{"id":30105,"date":"2026-09-10T17:48:24","date_gmt":"2026-09-10T09:48:24","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=30105"},"modified":"2026-09-10T17:48:24","modified_gmt":"2026-09-10T09:48:24","slug":"mengapa-anak-sd-perlu-belajar-menjadi-pendengar-yang-baik-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/mengapa-anak-sd-perlu-belajar-menjadi-pendengar-yang-baik-2\/","title":{"rendered":"Mengapa Anak SD Perlu Belajar Menjadi Pendengar yang Baik?"},"content":{"rendered":"<p>Kemampuan berbicara sering menjadi perhatian ketika membahas perkembangan komunikasi anak, padahal kemampuan mendengarkan juga memiliki peran yang tidak kalah penting karena anak perlu memahami apa yang disampaikan orang lain sebelum memberikan jawaban, menyampaikan pendapat, atau mengambil tindakan.<\/p>\n<p>Di lingkungan sekolah dasar, kemampuan menjadi pendengar yang baik dapat membantu anak mengikuti penjelasan guru, memahami instruksi, bekerja sama dengan teman, dan membangun hubungan sosial yang lebih baik, sehingga kebiasaan mendengarkan sebaiknya mulai dilatih melalui berbagai aktivitas yang dilakukan anak setiap hari.<\/p>\n<h2>Mendengarkan Bukan Sekadar Diam<\/h2>\n<p>Menjadi pendengar yang baik bukan berarti anak hanya diam ketika orang lain berbicara, tetapi juga berusaha memperhatikan, memahami isi pembicaraan, dan memberikan respons yang sesuai setelah orang tersebut selesai menyampaikan sesuatu.<\/p>\n<p>Anak terkadang terlihat memperhatikan tetapi sebenarnya pikirannya sedang berada di tempat lain, sehingga pesan yang disampaikan guru atau teman tidak sepenuhnya dipahami, kemudian anak dapat merasa bingung ketika harus melakukan tugas atau menjawab pertanyaan.<\/p>\n<p>Karena itu, anak dapat dikenalkan dengan beberapa kebiasaan sederhana:<\/p>\n<ul>\n<li>Melihat dan memperhatikan orang yang sedang berbicara.<\/li>\n<li>Tidak memotong pembicaraan.<\/li>\n<li>Menunggu giliran untuk memberikan tanggapan.<\/li>\n<li>Mendengarkan instruksi sampai selesai.<\/li>\n<li>Bertanya jika ada bagian yang belum dipahami.<\/li>\n<li>Memberikan respons sesuai dengan pembicaraan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kebiasaan tersebut dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan usia dan kemampuan anak.<\/p>\n<h2>Mengapa Mendengarkan Penting dalam Pembelajaran?<\/h2>\n<p>Sebagian besar kegiatan belajar di sekolah membutuhkan kemampuan mendengarkan karena anak perlu menerima penjelasan guru sebelum mengerjakan tugas, mengikuti kegiatan praktik, berdiskusi, maupun memahami aturan dalam sebuah aktivitas.<\/p>\n<p>Ketika anak terbiasa mendengarkan instruksi dengan baik, kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dapat berkurang karena anak mengetahui apa yang harus dilakukan dan memahami tujuan dari kegiatan yang sedang berlangsung.<\/p>\n<p>Kemampuan ini juga membantu anak menjadi pembelajar yang lebih aktif karena mendengarkan bukan berarti hanya menerima informasi, tetapi memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami, memikirkan, kemudian menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.<\/p>\n<p>Dalam pembelajaran interaktif, kemampuan mendengarkan bahkan dapat menjadi dasar sebelum anak mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapat.<\/p>\n<h2>Mendengarkan Membantu Anak Memahami Teman<\/h2>\n<p>Kemampuan mendengarkan juga mempunyai hubungan erat dengan kehidupan sosial anak karena pertemanan membutuhkan komunikasi dua arah.<\/p>\n<p>Ketika seorang teman menceritakan pengalaman, menyampaikan pendapat, atau menjelaskan sesuatu, anak perlu memberikan kesempatan kepada temannya untuk berbicara sampai selesai agar pesan yang disampaikan dapat dipahami secara utuh.