{"id":34752,"date":"2026-09-14T11:39:04","date_gmt":"2026-09-14T03:39:04","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=34752"},"modified":"2026-09-14T11:39:04","modified_gmt":"2026-09-14T03:39:04","slug":"bagaimana-sekolah-membantu-siswa-tidak-mudah-percaya-pada-rumor-di-lingkungan-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/bagaimana-sekolah-membantu-siswa-tidak-mudah-percaya-pada-rumor-di-lingkungan-sekolah\/","title":{"rendered":"Bagaimana Sekolah Membantu Siswa Tidak Mudah Percaya pada Rumor di Lingkungan Sekolah?"},"content":{"rendered":"<p>Lingkungan sekolah merupakan tempat siswa berinteraksi dengan banyak orang setiap hari. Dalam proses tersebut, berbagai informasi dapat muncul dan menyebar dengan cepat melalui percakapan langsung maupun grup komunikasi. Tidak semua informasi yang beredar merupakan pengumuman resmi atau fakta yang sudah dipastikan kebenarannya. Ada kalanya sebuah cerita hanya berasal dari perkiraan seseorang, kemudian disampaikan kepada teman lain dan berkembang menjadi rumor. Situasi seperti ini membuat siswa perlu belajar membedakan informasi yang dapat dipercaya dengan kabar yang masih belum jelas.<\/p>\n<p>Kemampuan menyikapi rumor menjadi bagian dari pendidikan karakter dan literasi informasi yang penting bagi siswa SMP. Mereka perlu memahami bahwa tidak semua hal yang didengar harus langsung dipercaya, apalagi diteruskan kepada orang lain. Sikap berhati-hati bukan berarti siswa harus selalu curiga terhadap teman, melainkan belajar memastikan informasi sebelum mengambil sikap. Dengan kebiasaan tersebut, lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang lebih nyaman untuk berinteraksi dan belajar.<\/p>\n<h2>Apa yang Membuat Rumor Mudah Menyebar?<\/h2>\n<p>Rumor biasanya berkembang karena informasi disampaikan secara tidak lengkap. Seseorang mungkin mendengar sebagian cerita, kemudian menyampaikannya kembali berdasarkan pemahamannya sendiri. Ketika cerita berpindah dari satu orang ke orang lain, detailnya dapat berubah.<\/p>\n<p>Keinginan untuk mengetahui sesuatu juga dapat membuat siswa tertarik membicarakan kabar yang belum pasti. Apalagi jika informasi tersebut dianggap menarik atau berkaitan dengan orang yang mereka kenal. Tanpa disadari, pembicaraan sederhana dapat berubah menjadi informasi yang dipercaya banyak orang meskipun sumber awalnya tidak jelas.<\/p>\n<h2>Tidak Semua Informasi dari Teman Itu Salah<\/h2>\n<p>Siswa perlu memahami bahwa mendengar informasi dari teman bukan berarti informasi tersebut pasti salah. Teman dapat saja menyampaikan kabar yang benar, tetapi belum tentu mengetahui keseluruhan konteksnya.<\/p>\n<p>Karena itu, yang penting bukan langsung menolak informasi tersebut, melainkan mengetahui apakah kabar tersebut sudah memiliki sumber yang jelas. Jika informasi berkaitan dengan kegiatan sekolah, aturan, jadwal, atau keputusan tertentu, siswa dapat memeriksanya melalui pihak yang berwenang.<\/p>\n<p>Sikap seperti ini membantu siswa tetap terbuka tanpa menjadi mudah percaya.<\/p>\n<h2>Belajar Bertanya, \u201cDari Mana Informasinya?\u201d<\/h2>\n<p>Salah satu kebiasaan sederhana yang dapat diajarkan kepada siswa adalah menanyakan sumber informasi. Ketika mendengar kabar yang belum jelas, siswa dapat bertanya apakah informasi tersebut berasal dari pengumuman, guru, pihak sekolah, atau hanya dari percakapan antarteman.<\/p>\n<p>Pertanyaan tersebut bukan untuk menyudutkan orang yang menyampaikan kabar. Tujuannya adalah mengetahui seberapa kuat dasar informasi tersebut.<\/p>\n<p>Dengan membiasakan diri menanyakan sumber, siswa mulai memahami bahwa kualitas sebuah informasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang membicarakannya.