{"id":37914,"date":"2026-09-15T18:04:12","date_gmt":"2026-09-15T10:04:12","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=37914"},"modified":"2026-09-15T18:04:12","modified_gmt":"2026-09-15T10:04:12","slug":"bagaimana-siswa-belajar-menentukan-urutan-pekerjaan-saat-memiliki-beberapa-tugas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/bagaimana-siswa-belajar-menentukan-urutan-pekerjaan-saat-memiliki-beberapa-tugas\/","title":{"rendered":"Bagaimana Siswa Belajar Menentukan Urutan Pekerjaan Saat Memiliki Beberapa Tugas?"},"content":{"rendered":"<p>Siswa sering kali memiliki lebih dari satu pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu yang berdekatan. Pada hari yang sama, misalnya, ada tugas matematika yang perlu dikumpulkan, laporan praktikum yang harus dirapikan, bahan presentasi kelompok yang perlu dipersiapkan, dan kegiatan ekstrakurikuler yang tetap harus diikuti. Jika semua pekerjaan dipikirkan sekaligus tanpa urutan yang jelas, siswa dapat merasa kewalahan meskipun sebenarnya setiap tugas masih mungkin diselesaikan.<\/p>\n<p>Kemampuan menentukan urutan pekerjaan menjadi salah satu keterampilan sederhana yang sangat berguna dalam kehidupan sekolah. Siswa tidak hanya belajar mengerjakan tugas sampai selesai, tetapi juga belajar memikirkan langkah mana yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. Keterampilan ini dapat membantu mereka bekerja dengan lebih terarah, mengurangi kebiasaan menunda, dan memahami bahwa menyelesaikan banyak tanggung jawab membutuhkan perencanaan.<\/p>\n<h2>Mengapa Urutan Pekerjaan Penting bagi Siswa?<\/h2>\n<p>Mengerjakan tugas tidak selalu berarti harus langsung menyelesaikan pekerjaan yang paling mudah. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, seperti batas waktu pengumpulan, tingkat kesulitan, waktu pengerjaan, dan apakah tugas tersebut membutuhkan bantuan orang lain.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, tugas yang harus dikumpulkan pagi hari tentu perlu mendapatkan perhatian lebih awal dibandingkan tugas yang masih memiliki waktu beberapa hari. Begitu juga pekerjaan kelompok yang membutuhkan koordinasi dengan teman sebaiknya tidak dikerjakan terlalu mendekati batas waktu karena ada kemungkinan anggota kelompok memiliki jadwal berbeda.<\/p>\n<p>Dengan menentukan urutan, siswa dapat melihat pekerjaan sebagai rangkaian langkah yang lebih jelas. Mereka tidak perlu terus-menerus memikirkan semua tugas dalam waktu bersamaan.<\/p>\n<h2>Membedakan Mana yang Harus Dikerjakan Lebih Dahulu<\/h2>\n<p>Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah melihat seluruh tugas yang dimiliki. Siswa dapat menuliskan pekerjaan tersebut secara sederhana agar tidak hanya mengandalkan ingatan.<\/p>\n<p>Setelah itu, siswa dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Kapan tugas harus dikumpulkan?<\/li>\n<li>Berapa lama waktu yang dibutuhkan?<\/li>\n<li>Apakah tugas membutuhkan kerja sama dengan teman?<\/li>\n<li>Apakah ada perlengkapan atau bahan yang perlu disiapkan?<\/li>\n<li>Apakah pekerjaan tersebut membutuhkan konsentrasi tinggi?<\/li>\n<li>Apakah ada kegiatan lain yang waktunya sudah ditentukan?<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pertanyaan tersebut membantu siswa melihat pekerjaan secara lebih realistis. Tugas yang terlihat sederhana belum tentu bisa dikerjakan dalam waktu singkat jika ternyata membutuhkan pencarian informasi atau persiapan tertentu.<\/p>\n<h2>Urutan Tidak Selalu Berarti dari yang Paling Sulit<\/h2>\n<p>Sebagian siswa mungkin berpikir bahwa pekerjaan paling sulit harus selalu dikerjakan pertama. Cara tersebut bisa membantu dalam kondisi tertentu, tetapi tidak selalu menjadi pilihan terbaik.