{"id":30982,"date":"2026-09-11T08:53:27","date_gmt":"2026-09-11T00:53:27","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=30982"},"modified":"2026-09-11T08:53:27","modified_gmt":"2026-09-11T00:53:27","slug":"apakah-menulis-jurnal-harian-bisa-membantu-siswa-lebih-mengenali-perasaannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/apakah-menulis-jurnal-harian-bisa-membantu-siswa-lebih-mengenali-perasaannya\/","title":{"rendered":"Apakah Menulis Jurnal Harian Bisa Membantu Siswa Lebih Mengenali Perasaannya?"},"content":{"rendered":"<h2>Jurnal Harian sebagai Ruang untuk Berhenti Sejenak<\/h2>\n<p>Aktivitas sekolah membuat siswa berhadapan dengan banyak pengalaman dalam satu hari, mulai dari mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, berinteraksi dengan teman, mengikuti kegiatan organisasi atau ekstrakurikuler, hingga menghadapi berbagai hal kecil yang mungkin memengaruhi suasana hati mereka tanpa selalu disadari.<\/p>\n<p>Di tengah rutinitas tersebut, menulis jurnal harian dapat menjadi salah satu kegiatan sederhana yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berhenti sejenak dan memikirkan kembali apa yang mereka alami, rasakan, dan pikirkan sepanjang hari tanpa harus langsung menyampaikannya kepada orang lain.<\/p>\n<p>Jurnal tidak harus berupa tulisan panjang atau menggunakan bahasa yang sempurna karena tujuan utamanya bukan menghasilkan karya tulis akademik, melainkan membantu anak mengenali pengalaman pribadinya dengan cara yang nyaman dan sesuai dengan kemampuan masing-masing.<\/p>\n<h2>Apa yang Bisa Ditulis dalam Jurnal?<\/h2>\n<p>Sebagian siswa mungkin merasa bingung ketika pertama kali diminta menulis jurnal karena mereka mengira harus selalu memiliki cerita besar untuk dituliskan, padahal pengalaman sederhana sehari-hari pun dapat menjadi bahan refleksi yang menarik.<\/p>\n<p>Siswa dapat menuliskan hal-hal seperti kejadian yang membuat mereka senang, sesuatu yang membuat kesal, pelajaran yang dianggap menarik, percakapan dengan teman, tantangan yang belum terselesaikan, atau hal kecil yang mereka syukuri pada hari tersebut.<\/p>\n<p>Beberapa pertanyaan sederhana juga dapat digunakan sebagai pemantik tulisan:<\/p>\n<ul>\n<li>Apa hal paling menyenangkan hari ini?<\/li>\n<li>Apa yang membuatku merasa tidak nyaman?<\/li>\n<li>Apa yang berhasil kulakukan dengan baik?<\/li>\n<li>Apa yang ingin aku perbaiki besok?<\/li>\n<li>Hal apa yang membuatku bersyukur hari ini?<\/li>\n<li>Siapa yang membuat hariku terasa lebih baik?<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pertanyaan tersebut membantu siswa yang belum terbiasa menulis agar tidak merasa harus mencari ide yang terlalu rumit.<\/p>\n<h2>Membantu Siswa Membedakan Perasaan dan Kejadian<\/h2>\n<p>Salah satu manfaat menarik dari jurnal adalah membantu siswa belajar membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan perasaan yang muncul setelah kejadian tersebut.<\/p>\n<p>Misalnya, seorang siswa mungkin menulis bahwa temannya tidak mengajak berbicara ketika jam istirahat, kemudian ia merasa sedih atau kecewa, dan melalui proses menulis ia dapat menyadari bahwa perasaan tersebut muncul karena ia merasa tidak diperhatikan, bukan semata-mata karena temannya tidak berbicara.<\/p>\n<p>Kemampuan membedakan kejadian, pikiran, dan perasaan dapat membantu anak memahami dirinya dengan lebih baik sehingga mereka tidak selalu bereaksi secara spontan ketika menghadapi situasi yang membuat tidak nyaman.<\/p>\n<h2>Menulis Bisa Menjadi Cara Mengekspresikan Diri<\/h2>\n<p>Tidak semua siswa mudah mengungkapkan perasaannya secara langsung melalui percakapan karena setiap anak memiliki karakter dan cara berkomunikasi yang berbeda.<\/p>\n<p>Ada anak yang sangat terbuka ketika berbicara, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan sebelum mampu menceritakannya kepada orang lain.<\/p>\n<p>Dalam kondisi seperti itu, jurnal dapat menjadi salah satu media ekspresi yang bersifat pribadi sehingga siswa memiliki kesempatan menyusun pikirannya terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah pengalaman tersebut perlu dibicarakan dengan orang tua, guru, konselor, atau orang lain yang dipercaya.