{"id":29404,"date":"2026-09-10T14:53:07","date_gmt":"2026-09-10T06:53:07","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=29404"},"modified":"2026-09-10T14:53:07","modified_gmt":"2026-09-10T06:53:07","slug":"mengarahkan-rasa-ingin-tahu-anak-bagaimana-sd-al-masoem-mengembangkan-potensi-saintis-muda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/mengarahkan-rasa-ingin-tahu-anak-bagaimana-sd-al-masoem-mengembangkan-potensi-saintis-muda\/","title":{"rendered":"Mengarahkan Rasa Ingin Tahu Anak: Bagaimana SD Al Ma&#8217;soem Mengembangkan Potensi Saintis Muda?"},"content":{"rendered":"<p>Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Mereka dapat mengajukan banyak pertanyaan tentang hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian orang dewasa. Mengapa hujan turun? Mengapa tanaman membutuhkan cahaya? Bagaimana sebuah benda bisa bergerak? Mengapa langit berubah warna? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bentuk alami dari keingintahuan anak terhadap dunia di sekitarnya.<\/p>\n<p>Rasa ingin tahu seperti ini sebenarnya merupakan modal awal yang sangat berharga untuk membangun kemampuan berpikir ilmiah. Anak tidak harus langsung menjadi seorang ilmuwan. Namun, kebiasaan bertanya, mengamati, mencoba, membandingkan, mencari informasi, dan menarik kesimpulan dapat menjadi fondasi penting untuk perkembangan akademiknya di masa depan.<\/p>\n<p>Karena itu, pendidikan sekolah dasar memiliki peran strategis dalam mengarahkan rasa ingin tahu tersebut. Anak membutuhkan lingkungan yang tidak mematikan pertanyaan, tetapi justru membantu mereka menemukan cara yang tepat untuk mencari jawaban.<\/p>\n<p>SD Al Ma&#8217;soem dapat menjadi salah satu lingkungan pendidikan yang mendukung proses tersebut melalui kegiatan belajar yang interaktif, relevan, dan memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Pendekatan semacam ini penting karena potensi saintis muda tidak selalu muncul dari hafalan, melainkan dari kebiasaan berpikir dan rasa penasaran terhadap berbagai fenomena.<\/p>\n<h2>Rasa Ingin Tahu Adalah Awal dari Proses Ilmiah<\/h2>\n<p>Seorang saintis memulai penelitian dari pertanyaan. Anak-anak juga demikian.<\/p>\n<p>Ketika seorang siswa bertanya mengapa sesuatu terjadi, sebenarnya ia sedang melakukan langkah awal dalam proses berpikir ilmiah. Perbedaannya adalah anak membutuhkan arahan agar rasa ingin tahu tersebut dapat berkembang menjadi proses belajar yang sistematis.<\/p>\n<p>Misalnya, seorang siswa melihat tanaman di lingkungan sekolah. Ia kemudian bertanya mengapa satu tanaman tumbuh lebih tinggi daripada tanaman lainnya. Guru dapat membantu siswa menyusun beberapa kemungkinan jawaban.<\/p>\n<p>Mungkin karena jumlah cahaya berbeda. Mungkin karena air. Mungkin karena jenis tanaman. Mungkin juga karena kondisi tanah.<\/p>\n<p>Dari satu pertanyaan sederhana, anak dapat belajar melakukan pengamatan.<\/p>\n<p>Inilah yang membuat pembelajaran sains menjadi menarik. Sains bukan sekadar kumpulan rumus atau istilah. Sains adalah cara memahami dunia.<\/p>\n<h2>Guru Berperan sebagai Pengarah Rasa Ingin Tahu<\/h2>\n<p>Rasa ingin tahu anak perlu diarahkan. Jika tidak, anak dapat berpindah dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain tanpa memahami bagaimana cara menemukan jawabannya.<\/p>\n<p>Guru memiliki peran penting dalam membantu siswa menyusun pertanyaan yang dapat dipelajari.<\/p>\n<p>Ketika anak mengajukan pertanyaan, guru dapat merespons dengan pertanyaan lanjutan. &#8220;Menurut kamu apa penyebabnya?&#8221; atau &#8220;Bagaimana cara kita mengetahui jawabannya?&#8221;<\/p>\n<p>Pertanyaan semacam ini mengajarkan anak untuk tidak selalu menunggu jawaban dari orang lain.<\/p>\n<p>Siswa mulai memahami bahwa sebuah pertanyaan dapat dijawab melalui pengamatan, percobaan, membaca informasi, berdiskusi, atau mencari bukti.<\/p>\n<p>Kebiasaan tersebut menjadi fondasi kemampuan penelitian sederhana.<\/p>\n<h2>Pembelajaran yang Relevan Membuat Sains Lebih Dekat<\/h2>\n<p>Salah satu tantangan dalam mengajarkan sains kepada anak adalah membuat konsep yang abstrak terasa dekat dengan kehidupan mereka.