<\/p>\n<p>Jika tugas yang sulit membutuhkan waktu panjang, siswa dapat memecahnya menjadi beberapa bagian. Sementara itu, pekerjaan yang lebih singkat dapat diselesaikan pada waktu tertentu agar daftar tugas tidak terlalu menumpuk.<\/p>\n<p>Yang terpenting bukan menentukan satu aturan yang berlaku untuk semua kondisi, melainkan memahami karakter setiap pekerjaan. Siswa perlu belajar menyesuaikan urutan berdasarkan situasi yang sedang dihadapi.<\/p>\n<h2>Membagi Pekerjaan Besar Menjadi Langkah Kecil<\/h2>\n<p>Tugas yang besar sering terasa berat karena siswa melihatnya sebagai satu pekerjaan utuh. Membuat laporan, misalnya, bukan hanya kegiatan menulis. Ada proses mencari informasi, menentukan struktur, mengolah data, menulis, memeriksa, dan memperbaiki hasilnya.<\/p>\n<p>Jika semua proses tersebut dianggap sebagai satu pekerjaan, siswa mungkin merasa tidak tahu harus mulai dari mana. Dengan membaginya menjadi beberapa langkah, pekerjaan akan terasa lebih mudah dikendalikan.<\/p>\n<p>Cara ini juga membuat siswa dapat menentukan pekerjaan mana yang bisa dilakukan lebih dahulu. Persiapan bahan dapat dilakukan sebelum menulis, sedangkan pemeriksaan dapat dilakukan setelah seluruh isi selesai dibuat.<\/p>\n<h2>Memperhatikan Waktu yang Tersedia<\/h2>\n<p>Urutan pekerjaan juga perlu disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Siswa dapat melihat jadwal sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, waktu belajar, serta waktu istirahat sebelum menentukan kapan sebuah tugas akan dikerjakan.<\/p>\n<p>Misalnya, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi mungkin lebih cocok dilakukan ketika kondisi tubuh masih segar. Sementara itu, pekerjaan ringan seperti merapikan catatan dapat dilakukan ketika waktu belajar sudah lebih terbatas.<\/p>\n<p>Dengan cara tersebut, siswa belajar bahwa mengatur pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan jam yang tersedia, tetapi juga kondisi diri sendiri.<\/p>\n<h2>Bagaimana dengan Tugas Kelompok?<\/h2>\n<p>Tugas kelompok memiliki tantangan yang berbeda karena penyelesaiannya melibatkan beberapa orang. Siswa tidak sepenuhnya dapat mengatur waktu sendiri karena ada bagian pekerjaan yang bergantung pada anggota kelompok lainnya.<\/p>\n<p>Karena itu, pekerjaan kelompok sebaiknya mulai dipersiapkan lebih awal. Siswa dapat menentukan siapa yang mengerjakan bagian tertentu, kapan bahan dikumpulkan, dan kapan hasilnya akan diperiksa bersama.<\/p>\n<p>Kebiasaan tersebut mengajarkan bahwa urutan pekerjaan juga berkaitan dengan koordinasi. Menunggu sampai hari terakhir dapat membuat anggota kelompok kesulitan menyesuaikan pekerjaannya.<\/p>\n<h2>Belajar Menghindari Kebiasaan Menunda<\/h2>\n<p>Menentukan urutan pekerjaan dapat membantu siswa mengenali kebiasaan menunda. Terkadang siswa sudah mengetahui tugas yang harus diselesaikan, tetapi memilih melakukan aktivitas lain karena tugas tersebut terasa sulit atau membosankan.<\/p>\n<p>Menunda bukan selalu berarti siswa tidak mau belajar. Bisa jadi mereka belum mengetahui langkah pertama yang harus dilakukan. Dengan membuat urutan sederhana, hambatan tersebut dapat dikurangi.<\/p>\n<p>Misalnya, daripada menulis \u201cmengerjakan laporan\u201d dalam daftar tugas, siswa dapat menuliskan \u201cmencari data\u201d, \u201cmembuat kerangka\u201d, dan \u201cmenulis bagian pertama\u201d. Langkah yang lebih spesifik membuat pekerjaan terasa lebih jelas untuk dimulai.<\/p>\n<h2>Tidak Semua Pekerjaan Harus Diselesaikan Sekaligus<\/h2>\n<p>Siswa juga perlu memahami bahwa bekerja secara teratur tidak berarti harus menyelesaikan seluruh tugas dalam satu waktu. Justru pekerjaan yang terlalu banyak dikerjakan sekaligus dapat membuat perhatian terbagi.<\/p>\n<p>Ketika sedang mengerjakan satu tugas, siswa dapat memberikan fokus pada pekerjaan tersebut terlebih dahulu. Setelah mencapai bagian yang sudah ditentukan, mereka dapat beralih ke pekerjaan berikutnya sesuai urutan.