{"id":31837,"date":"2026-09-11T12:00:08","date_gmt":"2026-09-11T04:00:08","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=31837"},"modified":"2026-09-11T12:00:08","modified_gmt":"2026-09-11T04:00:08","slug":"bagaimana-sekolah-membantu-siswa-menjadi-pembelajar-sepanjang-hayat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/bagaimana-sekolah-membantu-siswa-menjadi-pembelajar-sepanjang-hayat\/","title":{"rendered":"Bagaimana Sekolah Membantu Siswa Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat?"},"content":{"rendered":"<p>Belajar sering kali dianggap sebagai aktivitas yang hanya dilakukan ketika seseorang berada di sekolah. Padahal, proses memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kemampuan sebenarnya dapat berlangsung sepanjang kehidupan. Setelah lulus SMA, siswa masih akan menghadapi berbagai hal baru yang menuntut mereka untuk terus belajar dan menyesuaikan diri.<\/p>\n<p>Perubahan teknologi, perkembangan informasi, serta kebutuhan pendidikan dan pekerjaan membuat kemampuan untuk terus belajar menjadi semakin penting. Siswa yang terbiasa mencari informasi, bertanya, mencoba, dan mengevaluasi pengetahuannya sejak SMA akan memiliki fondasi yang lebih baik untuk menghadapi perubahan.<\/p>\n<p>Karena itu, sekolah tidak hanya berperan menyampaikan materi pelajaran. Sekolah juga dapat membantu membentuk kebiasaan belajar yang membuat siswa memiliki rasa ingin tahu dan keinginan untuk terus mengembangkan dirinya.<\/p>\n<h2>Apa yang Dimaksud dengan Pembelajar Sepanjang Hayat?<\/h2>\n<p>Pembelajar sepanjang hayat adalah seseorang yang memiliki kemauan untuk terus memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kemampuan, bahkan setelah menyelesaikan pendidikan formal.<\/p>\n<p>Menjadi pembelajar sepanjang hayat bukan berarti seseorang harus selalu mengikuti pendidikan formal. Belajar dapat dilakukan melalui membaca buku, mengikuti pelatihan, mencari informasi, berdiskusi, mencoba pengalaman baru, atau mempelajari keterampilan yang dibutuhkan.<\/p>\n<p>Bagi siswa SMA, kebiasaan tersebut dapat mulai dibangun melalui aktivitas sederhana di lingkungan sekolah.<\/p>\n<h2>Rasa Ingin Tahu Menjadi Awal dari Kebiasaan Belajar<\/h2>\n<p>Siswa yang memiliki rasa ingin tahu biasanya tidak berhenti pada informasi yang diberikan di kelas. Mereka dapat memiliki pertanyaan tambahan mengenai suatu materi dan mencoba mencari jawabannya.<\/p>\n<p>Rasa ingin tahu dapat muncul dari berbagai hal. Sebuah topik pelajaran, diskusi dengan teman, pengalaman sehari-hari, atau informasi yang ditemukan di internet dapat menjadi pemicu.<\/p>\n<p>Sekolah dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu tersebut. Pembelajaran yang memberikan kesempatan bertanya dan mengeksplorasi materi dapat membuat siswa merasa bahwa pertanyaan merupakan bagian dari proses belajar.<\/p>\n<h2>Pembelajaran Tidak Hanya Berpusat pada Guru<\/h2>\n<p>Guru memiliki peran penting dalam pendidikan, tetapi siswa juga perlu menjadi bagian aktif dalam proses pembelajaran. Siswa dapat diarahkan untuk mencari informasi, menyampaikan pendapat, melakukan diskusi, atau mengembangkan proyek.<\/p>\n<p>Brosur Al Ma\u2019soem International Class mencantumkan interactive and purposeful learning activities serta engaging and relevant topics sebagai bagian dari pendekatan program.<\/p>\n<p>Pendekatan yang interaktif dapat membantu siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengolah dan menggunakannya.<\/p>\n<h2>Membiasakan Siswa Mencari Informasi<\/h2>\n<p>Salah satu kebiasaan yang penting bagi pembelajar sepanjang hayat adalah kemampuan mencari informasi secara mandiri. Ketika siswa menemukan sesuatu yang belum dipahami, mereka perlu mengetahui bagaimana cara mendapatkan penjelasan tambahan.