Guru Full Kasih Sayang

8 Juli 2015 | Dibaca : 1753x | Oleh : Ari Nugraha
Oleh: Nanang Mulyana, S.Pd Pendidikan merupakan sebuah dunia yang dilahirkan dari rahim kasih sayang. Pendidikan harus berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan pendidik sebagai orang tua dan anak didik (murid) sebagai anak. Seorang guru disebut profesional dan berkarakter jika muridnya senang ketika diajar, mampu menerima pelajaran dengan baik, dab tujuan pembelajaran tercapai. Hal ini akan dicapai bila seorang guru mengajar muridnya dengan sepenuh hati. Pendidikan dilakukan dengan hati lewat ungkapan rasa kasih sayang, keikhlasan, kejujuran, keagamaan, dan suasana kekeluargaan. Dalam mendidik siswanya guru tidak dibatasi oleh waktu dan tempat, seperti orang tua dalam mendidik anaknya. Guru harus ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada para siswanya sepanjang waktu. Demikian pula dengan tempat pendidikannya tidak terbatas hanya didalam ruang kelas saja, dimanapun seorang guru berada dia harus sanggup memainkan perannya sebagai seorang pendidik sejati. Tetapi pada masa sekarang ini semakin lama semakin hilang dalam system pendidikan kita ini. Guru sebagai sosok yang pantas digugu dan ditiru, penting baginya untuk menempuh pendekatan yang disertai dengan kelembutan terhadap anak didiknya. Menurut seorang ahli, ada beberapa hal yang harus ditempuh oleh seorang guru untuk mengembangkan sekolah ramah anak. Yaitu jadilah guru yang tidak lagi bertindak sebagai penguasa kelas atau mata pelajaran, tetapi bertindaklah sebagai pembimbing keals atau mata pelajaran. Kurangi kelantangan suara dan utamakan keramahtamahan dalam bersuara. Kurangi sebanyak mungkin nada memerintah dan diganti dengan ajakan. Hindarkan sebanyak mungkin hal-hal yang menekan siswa, hal-hal yang menekan diganti dengan pemberian motivasi terhadap anak sehingga bukan paksaan yang dimunculkan tetapi pemberian stimulus. Jauhkan sikap guru yang ingin "menguasai" siswa karena sikap yang lebih baik adalah sikap yang mengendalikan siswa. Kata-kata yang disampaikan oleh guru bukan kata-kata mencela, tetapi merupakan ucapan-ucapan yang dapat membangun keberanian dan kepercayaan diri anak didiknya. Semakin menurunnya nuansa kasih sayang dalam interaksi antara guru dengan peserta didiknya telah melahirkan sikap guru yang lebih suka menghukum daripada tersenyum. Guru lebih suka menghardik daripada bersikap empatik. Guru yang baik adalah guru yang melandasi interaksinya dengan siswa diatas nilai-nilai cinta dan kasih sayang. Dengan cintalah akan lahir keharmonisan. Di era globalisasiyang selalu mengedepankan emosi di sisi hati, ditengah mewabahnya kekeringan sosial dan krisis kesnatunan moral, maka sebuah keniscayaan bagi guru untuk merevitalisasi penanaman sikap santun dan keramahan di sekolah sebagai lemabaga rekayasa sosial. Seperti yang dikatakan oleh pakar pendidikan kita Arif Rahman bahwa di era reformasi yang serba kebablasan ini guru harus mengajar muridnya dengan hati (cinta dan kasih sayang) bukan emosi. Sikap cinta dan kasih sayang seorang guru tercermin melalui kelembutan, kesabaran, penerimaan, kedekatan, keakraban, serta sikap-sikap positif lainyadalam berinteraksi dengan lingkungannya, khususnya dengan para siswa. Sosok guru yang selalu menebar kasih sayang pada siswa akan melahirkan sebuah kharisma. Siswa akan mencintai guru dengan dengan cara mengidolaknnya, serta menempatkan dia sebagai sosok yang berwibawa dan disegani. Cinta adalah sikap batin yang melahirkan kelembutan, kesabaran, kelapangan, kreativitas, serta tawakkal. Jaring-jaring cinta yang kita tebar dengan penuh keikhlasan akan tersambut positif oleh siswa. Sesuai dengan kalimat hikmah "siapa menanam, dialah yang akan memetik hasilnya." Respon balik dari rasa cinta siswa bisa terwujud melalui sikap-sikap positif. Contohnya: penghormatan, kepatuhan, motivasi belajar, kecintaan terhadap tugas, dan rasa ingin selalu menghargai guru yang dicintainya. Dengan sikap-sikap seperti ini maka siswa akan merasakan bahwa belajar sudah bukan lagi sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan bahkan keasyikan. Maka akan muncul gairah untuk berprestasi didalam jiwa siswa. Menggunakan kata cinta tidak semudah mengucapkannya, dibutuhkan kiat dan seni khusus agar sinyal cinta guru dapat dipahami siswa. Kalau kita kehilangan harta, maka kita bisa mencarinya. Ketika kehilangan kesehatan, kita merasa ada sebagian yang hilang. Tetapi kalau kita kehilangan karakter, kita akan merasa kehilangan semuanya. Nah, jika seorang pendidik sudah kehilangan karakternya hancurlah negri ini. Pentingnya karakter bagi murid adalah karena murid adalah generasi muda penerus bangsa agar bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik.  
Bagikan :  

Informasi Menarik Lainnya

Sekolah Berasrama di Indonesia
21 Maret 2015
Oleh: Ir. Tonton Taufik, MBA Sekolah Berasrama di Indonesia – Sebagai sebuah negara yang memiliki bermilyaran penduduk, tentu Indonesia juga membuka ...
Pertemuan Orang Tua Siswa Al Ma’soem
25 Agustus 2015
Seiring dengan perkembangan pendidikan yang kian pesat saat ini sekolah tak lagi menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab penuh atas kualitas ...
Wisuda purna siswa dan pentas seni Tk Munggang 2019
20 Juni 2019
                Mentari kembali terbit dari Timur, akhirnya hari yang ...
Sekolah Perbankan di Al Ma’soem
27 Maret 2015
Oleh: Ir. Tonton Taufik, MBA Sekolah Perbankan – Menapaki era modernisasi pada zaman terkini, banyak dari masyarakat memercayakan uang atau harta yang ...
SMA Al Ma'soem Selenggarakan CBP Camp 2017
27 Desember 2017
Jatinangor – SMA Al Ma’soem kembali menggelar kegiatan Cageur, Bageur, Pinter Camp untuk para peserta didiknya. CBP Camp kali ini diselenggarakan ...
san3
MEssa
pcs20202021
Banner Pendaftaran
Download File
Keseharian Santri
Kunjungan Jokowi ke Al Ma'soem
Presiden Joko Widodo memberikan pidato dan bingkisan bagi siswa Al Ma'soem

Almasoem Group

Yayasan Al Ma'soem Bandung (YAB)
Jl. Raya Cipacing No. 22
Jatinangor – Sumedang
Telp. (022) 7798204 – 7798243 – 7792448 –  +628112206666
E-mail: info@masoem.com

Bagikan :
Copyright © almasoem.sch.id 2019
All rights reserved
Scroll Top