<\/p>\n<p>Pembelajaran yang relevan dapat membantu mengatasi tantangan tersebut.<\/p>\n<p>Materi tentang lingkungan, misalnya, dapat dikaitkan dengan kondisi sekitar sekolah. Materi tentang energi dapat dikaitkan dengan penggunaan peralatan sehari-hari. Materi tentang makhluk hidup dapat dikaitkan dengan tumbuhan, hewan, atau lingkungan yang dapat diamati siswa.<\/p>\n<p>Ketika anak melihat hubungan antara pelajaran dan kehidupan sehari-hari, mereka lebih mudah memahami bahwa ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang hanya ada di buku.<\/p>\n<p>Program pembelajaran Al Ma&#8217;soem yang menekankan aktivitas interaktif dan topik yang relevan dapat memberikan ruang untuk membangun hubungan tersebut.<\/p>\n<h2>Belajar Mengamati Sebelum Menyimpulkan<\/h2>\n<p>Salah satu kebiasaan penting dalam berpikir ilmiah adalah membedakan antara dugaan dan fakta.<\/p>\n<p>Anak sering kali membuat kesimpulan berdasarkan apa yang mereka lihat sekilas. Hal ini wajar karena kemampuan berpikir mereka masih berkembang.<\/p>\n<p>Sekolah dapat mengajarkan bahwa sebuah kesimpulan sebaiknya didukung oleh pengamatan.<\/p>\n<p>Contohnya, seorang siswa mengatakan bahwa tanaman A lebih cepat tumbuh karena mendapatkan lebih banyak air. Guru dapat bertanya apakah siswa sudah membandingkan jumlah air yang diterima kedua tanaman.<\/p>\n<p>Dari sini, anak belajar bahwa pendapat perlu didukung bukti.<\/p>\n<p>Pembiasaan seperti ini akan sangat berguna ketika anak beranjak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.<\/p>\n<h2>Eksperimen Sederhana Dapat Menumbuhkan Minat Sains<\/h2>\n<p>Anak-anak biasanya menyukai aktivitas yang memungkinkan mereka melihat hasil secara langsung.<\/p>\n<p>Eksperimen sederhana dapat menjadi salah satu cara untuk membangun ketertarikan terhadap sains.<\/p>\n<p>Eksperimen tidak harus selalu menggunakan alat yang rumit. Kegiatan sederhana dengan benda-benda di sekitar dapat menjadi media pembelajaran selama memiliki tujuan yang jelas.<\/p>\n<p>Yang penting bukan seberapa canggih alatnya, tetapi bagaimana anak diajak berpikir.<\/p>\n<p>Siswa dapat diminta membuat prediksi sebelum kegiatan. Setelah itu, mereka melakukan pengamatan dan membandingkan hasil dengan prediksi awal.<\/p>\n<p>Jika hasilnya berbeda, siswa tidak perlu menganggap kegiatan tersebut gagal.<\/p>\n<p>Justru perbedaan antara prediksi dan hasil dapat menjadi bahan diskusi.<\/p>\n<h2>Kesalahan Menjadi Bagian dari Penemuan<\/h2>\n<p>Dalam proses sains, sebuah hipotesis dapat terbukti benar atau tidak. Anak perlu belajar bahwa hasil yang tidak sesuai dengan perkiraan bukan sesuatu yang memalukan.<\/p>\n<p>Hal ini juga berkaitan dengan pembentukan resiliensi.<\/p>\n<p>Ketika siswa terbiasa melakukan percobaan, mereka akan menemukan bahwa tidak semua usaha menghasilkan hasil yang langsung sesuai harapan.<\/p>\n<p>Anak kemudian belajar memperbaiki metode.<\/p>\n<p>Misalnya, percobaan pertama belum berhasil. Siswa dapat bertanya apa yang perlu diubah. Apakah langkahnya? Apakah waktunya? Apakah alatnya?<\/p>\n<p>Kebiasaan memperbaiki proses tersebut merupakan karakter penting bagi seorang pembelajar.<\/p>\n<h2>Teknologi Mendukung Eksplorasi Sains<\/h2>\n<p>Teknologi dapat menjadi sarana pendukung yang menarik dalam pembelajaran.<\/p>\n<p>Fasilitas seperti Smart TV, multimedia, integrated e-learning network, dan komputer di kelas dapat membantu siswa memperoleh pengalaman belajar melalui berbagai media. Dalam program internasional Al Ma&#8217;soem, fasilitas tersebut memang menjadi bagian dari lingkungan pembelajaran.<\/p>\n<p>Video, animasi, simulasi, dan materi digital dapat membantu menjelaskan konsep yang sulit diamati secara langsung.<\/p>\n<p>Namun, teknologi tetap perlu digunakan secara terarah. Anak perlu belajar bahwa internet bukan sekadar tempat mencari jawaban cepat. Mereka juga harus belajar memilih informasi, memahami sumber informasi, dan mengolahnya.<\/p>\n<p>Dengan demikian, literasi digital dapat berjalan bersama literasi sains.<\/p>\n<h2>Mengembangkan Kemampuan Bertanya<\/h2>\n<p>Potensi saintis muda tidak hanya terlihat dari kemampuan menjawab soal sains.