<\/p>\n<p>Teknologi membuat akses terhadap informasi semakin luas. Namun, siswa juga perlu belajar memilih sumber yang sesuai dan tidak langsung mempercayai semua informasi yang ditemukan.<\/p>\n<p>Kebiasaan mencari informasi dapat dimulai dari tugas sekolah. Guru dapat memberikan pertanyaan yang mendorong siswa menggunakan beberapa sumber sebelum menyusun jawaban.<\/p>\n<h2>Teknologi sebagai Sarana Belajar<\/h2>\n<p>Perangkat digital dapat membantu siswa mengembangkan kebiasaan belajar di luar buku pelajaran. Komputer, multimedia, Smart TV, dan jaringan e-learning dapat digunakan untuk mendukung aktivitas pembelajaran.<\/p>\n<p>Fasilitas tersebut tercantum dalam program Al Ma\u2019soem International Class, termasuk multimedia, in-class computers, Smart TV, dan integrated e-learning network.<\/p>\n<p>Dengan akses terhadap teknologi, siswa dapat mengenal berbagai cara memperoleh informasi. Namun, penggunaan perangkat tetap membutuhkan arahan agar siswa dapat memanfaatkannya untuk tujuan pendidikan.<\/p>\n<h2>Belajar dari Sumber yang Beragam<\/h2>\n<p>Pembelajar sepanjang hayat tidak hanya bergantung pada satu sumber. Mereka dapat membandingkan buku, artikel, video, materi digital, dan sumber lainnya.<\/p>\n<p>Kebiasaan menggunakan sumber yang beragam dapat membantu siswa melihat suatu topik dari perspektif berbeda. Mereka juga dapat belajar bahwa tidak semua informasi disampaikan dengan cara yang sama.<\/p>\n<p>Siswa dapat mulai dengan membandingkan dua sumber sederhana. Setelah itu, mereka dapat belajar mengevaluasi kelebihan dan kekurangan masing-masing sumber.<\/p>\n<h2>Kemampuan Bahasa Membuka Akses Lebih Luas<\/h2>\n<p>Kemampuan bahasa Inggris dapat menjadi salah satu pendukung kebiasaan belajar sepanjang hayat. Banyak sumber pendidikan dan informasi di internet tersedia dalam bahasa Inggris.<\/p>\n<p>Al Ma\u2019soem International Class mencantumkan bilingual instruction, Intensive English Course, Cambridge Standards, native English teacher, serta extended English learning hours.<\/p>\n<p>Dengan kemampuan bahasa yang lebih baik, siswa memiliki kesempatan untuk mengakses sumber yang lebih beragam. Mereka dapat mencari materi dari berbagai lingkungan pendidikan dan mengenal istilah yang mungkin tidak tersedia dalam sumber berbahasa Indonesia.<\/p>\n<h2>Cambridge dan Pengembangan Cara Belajar<\/h2>\n<p>Program yang menggunakan Cambridge Standards dapat memberikan pengalaman kepada siswa untuk berinteraksi dengan materi dan pembelajaran yang memiliki orientasi internasional. Dalam konteks pembelajar sepanjang hayat, pengalaman tersebut dapat mendorong siswa untuk terbiasa menghadapi sumber pengetahuan yang beragam.<\/p>\n<p>Namun, yang paling penting bukan sekadar mengikuti standar tertentu. Siswa perlu mengembangkan kebiasaan memahami materi, bertanya, mencari referensi, dan menggunakan pengetahuan.<\/p>\n<p>Kebiasaan tersebut akan tetap berguna ketika siswa sudah tidak lagi berada di lingkungan sekolah.<\/p>\n<h2>Guru sebagai Pembimbing Proses Belajar<\/h2>\n<p>Guru dapat membantu siswa menjadi pembelajar yang lebih mandiri dengan memberikan arahan secara bertahap. Pada awalnya, siswa mungkin membutuhkan petunjuk mengenai sumber yang harus digunakan atau cara mencari informasi.<\/p>\n<p>Seiring waktu, siswa dapat diberikan kesempatan untuk menentukan sumber dan pendekatan sendiri. Guru kemudian memberikan umpan balik terhadap proses dan hasilnya.<\/p>\n<p>Pendekatan seperti ini dapat membantu siswa memahami bahwa belajar bukan hanya menunggu jawaban dari orang lain.<\/p>\n<h2>Belajar dari Kesalahan<\/h2>\n<p>Kesalahan dapat menjadi bagian penting dalam proses menjadi pembelajar sepanjang hayat. Siswa perlu memahami bahwa tidak semua usaha langsung menghasilkan hasil yang sempurna.