<\/p>\n<h2>Banyak yang Membicarakan Bukan Berarti Benar<\/h2>\n<p>Sebuah rumor dapat terdengar meyakinkan ketika sudah dibicarakan oleh banyak orang. Namun, jumlah orang yang mengetahui atau menyampaikan sebuah kabar tidak otomatis membuat kabar tersebut menjadi fakta.<\/p>\n<p>Siswa perlu memahami perbedaan antara popularitas informasi dan kebenaran informasi. Sebuah cerita dapat menyebar dengan sangat cepat justru karena menarik perhatian, bukan karena sudah terbukti.<\/p>\n<p>Pemahaman ini penting terutama ketika siswa berkomunikasi melalui grup kelas atau media digital.<\/p>\n<h2>Berhenti Sebelum Ikut Menyebarkan<\/h2>\n<p>Ketika menerima kabar yang menarik, siswa mungkin merasa ingin segera membagikannya kepada teman lain. Sebelum melakukan hal tersebut, mereka dapat berhenti sejenak dan mempertimbangkan apakah informasi tersebut memang perlu disampaikan.<\/p>\n<p>Beberapa pertanyaan sederhana dapat membantu:<\/p>\n<ul>\n<li>Apakah sumber informasinya jelas?<\/li>\n<li>Apakah informasi tersebut sudah dikonfirmasi?<\/li>\n<li>Apakah ada kemungkinan ceritanya tidak lengkap?<\/li>\n<li>Apakah orang lain dapat dirugikan jika informasi ini disebarkan?<\/li>\n<li>Apakah informasi tersebut memang perlu dibagikan?<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kebiasaan sederhana ini dapat mencegah siswa menjadi bagian dari penyebaran informasi yang belum tentu benar.<\/p>\n<h2>Rumor Dapat Berdampak pada Orang Lain<\/h2>\n<p>Rumor bukan hanya persoalan benar atau salah. Informasi yang belum terbukti dapat memengaruhi perasaan dan hubungan sosial seseorang.<\/p>\n<p>Jika sebuah kabar menyangkut seorang siswa, misalnya, orang tersebut dapat merasa tidak nyaman ketika banyak teman membicarakannya. Bahkan informasi yang awalnya dianggap sebagai candaan dapat berkembang menjadi kesalahpahaman yang lebih besar.<\/p>\n<p>Karena itu, siswa perlu belajar mempertimbangkan dampak sebelum meneruskan sebuah cerita.<\/p>\n<h2>Membedakan Fakta, Pendapat, dan Dugaan<\/h2>\n<p>Kemampuan membedakan fakta, pendapat, dan dugaan dapat membantu siswa menyikapi informasi dengan lebih kritis. Fakta memiliki dasar yang dapat diperiksa, sedangkan pendapat merupakan pandangan seseorang. Dugaan masih berupa kemungkinan yang belum terbukti.<\/p>\n<p>Ketiganya dapat muncul dalam satu percakapan. Misalnya, seseorang mengetahui bahwa sebuah kegiatan berubah jadwal sebagai fakta, kemudian memberikan pendapat mengenai alasan perubahan tersebut, lalu membuat dugaan mengenai apa yang akan terjadi berikutnya.<\/p>\n<p>Jika siswa tidak membedakan ketiga hal tersebut, dugaan dapat dianggap sebagai fakta.<\/p>\n<h2>Mengapa Grup Kelas Perlu Digunakan dengan Bijak?<\/h2>\n<p>Grup kelas dapat mempermudah komunikasi, tetapi juga dapat membuat informasi menyebar dalam waktu singkat. Sebuah pesan yang belum dipastikan dapat langsung diteruskan kepada banyak orang.<\/p>\n<p>Siswa perlu memahami bahwa kecepatan menyebarkan informasi harus diimbangi dengan ketelitian. Jika sebuah kabar belum jelas, lebih baik menunggu konfirmasi daripada ikut menyebarkannya.<\/p>\n<p>Penggunaan grup kelas secara bijak juga berarti tidak menjadikan ruang komunikasi bersama sebagai tempat untuk membicarakan orang lain secara sembarangan.<\/p>\n<h2>Bagaimana Jika Teman Mengajak Membicarakan Rumor?<\/h2>\n<p>Siswa mungkin berada dalam situasi ketika teman mengajak membahas kabar tentang seseorang. Mereka tidak harus langsung memusuhi atau menjauh dari teman tersebut.<\/p>\n<p>Siswa dapat memberikan respons sederhana seperti mengatakan bahwa informasi tersebut belum tentu benar atau menyarankan agar kabarnya dikonfirmasi terlebih dahulu. Sikap tersebut menunjukkan bahwa siswa dapat menjaga hubungan pertemanan tanpa harus mengikuti pembicaraan yang belum jelas.<\/p>\n<p>Kemampuan seperti ini membutuhkan keberanian sekaligus cara berkomunikasi yang tepat.