<\/p>\n<h2>Jurnal Bukan Tempat untuk Menilai Tulisan Siswa<\/h2>\n<p>Jika jurnal digunakan sebagai kegiatan sekolah, guru perlu berhati-hati agar kegiatan tersebut tidak berubah menjadi tugas yang membuat siswa merasa diawasi atau takut memberikan jawaban yang jujur.<\/p>\n<p>Penilaian sebaiknya tidak berfokus pada tata bahasa, panjang tulisan, atau apakah isi jurnal sesuai dengan harapan guru karena jurnal reflektif memiliki fungsi yang berbeda dengan tugas menulis formal.<\/p>\n<p>Siswa juga perlu mengetahui batas privasi yang berlaku sehingga mereka memahami bahwa jurnal pribadi tidak otomatis menjadi bahan bacaan seluruh kelas, sementara jika sekolah menggunakan jurnal sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran, aturan mengenai privasi dan pendampingan perlu dijelaskan sejak awal.<\/p>\n<h2>Bagaimana Jurnal Membantu Mengenali Pola Emosi?<\/h2>\n<p>Menulis secara rutin memungkinkan siswa melihat kembali pengalaman mereka dari waktu ke waktu sehingga mereka mungkin mulai menemukan pola tertentu yang sebelumnya tidak disadari.<\/p>\n<p>Misalnya, seorang anak menyadari bahwa dirinya sering merasa kurang bersemangat ketika tidur terlalu larut, mudah kesal ketika tugas menumpuk, atau justru merasa lebih percaya diri setelah mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minatnya.<\/p>\n<p>Kesadaran terhadap pola tersebut dapat menjadi langkah awal bagi siswa untuk belajar mengatur kebiasaan dan mencari strategi yang lebih sehat, meskipun masalah emosional yang berat tetap membutuhkan dukungan dari orang dewasa atau tenaga profesional yang sesuai.<\/p>\n<h2>Bisa Menjadi Latihan Refleksi Setelah Belajar<\/h2>\n<p>Jurnal harian tidak harus selalu membahas perasaan karena kegiatan tersebut juga dapat digunakan untuk membantu siswa melakukan refleksi terhadap proses belajar.<\/p>\n<p>Setelah mengikuti pelajaran tertentu, siswa dapat menuliskan materi yang paling mereka pahami, bagian yang masih membingungkan, kesalahan yang ingin diperbaiki, serta strategi yang menurut mereka paling membantu selama proses belajar.<\/p>\n<p>Dengan cara tersebut, jurnal dapat menjadi jembatan antara pengalaman belajar dan kesadaran diri karena siswa tidak hanya bertanya mengenai nilai yang diperoleh, tetapi juga mulai memahami bagaimana mereka belajar dan apa yang dapat dilakukan untuk berkembang.<\/p>\n<h2>Jurnal Kreatif Tidak Harus Selalu Berbentuk Paragraf<\/h2>\n<p>Agar kegiatan jurnal tidak terasa monoton, siswa dapat diberikan kebebasan memilih bentuk yang paling sesuai dengan karakter mereka selama tujuan refleksinya tetap tercapai.<\/p>\n<p>Beberapa bentuk jurnal yang dapat digunakan antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Jurnal tulisan<\/strong>, berupa cerita atau refleksi singkat.<\/li>\n<li><strong>Mood tracker<\/strong>, dengan mencatat suasana hati setiap hari.<\/li>\n<li><strong>Jurnal gambar<\/strong>, untuk siswa yang lebih nyaman mengekspresikan diri secara visual.<\/li>\n<li><strong>Bullet journal<\/strong>, menggunakan poin-poin singkat dan simbol.<\/li>\n<li><strong>Jurnal syukur<\/strong>, berisi beberapa hal positif yang dialami.<\/li>\n<li><strong>Jurnal target<\/strong>, untuk mencatat tujuan dan perkembangan diri.<\/li>\n<li><strong>Jurnal pertanyaan<\/strong>, berisi jawaban atas pertanyaan reflektif sederhana.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Variasi tersebut membuat kegiatan menulis lebih fleksibel dan menunjukkan kepada siswa bahwa refleksi diri tidak selalu harus dilakukan melalui tulisan panjang.<\/p>\n<h2>Mengajarkan Siswa Mengenali Emosi Tanpa Menghakimi<\/h2>\n<p>Ketika menulis jurnal, siswa dapat menemukan bahwa dalam satu hari mereka mungkin mengalami banyak perasaan sekaligus, seperti senang, kecewa, gugup, marah, bangga, malu, atau lega.<\/p>\n<p>Guru dan orang tua dapat membantu anak memahami bahwa memiliki emosi tertentu bukan berarti anak tersebut buruk atau lemah karena perasaan merupakan bagian dari pengalaman manusia, sementara yang perlu dipelajari adalah bagaimana mengenali dan merespons perasaan tersebut dengan cara yang tepat.