{"id":5376,"date":"2022-01-11T09:11:05","date_gmt":"2022-01-11T01:11:05","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=5376"},"modified":"2022-01-11T09:11:05","modified_gmt":"2022-01-11T01:11:05","slug":"pengembangan-kapasitas-guru-melalui-implementasi-pendidikan-karakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/pengembangan-kapasitas-guru-melalui-implementasi-pendidikan-karakter\/","title":{"rendered":"Pengembangan Kapasitas Guru Melalui Implementasi Pendidikan Karakter"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pentingnya kapasitas guru dalam penyelenggaraan pendidikan karakter adalah hal keniscayaan, guru adalah agen moral bagi siswa selain itu juga guru bertanggung jawab untuk mengajarkan argumentasi etis tentang tindakan\u00a0 anak-anak yang benar dan yang bagi tercapainya v. Untuk itu peran guru dalam pendidikan karakter bertindak sebagai pengasuh, teladan dan pembimbing, memperlakukan siswa dengan cinta dan menghormati, memberi contoh yang baik, mendukung perilaku prososial dan mengoreksi tindakan yang tidak sesuai. Guru menciptakan komunitas moral di sekolah, membantu siswa menghormati dan peduli satu sama lain dan merasa dihargai dalam kelompok, maupun lingkungan kelas tempat siswa terlibat dalam pengambilan keputusan. Guru sebagai model mempraktekkan disiplin moral, menggunakan penciptaan dan penerapan aturan sebagai kesempatan untuk mendorong penalaran moral, pengendalian diri dan rasa hormat kepada orang lain, dan mengajarkan nilai melalui kurikulum dengan menggunakan mata pelajaran akademik sebagai wahana untuk menguji nilai-nilai etika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan karakter adalah tentang pemodelan baik melalui interaksi sosial secara langsung maupun melalui proses saluran informasi. Salah satu model yang dikembangkan Al -Ma\u2019soem dalam adaptasinya terhadap perkembangan zaman di era 4.0 pendidikan karakter adalah yaitu: a) model pemrosesan informasi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">information processing models<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) mengenai karakter, moral dan etika, b) model personal (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">personal models<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), c) model sosial (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social models<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan d) model sistem perilaku dalam pembelajaran (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">behavioral models of teaching<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam model informasi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">information processing models<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), Guru memperkenalkan kepada siswa, wali murid maupun rekan kerja dalam pengenalan dan implementasi mengenai karakter, moral dan etika yang terbentuk melalui stimulus respon terhadap materi dan nilai-nilai etika. Guru membekali siswa dengan sejumlah kemampuan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">literacy ICT<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) agar mampu menggunakan alat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ICT<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sesuai\u00a0 kebutuhan informasi, mengetahui cara mengumpulkan tentang pendidikan karakter melalui internet, pengorganisasian informasi ke dalam skema klasifikasi, mengevaluasi informasi, dan menjadikannya sebagai dasar untuk menyusun argumentasi tindakan moral bahkan siswa dapat belajar untuk menerapkan dalam perilaku sehari-hari serta menyampaikan ilmu pengetahuan tentang pendidikan karakter kepada siswa lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Model pembelajaran sosial dapat digunakan meskipun dengan beberapa keterbatasan dan mengacu pada optimalisasi fungsi media pembelajaran berbasis internet. Asumsi pembelajaran dirumuskan\u00a0 berdasarkan interaksi guru dengan siswa, wali murid baik secara langsung maupun dimediasi oleh internet dengan situasi sosial virtual. Asumsi pembelajaran sosial yaitu perilaku karakter dan lingkungan saling mempengaruhi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Guru memperkenalkan melalui media internet mengenai ciri-ciri yang menunjukan konsistensi perilaku yang berkarakter individu, konteks, tujuan, serta memberikan stimulus agar siswa mengkonstruksinya dan memberikan argumentasi logis. Implementasi pendidikan karakter dalam perspektif sosial fokus pada (1) Efek modeling artinya para siswa melakukan peniruan terhadap model perilaku berkarakter yang arahkan untuk dipilih berdasarkan kriteria tertentu oleh guru melalui proses asosiasi-asosiasi misalnya disiplin dengan keberhasilan belajar, komitmen dengan kepercayaan teman2) guru memunculkan efek menghambat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">inhibitor<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan menghapus hambatan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">disinhibition<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) agar\u00a0 perilaku\u00a0 yang tidak sesuai dengan perilaku model dihambat kemunculannya melalui proses interaktif dan diskusi dengan siswa, tujuannya agar argumentasi untuk tidak meniru model didasarkan pada sejumlah argumentasi moral. Guru mengarahkan siswa agar meniru perilaku berkarakter\u00a0 yang sesuai\u00a0 dengan norma dan perilaku bermoral (3) Guru memunculkan agar siswa lebih mudah (efek kemudahan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">facilitation effect<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) untuk meniru dan mempraktekan tingkah laku yang pernah dipelajari agar muncul dan menjadi praktek harian berdasarkan argumentasi moral yang kuat ( <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">moral reasoning<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti halnya pembelajaran di Al Masoem dalam mencetak generasi yang mempunyai karakter, guru-guru dibekali pengetahuan pendidikan karakter hingga karakter yang akan dicapai yaitu karakter <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cageur, bageur<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pintar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terwujud. