{"id":34103,"date":"2026-09-13T22:22:56","date_gmt":"2026-09-13T14:22:56","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=34103"},"modified":"2026-09-13T22:22:56","modified_gmt":"2026-09-13T14:22:56","slug":"apakah-sekolah-siap-menghadapi-dunia-kerja-yang-berubah-karena-otomasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/apakah-sekolah-siap-menghadapi-dunia-kerja-yang-berubah-karena-otomasi\/","title":{"rendered":"Apakah Sekolah Siap Menghadapi Dunia Kerja yang Berubah karena Otomasi?"},"content":{"rendered":"<p>Perubahan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi atau mencari informasi. Teknologi juga mulai mengubah cara pekerjaan dilakukan. Mesin dapat mengolah data dalam jumlah besar, perangkat lunak dapat menjalankan pekerjaan administratif, dan kecerdasan buatan mampu membantu berbagai tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu manusia.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut membuat hubungan antara pendidikan dan dunia kerja menjadi semakin kompleks. Pendidikan tidak lagi cukup hanya mempersiapkan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang saat ini tersedia. Pendidikan juga perlu mempertimbangkan bagaimana pekerjaan tersebut dapat berubah ketika teknologi berkembang.<\/p>\n<p>Pertanyaannya kemudian menjadi penting: <strong>apakah sistem pendidikan sudah benar-benar mempersiapkan generasi untuk menghadapi dunia kerja yang sebagian tugasnya dapat dilakukan oleh mesin?<\/strong><\/p>\n<p>Jawabannya tidak sederhana. Otomasi tidak berarti seluruh pekerjaan manusia akan hilang. Dalam banyak kasus, teknologi justru mengubah komposisi pekerjaan: sebagian tugas berkurang, sebagian tugas baru muncul, dan sebagian pekerjaan membutuhkan kemampuan yang berbeda.<\/p>\n<p>Karena itu, persoalan sebenarnya bukan sekadar \u201cmanusia akan digantikan mesin atau tidak\u201d, tetapi <strong>kemampuan apa yang tetap bernilai ketika mesin semakin mampu melakukan berbagai tugas rutin.<\/strong><\/p>\n<h2>Otomasi Tidak Selalu Berarti Hilangnya Sebuah Profesi<\/h2>\n<p>Salah satu kesalahpahaman mengenai otomasi adalah anggapan bahwa ketika sebuah teknologi dapat melakukan suatu tugas, profesi yang berkaitan dengan tugas tersebut otomatis akan hilang.<\/p>\n<p>Padahal, pekerjaan biasanya terdiri dari banyak tugas yang berbeda.<\/p>\n<p>Misalnya, sebuah pekerjaan administratif dapat mencakup memasukkan data, memeriksa dokumen, berkomunikasi dengan orang lain, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan memastikan prosedur berjalan dengan benar.<\/p>\n<p>Teknologi mungkin dapat mengotomatisasi sebagian pekerjaan tersebut, tetapi belum tentu seluruh rangkaiannya.<\/p>\n<p>Akibatnya, yang berubah sering kali bukan keberadaan profesinya, melainkan <strong>isi pekerjaan di dalam profesi tersebut<\/strong>.<\/p>\n<p>Inilah alasan mengapa pendidikan perlu mempersiapkan kemampuan yang dapat berpindah dari satu jenis pekerjaan ke pekerjaan lainnya.<\/p>\n<h2>Mengapa Pekerjaan Rutin Lebih Mudah Diotomatisasi?<\/h2>\n<p>Otomasi paling mudah diterapkan pada tugas yang memiliki pola jelas dan dapat diulang.<\/p>\n<p>Jika suatu pekerjaan dapat dijelaskan melalui aturan yang relatif konsisten, teknologi lebih mudah digunakan untuk membantu atau menggantikan sebagian prosesnya.<\/p>\n<p>Contohnya adalah pengolahan data tertentu, pekerjaan administratif berulang, pemeriksaan pola, atau proses produksi yang memiliki prosedur standar.<\/p>\n<p>Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan pemahaman konteks, interaksi manusia, penilaian, kreativitas, koordinasi, dan pengambilan keputusan dalam situasi yang tidak selalu sama memiliki karakter yang lebih kompleks.<\/p>\n<p>Hal ini bukan berarti teknologi tidak akan menyentuh pekerjaan tersebut. Teknologi tetap dapat membantu. Namun, manusia mungkin tetap dibutuhkan untuk menentukan bagaimana teknologi digunakan dan bagaimana hasilnya diterapkan dalam situasi nyata.