<\/p>\n<p>Cara seperti ini membantu siswa mengurangi kebiasaan berpindah-pindah pekerjaan tanpa menyelesaikan apa pun. Mereka dapat melihat perkembangan pekerjaan secara lebih nyata.<\/p>\n<h2>Peran Guru dalam Mengajarkan Pengelolaan Tugas<\/h2>\n<p>Guru dapat membantu siswa memahami cara mengatur pekerjaan melalui tugas yang diberikan secara bertahap. Ketika siswa mendapatkan proyek yang cukup besar, guru dapat menjelaskan tahapan yang perlu dilakukan dan memberikan batas waktu untuk bagian-bagian tertentu.<\/p>\n<p>Pendekatan tersebut membuat siswa memahami bahwa pekerjaan besar tidak harus selesai dalam satu malam. Ada proses perencanaan, pelaksanaan, pemeriksaan, dan perbaikan.<\/p>\n<p>Guru juga dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mencoba membuat urutannya sendiri. Dari situ, siswa dapat mengetahui apakah cara yang digunakan sudah efektif atau masih perlu diperbaiki.<\/p>\n<h2>Kegiatan Sekolah Juga Membutuhkan Urutan Pekerjaan<\/h2>\n<p>Kemampuan ini tidak hanya digunakan untuk tugas akademik. Ketika siswa terlibat dalam kegiatan sekolah, mereka juga perlu menentukan pekerjaan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu.<\/p>\n<p>Contohnya, ketika menjadi panitia sebuah acara, siswa mungkin perlu menyiapkan daftar peserta, perlengkapan, tempat, susunan acara, dan komunikasi dengan anggota lainnya. Jika semua dilakukan tanpa urutan, pekerjaan dapat saling bertabrakan.<\/p>\n<p>Menentukan langkah secara bertahap membuat kegiatan menjadi lebih mudah dikelola. Siswa juga belajar bahwa sebuah acara yang terlihat sederhana biasanya memiliki banyak pekerjaan di baliknya.<\/p>\n<h2>Belajar Menyesuaikan Urutan Ketika Kondisi Berubah<\/h2>\n<p>Rencana yang sudah dibuat tidak selalu berjalan sempurna. Ada kemungkinan guru memberikan tugas tambahan, jadwal kegiatan berubah, anggota kelompok belum menyelesaikan bagian pekerjaannya, atau waktu belajar menjadi lebih sedikit.<\/p>\n<p>Dalam kondisi tersebut, siswa perlu belajar menyesuaikan kembali urutannya. Hal ini berbeda dengan sekadar mengubah rencana karena malas. Penyesuaian dilakukan karena keadaan memang berubah.<\/p>\n<p>Kemampuan tersebut penting karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai jadwal. Siswa yang terbiasa menyesuaikan rencana dapat lebih siap menghadapi perubahan tanpa langsung merasa kehilangan kendali.<\/p>\n<h2>Mengapa Siswa Perlu Mengecek Pekerjaan yang Sudah Selesai?<\/h2>\n<p>Setelah satu pekerjaan selesai, siswa sebaiknya tidak langsung melupakan tugas tersebut. Ada baiknya memastikan bahwa pekerjaan sudah memenuhi kebutuhan yang diminta.<\/p>\n<p>Pengecekan dapat dilakukan dengan melihat kembali instruksi, kelengkapan isi, format, nama, tanggal pengumpulan, atau bagian lain yang diperlukan. Untuk tugas kelompok, siswa juga dapat memastikan bahwa bagian yang menjadi tanggung jawabnya sudah disampaikan kepada anggota lain.<\/p>\n<p>Kebiasaan ini membuat urutan pekerjaan tidak berhenti pada tahap \u201cselesai dikerjakan\u201d. Ada tahap memastikan bahwa pekerjaan memang siap digunakan atau dikumpulkan.<\/p>\n<h2>Membentuk Kemandirian Secara Bertahap<\/h2>\n<p>Pada awalnya, siswa mungkin masih membutuhkan bantuan orang tua atau guru untuk menentukan urutan pekerjaan. Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Kemampuan mengelola tugas memang berkembang melalui latihan.<\/p>\n<p>Seiring waktu, siswa dapat mulai membuat daftar pekerjaan sendiri, memperkirakan durasi pengerjaan, dan menentukan langkah yang perlu dilakukan. Orang dewasa dapat memberikan arahan tanpa mengambil alih seluruh proses.