Apa yang telah diberikan, berusaha untuk tidak diambil lagi

‎بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

‎ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

‎سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ نْ  اَرَدْتُّمُ  اسْتِبْدَا لَ  زَوْجٍ  مَّكَا نَ  زَوْجٍ   ۙ وَّاٰتَيْتُمْ  اِحْدٰٮهُنَّ  قِنْطَا رًا  فَلَا  تَأْخُذُوْا  مِنْهُ  شَيْــئًا   ۗ اَ  تَأْخُذُوْنَهٗ  بُهْتَا نًا  وَّاِثْمًا  مُّبِيْنًا

“Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali sedikit pun darinya. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 20)

Apa yang telah diberikan, berusaha untuk tidak diambil lagi

وَاٰ  تُوا  النِّسَآءَ  صَدُقٰتِهِنَّ  نِحْلَةً   ۗ فَاِ نْ  طِبْنَ  لَـكُمْ  عَنْ  شَيْءٍ  مِّنْهُ  نَفْسًا  فَكُلُوْهُ  هَنِيْۤـئًـا  مَّرِ یْۤـئًـا

“Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 4).

Jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati (dikembalikan tapi dengan ikhlas), bukan dipaksa, maka terimalah dan nikmatilah.

Penceraian yang inisiatifnya datang dari pihak istri (khulu’), maka dia harus memberi ganti rugi kepada suami sesuai dengan kesepakatan mereka berdua. Tetapi, besaran tebusan tersebut tidak boleh melebihi mahar yang pernah diberikan suami.

Hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban tentang kasus istri Tsabit bin Qais yang mengadukan perihal suaminya kepada Rasulullah SAW. Beliau bertanya: “Maukah kamu mengembalikan kebunnya (Tsabit)?” Istri Tsabit menjawab: “Mau.” Lalu Rasulullah saw. berkata kepada Tsabit bin Qais: “Ambillah kembali kebunmu dan ceraikanlah dia satu kali.”

Tetapi jika perceraian itu inisiatifnya datang dari suami (thalak), maka suami sama sekali tidak berhak dan tidak boleh meminta kembali mahar yang telah diberikan kepada istrinya.

Jadi, hanya perceraian yang inisiatifnya datang dari istri (khulu, gugat cerai) saja yang memperbolehkan suami meminta kembali maharnya atau meminta tebusan sebesar mahar yang pernah diberikan pada istrinya.

jika yang meminta cerai adalah pihak suami (thalak) maka istri tidak berkewajiban untuk mengembalikan mahar tersebut. Sedangkan jika pihak istri yang meminta cerai (khulu’) maka ia wajib mengembalikan pemberian suami tersebut kepadanya. Hal itu berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Abbas RA:

“Sesungguhnya istri Tsabit bin Qais datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata: “wahai Rasulullah, aku tidak mencelanya (Tsabit) dalam hal akhlaknya maupun agamanya, akan tetapi aku benci kekufuran (karena tidak mampu menunaikan kewajibannya) dalam Islam” Maka Rasulullah SAW berkata padanya: “Apakah kamu mengembalikan pada suamimu kebunnya? Wanita itu menjawab: iya. Maka Rasulullah SAW berkata kepada Tsabit: “terimalah kebun tersebut dan ceraikanlah ia 1 kali talak” (HR Bukhori, Nasa’y dan Ibnu Majah. Nailul Authar 6/246)

Fikih ibadah, mengajarkan manusia baik terhadap Allah SWT.
Fikih muamallah, mengajarkan manusia baik terhadap manusia.
Fikih al-bi’ah, fikih lingkungan , mengajarkan manusia baik terhadap lingkungan.

Semoga kita termasuk orang yang baik terhadap Allah SWT, baik terhadap manusia dan baik terhadap lingkungan.