<\/p>\n<p>Hal ini menjadi semakin penting ketika anak sedang mengalami perbedaan pendapat dengan teman, karena mendengarkan penjelasan dari sisi orang lain dapat membantu anak memahami alasan di balik sebuah tindakan dan mencegah kesalahpahaman berkembang menjadi konflik yang lebih besar.<\/p>\n<p>Anak tidak harus selalu setuju dengan apa yang dikatakan temannya, tetapi belajar mendengarkan dapat membuat anak memahami bahwa setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda.<\/p>\n<h2>Bagaimana Guru Melatih Kemampuan Mendengarkan?<\/h2>\n<p>Guru dapat memasukkan latihan mendengarkan ke dalam kegiatan belajar tanpa harus membuatnya terasa seperti pelajaran khusus.<\/p>\n<p>Misalnya, guru dapat memberikan instruksi bertahap kemudian meminta anak mengulang kembali apa yang harus dilakukan, mengadakan diskusi kelompok, membacakan sebuah cerita lalu meminta anak menjelaskan bagian yang paling diingat, atau memberikan kesempatan kepada beberapa siswa untuk menyampaikan pendapat sementara siswa lainnya belajar memperhatikan.<\/p>\n<p>Aktivitas sederhana tersebut dapat membantu anak memahami bahwa mendengarkan merupakan bagian dari komunikasi dan memiliki tujuan tertentu.<\/p>\n<p>Guru juga dapat memberikan contoh secara langsung dengan mendengarkan anak ketika mereka berbicara, karena anak sering kali belajar melalui perilaku yang mereka lihat dari orang dewasa di sekitarnya.<\/p>\n<h2>Mendengarkan Membantu Anak Mengikuti Aturan<\/h2>\n<p>Aturan sekolah biasanya disampaikan melalui komunikasi sehingga anak membutuhkan kemampuan mendengarkan untuk memahami apa yang diperbolehkan, apa yang perlu dihindari, dan mengapa aturan tertentu diterapkan.<\/p>\n<p>Ketika anak memahami alasan di balik aturan, kepatuhan tidak hanya muncul karena takut mendapatkan teguran, tetapi dapat berkembang menjadi kesadaran bahwa aturan dibuat untuk menjaga keteraturan dan kenyamanan bersama.<\/p>\n<p>Pembiasaan tersebut sejalan dengan nilai pendidikan yang menekankan disiplin dan tanggung jawab, karena anak belajar bahwa mendengarkan instruksi merupakan bagian dari menjalankan kewajibannya.<\/p>\n<p>Di SD Al Ma\u2019soem sendiri, nilai disiplin menjadi salah satu bagian dari karakter yang ditekankan bersama dengan takwa, tangguh, akhlak, jujur, cerdas, adaptif, dan mandiri.<\/p>\n<h2>Mendengarkan dalam Kegiatan Kelompok<\/h2>\n<p>Kegiatan kelompok merupakan salah satu situasi yang membuat kemampuan mendengarkan anak dapat terlihat secara langsung.<\/p>\n<p>Ketika beberapa anak mengerjakan tugas bersama, setiap anggota perlu memiliki kesempatan untuk menyampaikan ide, sementara anggota lainnya perlu mendengarkan sebelum memberikan tanggapan agar diskusi tidak berubah menjadi situasi ketika semua orang berbicara secara bersamaan.<\/p>\n<p>Dalam proses tersebut, anak dapat belajar bahwa ide yang baik tidak selalu berasal dari dirinya sendiri dan terkadang pendapat teman dapat memberikan sudut pandang baru yang membuat hasil pekerjaan kelompok menjadi lebih baik.<\/p>\n<p>Kebiasaan mendengarkan juga dapat membantu pembagian tugas menjadi lebih jelas karena anak memahami apa yang sudah disepakati dan mengetahui tanggung jawab masing-masing.<\/p>\n<h2>Belajar Mendengarkan Saat Mengikuti Ekstrakurikuler<\/h2>\n<p>Kemampuan mendengarkan juga dapat berkembang melalui kegiatan nonakademik karena anak harus memperhatikan instruksi pelatih, guru, atau pembimbing sebelum melakukan aktivitas tertentu.<\/p>\n<p>Dalam kegiatan olahraga seperti futsal, basket, hockey, maupun bola voli, anak perlu mendengarkan arahan mengenai aturan dan strategi permainan, sedangkan dalam kegiatan seperti robotik, sains, atau matematika anak perlu memahami instruksi sebelum menyelesaikan tantangan yang diberikan.<\/p>\n<p>SD Al Ma\u2019soem memiliki berbagai pilihan ekstrakurikuler, mulai dari Tahfidz, English Club, Math Club, Sains Club, Futsal, Taekwondo, Catur, Hockey, Basket, Panahan, Robotik, Bola Voli, hingga Paduan Suara. Berbagai kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak untuk belajar mengikuti instruksi dan berinteraksi dengan orang lain.