<\/p>\n<h2>Apakah Pendidikan Terlalu Fokus pada Pekerjaan yang Sudah Ada?<\/h2>\n<p>Salah satu tantangan terbesar pendidikan adalah perubahan teknologi sering berlangsung lebih cepat daripada perubahan kurikulum.<\/p>\n<p>Ketika sekolah atau lembaga pendidikan merancang pembelajaran, dunia kerja mungkin masih menggunakan metode tertentu. Namun, beberapa tahun kemudian, teknologi baru dapat mengubah kebutuhan industri.<\/p>\n<p>Jika pendidikan hanya berorientasi pada keterampilan teknis yang sangat spesifik, seseorang berisiko memiliki kemampuan yang cepat menjadi kurang relevan.<\/p>\n<p>Karena itu, pendidikan perlu memiliki keseimbangan antara <strong>pengetahuan spesifik dan kemampuan untuk belajar kembali<\/strong>.<\/p>\n<p>Kemampuan belajar kembali menjadi penting karena seseorang mungkin akan menjalani beberapa perubahan pekerjaan sepanjang hidupnya.<\/p>\n<h2>Skill yang Penting Bukan Hanya Skill Digital<\/h2>\n<p>Ketika membicarakan masa depan pekerjaan, pembahasan sering berfokus pada kemampuan teknologi: pemrograman, analisis data, penggunaan AI, atau berbagai perangkat digital.<\/p>\n<p>Kemampuan tersebut memang penting.<\/p>\n<p>Namun, kemampuan manusia yang tidak mudah direduksi menjadi proses otomatis juga semakin bernilai.<\/p>\n<p>Kemampuan memahami persoalan, menjelaskan gagasan, bekerja dengan orang lain, membuat keputusan, bernegosiasi, membaca situasi, dan mempertimbangkan dampak suatu keputusan merupakan contoh kemampuan yang tetap dibutuhkan dalam berbagai bidang.<\/p>\n<p>Karena itu, pendidikan masa depan tidak seharusnya mempertentangkan <strong>kemampuan teknis dan kemampuan manusia<\/strong>.<\/p>\n<p>Keduanya justru perlu dikembangkan secara bersamaan.<\/p>\n<h2>Mengapa Kemampuan Belajar Ulang Menjadi Penting?<\/h2>\n<p>Dulu, seseorang mungkin membayangkan pendidikan sebagai fase yang dilakukan sebelum memasuki dunia kerja.<\/p>\n<p>Setelah mendapatkan ijazah dan pekerjaan, proses belajar formal dianggap selesai.<\/p>\n<p>Model tersebut semakin sulit dipertahankan ketika teknologi terus berubah.<\/p>\n<p>Seseorang dapat menguasai sebuah perangkat atau metode kerja hari ini, tetapi beberapa tahun kemudian metode tersebut dapat berubah. Jika seseorang tidak memiliki kebiasaan belajar kembali, perubahan teknologi dapat menjadi ancaman.<\/p>\n<p>Karena itu, pendidikan perlu membangun <strong>learning agility<\/strong>, yaitu kemampuan untuk mempelajari sesuatu yang baru, menyesuaikan diri, dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi yang berbeda.<\/p>\n<p>Kemampuan ini berbeda dari sekadar cepat menghafal.<\/p>\n<p>Seseorang yang memiliki <em>learning agility<\/em> mampu mengakui bahwa dirinya belum mengetahui sesuatu, mencari cara untuk memahaminya, mencoba, menerima umpan balik, kemudian memperbaiki pendekatannya.<\/p>\n<h2>Apakah Pendidikan Harus Mengajarkan AI?<\/h2>\n<p>Jawabannya bukan sekadar \u201cya\u201d.<\/p>\n<p>Yang lebih penting adalah menentukan <strong>bagaimana AI dipelajari<\/strong>.<\/p>\n<p>Jika AI hanya diajarkan sebagai alat untuk menghasilkan jawaban, manfaat pendidikannya menjadi terbatas.<\/p>\n<p>Namun, jika seseorang belajar bagaimana AI bekerja secara umum, apa keterbatasannya, bagaimana mengevaluasi hasilnya, dan kapan teknologi tersebut tepat digunakan, pembelajaran menjadi jauh lebih relevan.<\/p>\n<p>Misalnya, seseorang dapat menggunakan AI untuk membantu menyusun beberapa alternatif solusi. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan penilaian manusia.<\/p>\n<p>Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak diposisikan sebagai pengganti kemampuan berpikir, melainkan sebagai alat yang perlu digunakan dengan pertimbangan.<\/p>\n<h2>Pendidikan Perlu Mengajarkan Hubungan antara Manusia dan Mesin<\/h2>\n<p>Dunia kerja masa depan kemungkinan tidak hanya terdiri dari manusia yang bekerja dan mesin yang bekerja secara terpisah.<\/p>\n<p>Dalam banyak bidang, keduanya justru akan bekerja bersama.