{"id":9100,"date":"2022-10-12T10:39:33","date_gmt":"2022-10-12T02:39:33","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=9100"},"modified":"2023-06-08T15:32:21","modified_gmt":"2023-06-08T07:32:21","slug":"boarding-school-al-masoem-solusi-pendidikan-untuk-melahirkan-pemimpin-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/boarding-school-al-masoem-solusi-pendidikan-untuk-melahirkan-pemimpin-masa-depan\/","title":{"rendered":"Boarding School Al Masoem : Solusi Pendidikan Untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini tidak ada sekolah dari berbagai lapisan dan tingkat kependidikan yang secara khusus memiliki kemampuan menghasilkan para peserta didiknya untuk menjadi pemimpin. Belum ada format pendidikan untuk mempersiapkan pemimpin, apalagi dengan harapan untuk dapat melahirkan pemimpin masa depan. Pemimpin bangsa memang tidak bisa disiapkan secara sengaja melalui institusi pendidikan. Namun, tentunya dalam proses pendidikan semua peserta didik akan banyak belajar dan mendapatkan \u201cpelajaran\u201d yang langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap kualitas dan gaya kepemimpinannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat pendidikan berbeda dengan pengajaran, pendidikan mempunyai arti yang lebih luas lagi. Pendidikan dapat berlangsung di masyarakat, di keluarga, di tempat bekerja dan tempat lainnya sementara pengajaran dalam prosesnya harus berlangsung secara terorganisir melalui institusi (formal) persekolahan termasuk di perguruan tinggi dengan menumbuhkan nilai-nilai positif yang bermanfaat di kemudian hari. Siswa perlu diajarkan dan dikenalkan secara dini dalam sistem pendidikan (nasional) agar pada saat dibutuhkan mereka telah memiliki kapasitas dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">akseptabilitas <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang memadai untuk memimpin. Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting dan telah menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi dalam upaya memberdayakan masyarakat agar dari masyarakat yang sudah terbedayakan ini akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang efektif, baik pemimpin politik, bisnis, agama, maupun sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia munculnya sekolah-sekolah Berasrama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">(Boarding School)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sejak pertengahan tahun 1990. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi pendidikan Indonesia yang selama ini berlangsung dipandang belum memenuhi harapan yang ideal. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Boarding School<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang pola pendidikannya lebih <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">komprehensif-holistik<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih memungkinkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ideal untuk melahirkan orang-orang yang akan dapat membawa gerbong dan motor pergerakan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan agama.<\/span><\/p>\n<p><b>Boarding School: Pendidikan Alternatif untuk Melahirkan Pemimpin<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada dua fenomena menarik\u00a0 dalam dunia pendidikan di Indonesia yakni munculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah); dan penyelenggaraan sekolah bermutu yang sering disebut dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boarding school<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Nama lain dari istilah boarding<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> school<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah sekolah berasrama. Para murid mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam anak didik berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru pembimbing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lingkungan sekolah ini mereka dipacu untuk menguasai ilmu dan teknologi secara intensif sedangkan selama di lingkungan asrama mereka ditempa untuk menerapkan ajaran agama atau nilai-nilai khusus serta\u00a0 mengekspresikan rasa seni dan keterampilan hidup di hari libur. Hari-hari mereka adalah hari-hari berinteraksi dengan teman sebaya dan para guru. Rutinitas kegiatan \u00a0 tersebut berlangsung dari pagi hingga malam sampai bertemu pagi lagi. Mereka menghadapi makhluk hidup yang sama, orang yang sama, lingkungan yang sama, dinamika dan romantika yang seperti itu pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem pendidikan seperti itu secara tradisional\u00a0 jejaknya dapat kita selami dalam dinamika kehidupan pesantren, pendidikan gereja, bahkan di bangsal-bangsal tentara. Pendidikan berasrama telah banyak melahirkan tokoh besar dan mengukir sejarah kehidupan umat manusia mulai dari Filosof Plato hingga cendekiawan Nurcholish Madjid. Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa mereka memang orang-orang yang bercikal bakal menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">the great man<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> and <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">indigenous people<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Apakah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boarding\u00a0 school<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memang bukan untuk pendidikan orang biasa? Atau sekolah ini khusus melahirkan calon-calon orang besar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadiran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boarding school<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah suatu keniscayaan zaman kini. Keberadaannya adalah suatu konsekuensi logis dari perubahan lingkungan sosial dan keadaan ekonomi serta cara pandang religiusitas masyarakat. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, lingkungan sosial kita kini telah banyak berubah terutama di kota-kota besar. Sebagian besar penduduk tidak lagi tinggal dalam suasana masyarakat yang homogen, kebiasaan lama bertempat tinggal dengan keluarga besar satu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">klan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau marga telah lama bergeser ke arah masyarakat yang heterogen, majemuk, dan plural. Hal ini berimbas pada pola perilaku masyarakat yang berbeda karena berada dalam pengaruh nilai-nilai yang berbeda pula. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat yang terdidik dengan baik menganggap bahwa lingkungan sosial seperti itu sudah tidak lagi kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual dan moralitas anak.