Ibrah dari Kisah Nabi Yusuf; Penjara Bukan Aib, Nabi dan Ulama Besar Ada yang Dipenjara tanpa Alasan yang Jelas

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
ثُمَّ  بَدَا  لَهُمْ  مِّنْۢ  بَعْدِ  مَا  رَاَ وُا  الْاٰ يٰتِ  لَيَسْجُنُـنَّهٗ  حَتّٰى  حِيْنٍ
“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu.” (QS. Yusuf 12: Ayat 35)
Kriminalisasi, di penjara tanpa kesalahan. Penjara bukan aib, nabi dan ulama besar ada yang dipenjara tanpa alasan yang jelas
Dalam tafsir lengkap Kemenag RI; Ayat ini menerangkan bahwa menteri beserta istrinya telah melihat bukti-bukti bahwa Yusuf adalah orang baik, jujur, dan mempunyai akhlak yang mulia serta mempunyai keimanan dan kepercayaan yang teguh kepada Tuhannya. Selama mereka bergaul dengan Yusuf, tidak pernah mereka melihat perbuatan Yusuf yang salah. Nyata bagi mereka, bahwa Yusuf selalu dipelihara Tuhannya dan dilindungi-Nya dari perbuatan-perbuatan yang keji. Walaupun dia dituduh, dibujuk, dan diancam namun Yusuf tetap tenang dan selalu meminta perlindungan kepada Tuhannya.
Hal seperti itu bukan saja diketahui dengan jelas oleh menteri dan istrinya, tetapi juga oleh seluruh keluarga istana. Sungguh pun begitu, Yusuf tetap dimasukkan ke dalam penjara untuk waktu yang tidak ditentukan sebagai pelaksanaan dari permintaan istrinya, agar dianggap oleh orang banyak bahwa Yusuf bersalah, padahal istrinya yang bersalah. Yusuf tidak merasa sengsara dan hina dalam penjara. Dengan pergaulan dalam penjara itu, Yusuf bertambah kuat imannya, bertambah tabah hati dan jiwanya, makin banyak rahasia manusia yang diketahuinya, dan makin besar keagungan Allah yang dirasakannya.
Ayat ini datang setelah Yusuf -‘alayhis-salām- dinyatakan tidak bersalah, namun para pembesar tetap memilih memenjarakannya demi menjaga citra mereka. Ini adalah potret kriminalisasi klasik: ketika kebenaran kalah oleh kekuasaan.
1. Penjara bukan bukti kesalahan , tapi ujian kemuliaan; Ayat ini tidak pernah menyebut “Yusuf bersalah”, namun mengatakan bahwa iyyāka wa-sy-shahwah (godaan dan fitnah) itulah yang menyebabkan ia dijebloskan ke penjara.
Allah ingin mengajarkan: Penjara bukanlah aib. Aib adalah ketidakadilan itu sendiri.
Yusuf masuk penjara bukan karena ia buruk, tetapi karena ia terlalu bersih, sehingga kejujurannya menjadi ancaman bagi orang zalim. Banyak nabi dan ulama mengalami hal yang sama:
•Nabi Musa diusir,
•Nabi Ibrahim dibakar,
•Imam Ahmad dipenjara,
•Ibn Taymiyyah dipenjara,
•bahkan Rasulullah ﷺ sendiri difitnah dan diboikot.
Mereka tidak hina karena hukuman itu. Yang hina adalah kezaliman yang menjatuhkan mereka.
2. Allah menyiapkan Yusuf, bukan menghukumnya; Penjara bagi Yusuf adalah madrasah, bukan hukuman. Di penjara ia:
• menjadi guru bagi para tahanan,
• melatih hikmah,
• dikenal dengan akhlaknya,
• hingga akhirnya ia dipanggil raja.
Kadang Allah membawamu ke tempat yang tidak engkau inginkan untuk mempersiapkanmu menuju tempat yang engkau doakan. Penjara bisa menahan tubuh, tetapi tidak bisa menahan takdir Allah.
3. Kezaliman manusia tidak membatalkan rencana Allah; Para pembesar Mesir memenjarakan Yusuf untuk “menghilangkan masalah”.  Tetapi Allah menjadikannya jalan menuju kemuliaan negara dan penyelamatan umat. Begitu pula seseorang yang dizalimi, difitnah, atau dikriminalisasi: manusia mungkin menutup pintu, tapi Allah sedang membuka pintu yang lebih besar dari arah yang tidak disangka.
4. Ketenangan hati di tengah fitnah adalah tanda kedekatan dengan Allah; Yusuf memasuki penjara dengan hati yang tetap bersyukur dan penuh dakwah. Seseorang yang dipenjara tanpa kesalahan, tapi tetap menjaga iman, adalah seperti Yusuf: Allah menaikkan derajatnya melalui kesabaran.
Orang yang dipenjara tanpa kesalahan bukan orang hina, tetapi orang yang sedang disucikan dan disiapkan Allah.
Penjara bukan akhir, melainkan salah satu ayat perjalanan hidup.
Yusuf tidak bermasalah, yang bermasalah adalah orang-orang yang takut pada kebenaran yang ia bawa.
Di Indonesia ada beberapa ulama yang di penjara dengan kasus yang tidak jelas seperti Hamka, Ba’asyir, Rizieq, bisa dijadikan contoh dalam konteks Indonesia. Mereka menunjukkan bahwa penjara kadang bukan bukti salahnya seseorang tapi bukti bahwa ia bisa menjadi korban konflik ideologi/politik.
Doa Memohon Keteguhan di Atas Kebenaran
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُتَشَابِهًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ، وَاهْدِنَا لِصِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ.
“Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami bahwa yang batil itu batil dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya. Jangan Engkau jadikan keduanya samar bagi kami hingga kami tersesat. Dan bimbinglah kami ke jalan-Mu yang lurus.”