<\/p>\n<p>Kemampuan mengajukan pertanyaan juga sangat penting.<\/p>\n<p>Pertanyaan yang baik menunjukkan bahwa siswa sedang memikirkan hubungan sebab-akibat atau mencari penjelasan yang lebih mendalam.<\/p>\n<p>Guru dapat memberikan ruang kepada siswa untuk membuat pertanyaan sendiri setelah mempelajari suatu topik.<\/p>\n<p>Misalnya, setelah mempelajari ekosistem, siswa dapat menuliskan pertanyaan tentang apa yang terjadi jika salah satu bagian ekosistem mengalami perubahan.<\/p>\n<p>Aktivitas tersebut membantu anak bergerak dari sekadar mengingat informasi menuju kemampuan menganalisis.<\/p>\n<h2>Kolaborasi Membuat Eksplorasi Lebih Menarik<\/h2>\n<p>Sains juga dapat dipelajari melalui kerja kelompok.<\/p>\n<p>Dalam kelompok, siswa dapat membagi tugas. Ada yang melakukan pengamatan, mencatat data, menyusun hasil, atau menyampaikan kesimpulan.<\/p>\n<p>Pengalaman ini sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja sama.<\/p>\n<p>Anak belajar bahwa menemukan jawaban tidak selalu harus dilakukan sendirian.<\/p>\n<p>Mereka juga belajar menerima pendapat teman. Jika terdapat perbedaan hasil, kelompok dapat mendiskusikan penyebabnya.<\/p>\n<p>Proses tersebut mengajarkan bahwa perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan data dan argumentasi.<\/p>\n<h2>Potensi Saintis Tidak Harus Berarti Menjadi Peneliti<\/h2>\n<p>Istilah &#8220;saintis muda&#8221; tidak berarti semua siswa harus bercita-cita menjadi ilmuwan.<\/p>\n<p>Yang lebih penting adalah membangun scientific thinking.<\/p>\n<p>Kemampuan berpikir ilmiah bermanfaat dalam banyak bidang. Seorang dokter membutuhkan kemampuan menganalisis. Seorang insinyur membutuhkan kemampuan memecahkan masalah. Pengusaha membutuhkan kemampuan menguji sebuah gagasan. Bahkan kehidupan sehari-hari membutuhkan kemampuan membedakan informasi yang benar dan tidak benar.<\/p>\n<p>Dengan demikian, pendidikan sains memberikan manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar nilai mata pelajaran.<\/p>\n<h2>Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Rasa Ingin Tahu<\/h2>\n<p>Orang tua dapat melanjutkan kebiasaan eksplorasi di rumah.<\/p>\n<p>Ketika anak bertanya, orang tua tidak harus selalu memberikan jawaban langsung. Sesekali, anak dapat diajak mencari tahu bersama.<\/p>\n<p>Misalnya, ketika anak bertanya tentang mengapa bulan terlihat berbeda-beda, orang tua dapat mengajak anak mengamati bentuk bulan selama beberapa hari.<\/p>\n<p>Anak dapat mencatat hasil pengamatan sederhana.<\/p>\n<p>Dari aktivitas tersebut, rasa ingin tahu berubah menjadi kegiatan belajar.<\/p>\n<p>Orang tua juga dapat menyediakan buku pengetahuan, mengajak anak mengunjungi tempat edukatif, melakukan percobaan sederhana yang aman, atau berdiskusi mengenai fenomena di sekitar.<\/p>\n<h2>Sekolah dan Rumah Perlu Berjalan Bersama<\/h2>\n<p>Pengembangan potensi saintis muda akan lebih efektif jika sekolah dan rumah memiliki pola dukungan yang sejalan.<\/p>\n<p>Sekolah memberikan pengalaman pembelajaran terstruktur. Rumah memberikan ruang untuk melanjutkan kebiasaan bertanya dan mengeksplorasi.<\/p>\n<p>Keduanya saling melengkapi.<\/p>\n<p>Anak yang mendapatkan respons positif ketika bertanya akan semakin berani mengembangkan rasa ingin tahunya.<\/p>\n<p>Sebaliknya, jika pertanyaan anak selalu dianggap mengganggu, lama-kelamaan anak dapat memilih diam.<\/p>\n<p>Karena itu, orang tua dan guru perlu melihat pertanyaan anak sebagai bagian dari proses perkembangan.<\/p>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Mengarahkan rasa ingin tahu anak merupakan bagian penting dari pendidikan sekolah dasar. Potensi saintis muda tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi tumbuh melalui kebiasaan sederhana: bertanya, mengamati, mencoba, mencari bukti, berdiskusi, dan mengevaluasi hasil.<\/p>\n<p>SD Al Ma&#8217;soem dapat menjadi lingkungan yang mendukung proses tersebut melalui pembelajaran yang interaktif, purposeful, dan relevan. Dengan pendekatan yang tepat, siswa dapat belajar bahwa sains bukan sekadar pelajaran, melainkan cara memahami dunia.