<\/p>\n<p>Kemandirian bukan berarti siswa harus mengerjakan semuanya tanpa bantuan. Kemandirian berarti siswa mampu memahami tanggung jawabnya dan mengetahui kapan perlu menyelesaikan sendiri serta kapan membutuhkan bantuan.<\/p>\n<h2>Hubungannya dengan Kehidupan di Sekolah dan Pesantren<\/h2>\n<p>Bagi siswa yang menjalani aktivitas sekolah sekaligus kehidupan pesantren, kemampuan mengurutkan pekerjaan menjadi semakin relevan. Ada kegiatan belajar, ibadah, aktivitas bersama, tugas pribadi, serta berbagai kegiatan lain yang perlu dijalankan dalam satu rangkaian hari.<\/p>\n<p>Situasi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar mengatur ritme kegiatannya. Mereka dapat memahami bahwa setiap aktivitas memiliki waktu dan tanggung jawab masing-masing.<\/p>\n<p>Lingkungan pendidikan yang memiliki banyak kegiatan dapat membantu siswa melihat bahwa keteraturan bukan sekadar aturan. Keteraturan juga menjadi alat agar berbagai tanggung jawab dapat berjalan tanpa saling mengganggu.<\/p>\n<h2>Dari Tugas Sekolah ke Kehidupan Masa Depan<\/h2>\n<p>Kemampuan menentukan urutan pekerjaan akan tetap berguna ketika siswa memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun dunia kerja. Hampir setiap aktivitas memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan dalam waktu tertentu.<\/p>\n<p>Seseorang yang mampu melihat pekerjaan secara bertahap akan lebih mudah menentukan langkah, memperkirakan waktu, dan menyesuaikan rencana ketika terjadi perubahan.<\/p>\n<p>Karena itu, belajar mengurutkan tugas sejak sekolah bukan sekadar cara agar pekerjaan rumah selesai tepat waktu. Keterampilan tersebut merupakan latihan untuk menjadi pribadi yang lebih terorganisasi, bertanggung jawab, dan mampu mengelola berbagai tuntutan secara bertahap.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siswa sering kali memiliki lebih dari satu pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu yang berdekatan. Pada hari yang sama, misalnya, ada tugas matematika yang perlu dikumpulkan, laporan praktikum yang harus dirapikan, bahan presentasi kelompok yang perlu dipersiapkan, dan kegiatan ekstrakurikuler yang tetap harus diikuti. Jika semua pekerjaan dipikirkan sekaligus tanpa urutan yang jelas, siswa dapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":36743,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Bagaimana Siswa Belajar Menentukan Urutan Pekerjaan Saat Memiliki Beberapa Tugas? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Siswa sering kali memiliki lebih dari satu pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu yang berdekatan. Pada hari yang sama, misalnya, ada tugas matematika ya"},"_slim_seo_primary_term_category":12,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12,1],"tags":[7198,8823,10816,11628,6875,8121,7432],"class_list":["post-37914","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-uncategorized","tag-kemandiriansiswa","tag-keterampilanbelajar","tag-manajementugas","tag-mengatururutantugas","tag-pendidikankarakter","tag-siswasekolah","tag-tanggungjawabsiswa"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-21.jpg",576,324,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-21-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-21-300x169.jpg",300,169,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-21.jpg",576,324,false],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-21.jpg",576,324,false],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-21.jpg",576,324,false],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-21.jpg",576,324,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-21-18x10.jpg",18,10,true]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Siswa sering kali memiliki lebih dari satu pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu yang berdekatan. Pada