<\/p>\n<h2>Belajar Tidak Menarik Kesimpulan Terlalu Cepat<\/h2>\n<p>Rumor sering membuat orang mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang sangat terbatas. Siswa perlu belajar bahwa satu kejadian belum tentu menggambarkan keseluruhan keadaan.<\/p>\n<p>Misalnya, seseorang melihat temannya tidak mengikuti kegiatan tertentu. Dari satu kejadian tersebut, muncul dugaan bahwa siswa tersebut tidak bertanggung jawab. Padahal, mungkin ada alasan lain yang belum diketahui.<\/p>\n<p>Dengan menahan kesimpulan sampai informasi lebih lengkap, siswa dapat menghindari penilaian yang tidak adil.<\/p>\n<h2>Peran Guru dalam Mengajarkan Literasi Informasi<\/h2>\n<p>Guru memiliki kesempatan untuk mengajarkan siswa bagaimana mengevaluasi informasi melalui berbagai kegiatan pembelajaran. Siswa dapat diberikan contoh informasi yang berbeda, kemudian diminta menentukan mana yang merupakan fakta, opini, atau dugaan.<\/p>\n<p>Pembelajaran semacam ini tidak harus selalu menggunakan kasus yang berkaitan dengan teman sekelas. Guru dapat menggunakan berita, contoh percakapan, atau situasi sehari-hari agar siswa terbiasa memeriksa informasi sebelum mempercayainya.<\/p>\n<p>Kebiasaan tersebut dapat diterapkan siswa ketika berhadapan dengan informasi di lingkungan sekolah.<\/p>\n<h2>Bagaimana Sekolah Membentuk Budaya Komunikasi yang Sehat?<\/h2>\n<p>Sekolah dapat membantu menciptakan budaya komunikasi yang mendorong siswa berbicara berdasarkan informasi yang jelas. Ketika terjadi kesalahpahaman, siswa dapat diarahkan untuk mencari penjelasan dari sumber yang tepat daripada membiarkan dugaan berkembang.<\/p>\n<p>Lingkungan sekolah seperti SMP Al Ma\u2019soem Bandung dengan berbagai aktivitas siswa menjadi ruang bagi mereka untuk belajar berkomunikasi dalam situasi yang beragam. Interaksi dalam pembelajaran, kegiatan kelompok, kokurikuler, maupun aktivitas lainnya dapat menjadi pengalaman untuk membangun kebiasaan saling menghargai dalam menerima dan menyampaikan informasi.<\/p>\n<p>Budaya komunikasi yang sehat tidak berarti tidak pernah terjadi kesalahpahaman. Yang lebih penting adalah bagaimana siswa belajar menyikapinya ketika kesalahpahaman muncul.<\/p>\n<h2>Ketika Rumor Berkaitan dengan Kegiatan Sekolah<\/h2>\n<p>Rumor mengenai kegiatan sekolah dapat menimbulkan kebingungan jika tidak segera dikonfirmasi. Misalnya, siswa mendengar bahwa lokasi kegiatan berubah, jadwal dibatalkan, atau ada aturan baru.<\/p>\n<p>Dalam kondisi seperti ini, siswa sebaiknya memeriksa pengumuman resmi atau bertanya kepada guru yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Informasi dari teman dapat menjadi petunjuk awal, tetapi kepastian tetap perlu diperoleh dari sumber yang tepat.<\/p>\n<p>Kebiasaan tersebut juga membantu siswa menjadi lebih mandiri dalam memperoleh informasi.<\/p>\n<h2>Tidak Ikut Menyebarkan Bukan Berarti Tidak Peduli<\/h2>\n<p>Ada anggapan bahwa siswa yang tidak ikut membicarakan sebuah kabar berarti tidak peduli terhadap lingkungan pertemanannya. Padahal, menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas justru dapat menjadi bentuk kepedulian.<\/p>\n<p>Siswa dapat memilih untuk tidak ikut meneruskan kabar sambil tetap membantu mencari informasi yang benar jika memang diperlukan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa siswa mempertimbangkan dampak dari perkataannya terhadap orang lain.<\/p>\n<p>Dengan demikian, kepedulian tidak selalu ditunjukkan melalui banyak bicara, tetapi juga melalui kemampuan menjaga informasi.<\/p>\n<h2>Bagaimana Jika Rumor Sudah Terlanjur Menyebar?<\/h2>\n<p>Jika sebuah informasi ternyata tidak benar dan sudah terlanjur tersebar, siswa dapat membantu menghentikan penyebarannya. Mereka tidak perlu mencari siapa yang paling bersalah, tetapi dapat menyampaikan bahwa informasi tersebut belum terbukti atau sudah diklarifikasi.