{"id":33059,"date":"2026-09-12T21:41:36","date_gmt":"2026-09-12T13:41:36","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=33059"},"modified":"2026-09-12T21:41:36","modified_gmt":"2026-09-12T13:41:36","slug":"mengapa-kemampuan-bekerja-sama-penting-diajarkan-kepada-anak-sejak-sd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/mengapa-kemampuan-bekerja-sama-penting-diajarkan-kepada-anak-sejak-sd\/","title":{"rendered":"Mengapa Kemampuan Bekerja Sama Penting Diajarkan kepada Anak Sejak SD?"},"content":{"rendered":"<p>Sekolah dasar bukan hanya tempat anak mempelajari berbagai materi akademik, tetapi juga menjadi lingkungan yang mempertemukan anak dengan banyak orang dengan karakter, kebiasaan, dan kemampuan yang berbeda. Setiap hari anak belajar bersama teman, mengikuti arahan guru, melakukan kegiatan kelompok, bermain, dan terlibat dalam berbagai aktivitas sekolah. Pengalaman tersebut membuat kemampuan bekerja sama menjadi salah satu keterampilan yang penting untuk dikembangkan sejak usia sekolah dasar.<\/p>\n<p>Kemampuan bekerja sama tidak selalu muncul dengan sendirinya. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk berlatih berbagi peran, mendengarkan pendapat orang lain, menyelesaikan tugas bersama, dan menghadapi perbedaan dalam kelompok. Melalui proses tersebut, anak perlahan memahami bahwa tidak semua hal harus dilakukan seorang diri dan keberhasilan sebuah kegiatan terkadang bergantung pada kontribusi beberapa orang sekaligus.<\/p>\n<h2>Apa Arti Kerja Sama bagi Anak Sekolah Dasar?<\/h2>\n<p>Kerja sama berarti kemampuan beberapa orang untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi mencapai tujuan tertentu. Bagi anak SD, konsep tersebut dapat diperkenalkan melalui aktivitas yang sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka. Misalnya, ketika guru memberikan tugas kelompok, anak tidak hanya dituntut menyelesaikan tugas, tetapi juga perlu berdiskusi dan membagi pekerjaan dengan teman.<\/p>\n<p>Dalam proses tersebut, anak belajar bahwa setiap anggota kelompok dapat memiliki kemampuan yang berbeda. Ada anak yang lebih cepat memahami materi, ada yang lebih pandai menggambar, ada yang lebih percaya diri berbicara, dan ada pula yang lebih teliti ketika menyusun hasil pekerjaan. Perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan jika setiap anggota mendapatkan peran yang sesuai.<\/p>\n<p>Anak juga belajar bahwa bekerja sama bukan berarti semua orang harus melakukan hal yang sama. Yang lebih penting adalah setiap anggota memberikan kontribusi dan bertanggung jawab terhadap bagian yang telah disepakati.<\/p>\n<h2>Mengapa Kemampuan Ini Perlu Dilatih Sejak Dini?<\/h2>\n<p>Anak akan terus berinteraksi dengan orang lain sepanjang proses pendidikannya. Ketika memasuki jenjang yang lebih tinggi, tugas kelompok, organisasi, kegiatan proyek, maupun berbagai aktivitas sosial akan semakin sering ditemui. Karena itu, pengalaman bekerja sama sejak SD dapat menjadi dasar bagi anak untuk menghadapi situasi tersebut.<\/p>\n<p>Selain itu, kemampuan bekerja sama juga dapat membantu anak mengembangkan keterampilan sosial. Mereka belajar bagaimana menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, menunggu giliran, menyelesaikan perbedaan, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan kelompok.<\/p>\n<p>Beberapa kemampuan yang dapat berkembang melalui kegiatan bersama antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Berkomunikasi dengan teman.<\/li>\n<li>Mendengarkan pendapat orang lain.<\/li>\n<li>Berbagi tugas secara adil.<\/li>\n<li>Menghargai perbedaan kemampuan.<\/li>\n<li>Bertanggung jawab terhadap tugas.<\/li>\n<li>Menyelesaikan masalah bersama.<\/li>\n<li>Mengendalikan keinginan untuk selalu menjadi yang paling dominan.<\/li>\n<li>Membantu teman yang mengalami kesulitan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kemampuan tersebut dapat digunakan anak dalam berbagai situasi, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.