hari yang sama, misalnya, ada tugas matematika yang perlu dikumpulkan, laporan praktikum yang harus dirapikan, bahan presentasi kelompok yang perlu dipersiapkan, dan kegiatan ekstrakurikuler yang tetap harus diikuti. Jika semua pekerjaan dipikirkan sekaligus tanpa urutan yang jelas, siswa dapat merasa kewalahan meskipun sebenarnya setiap tugas masih mungkin diselesaikan. Kemampuan menentukan urutan pekerjaan menjadi salah satu keterampilan sederhana yang sangat berguna dalam kehidupan sekolah. Siswa tidak hanya belajar mengerjakan tugas sampai selesai, tetapi juga belajar memikirkan langkah mana yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. Keterampilan ini&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>, <a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/uncategorized\/\" rel=\"category tag\">Umum<\/a>","author_info_v2":{"name":"Penulis 3","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"},{"value":1,"label":"Umum"}],"post_tag":[{"value":7198,"label":"KemandirianSiswa"},{"value":8823,"label":"KeterampilanBelajar"},{"value":10816,"label":"ManajemenTugas"},{"value":11628,"label":"MengaturUrutanTugas"},{"value":6875,"label":"PendidikanKarakter"},{"value":8121,"label":"SiswaSekolah"},{"value":7432,"label":"TanggungJawabSiswa"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-21.jpg",576,324,false],"author_info":{"display_name":"Penulis 3","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":11057,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":11057,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0},{"term_id":1,"name":"Umum","slug":"uncategorized","term_group":0,"term_taxonomy_id":1,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":4757,"filter":"raw","cat_ID":1,"category_count":4757,"category_description":"","cat_name":"Umum","category_nicename":"uncategorized","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":7198,"name":"KemandirianSiswa","slug":"kemandiriansiswa","term_group":0,"term_taxonomy_id":7198,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":414,"filter":"raw"},{"term_id":8823,"name":"KeterampilanBelajar","slug":"keterampilanbelajar","term_group":0,"term_taxonomy_id":8823,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":56,"filter":"raw"},{"term_id":10816,"name":"ManajemenTugas","slug":"manajementugas","term_group":0,"term_taxonomy_id":10816,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":13,"filter":"raw"},{"term_id":11628,"name":"MengaturUrutanTugas","slug":"mengatururutantugas","term_group":0,"term_taxonomy_id":11628,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6875,"name":"PendidikanKarakter","slug":"pendidikankarakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":6875,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1492,"filter":"raw"},{"term_id":8121,"name":"SiswaSekolah","slug":"siswasekolah","term_group":0,"term_taxonomy_id":8121,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":637,"filter":"raw"},{"term_id":7432,"name":"TanggungJawabSiswa","slug":"tanggungjawabsiswa","term_group":0,"term_taxonomy_id":7432,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":246,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37914","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=37914"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37914\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":37925,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37914\/revisions\/37925"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36743"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=37914"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=37914"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=37914"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}