<\/p>\n<p>Manusia dapat menentukan tujuan, memberikan konteks, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil. Sementara teknologi dapat membantu mengolah informasi, menemukan pola, atau mengerjakan proses tertentu dengan lebih cepat.<\/p>\n<p>Karena itu, seseorang perlu memahami <strong>bagaimana membagi pekerjaan antara manusia dan teknologi<\/strong>.<\/p>\n<p>Pertanyaan yang penting bukan hanya \u201cApakah mesin bisa melakukan ini?\u201d<\/p>\n<p>Tetapi juga:<\/p>\n<p>\u201cBagian mana yang sebaiknya dilakukan mesin?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBagian mana yang membutuhkan pertimbangan manusia?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBagaimana hasil dari mesin harus diperiksa?\u201d<\/p>\n<p>\u201cSiapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan?\u201d<\/p>\n<p>Pertanyaan semacam ini akan semakin penting dalam dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.<\/p>\n<h2>Apakah Sekolah Perlu Membuat Pembelajaran Lebih Dekat dengan Masalah Nyata?<\/h2>\n<p>Jika dunia kerja berubah menjadi semakin kompleks, pembelajaran yang hanya berisi latihan dengan satu jawaban benar mungkin tidak selalu cukup.<\/p>\n<p>Seseorang juga perlu berlatih menghadapi masalah yang jawabannya tidak langsung tersedia.<\/p>\n<p>Misalnya, sebuah proyek dapat meminta seseorang menentukan solusi berdasarkan informasi yang terbatas. Mereka harus mencari data, menentukan prioritas, mempertimbangkan pilihan, bekerja bersama orang lain, kemudian menjelaskan alasan dari keputusan yang diambil.<\/p>\n<p>Model pembelajaran seperti ini memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan situasi nyata.<\/p>\n<p>Dunia kerja jarang memberikan persoalan dalam bentuk soal yang sudah jelas: diketahui, ditanyakan, kemudian terdapat satu jawaban yang benar.<\/p>\n<p>Sering kali, masalah sebenarnya justru dimulai dari pertanyaan: <strong>\u201cApa sebenarnya masalahnya?\u201d<\/strong><\/p>\n<h2>Pendidikan Juga Perlu Mengajarkan Kemampuan Mengambil Keputusan<\/h2>\n<p>Semakin banyak teknologi yang tersedia, semakin banyak pula pilihan yang harus dibuat.<\/p>\n<p>Seseorang dapat memiliki berbagai perangkat, aplikasi, sumber informasi, dan sistem otomatis untuk membantu pekerjaannya.<\/p>\n<p>Namun, teknologi tidak selalu menentukan pilihan terbaik.<\/p>\n<p>Pengambilan keputusan membutuhkan tujuan, pertimbangan risiko, pemahaman konteks, dan kemampuan memikirkan konsekuensi.<\/p>\n<p>Karena itu, pendidikan dapat memberikan latihan mengambil keputusan melalui studi kasus, simulasi, proyek, eksperimen, dan permasalahan terbuka.<\/p>\n<p>Dengan cara tersebut, seseorang tidak hanya belajar menemukan jawaban, tetapi belajar mempertanggungjawabkan pilihan.<\/p>\n<h2>Bagaimana dengan Pekerjaan yang Belum Ada?<\/h2>\n<p>Ini menjadi salah satu alasan mengapa pendidikan tidak mungkin memprediksi seluruh pekerjaan masa depan.<\/p>\n<p>Sebagian pekerjaan yang akan berkembang mungkin belum memiliki bentuk yang jelas saat ini.<\/p>\n<p>Jika demikian, pendidikan tidak mungkin hanya membuat daftar profesi masa depan lalu mengajarkan keterampilannya satu per satu.<\/p>\n<p>Yang lebih masuk akal adalah membangun <strong>fondasi yang memungkinkan seseorang terus beradaptasi<\/strong>.<\/p>\n<p>Pengetahuan dasar, kemampuan belajar, pemecahan masalah, pemahaman teknologi, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan bekerja bersama orang lain dapat menjadi fondasi tersebut.<\/p>\n<p>Dengan fondasi yang kuat, seseorang memiliki lebih banyak kemungkinan untuk mempelajari keterampilan baru ketika kebutuhan dunia kerja berubah.<\/p>\n<h2>Tantangan Terbesar Mungkin Bukan Teknologinya<\/h2>\n<p>Otomasi memang membawa perubahan besar. Namun, tantangan pendidikan sebenarnya terletak pada kecepatan manusia beradaptasi terhadap perubahan tersebut.