<\/p>\n<h2>Belajar Berbagi Peran dalam Kelompok<\/h2>\n<p>Salah satu bagian penting dari kerja sama adalah pembagian peran. Anak dapat belajar bahwa sebuah kegiatan akan berjalan lebih baik ketika setiap anggota mengetahui apa yang perlu dilakukan. Pembagian tugas juga dapat mencegah satu anak mengerjakan seluruh pekerjaan sementara anggota lainnya hanya mengikuti.<\/p>\n<p>Guru dapat memberikan tugas kelompok dengan pembagian peran yang sederhana. Misalnya, satu anak bertugas mencari informasi, anak lainnya membuat gambar atau tampilan, sementara anggota lain mempresentasikan hasil pekerjaan. Peran dapat diganti pada kegiatan berikutnya agar semua anak mendapatkan kesempatan mencoba kemampuan yang berbeda.<\/p>\n<p>Melalui pembagian tersebut, anak dapat memahami bahwa pekerjaan kelompok membutuhkan tanggung jawab setiap anggota. Jika satu bagian tidak dikerjakan, hasil keseluruhan juga dapat terpengaruh.<\/p>\n<h2>Bagaimana Mengajarkan Anak Mendengarkan Pendapat Teman?<\/h2>\n<p>Bekerja sama tidak akan berjalan dengan baik jika setiap anak hanya ingin pendapatnya sendiri yang diterima. Karena itu, kemampuan mendengarkan perlu dilatih bersamaan dengan kemampuan berbicara.<\/p>\n<p>Anak dapat diajarkan untuk tidak memotong pembicaraan, menunggu giliran, dan memberikan kesempatan kepada teman untuk menyampaikan ide. Guru dapat membantu dengan membuat aturan diskusi sederhana sehingga anak memiliki panduan ketika berkomunikasi dalam kelompok.<\/p>\n<p>Perbedaan pendapat juga tidak selalu berarti pertengkaran. Anak dapat dikenalkan pada pemahaman bahwa dua orang boleh memiliki ide yang berbeda dan tetap dapat bekerja sama. Mereka dapat membandingkan setiap ide kemudian menentukan pilihan yang paling sesuai dengan tujuan kelompok.<\/p>\n<h2>Kerja Sama melalui Permainan<\/h2>\n<p>Permainan kelompok dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk melatih kerja sama. Anak biasanya lebih mudah memahami konsep tersebut ketika mereka terlibat langsung dalam aktivitas yang membutuhkan koordinasi dengan teman.<\/p>\n<p>Permainan sederhana seperti menyusun benda bersama, permainan estafet, olahraga beregu, atau tantangan kelompok dapat membuat anak belajar bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada kemampuan individu. Mereka harus saling memperhatikan dan menyesuaikan tindakan.<\/p>\n<p>Dalam kegiatan seperti ini, guru juga dapat mengamati bagaimana anak berinteraksi. Anak yang terlalu dominan dapat diarahkan untuk memberikan kesempatan kepada teman, sedangkan anak yang cenderung pasif dapat diberikan dorongan agar berani mengambil peran.<\/p>\n<h2>Kegiatan Olahraga sebagai Latihan Kerja Sama<\/h2>\n<p>Olahraga beregu merupakan salah satu contoh aktivitas yang sangat dekat dengan konsep kerja sama. Dalam permainan seperti futsal, basket, atau voli, anak harus memahami posisi teman, mengikuti strategi, dan saling membantu untuk mencapai tujuan bersama.<\/p>\n<p>SD Al Ma\u2019soem Bandung menyediakan beberapa kegiatan olahraga seperti Futsal, Hockey, Basket, dan kegiatan lainnya sebagai bagian dari pilihan ekstrakurikuler siswa. Aktivitas tersebut dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar bekerja dalam tim sekaligus mengembangkan minat di bidang olahraga.<\/p>\n<p>Dalam sebuah tim, tidak semua anak akan selalu menjadi pemain yang paling menonjol. Anak dapat belajar bahwa memberikan umpan, menjaga posisi, mendukung teman, atau mengikuti strategi juga merupakan kontribusi penting bagi kelompok.<\/p>\n<h2>Kerja Sama Tidak Berarti Harus Selalu Sepakat<\/h2>\n<p>Anak perlu memahami bahwa kerja sama bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Dalam sebuah kelompok, perbedaan ide justru dapat muncul karena setiap anak memiliki pengalaman dan cara berpikir yang berbeda.