<\/p>\n<p>Ketika sebuah tugas belum berhasil, siswa dapat melihat bagian yang perlu diperbaiki. Dari sana, mereka dapat mencoba strategi yang berbeda.<\/p>\n<p>Kebiasaan mengevaluasi kesalahan dapat membuat siswa lebih terbuka terhadap proses belajar. Mereka tidak hanya mencari hasil akhir, tetapi juga memahami bagaimana proses tersebut dapat diperbaiki.<\/p>\n<h2>Pengalaman di Luar Kelas<\/h2>\n<p>Pembelajaran juga dapat terjadi melalui pengalaman. Kegiatan sekolah, proyek, organisasi, ekstrakurikuler, maupun pengalaman belajar di lingkungan berbeda dapat memberikan pengetahuan yang tidak selalu ditemukan dalam buku.<\/p>\n<p>Program Al Ma\u2019soem International Class mencantumkan free annual overseas study tour sebagai salah satu keunggulan program.<\/p>\n<p>Pengalaman belajar di luar lingkungan sehari-hari dapat membuat siswa melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda. Mereka dapat belajar beradaptasi, berkomunikasi, dan memahami lingkungan baru.<\/p>\n<h2>Membentuk Kebiasaan Membaca<\/h2>\n<p>Membaca merupakan salah satu aktivitas sederhana yang dapat membantu membangun kebiasaan belajar jangka panjang. Siswa tidak harus selalu membaca buku pelajaran.<\/p>\n<p>Mereka dapat membaca artikel mengenai topik yang diminati, buku pengetahuan, berita pendidikan, atau materi lain yang sesuai. Yang penting adalah membangun kebiasaan mencari dan memahami informasi.<\/p>\n<p>Semakin sering siswa membaca, semakin banyak kesempatan bagi mereka untuk menemukan pertanyaan baru yang kemudian dapat dieksplorasi.<\/p>\n<h2>Mengembangkan Kemampuan Bertanya<\/h2>\n<p>Pertanyaan yang baik dapat menjadi awal dari pembelajaran. Siswa yang terbiasa bertanya akan lebih mudah menemukan bagian materi yang belum dipahami.<\/p>\n<p>Sekolah dapat menciptakan suasana yang membuat siswa merasa aman untuk bertanya. Kesalahan dalam menyampaikan pertanyaan sebaiknya tidak menjadi alasan bagi siswa untuk berhenti berkomunikasi.<\/p>\n<p>Dengan latihan yang konsisten, siswa dapat belajar menyusun pertanyaan dengan lebih jelas dan spesifik.<\/p>\n<h2>Belajar Tidak Harus Menunggu Ujian<\/h2>\n<p>Kebiasaan belajar hanya ketika menghadapi ujian dapat membuat siswa melihat belajar sebagai kewajiban sementara. Sebaliknya, pembelajar sepanjang hayat melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang dapat digunakan kapan saja.<\/p>\n<p>Siswa dapat mencoba mencari informasi mengenai hal yang menarik bagi mereka meskipun tidak sedang mendapat tugas. Misalnya, siswa yang tertarik dengan teknologi dapat mengikuti perkembangan perangkat atau aplikasi terbaru.<\/p>\n<p>Kegiatan sederhana seperti itu dapat membentuk kebiasaan belajar yang muncul dari minat pribadi.<\/p>\n<h2>Sekolah Membantu Menumbuhkan Kemandirian<\/h2>\n<p>Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat siswa berlatih mengambil tanggung jawab terhadap proses belajarnya. Siswa dapat mulai belajar mengatur jadwal, mencari referensi, menyelesaikan tugas, dan meminta bantuan ketika diperlukan.<\/p>\n<p>Al Ma\u2019soem Upper Secondary menggambarkan fokus programnya pada generasi muda yang global minded, intelligent, competent, serta memiliki strong moral values.<\/p>\n<p>Kemampuan tersebut dapat berkembang melalui kombinasi pembelajaran akademik, pengalaman, interaksi, dan kebiasaan yang dibangun secara konsisten.<\/p>\n<h2>Orang Tua Dapat Mendukung dari Rumah<\/h2>\n<p>Orang tua juga memiliki peran dalam membentuk kebiasaan belajar. Dukungan tidak harus berupa pengawasan setiap saat.<\/p>\n<p>Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai hal yang sedang dipelajari, memberikan kesempatan membaca, atau mendorong anak mencoba kegiatan yang sesuai dengan minatnya.<\/p>\n<p>Ketika anak menunjukkan ketertarikan terhadap suatu bidang, orang tua dapat membantu menyediakan ruang untuk mengeksplorasinya. Dengan demikian, belajar tidak selalu terasa seperti kewajiban.