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, keadaan ekonomi masyarakat yang semakin membaik mendorong pemenuhan kebutuhan di atas kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Bagi kalangan menengah-atas yang baru muncul akibat tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi sehingga mendapatkan posisi-posisi yang baik dalam lapangan pekerjaan berimplikasi pada tingginya penghasilan mereka. Hal ini mendorong niat dan tekad untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak melebihi pendidikan yang telah diterima orang tuanya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, cara pandang religiusitas. Masyarakat telah, sedang, dan akan terus berubah. Kecenderungan terbaru masyarakat perkotaan sedang bergerak ke arah yang semakin religius. Indikatornya adalah semakin diminati dan semaraknya kajian dan berbagai kegiatan keagamaan. Modernisasi membawa implikasi negatif dengan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan rohani dan jasmani. Untuk itu masyarakat tidak ingin hal yang sama akan menimpa anak-anak mereka. Intinya, ada keinginan untuk melahirkan generasi yang lebih agamis atau memiliki nilai-nilai hidup yang baik mendorong orang tua mencarikan sistem pendidikan alternatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari ketiga faktor di atas, sistem pendidikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boarding school<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seolah menemukan pasarnya. Dari segi sosial, sistem <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boarding school mengisolasi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. Di lingkungan sekolah dan asrama di konstruksi suatu lingkungan sosial yang relatif homogen yakni teman sebaya dan para guru pembimbing. Homogen dalam tujuan yakni menimba ilmu untuk menggapai harapan hidup yang lebih berkualitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi ekonomi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boarding school<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memberikan pelayanan yang paripurna sehingga menuntut biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu, anak didik akan benar-benar terlayani dengan baik melalui berbagai layanan pendidikan dan fasilitas yang baik. Terakhir dari segi semangat religiusitas, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boarding school<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani, intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir peserta didik yang tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secara iman dan amal soleh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi di atas memungkin siswa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boarding school<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berkembang menjadi pribadi yang utuh (insan kamil) sebagai prasyarat untuk menjadi pemimpin. Pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang baik seperti: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">creativity, morality, courage, knowledge, dan commitment.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Calon pemimpin minimal harus memiliki kelima sifat-sifat positif tersebut, mengingat pemimpin bisa menjadi simbol moral dan pemersatu bagi komunitasnya, pemimpin harus bisa menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">agent of development<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menuju kesejahteraan, kemakmuran. Seorang pemimpin harus mampu membawa komunitasnya melangkah jauh kedepan bukan hanya sekedar menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">one step ahead<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tapi lebih <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">leading to the farthest<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p>Pena :\u00a0 Dadang Dimyati,S.S<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari segi sosial, sistem boarding school mengisolasi anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. <\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":9065,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"description":"Dari segi sosial, sistem boarding school mengisolasi anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk.","title":"Boarding School Al Masoem : Solusi Pendidikan Untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung"},"_slim_seo_primary_term_category":0,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[58,3560,184,922],"class_list":["post-9100","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-boarding-school","tag-kepemimpinan","tag-sekolah-berasrama","tag-sistem-pendidikan"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-07-at-4.22.36-PM.jpeg",1440,1080,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-07-at-4.22.36-PM-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-07-at-4.22.36-PM-300x225.jpeg",300,225,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-07-at-4.22.36-PM-768x576.jpeg",768,576,true],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-07-at-4.22.36-PM-1024x768.jpeg",1024,768,true],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-07-at-4.22.36-PM.jpeg",1440,1080,false],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-07-at-4.22.36-PM.jpeg",1440,1080,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-07-at-4.22.36-PM.jpeg",16,12,false]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Dari segi sosial, sistem boarding school mengisolasi anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. <\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>","author_info_v2":{"name":"Editor","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"}],"post_tag":[{"value":58,"label":"boarding school"},{"value":3560,"label":"kepemimpinan"},{"value":184,"label":"sekolah berasrama"},{"value":922,"label":"sistem pendidikan"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/10\/WhatsApp-Image-2022-10-07-at-4.22.36-PM-1024x768.jpeg",1024,768,true],"author_info":{"display_name":"Editor","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":4178,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":4178,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":58,"name":"boarding school","slug":"boarding-school","term_group":0,"term_taxonomy_id":58,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":137,"filter":"raw"},{"term_id":3560,"name":"kepemimpinan","slug":"kepemimpinan","term_group":0,"term_taxonomy_id":3560,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":7,"filter":"raw"},{"term_id":184,"name":"sekolah berasrama","slug":"sekolah-berasrama","term_group":0,"term_taxonomy_id":184,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":40,"filter":"raw"},{"term_id":922,"name":"sistem pendidikan","slug":"sistem-pendidikan","term_group":0,"term_taxonomy_id":922,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":5,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9100","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9100"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9100\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9065"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}