<\/p>\n<p>Yang perlu dipelajari adalah bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan dengan cara yang baik. Anak dapat mengatakan alasan mengapa mereka memiliki pendapat tertentu tanpa mengejek atau merendahkan ide teman.<\/p>\n<p>Guru dapat mengajarkan bahwa ketika terdapat beberapa pilihan, kelompok dapat berdiskusi dan mempertimbangkan kelebihan serta kekurangan masing-masing. Dengan demikian, anak belajar mengambil keputusan bersama tanpa harus memaksakan kehendak.<\/p>\n<h2>Mengajarkan Gotong Royong melalui Aktivitas Sekolah<\/h2>\n<p>Gotong royong merupakan bentuk kerja sama yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai tersebut dapat dikenalkan kepada anak melalui kegiatan sederhana di sekolah.<\/p>\n<p>Misalnya, anak dapat bersama-sama menjaga kebersihan kelas, merapikan perlengkapan setelah kegiatan, membantu menyiapkan suatu acara, atau menyelesaikan proyek kelompok. Aktivitas tersebut mengajarkan bahwa lingkungan yang nyaman merupakan tanggung jawab bersama.<\/p>\n<p>Arah pendidikan SD Al Ma\u2019soem Bandung juga mencantumkan kepedulian sosial dan gotong royong sebagai bagian dari nilai yang ingin dikembangkan dalam diri siswa. Dengan pembiasaan tersebut, anak dapat memahami bahwa membantu orang lain dan bekerja bersama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<h2>Bagaimana Jika Anak Tidak Mau Bekerja dalam Kelompok?<\/h2>\n<p>Tidak semua anak langsung merasa nyaman ketika harus bekerja dengan banyak orang. Ada anak yang lebih senang mengerjakan sesuatu sendiri, merasa malu berbicara, atau belum terbiasa menyampaikan pendapat. Kondisi tersebut tidak berarti anak tidak mampu bekerja sama.<\/p>\n<p>Guru dan orang tua dapat memberikan kesempatan secara bertahap. Anak tidak harus langsung diberikan peran yang mengharuskannya berbicara di depan kelompok besar. Mereka dapat memulai dari tugas kecil yang sesuai dengan kenyamanannya.<\/p>\n<p>Orang tua juga dapat melatih kerja sama melalui aktivitas keluarga. Misalnya, mengajak anak menyiapkan meja makan, merapikan rumah, memasak makanan sederhana bersama, atau menyelesaikan suatu permainan. Dari kegiatan tersebut, anak belajar bahwa pekerjaan bersama membutuhkan komunikasi dan kontribusi.<\/p>\n<h2>Menghindari Persaingan yang Tidak Sehat<\/h2>\n<p>Kompetisi dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar anak, tetapi persaingan perlu diarahkan secara sehat. Anak sebaiknya memahami bahwa keberhasilan tidak harus diperoleh dengan menjatuhkan orang lain.<\/p>\n<p>Program Days dan kompetisi di SD Al Ma\u2019soem Bandung disebut sebagai bagian dari kegiatan yang membantu siswa menyalurkan minat dan bakat sekaligus mengembangkan keterampilan dan kompetisi yang sehat.<\/p>\n<p>Ketika mengikuti kompetisi kelompok, anak dapat belajar bahwa kemenangan merupakan hasil dari kerja sama dan usaha. Namun, jika hasil pertandingan belum sesuai harapan, anak juga dapat belajar mengevaluasi proses tanpa menyalahkan anggota tim.<\/p>\n<h2>Peran Guru dalam Membangun Budaya Kerja Sama<\/h2>\n<p>Guru dapat menciptakan berbagai situasi yang membuat anak terbiasa bekerja dengan orang lain. Pembelajaran tidak selalu harus dilakukan secara individu. Diskusi, proyek kelompok, permainan edukatif, maupun presentasi bersama dapat memberikan pengalaman sosial yang berbeda.<\/p>\n<p>Guru juga dapat memperhatikan pembagian kelompok agar anak memiliki kesempatan berinteraksi dengan teman yang berbeda. Anak tidak harus selalu bekerja dengan sahabat dekatnya karena berinteraksi dengan teman yang berbeda dapat membantu mereka belajar menyesuaikan diri.<\/p>\n<p>Ketika terjadi konflik dalam kelompok, guru dapat membantu anak mencari penyelesaian tanpa langsung mengambil alih seluruh masalah. Anak dapat diajak menjelaskan sudut pandangnya, mendengarkan teman, kemudian mencari kesepakatan.