<\/p>\n<h2>Belajar Mengikuti Perubahan<\/h2>\n<p>Dunia terus mengalami perubahan. Teknologi berkembang, jenis pekerjaan berubah, dan kebutuhan keterampilan dapat berkembang dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p>Karena itu, siswa perlu memiliki kemampuan untuk mempelajari hal baru. Pengetahuan yang diperoleh saat SMA menjadi dasar, tetapi kemampuan untuk terus belajar akan membantu mereka menghadapi perubahan setelah lulus.<\/p>\n<p>Inilah alasan mengapa sekolah perlu membantu siswa membangun pola pikir yang terbuka terhadap pengetahuan baru.<\/p>\n<h2>Membangun Kebiasaan Sedikit demi Sedikit<\/h2>\n<p>Menjadi pembelajar sepanjang hayat tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Siswa dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana seperti membaca beberapa halaman setiap hari, mencari informasi tambahan mengenai materi, mencatat pertanyaan, atau mempelajari keterampilan baru.<\/p>\n<p>Konsistensi lebih penting daripada melakukan aktivitas belajar dalam jumlah besar tetapi hanya sesekali. Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat berkembang menjadi pola belajar jangka panjang.<\/p>\n<h2>Menyiapkan Siswa untuk Pendidikan Setelah SMA<\/h2>\n<p>Perguruan tinggi dapat menuntut mahasiswa untuk lebih mandiri dalam mencari dan memahami informasi. Mereka perlu membaca berbagai referensi, mengikuti perkembangan bidang yang dipelajari, serta menyelesaikan tugas dengan tanggung jawab yang lebih besar.<\/p>\n<p>Jika kebiasaan belajar mandiri sudah dibangun sejak SMA, siswa dapat memiliki fondasi yang lebih baik untuk menghadapi perubahan tersebut.<\/p>\n<p>Sekolah dapat membantu proses ini melalui pembelajaran interaktif, penggunaan teknologi, pengembangan bahasa, pengalaman belajar yang beragam, serta kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan.<\/p>\n<h2>Pendidikan yang Terus Berlanjut<\/h2>\n<p>Menjadi pembelajar sepanjang hayat berarti memahami bahwa pendidikan tidak berhenti ketika siswa menerima ijazah. Pengetahuan akan terus berkembang dan kebutuhan setiap individu dapat berubah.<\/p>\n<p>Siswa yang terbiasa belajar dapat lebih siap menghadapi perubahan karena mereka memiliki pengalaman dalam mencari informasi, memahami sesuatu yang baru, mengevaluasi hasil, dan mencoba kembali ketika menghadapi kesulitan.<\/p>\n<p>Sekolah memiliki kesempatan besar untuk menanamkan kebiasaan tersebut sejak SMA. Dengan lingkungan belajar yang mendukung, teknologi yang digunakan secara tepat, guru yang memberikan arahan, serta kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai pengalaman, siswa dapat membangun fondasi sebagai pembelajar yang tidak berhenti berkembang setelah menyelesaikan pendidikan formal.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belajar sering kali dianggap sebagai aktivitas yang hanya dilakukan ketika seseorang berada di sekolah. Padahal, proses memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kemampuan sebenarnya dapat berlangsung sepanjang kehidupan. Setelah lulus SMA, siswa masih akan menghadapi berbagai hal baru yang menuntut mereka untuk terus belajar dan menyesuaikan diri. Perubahan teknologi, perkembangan informasi, serta kebutuhan pendidikan dan pekerjaan membuat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":27440,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Bagaimana Sekolah Membantu Siswa Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Belajar sering kali dianggap sebagai aktivitas yang hanya dilakukan ketika seseorang berada di sekolah. Padahal, proses memperoleh pengetahuan dan