Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِلَّاۤ اٰلَ لُوْطٍ ۗ اِنَّا لَمُنَجُّوْهُمْ اَجْمَعِيْنَ ۙ
“kecuali para pengikut Luth. Sesungguhnya kami pasti menyelamatkan mereka semuanya,” (QS. Al-Hijr Ayat 59).
Janji Keselamatan dari Allah untuk Orang Beriman (Refleksi Al-Hijr: 59)
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa para malaikat yang menjadi tamu Nabi Ibrahim menerangkan kepadanya bahwa mereka ditugaskan untuk membinasakan kaum Lut yang tidak mengindahkan seruan nabi yang diutus kepada mereka. Termasuk orang-orang yang dibinasakan itu adalah istri Luth sendiri. Sedangkan orang-orang yang mengikuti Lut akan diselamatkan dari azab itu.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa seseorang tidak dapat membebaskan orang lain dari azab Allah walaupun orang lain itu adalah istri, anak-anak atau orang tuanya, karena manusia bertanggung jawab kepada Allah atas segenap perbuatan yang telah dilakukannya. Allah tidak akan membebani seseorang dengan dosa orang lain sedikit pun. Firman Allah: “Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain (al-An’am/6: 164)”
Al Hijr 59, ayat ini merupakan bagian dari kisah kedatangan para malaikat utusan Allah ke kediaman Nabi Ibrahim sebelum mereka melanjutkan perjalanan untuk membinasakan kaum Sodom (kaum Nabi Luth).
Tadabur al Hijr 59;
1. Janji Allah bagi Orang-Orang Beriman
Ayat ini menegaskan dengan sangat kuat (ta’kid) menggunakan kata inna (sesungguhnya) dan lamunajjuhum (benar-benar kami menyelamatkan mereka). Ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah azab atau bencana dahsyat yang melanda suatu kaum karena kemaksiatan mereka, Allah memiliki skenario khusus untuk menjaga hamba-hamba-Nya yang saleh. Kesalehan seseorang tidak akan pernah disia-siakan oleh Allah.
2. Pentingnya Membangun Lingkungan dan Keluarga yang Saleh
Penggunaan kata “Aala Luuth” (Keluarga Luth) menunjukkan bahwa keselamatan di dunia dan akhirat sering kali erat kaitannya dengan bagaimana sebuah keluarga dibangun di atas fondasi iman. Meskipun nantinya kita tahu ada pengecualian (istri Nabi Luth yang berkhianat, yang dijelaskan di ayat berikutnya), poin utamanya adalah fokus utama seorang nabi adalah menyelamatkan keluarganya terlebih dahulu dari kesesatan.
3. Keadilan Allah yang Sempurna
Allah tidak pernah memukul rata suatu kaum. Ketika kaum Sodom dihancurkan karena dosa-dosa mereka yang melampaui batas, keluarga Nabi Luth yang beriman dipisahkan secara fisik dan diselamatkan. Ini memberikan ketenangan bagi kita bahwa di dunia yang mungkin penuh dengan fitnah dan kemaksiatan hari ini, Allah tetap melihat dan menilai setiap individu berdasarkan ketakwaannya sendiri, bukan berdasarkan dosa masyarakat di sekelilingnya.
4. Harapan di Tengah Keputusasaan
Bagi Nabi Luth yang bertahun-tahun berdakwah dalam tekanan yang luar biasa dari kaumnya yang menyimpang, ayat ini (yang disampaikan malaikat kepada Nabi Ibrahim) adalah bentuk kepastian dan pertolongan yang mutlak. Ini mengajarkan kita untuk tidak pernah berputus asa dari pertolongan Allah, sekecil apa pun peluangnya di mata manusia.
*Bukan Kesalehan Egois: Mengapa Pengikut Nabi Luth Diselamatkan sedangkan yang Diam Ikut Diadzab?*
Jika ada orang beriman yang tahu ada kemaksiatan besar di lingkungannya, mampu menegur, tetapi memilih diam dan “merasa aman” dengan kesalehan pribadinya, kelompok inilah yang disebut dalam ayat lain akan ikut digulung oleh azab.
Allah SWT menegaskan risiko ini dalam Surat Al-Anfal ayat 25:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu…” (QS. Al-Anfal: 25).
Rasulullah SAW juga pernah ditanya oleh Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa padahal di tengah-tengah kita ada orang-orang yang saleh?” Rasulullah menjawab: “Ya, jika keburukan/kemaksiatan sudah merajalela.” (HR. Bukhari & Muslim).
Doa Memohon ’Afiyah (Keselamatan dan Perlindungan Menyeluruh)
Rasulullah SAW mengajarkan doa ini untuk dibaca setiap pagi dan petang. Doa ini memohon ‘afiyah, yaitu perlindungan Allah dari segala bencana, penyakit, dan keburukan di dunia maupun akhirat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوُ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Alloohumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fid-dunyaa wal aakhiroh.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan keselamatan (pembebasan dari penyakit dan marabahaya) di dunia dan di akhirat.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