<\/p>\n<h2>Kerja Sama Membantu Anak Mengembangkan Empati<\/h2>\n<p>Ketika bekerja bersama orang lain, anak akan menemukan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan kemampuan berbeda. Ada teman yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami tugas, ada yang kesulitan berbicara, atau ada yang membutuhkan bantuan ketika menjalankan bagian tertentu.<\/p>\n<p>Situasi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar berempati. Mereka dapat memahami bahwa membantu teman bukan berarti melakukan semua pekerjaan untuknya, tetapi memberikan dukungan agar teman tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya.<\/p>\n<p>Kemampuan melihat kebutuhan orang lain dapat membantu anak membangun hubungan sosial yang lebih sehat. Mereka tidak hanya memikirkan hasil yang ingin dicapai, tetapi juga memperhatikan bagaimana proses tersebut berlangsung bagi anggota kelompok.<\/p>\n<h2>Kegiatan Ekstrakurikuler sebagai Ruang Interaksi<\/h2>\n<p>Ekstrakurikuler dapat menjadi salah satu lingkungan yang menarik untuk melatih kerja sama karena anak bertemu dengan teman yang memiliki minat serupa. Mereka mengikuti latihan, mempelajari keterampilan, dan terkadang mempersiapkan penampilan atau pertandingan bersama.<\/p>\n<p>SD Al Ma\u2019soem Bandung menyediakan berbagai pilihan kegiatan yang mencakup bidang akademik maupun nonakademik, seperti English Club, Math Club, Sains Club, Futsal, Taekwondo, Catur, Hockey, Basket, dan Panahan. Pilihan tersebut memungkinkan anak mengeksplorasi minat sekaligus memperoleh pengalaman berinteraksi dalam lingkungan kegiatan yang berbeda.<\/p>\n<p>Dalam ekstrakurikuler, anak juga dapat belajar mengenai komitmen. Ketika sudah memilih suatu kegiatan, mereka perlu mengikuti jadwal latihan dan menjalankan tanggung jawab sesuai aturan yang berlaku.<\/p>\n<h2>Kerja Sama sebagai Bekal Anak di Masa Depan<\/h2>\n<p>Kemampuan bekerja sama akan terus digunakan ketika anak bertambah besar. Di sekolah, mereka akan bertemu dengan tugas kelompok dan berbagai kegiatan bersama. Di lingkungan keluarga, mereka perlu berkomunikasi dengan anggota keluarga. Ketika dewasa, kemampuan bekerja dalam tim juga menjadi bagian dari banyak aktivitas kehidupan.<\/p>\n<p>Karena itu, keterampilan ini sebaiknya tidak hanya diajarkan melalui teori. Anak membutuhkan pengalaman nyata untuk mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki komunikasi, dan menemukan cara bekerja bersama yang lebih baik.<\/p>\n<p>Sekolah dapat menjadi salah satu tempat penting untuk memberikan pengalaman tersebut karena anak memiliki banyak kesempatan berinteraksi setiap hari. Dengan lingkungan yang mendukung, anak dapat belajar bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan serta bahwa tujuan bersama dapat dicapai ketika setiap anggota bersedia berkontribusi.<\/p>\n<p>Kemampuan bekerja sama yang dibangun sejak sekolah dasar pada akhirnya dapat membantu anak menjadi pribadi yang lebih terbuka, bertanggung jawab, mampu menghargai perbedaan, dan tidak mudah menyerah ketika harus menghadapi tantangan bersama orang lain.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekolah dasar bukan hanya tempat anak mempelajari berbagai materi akademik, tetapi juga menjadi lingkungan yang mempertemukan anak dengan banyak orang dengan karakter, kebiasaan, dan kemampuan yang berbeda. Setiap hari anak belajar bersama teman, mengikuti arahan guru, melakukan kegiatan kelompok, bermain, dan terlibat dalam berbagai aktivitas sekolah. Pengalaman tersebut membuat kemampuan bekerja sama menjadi salah satu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":22660,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Mengapa Kemampuan Bekerja Sama Penting Diajarkan kepada Anak Sejak SD? