Setiap generasi siswa memiliki karakter dan kepribadian yang unik sehingga pendidik perlu memahami karakteristik generasi yang selalu berubah seiring perkembangan zaman. Lalu, yang manakah generasi Z dan generasi A? Apakah sama dengan generasi millenial? Bagaimanakah karakteristiknya? Dan apa yang harus dilakukan?
Gen Z adalah generasi kelahiran dari tahun 1995-2010. Untuk generasi ini teknologi semakin melekat dengan kehidupan. Komunikasi menjadi sebuah keberanian karena mereka membutuhkan interaksi yang dominan dalam seluruh kegiatannya.
Generasi A adalah generasi kelahiran dari tahun 2011 sampai dengan saat ini. Untuk generasi A masih banyak riset yang dilakukan sampai saat ini. Generasi A atau generasi alpha adalah anak anak dari generasi millenial. Untuk generasi ini bahasa global lebih sering digunakan dalam keseharian.
Persamaan generasi Z dan generasi A adalah memiliki karakter kritis, kreatif, terbuka dan bebas, sangat peduli dengan teknologi dan menyukai kegiatan interaksi dialogis. Lebih senang belajar bersama dan mampu bekerja sama dalam melakukan sesuatu.
Ketika kita bicara komunikasi di era digital seperti saat ini, maka komunikasi yang dibutuhkan adalah komunikasi yang dialogis atau dua arah walapun tidak bertatap muka secara langsung. Semuanya serba digital. Oleh karena itu, kita akan banyak membahas tentang digital public speaking atau digital communication.
Apa sih yang diperlukan dalam komunikasi digital?
- Framing (posisi diri kita di depan layar kamera)
Posisi tubuh di depan layar menjadi hal penting karena ini berkaitan dengan visualisasi peserta didik. Ada 2 posisi yang bisa kita padukan pada saat sedang berkomunikasi secara online atau digital yaitu close-up dan medium. Close up artinya memposisikan tubuh secara lebih dekat dengan kamera sedangkan medium berarti posisi tubuh agak mundur sedikit sehingga yang nampak di layar adalah bagian kepala hingga dada.
Gunakanlah angle yang eye level yaitu posisi pengambilan gambar yang sejajar dengan mata. Tidak terlalu atas dan tidak terlalu bawah. Visualisasi ini akan membuat lawan bicara kita menjadi nyaman. Selain itu, pilihlah background yang enak dan nyaman untuk dilihat. Hindari mengunakan background yang berantakan dan tidak estetis. Gunakan lighting yang ballance. Jangan terlalu terang ataupun gelap. Inti dari komunikasi adalah kenyamanan. Sehingga perputaran informasi dalam komunikasi akan berjalan dengan efektif. Gunakan audio yang terdengar jelas dan jernih. Ada 3 hal dalam komunikasi yaitu: verbal, vocal, dan visual.
- Teknik Claps (clear, loud, and powerfull speaking)
Kita harus mempunyai kemampuan bicara yang jelas, terdengar dengan baik, dan berenergi positif. Gunakan intonasi yang baik dan tidak monoton. Ada aksentuasi atau penekanan pada kata-kata tertentu. Gunakan artikulasi yang baik. Jangan bicara terlalu cepat dan jangan bergumam. Gunakanlah kurang lebih 110-130 kata per menit. Gunakan scrip terlebih dahulu supaya kita bisa memprediksi kecepatan bicara.
Untuk mendapatkan suara yang enak didengar maka gunakan diafragma supaya suaranya menjadi lebih bulat dan powerfull. Suara yang seperti ini akan lebih berkharisma. Selain itu, hindari pengulangan kata yang berlebihan dan miliki penampilan yang meyakinkan dengan memperhatikan baju yang kita kenakan.
Generasi Z dan A sangat kritis dalam menilai bahasa tubuh pembicara. Oleh karena itu, kita harus menggunakan ekspresi saat bicara. Misalnya menyapa dengan senyuman, menggunakan gerakan yang meyakinkan, dll. Bahasa tubuh diperlukan oleh setiap pendidik. Gerakkan kepala, badan yang tegap, juga gerakan tangan. Sekitar 88% siswa di Indonesia setuju jika gurunya menunjukkan antusiasme/kegembiraan dalam belajar. Kuncinya adalah komunikasi yang disertai dengan siap yang fun.