<\/p>\n<p>Dalam kegiatan paduan suara misalnya, anak perlu memperhatikan arahan agar dapat mengikuti tempo dan bagian lagu, sedangkan dalam olahraga beregu anak perlu memahami arahan agar dapat menjalankan perannya bersama anggota tim.<\/p>\n<h2>Jangan Memaksa Anak Selalu Diam<\/h2>\n<p>Melatih kemampuan mendengarkan bukan berarti meminta anak untuk diam sepanjang waktu karena anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bergerak, berbicara, bertanya, dan mengekspresikan dirinya.<\/p>\n<p>Justru keseimbangan antara mendengarkan dan berbicara perlu dikenalkan agar anak mengetahui bahwa setiap situasi mempunyai kebutuhan komunikasi yang berbeda.<\/p>\n<p>Ketika guru menjelaskan materi, anak perlu memberikan perhatian, tetapi ketika sesi diskusi dimulai, anak perlu berani menyampaikan pendapat, sementara ketika teman sedang berbicara, anak perlu kembali memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pikirannya.<\/p>\n<p>Dengan demikian, anak belajar bahwa komunikasi yang baik membutuhkan kemampuan berbicara sekaligus kemampuan mendengarkan.<\/p>\n<h2>Bagaimana Orang Tua Membiasakan Anak Mendengarkan?<\/h2>\n<p>Kebiasaan mendengarkan tidak hanya perlu dibangun di sekolah karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar berkomunikasi.<\/p>\n<p>Orang tua dapat memberikan contoh dengan benar-benar mendengarkan ketika anak bercerita, tidak langsung memotong pembicaraan, serta memberikan respons yang menunjukkan bahwa cerita anak diperhatikan.<\/p>\n<p>Percakapan sehari-hari juga dapat digunakan untuk melatih kemampuan tersebut, misalnya meminta anak menceritakan kembali kegiatan sekolahnya, menanyakan apa yang dipelajari hari itu, atau mengajak anak berdiskusi mengenai pengalaman yang baru saja dialaminya.<\/p>\n<p>Ketika anak merasa didengarkan, ia juga dapat belajar bahwa mendengarkan orang lain merupakan bentuk penghargaan dalam sebuah hubungan.<\/p>\n<h2>Mendengarkan Membantu Anak Menjadi Lebih Peka<\/h2>\n<p>Anak yang terbiasa mendengarkan dapat memiliki lebih banyak kesempatan untuk memahami perasaan, kebutuhan, dan sudut pandang orang lain karena ia tidak hanya fokus pada apa yang ingin disampaikan oleh dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Dalam pertemanan, kemampuan tersebut dapat membantu anak menyadari ketika temannya sedang mengalami kesulitan, membutuhkan bantuan, atau sekadar ingin bercerita, sehingga hubungan sosial dapat dibangun melalui komunikasi yang lebih seimbang.<\/p>\n<p>Kemampuan mendengarkan juga dapat mendukung nilai kepedulian sosial dan gotong royong yang menjadi bagian dari misi pendidikan SD Al Ma\u2019soem.<\/p>\n<p>Membiasakan anak menjadi pendengar yang baik sejak sekolah dasar pada akhirnya bukan hanya membantu mereka memahami pelajaran, tetapi juga memberikan bekal untuk berkomunikasi dengan lebih sopan, menghargai orang lain, mengikuti arahan, bekerja sama, dan menghadapi berbagai situasi sosial dengan lebih baik.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kemampuan berbicara sering menjadi perhatian ketika membahas perkembangan komunikasi anak, padahal kemampuan mendengarkan juga memiliki peran yang tidak kalah penting karena anak perlu memahami apa yang disampaikan orang lain sebelum memberikan jawaban, menyampaikan pendapat, atau mengambil tindakan. Di lingkungan sekolah dasar, kemampuan menjadi pendengar yang baik dapat membantu anak mengikuti penjelasan guru, memahami instruksi, bekerja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":24971,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Mengapa Anak SD Perlu Belajar Menjadi Pendengar yang Baik? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Kemampuan berbicara sering menjadi perhatian ketika membahas perkembangan komunikasi anak, padahal kemampuan mendengarkan juga memiliki peran yang tidak kalah p"},"_slim_seo_primary_term_category":12,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12,28],"tags":[10081,6875,8853],"class_list":["post-30105","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-kegiatan","tag-komunikasianak","tag-pendidikankarakter","tag-pendidikansd"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.36-1-2.jpeg",1920,1440,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.36-1-2-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.36-1-2-300x225.jpeg",300,225,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.36-1-2-768x576.jpeg",768,576,true],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.36-1-2-1024x768.jpeg",1024,768,true],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.36-1-2-1536x1152.jpeg",1536,1152,true],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.36-1-2.jpeg",1920,1440,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.36-1-2-16x12.jpeg",16,12,true]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Kemampuan berbicara sering menjadi perhatian ketika membahas perkembangan komunikasi anak, padahal kemampuan mendengarkan juga memiliki peran yang tidak kalah penting karena anak perlu memahami apa yang disampaikan orang lain sebelum memberikan jawaban, menyampaikan pendapat, atau mengambil tindakan. Di lingkungan sekolah dasar, kemampuan menjadi pendengar yang baik dapat membantu anak mengikuti penjelasan guru, memahami instruksi, bekerja sama dengan teman, dan membangun hubungan sosial yang lebih baik, sehingga kebiasaan mendengarkan sebaiknya mulai dilatih melalui berbagai aktivitas yang dilakukan anak setiap hari. Mendengarkan Bukan Sekadar Diam Menjadi pendengar yang baik bukan berarti anak hanya diam ketika orang lain berbicara, tetapi juga berusaha memperhatikan,&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>, <a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/kegiatan\/\" rel=\"category tag\">Kegiatan<\/a>","author_info_v2":{"name":"Penulis 4","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"},{"value":28,"label":"Kegiatan"}],"post_tag":[{"value":10081,"label":"KomunikasiAnak"},{"value":6875,"label":"PendidikanKarakter"},{"value":8853,"label":"PendidikanSD"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.36-1-2-1024x768.jpeg",1024,768,true],"author_info":{"display_name":"Penulis 4","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":10776,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":10776,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0},{"term_id":28,"name":"Kegiatan","slug":"kegiatan","term_group":0,"term_taxonomy_id":28,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":3864,"filter":"raw","cat_ID":28,"category_count":3864,"category_description":"","cat_name":"Kegiatan","category_nicename":"kegiatan","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":10081,"name":"KomunikasiAnak","slug":"komunikasianak","term_group":0,"term_taxonomy_id":10081,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":4,"filter":"raw"},{"term_id":6875,"name":"PendidikanKarakter","slug":"pendidikankarakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":6875,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1424,"filter":"raw"},{"term_id":8853,"name":"PendidikanSD","slug":"pendidikansd","term_group":0,"term_taxonomy_id":8853,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":12,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30105"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30105\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30106,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30105\/revisions\/30106"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}