<\/p>\n<p>Jika pendidikan hanya mengajarkan seseorang untuk mengikuti instruksi, sementara dunia kerja semakin membutuhkan kemampuan mengambil keputusan, maka akan muncul kesenjangan.<\/p>\n<p>Jika pendidikan hanya mengajarkan penggunaan alat tertentu, sementara teknologi terus berganti, keterampilan tersebut dapat cepat tertinggal.<\/p>\n<p>Sebaliknya, jika pendidikan membangun kemampuan memahami masalah, menggunakan teknologi secara tepat, bekerja dengan manusia lain, dan belajar kembali ketika kondisi berubah, seseorang memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi ketidakpastian.<\/p>\n<p>Dunia kerja masa depan mungkin tidak membutuhkan manusia yang mampu melakukan semua hal lebih cepat daripada mesin.<\/p>\n<p>Dunia kerja justru membutuhkan manusia yang <strong>tahu kapan harus menggunakan mesin, mampu menilai hasilnya, dapat mengambil keputusan ketika situasi tidak jelas, dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut<\/strong>.<\/p>\n<p>Karena itu, pertanyaan mengenai kesiapan pendidikan menghadapi otomasi seharusnya tidak berhenti pada apakah sekolah sudah memiliki teknologi terbaru. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah pendidikan sudah membangun manusia yang mampu terus belajar ketika teknologi, pekerjaan, dan kebutuhan masyarakat berubah.<\/p>\n<p>Sebab, teknologi akan terus berkembang. Pekerjaan akan berubah. Namun, kemampuan untuk memahami, belajar, menilai, dan beradaptasi akan tetap menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan tersebut.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perubahan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi atau mencari informasi. Teknologi juga mulai mengubah cara pekerjaan dilakukan. Mesin dapat mengolah data dalam jumlah besar, perangkat lunak dapat menjalankan pekerjaan administratif, dan kecerdasan buatan mampu membantu berbagai tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu manusia. Kondisi tersebut membuat hubungan antara pendidikan dan dunia kerja menjadi semakin kompleks. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":34104,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Apakah Sekolah Siap Menghadapi Dunia Kerja yang Berubah karena Otomasi? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Perubahan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi atau mencari informasi. Teknologi juga mulai mengubah cara pekerjaan dilakukan. Mesin dapat"},"_slim_seo_primary_term_category":12,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12,1],"tags":[2110,10109,10728,9669,10725,10724,851,10727,1056,10726],"class_list":["post-34103","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-uncategorized","tag-ai","tag-duniakerja","tag-kesiapankerja","tag-keterampilanmasadepan","tag-masadepankerja","tag-otomasi","tag-pendidikan","tag-pendidikanmasa-depan","tag-teknologi","tag-transformasidigital"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/466826317650342563.jpg",735,490,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/466826317650342563-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/466826317650342563-300x200.jpg",300,200,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/466826317650342563.jpg",735,490,false],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/466826317650342563.jpg",735,490,false],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/466826317650342563.jpg",735,490,false],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/466826317650342563.jpg",735,490,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/466826317650342563-18x12.jpg",18,12,true]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Perubahan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi atau mencari informasi. Teknologi juga mulai mengubah cara pekerjaan dilakukan. Mesin dapat mengolah data dalam jumlah besar, perangkat lunak dapat menjalankan pekerjaan administratif, dan kecerdasan buatan mampu membantu berbagai tugas yang sebelumnya membutuhkan waktu manusia. Kondisi