<\/p>\n<p>Pemahaman ini penting karena anak yang terbiasa mengenali emosinya memiliki kesempatan lebih besar untuk menyampaikan kebutuhan secara jelas daripada hanya memendam semuanya atau melampiaskannya kepada orang lain.<\/p>\n<h2>Peran Orang Tua dalam Kebiasaan Jurnal<\/h2>\n<p>Orang tua tidak harus membaca setiap tulisan anak untuk mengetahui apakah kegiatan jurnal memberikan manfaat karena terlalu banyak mengawasi justru dapat membuat anak kehilangan rasa aman dalam mengekspresikan pikirannya.<\/p>\n<p>Orang tua dapat mendukung dengan menyediakan buku atau media yang nyaman, memberikan waktu yang cukup, dan sesekali menanyakan bagaimana pengalaman menulis jurnal tanpa memaksa anak membagikan hal yang memang ingin mereka simpan sebagai ruang pribadi.<\/p>\n<p>Jika anak secara sukarela menceritakan sesuatu yang membuatnya sangat tertekan, takut, atau tidak aman, orang tua perlu menanggapinya dengan serius dan memberikan dukungan yang sesuai, karena jurnal sebaiknya menjadi salah satu sarana refleksi dan bukan pengganti bantuan ketika anak menghadapi masalah yang lebih berat.<\/p>\n<h2>Membentuk Kebiasaan Refleksi Sejak Sekolah<\/h2>\n<p>Kebiasaan menulis jurnal dapat membantu siswa membangun budaya refleksi yang sederhana tetapi bermanfaat karena mereka terbiasa melihat kembali pengalaman sebelum buru-buru melanjutkan ke aktivitas berikutnya.<\/p>\n<p>Dalam jangka panjang, kemampuan tersebut dapat mendukung berbagai keterampilan seperti mengenali kekuatan diri, mengevaluasi kebiasaan, memahami emosi, menetapkan perubahan kecil, serta mengambil pelajaran dari pengalaman yang sudah dilalui.<\/p>\n<p>Dengan demikian, jurnal harian bukan hanya aktivitas menulis di sebuah buku, tetapi dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal dirinya secara perlahan, memahami pengalaman sekolah dengan lebih sadar, dan belajar bahwa perkembangan diri juga membutuhkan waktu untuk berhenti, berpikir, serta mendengarkan apa yang sebenarnya sedang dirasakan.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jurnal Harian sebagai Ruang untuk Berhenti Sejenak Aktivitas sekolah membuat siswa berhadapan dengan banyak pengalaman dalam satu hari, mulai dari mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, berinteraksi dengan teman, mengikuti kegiatan organisasi atau ekstrakurikuler, hingga menghadapi berbagai hal kecil yang mungkin memengaruhi suasana hati mereka tanpa selalu disadari. Di tengah rutinitas tersebut, menulis jurnal harian dapat menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":29038,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Apakah Menulis Jurnal Harian Bisa Membantu Siswa Lebih Mengenali Perasaannya? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Jurnal Harian sebagai Ruang untuk Berhenti Sejenak Aktivitas sekolah membuat siswa berhadapan dengan banyak pengalaman dalam satu hari, mulai dari mengikuti pel"},"_slim_seo_primary_term_category":12,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12,1],"tags":[8816,10256,8151,7085,6875,10233,7152,8121],"class_list":["post-30982","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-uncategorized","tag-jurnalharian","tag-kebiasaanmenulis","tag-kesehatanemosional","tag-pendidikananak","tag-pendidikankarakter","tag-pengelolaanemosi","tag-pengembangandiri","tag-siswasekolah"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/kl-3.jpg",679,452,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/kl-3-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/kl-3-300x200.jpg",300,200,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/kl-3.jpg",679,452,false],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/kl-3.jpg",679,452,false],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/kl-3.jpg",679,452,false],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/kl-3.jpg",679,452,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/kl-3-18x12.jpg",18,12,true]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Jurnal