka kerjakan selanjutnya. Saudaranya yang tertua yang bernama Yahuda berkata, “Bukankah kamu mengetahui bahwa ayahmu, Yakub, telah mengambil janji yang berat dari kita dengan nama Allah bahwa kita akan sungguh-sungguh menjaga keselamatan Bunyamin dan sanggup mengembalikannya kepada ayah, kecuali jika kita menghadapi bahaya yang besar yang tidak dapat dihindari.
Penahanan Bunyamin ini akan membuat ayah kita bertambah sedih, terlebih bila diingat bahwa kita dahulu telah menyia-nyiakan Yusuf.” “Oleh sebab itu,” kata Yahuda lebih lanjut, “aku tidak akan meninggalkan Mesir sampai ayahku mengizinkanku untuk kembali, atau sampai Allah memberi keputusan lain kepadaku karena Allahlah yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib dan Dia adalah Hakim yang paling baik.”
Setelah upaya membebaskan Bunyamin gagal, saudara-saudara Yusuf berputus asa terhadap keputusan hukum yang adil. Mereka menyendiri dan bermusyawarah. Saudara tertua menolak pulang, karena:
1. Terikat janji kepada ayah dengan nama Allah
2. Masih memikul dosa lama terhadap Yusuf
3. Lebih memilih menanggung akibat daripada mengulangi pengkhianatan
4. Menyerahkan hasil akhirnya kepada keputusan Allah
Tadabbur;
1. Kesadaran dosa melahirkan tanggung jawab; “Sebelumnya kalian telah menyia-nyiakan Yusuf…”
Dosa masa lalu tidak hilang hanya dengan waktu, tetapi:
•Dengan penyesalan
•Dengan perbaikan sikap
•Dengan kesediaan menanggung konsekuensi
Orang yang mulai sadar akan dosanya, justru akan lebih berhati-hati dan bertanggung jawab.
2.  Janji atas nama Allah adalah amanah besar; “Ayah kalian telah mengambil janji dari kalian dengan nama Allah”
Janji yang dikaitkan dengan Allah:
•Bukan formalitas
•Bukan sekadar ucapan
•Tapi ikatan moral dan spiritual
– Rusaknya banyak urusan bangsa dan keluarga berawal dari meremehkan janji.
3. Musyawarah di saat krisis adalah adab; “Mereka menyendiri sambil berunding”
Dalam tekanan dan emosi:
•Mereka tidak bertindak gegabah
•Tidak menyalahkan orang lain di depan umum
•Memilih berunding dengan tenang
Keputusan besar seharusnya lahir dari musyawarah, bukan dari emosi dan kekuasaan. Tidak semua kesalahan harus ditimpakan ke orang lain. Saudara tertua berkata: “Aku tidak akan meninggalkan negeri ini…”
•Tidak mencari kambing hitam
•Tidak mengorbankan orang lain
•Siap menanggung risiko sendiri
Pemimpin sejati adalah yang berani menanggung akibat, bukan melempar kesalahan.
5. Tawakal bukan pasrah, tapi bertahan dalam kebenaran; “Sampai Allah memberi keputusan bagiku”
Ini bukan menyerah, tapi:
•Bertahan pada prinsip
•Menerima apapun hasilnya
•Yakin bahwa keadilan Allah pasti lebih baik
Tawakal adalah keteguhan hati setelah usaha maksimal, bukan alasan untuk lari dari tanggung jawab.
6. Allah adalah sebaik-baik hakim; “Dan Dia sebaik-baik pemberi keputusan”
Manusia bisa:
•Salah menilai
•Terikat kepentingan
•Tidak melihat keseluruhan kebenaran
Allah:
•Maha Adil
•Maha Mengetahui
•Tidak pernah zalim
Ketika hukum manusia mengecewakan, iman tetap tegak karena hukum Allah sempurna.
Relevansi Kehidupan (Hari Ini)
QS Yusuf:80 menegur kita bahwa:
•Jangan menutup kesalahan lama dengan kezaliman baru
•Jangan menyelamatkan diri dengan mengorbankan orang lain
•Tegakkan keadilan meski berat dan menyakitkan
Orang yang bertobat sungguh-sungguh tidak akan mengulangi kezaliman, meski harus menanggung risiko.
“Ya Allah, kami mengakui dosa-dosa kami dan kelalaian kami.
Jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang lari dari tanggung jawab atau melemparkan kesalahan kepada orang lain.
Tolonglah kami untuk menepati janji, tetap teguh di atas kebenaran, dan anugerahkan kesabaran hingga Engkau memberi keputusan bagi kami, karena Engkaulah sebaik-baik pemberi keputusan