<\/p>\n<p>Jika rumor berkaitan dengan persoalan yang serius dan berpotensi merugikan seseorang, siswa sebaiknya melibatkan guru atau pihak sekolah yang dapat menangani situasi tersebut.<\/p>\n<p>Hal ini mengajarkan siswa bahwa memperbaiki dampak informasi juga merupakan bagian dari tanggung jawab dalam berkomunikasi.<\/p>\n<h2>Mengembangkan Kebiasaan Memeriksa Informasi<\/h2>\n<p>Kebiasaan memeriksa informasi dapat dilakukan melalui langkah yang sederhana. Siswa dapat membaca kembali pesan, mencari sumber asli, membandingkan informasi dengan pengumuman resmi, atau bertanya kepada pihak yang berkaitan.<\/p>\n<p>Kebiasaan tersebut semakin penting karena siswa hidup dalam lingkungan yang penuh dengan informasi. Mereka tidak hanya menerima kabar dari percakapan langsung, tetapi juga dari media digital dan berbagai platform komunikasi.<\/p>\n<p>Kemampuan memilah informasi menjadi keterampilan yang dapat membantu siswa dalam kehidupan sekolah maupun di luar sekolah.<\/p>\n<h2>Menjaga Kepercayaan dalam Pertemanan<\/h2>\n<p>Pertemanan yang sehat membutuhkan rasa saling percaya. Ketika siswa terbiasa menyebarkan cerita tentang orang lain tanpa memastikan kebenarannya, kepercayaan dapat berkurang.<\/p>\n<p>Sebaliknya, siswa yang berhati-hati dalam berbicara menunjukkan bahwa mereka dapat menjaga informasi yang dipercayakan kepadanya. Mereka belajar bahwa tidak semua hal yang diketahui harus diceritakan kepada orang lain.<\/p>\n<p>Sikap tersebut dapat membantu membangun hubungan pertemanan yang lebih aman dan saling menghargai.<\/p>\n<h2>Rumor sebagai Kesempatan Belajar Bersikap Kritis<\/h2>\n<p>Rumor memang dapat menjadi masalah apabila dibiarkan berkembang, tetapi situasi tersebut juga dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar. Mereka dapat memahami pentingnya memeriksa sumber, menunda kesimpulan, mempertimbangkan dampak, dan memilih kata-kata dengan hati-hati.<\/p>\n<p>Keterampilan tersebut merupakan bagian dari kemampuan berpikir kritis yang dapat digunakan dalam berbagai situasi. Siswa tidak hanya belajar mempertanyakan informasi yang didengar, tetapi juga memahami tanggung jawab ketika menyampaikan informasi kepada orang lain.<\/p>\n<h2>Membentuk Siswa yang Bijak dalam Berkomunikasi<\/h2>\n<p>Kemampuan tidak mudah percaya pada rumor bukan berarti siswa harus menjadi pribadi yang tertutup. Justru, siswa dapat tetap aktif berkomunikasi sambil memiliki kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.<\/p>\n<p>Di lingkungan sekolah, kebiasaan tersebut dapat membantu menciptakan interaksi yang lebih sehat. Siswa belajar bahwa setiap perkataan memiliki dampak dan setiap informasi perlu diperlakukan sesuai tingkat kepastiannya.<\/p>\n<p>Dengan membiasakan diri bertanya, memeriksa, mengonfirmasi, dan mempertimbangkan dampak sebelum berbicara, siswa SMP dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih kritis, bertanggung jawab, dan mampu menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lingkungan sekolah merupakan tempat siswa berinteraksi dengan banyak orang setiap hari. Dalam proses tersebut, berbagai informasi dapat muncul dan menyebar dengan cepat melalui percakapan langsung maupun grup komunikasi. Tidak semua informasi yang beredar merupakan pengumuman resmi atau fakta yang sudah dipastikan kebenarannya. Ada kalanya sebuah cerita hanya berasal dari perkiraan seseorang, kemudian disampaikan kepada teman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":34245,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Bagaimana Sekolah Membantu Siswa Tidak Mudah Percaya pada Rumor di Lingkungan Sekolah? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Lingkungan sekolah merupakan tempat siswa berinteraksi dengan banyak orang setiap hari. Dalam proses tersebut, berbagai informasi dapat muncul dan menyebar deng"},"_slim_seo_primary_term_category":12,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12,28],"tags":[8109,8110,6875],"class_list":["post-34752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-kegiatan","tag-kehidupansekolah","tag-literasiinformasi","tag-pendidikankarakter"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-1-26.jpg",678,452,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-1-26-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-1-26-300x200.jpg",300,200,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-1-26.jpg",678,452,false],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-1-26.jpg",678,452,false],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-1-26.jpg",678,452,false],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-1-26.jpg",678,452,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-1-26-18x12.jpg",18,12,true]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Lingkungan sekolah merupakan tempat siswa berinteraksi dengan banyak orang setiap hari. Dalam proses tersebut, berbagai informasi dapat muncul dan menyebar dengan cepat melalui percakapan langsung maupun grup komunikasi. Tidak semua informasi yang beredar merupakan pengumuman resmi atau fakta yang sudah dipastikan kebenarannya. Ada kalanya sebuah cerita hanya berasal dari perkiraan seseorang, kemudian disampaikan kepada teman lain dan berkembang menjadi rumor. Situasi seperti ini membuat siswa perlu belajar membedakan informasi yang dapat dipercaya dengan kabar yang masih belum jelas. Kemampuan menyikapi rumor menjadi bagian dari pendidikan karakter dan literasi informasi yang penting bagi siswa SMP. Mereka perlu memahami bahwa tidak semua&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>, <a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/kegiatan\/\" rel=\"category tag\">Kegiatan<\/a>","author_info_v2":{"name":"Penulis 6","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"},{"value":28,"label":"Kegiatan"}],"post_tag":[{"value":8109,"label":"KehidupanSekolah"},{"value":8110,"label":"LiterasiInformasi"},{"value":6875,"label":"PendidikanKarakter"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-1-26.jpg",678,452,false],"author_info":{"display_name":"Penulis 6","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":10381,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":10381,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0},{"term_id":28,"name":"Kegiatan","slug":"kegiatan","term_group":0,"term_taxonomy_id":28,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":3860,"filter":"raw","cat_ID":28,"category_count":3860,"category_description":"","cat_name":"Kegiatan","category_nicename":"kegiatan","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":8109,"name":"KehidupanSekolah","slug":"kehidupansekolah","term_group":0,"term_taxonomy_id":8109,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":173,"filter":"raw"},{"term_id":8110,"name":"LiterasiInformasi","slug":"literasiinformasi","term_group":0,"term_taxonomy_id":8110,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":38,"filter":"raw"},{"term_id":6875,"name":"PendidikanKarakter","slug":"pendidikankarakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":6875,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1379,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34752"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34752\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34753,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34752\/revisions\/34753"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34245"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}