Harian sebagai Ruang untuk Berhenti Sejenak Aktivitas sekolah membuat siswa berhadapan dengan banyak pengalaman dalam satu hari, mulai dari mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, berinteraksi dengan teman, mengikuti kegiatan organisasi atau ekstrakurikuler, hingga menghadapi berbagai hal kecil yang mungkin memengaruhi suasana hati mereka tanpa selalu disadari. Di tengah rutinitas tersebut, menulis jurnal harian dapat menjadi salah satu kegiatan sederhana yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berhenti sejenak dan memikirkan kembali apa yang mereka alami, rasakan, dan pikirkan sepanjang hari tanpa harus langsung menyampaikannya kepada orang lain. Jurnal tidak harus berupa tulisan panjang atau menggunakan bahasa yang sempurna karena tujuan utamanya&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>, <a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/uncategorized\/\" rel=\"category tag\">Umum<\/a>","author_info_v2":{"name":"Penulis 3","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"},{"value":1,"label":"Umum"}],"post_tag":[{"value":8816,"label":"JurnalHarian"},{"value":10256,"label":"KebiasaanMenulis"},{"value":8151,"label":"KesehatanEmosional"},{"value":7085,"label":"PendidikanAnak"},{"value":6875,"label":"PendidikanKarakter"},{"value":10233,"label":"PengelolaanEmosi"},{"value":7152,"label":"pengembangandiri"},{"value":8121,"label":"SiswaSekolah"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/kl-3.jpg",679,452,false],"author_info":{"display_name":"Penulis 3","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":14698,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":14698,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0},{"term_id":1,"name":"Umum","slug":"uncategorized","term_group":0,"term_taxonomy_id":1,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":6518,"filter":"raw","cat_ID":1,"category_count":6518,"category_description":"","cat_name":"Umum","category_nicename":"uncategorized","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":8816,"name":"JurnalHarian","slug":"jurnalharian","term_group":0,"term_taxonomy_id":8816,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"},{"term_id":10256,"name":"KebiasaanMenulis","slug":"kebiasaanmenulis","term_group":0,"term_taxonomy_id":10256,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"},{"term_id":8151,"name":"KesehatanEmosional","slug":"kesehatanemosional","term_group":0,"term_taxonomy_id":8151,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"},{"term_id":7085,"name":"PendidikanAnak","slug":"pendidikananak","term_group":0,"term_taxonomy_id":7085,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":522,"filter":"raw"},{"term_id":6875,"name":"PendidikanKarakter","slug":"pendidikankarakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":6875,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1839,"filter":"raw"},{"term_id":10233,"name":"PengelolaanEmosi","slug":"pengelolaanemosi","term_group":0,"term_taxonomy_id":10233,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"},{"term_id":7152,"name":"pengembangandiri","slug":"pengembangandiri","term_group":0,"term_taxonomy_id":7152,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":400,"filter":"raw"},{"term_id":8121,"name":"SiswaSekolah","slug":"siswasekolah","term_group":0,"term_taxonomy_id":8121,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":747,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30982","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30982"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30982\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31017,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30982\/revisions\/31017"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29038"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30982"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30982"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30982"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}