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa guru-guru di Al Ma\u2019soem kualitasnya tidak dapat diragukan lagi dalam mencetak generasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cageur, bageur, pinter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sehingga lahir generasi yang adaptif terhadap perubahan zaman.<\/span><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Dr. Rois Abdul Fatah, S.T.M.M<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":5377,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Pengembangan Kapasitas Guru Melalui Implementasi Pendidikan Karakter - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Penulis : Dr. Rois Abdul Fatah, S.T.M.M"},"_slim_seo_primary_term_category":0,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[1355,490,1358,1361,207,1359,1353,1354,1357,1356,1360,491],"class_list":["post-5376","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-guru-adalah","tag-implementasi-pendidikan-karakter","tag-komunitas-moral-di-sekolah","tag-model-pembelajaran-sosial","tag-pendidikan-karakter","tag-pendidikan-karakter-adalah","tag-pengembangan-kapasitas-guru","tag-pentingnya-kapasitas-guru","tag-peran-guru","tag-peran-guru-dalam-pendidikan-karakter","tag-perkembangan-zaman-di-era-4-0","tag-tujuan-pendidikan-karakter"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/IMG_20211021_162347-scaled.jpg",2560,1920,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/IMG_20211021_162347-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/IMG_20211021_162347-300x225.jpg",300,225,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/IMG_20211021_162347-768x576.jpg",768,576,true],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/IMG_20211021_162347-1024x768.jpg",1024,768,true],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/IMG_20211021_162347-1536x1152.jpg",1536,1152,true],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/IMG_20211021_162347-2048x1536.jpg",2048,1536,true],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/IMG_20211021_162347-scaled.jpg",16,12,false]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Penulis : Dr. Rois Abdul Fatah, S.T.M.M<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>","author_info_v2":{"name":"Editor","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"}],"post_tag":[{"value":1355,"label":"guru adalah"},{"value":490,"label":"Implementasi Pendidikan Karakter"},{"value":1358,"label":"komunitas moral di sekolah"},{"value":1361,"label":"Model pembelajaran sosial"},{"value":207,"label":"pendidikan karakter"},{"value":1359,"label":"Pendidikan karakter adalah"},{"value":1353,"label":"Pengembangan Kapasitas Guru"},{"value":1354,"label":"Pentingnya kapasitas guru"},{"value":1357,"label":"peran guru"},{"value":1356,"label":"peran guru dalam pendidikan karakter"},{"value":1360,"label":"perkembangan zaman di era 4.0"},{"value":491,"label":"Tujuan Pendidikan karakter"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/IMG_20211021_162347-1024x768.jpg",1024,768,true],"author_info":{"display_name":"Editor","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":2943,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":2943,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":1355,"name":"guru adalah","slug":"guru-adalah","term_group":0,"term_taxonomy_id":1355,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":490,"name":"Implementasi Pendidikan Karakter","slug":"implementasi-pendidikan-karakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":490,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":2,"filter":"raw"},{"term_id":1358,"name":"komunitas moral di sekolah","slug":"komunitas-moral-di-sekolah","term_group":0,"term_taxonomy_id":1358,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":1361,"name":"Model pembelajaran sosial","slug":"model-pembelajaran-sosial","term_group":0,"term_taxonomy_id":1361,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":207,"name":"pendidikan karakter","slug":"pendidikan-karakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":207,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":149,"filter":"raw"},{"term_id":1359,"name":"Pendidikan karakter adalah","slug":"pendidikan-karakter-adalah","term_group":0,"term_taxonomy_id":1359,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":1353,"name":"Pengembangan Kapasitas Guru","slug":"pengembangan-kapasitas-guru","term_group":0,"term_taxonomy_id":1353,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":1354,"name":"Pentingnya kapasitas guru","slug":"pentingnya-kapasitas-guru","term_group":0,"term_taxonomy_id":1354,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":1357,"name":"peran guru","slug":"peran-guru","term_group":0,"term_taxonomy_id":1357,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":7,"filter":"raw"},{"term_id":1356,"name":"peran guru dalam pendidikan karakter","slug":"peran-guru-dalam-pendidikan-karakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":1356,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":1360,"name":"perkembangan zaman di era 4.0","slug":"perkembangan-zaman-di-era-4-0","term_group":0,"term_taxonomy_id":1360,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":491,"name":"Tujuan Pendidikan karakter","slug":"tujuan-pendidikan-karakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":491,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5376","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5376"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5376\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5377"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5376"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5376"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5376"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}