tersebut membuat hubungan antara pendidikan dan dunia kerja menjadi semakin kompleks. Pendidikan tidak lagi cukup hanya mempersiapkan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang saat ini tersedia. Pendidikan juga perlu mempertimbangkan bagaimana pekerjaan tersebut dapat berubah ketika teknologi berkembang. Pertanyaannya kemudian menjadi penting: apakah sistem pendidikan sudah benar-benar mempersiapkan generasi untuk menghadapi dunia kerja yang sebagian tugasnya dapat&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>, <a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/uncategorized\/\" rel=\"category tag\">Umum<\/a>","author_info_v2":{"name":"Penulis 4","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"},{"value":1,"label":"Umum"}],"post_tag":[{"value":2110,"label":"AI"},{"value":10109,"label":"DuniaKerja"},{"value":10728,"label":"kesiapankerja"},{"value":9669,"label":"KeterampilanMasaDepan"},{"value":10725,"label":"masadepankerja"},{"value":10724,"label":"otomasi"},{"value":851,"label":"pendidikan"},{"value":10727,"label":"pendidikanmasa depan"},{"value":1056,"label":"teknologi"},{"value":10726,"label":"transformasidigital"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/466826317650342563.jpg",735,490,false],"author_info":{"display_name":"Penulis 4","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":6636,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":6636,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0},{"term_id":1,"name":"Umum","slug":"uncategorized","term_group":0,"term_taxonomy_id":1,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":2196,"filter":"raw","cat_ID":1,"category_count":2196,"category_description":"","cat_name":"Umum","category_nicename":"uncategorized","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":2110,"name":"AI","slug":"ai","term_group":0,"term_taxonomy_id":2110,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":12,"filter":"raw"},{"term_id":10109,"name":"DuniaKerja","slug":"duniakerja","term_group":0,"term_taxonomy_id":10109,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":5,"filter":"raw"},{"term_id":10728,"name":"kesiapankerja","slug":"kesiapankerja","term_group":0,"term_taxonomy_id":10728,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":9669,"name":"KeterampilanMasaDepan","slug":"keterampilanmasadepan","term_group":0,"term_taxonomy_id":9669,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":10,"filter":"raw"},{"term_id":10725,"name":"masadepankerja","slug":"masadepankerja","term_group":0,"term_taxonomy_id":10725,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":10724,"name":"otomasi","slug":"otomasi","term_group":0,"term_taxonomy_id":10724,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":851,"name":"pendidikan","slug":"pendidikan","term_group":0,"term_taxonomy_id":851,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":96,"filter":"raw"},{"term_id":10727,"name":"pendidikanmasa depan","slug":"pendidikanmasa-depan","term_group":0,"term_taxonomy_id":10727,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":2,"filter":"raw"},{"term_id":1056,"name":"teknologi","slug":"teknologi","term_group":0,"term_taxonomy_id":1056,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":19,"filter":"raw"},{"term_id":10726,"name":"transformasidigital","slug":"transformasidigital","term_group":0,"term_taxonomy_id":10726,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34103","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34103"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34103\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34105,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34103\/revisions\/34105"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34103"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34103"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34103"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}