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Sekolah dasar bukan hanya tempat anak mempelajari berbagai materi akademik, tetapi juga menjadi lingkungan yang mempertemukan anak dengan banyak orang dengan ka"},"_slim_seo_primary_term_category":12,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12,28],"tags":[8625,6875,7850],"class_list":["post-33059","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-kegiatan","tag-pendidikandasar","tag-pendidikankarakter","tag-sdalmasoembandung"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/07-gedung-003.jpg",700,467,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/07-gedung-003-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/07-gedung-003-300x200.jpg",300,200,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/07-gedung-003.jpg",700,467,false],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/07-gedung-003.jpg",700,467,false],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/07-gedung-003.jpg",700,467,false],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/07-gedung-003.jpg",700,467,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/07-gedung-003-18x12.jpg",18,12,true]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Sekolah dasar bukan hanya tempat anak mempelajari berbagai materi akademik, tetapi juga menjadi lingkungan yang mempertemukan anak dengan banyak orang dengan karakter, kebiasaan, dan kemampuan yang berbeda. Setiap hari anak belajar bersama teman, mengikuti arahan guru, melakukan kegiatan kelompok, bermain, dan terlibat dalam berbagai aktivitas sekolah. Pengalaman tersebut membuat kemampuan bekerja sama menjadi salah satu keterampilan yang penting untuk dikembangkan sejak usia sekolah dasar. Kemampuan bekerja sama tidak selalu muncul dengan sendirinya. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk berlatih berbagi peran, mendengarkan pendapat orang lain, menyelesaikan tugas bersama, dan menghadapi perbedaan dalam kelompok. Melalui proses tersebut, anak perlahan memahami bahwa tidak&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>, <a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/kegiatan\/\" rel=\"category tag\">Kegiatan<\/a>","author_info_v2":{"name":"Penulis 5","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"},{"value":28,"label":"Kegiatan"}],"post_tag":[{"value":8625,"label":"PendidikanDasar"},{"value":6875,"label":"PendidikanKarakter"},{"value":7850,"label":"SDAlMasoemBandung"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/07-gedung-003.jpg",700,467,false],"author_info":{"display_name":"Penulis 5","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":6382,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":6382,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0},{"term_id":28,"name":"Kegiatan","slug":"kegiatan","term_group":0,"term_taxonomy_id":28,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":2779,"filter":"raw","cat_ID":28,"category_count":2779,"category_description":"","cat_name":"Kegiatan","category_nicename":"kegiatan","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":8625,"name":"PendidikanDasar","slug":"pendidikandasar","term_group":0,"term_taxonomy_id":8625,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":15,"filter":"raw"},{"term_id":6875,"name":"PendidikanKarakter","slug":"pendidikankarakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":6875,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":825,"filter":"raw"},{"term_id":7850,"name":"SDAlMasoemBandung","slug":"sdalmasoembandung","term_group":0,"term_taxonomy_id":7850,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":70,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33059","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33059"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33059\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33076,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33059\/revisions\/33076"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22660"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33059"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33059"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33059"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}