mengembangkan"},"_slim_seo_primary_term_category":12,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12,28],"tags":[7447,10416,7081],"class_list":["post-31837","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-kegiatan","tag-kebiasaanbelajar","tag-pembelajarsepanjanghayat","tag-smaalmasoem"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-8.jpg",623,466,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-8-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-8-300x224.jpg",300,224,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-8.jpg",623,466,false],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-8.jpg",623,466,false],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-8.jpg",623,466,false],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-8.jpg",623,466,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-8-16x12.jpg",16,12,true]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Belajar sering kali dianggap sebagai aktivitas yang hanya dilakukan ketika seseorang berada di sekolah. Padahal, proses memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kemampuan sebenarnya dapat berlangsung sepanjang kehidupan. Setelah lulus SMA, siswa masih akan menghadapi berbagai hal baru yang menuntut mereka untuk terus belajar dan menyesuaikan diri. Perubahan teknologi, perkembangan informasi, serta kebutuhan pendidikan dan pekerjaan membuat kemampuan untuk terus belajar menjadi semakin penting. Siswa yang terbiasa mencari informasi, bertanya, mencoba, dan mengevaluasi pengetahuannya sejak SMA akan memiliki fondasi yang lebih baik untuk menghadapi perubahan. Karena itu, sekolah tidak hanya berperan menyampaikan materi pelajaran. Sekolah juga dapat membantu membentuk kebiasaan belajar yang&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>, <a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/kegiatan\/\" rel=\"category tag\">Kegiatan<\/a>","author_info_v2":{"name":"Penulis 4","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"},{"value":28,"label":"Kegiatan"}],"post_tag":[{"value":7447,"label":"KebiasaanBelajar"},{"value":10416,"label":"PembelajarSepanjangHayat"},{"value":7081,"label":"smaalmasoem"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/images-2-8.jpg",623,466,false],"author_info":{"display_name":"Penulis 4","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":8921,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":8921,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0},{"term_id":28,"name":"Kegiatan","slug":"kegiatan","term_group":0,"term_taxonomy_id":28,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":3701,"filter":"raw","cat_ID":28,"category_count":3701,"category_description":"","cat_name":"Kegiatan","category_nicename":"kegiatan","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":7447,"name":"KebiasaanBelajar","slug":"kebiasaanbelajar","term_group":0,"term_taxonomy_id":7447,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":174,"filter":"raw"},{"term_id":10416,"name":"PembelajarSepanjangHayat","slug":"pembelajarsepanjanghayat","term_group":0,"term_taxonomy_id":10416,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":7081,"name":"smaalmasoem","slug":"smaalmasoem","term_group":0,"term_taxonomy_id":7081,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":638,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31837","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31837"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31837\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31840,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31837\/revisions\/31840"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27440"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31837"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31837"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31837"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}