<\/p>\n<p>Penggunaan teknologi, kegiatan eksploratif, diskusi, eksperimen sederhana, dan pendampingan guru dapat membantu anak mengembangkan pola pikir yang lebih kritis.<\/p>\n<p>Yang paling penting, anak tidak perlu takut salah.<\/p>\n<p>Sebuah dugaan yang keliru tetap dapat menjadi awal pembelajaran. Sebuah percobaan yang belum berhasil tetap dapat memberikan informasi. Sebuah pertanyaan sederhana dapat menjadi pintu menuju pengetahuan yang jauh lebih luas.<\/p>\n<p>Jika rasa ingin tahu tersebut terus dipelihara, anak akan memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Mereka dapat mengajukan banyak pertanyaan tentang hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian orang dewasa. Mengapa hujan turun? Mengapa tanaman membutuhkan cahaya? Bagaimana sebuah benda bisa bergerak? Mengapa langit berubah warna? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bentuk alami dari keingintahuan anak terhadap dunia di sekitarnya. Rasa ingin tahu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":21881,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Mengarahkan Rasa Ingin Tahu Anak: Bagaimana SD Al Ma'soem Mengembangkan Potensi Saintis Muda? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Mereka dapat mengajukan banyak pertanyaan tentang hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian or"},"_slim_seo_primary_term_category":12,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12,28,1],"tags":[7274,9258,9981,6901],"class_list":["post-29404","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-kegiatan","category-uncategorized","tag-pembelajaransains","tag-sainsanak","tag-saintismuda","tag-sdalmasoem"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.37.jpeg",1920,1440,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.37-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.37-300x225.jpeg",300,225,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.37-768x576.jpeg",768,576,true],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.37-1024x768.jpeg",1024,768,true],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.37-1536x1152.jpeg",1536,1152,true],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.37.jpeg",1920,1440,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.37-16x12.jpeg",16,12,true]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Mereka dapat mengajukan banyak pertanyaan tentang hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian orang dewasa. Mengapa hujan turun? Mengapa tanaman membutuhkan cahaya? Bagaimana sebuah benda bisa bergerak? Mengapa langit berubah warna? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bentuk alami dari keingintahuan anak terhadap dunia di sekitarnya. Rasa ingin tahu seperti ini sebenarnya merupakan modal awal yang sangat berharga untuk membangun kemampuan berpikir ilmiah. Anak tidak harus langsung menjadi seorang ilmuwan. Namun, kebiasaan bertanya, mengamati, mencoba, membandingkan, mencari informasi, dan menarik kesimpulan dapat menjadi fondasi penting untuk perkembangan akademiknya di masa depan. Karena itu, pendidikan&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>, <a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/kegiatan\/\" rel=\"category tag\">Kegiatan<\/a>, <a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/uncategorized\/\" rel=\"category tag\">Umum<\/a>","author_info_v2":{"name":"Penulis 6","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"},{"value":28,"label":"Kegiatan"},{"value":1,"label":"Umum"}],"post_tag":[{"value":7274,"label":"PembelajaranSains"},{"value":9258,"label":"SainsAnak"},{"value":9981,"label":"SaintisMuda"},{"value":6901,"label":"sdalmasoem"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-16.12.37-1024x768.jpeg",1024,768,true],"author_info":{"display_name":"Penulis 6","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":8772,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":8772,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0},{"term_id":28,"name":"Kegiatan","slug":"kegiatan","term_group":0,"term_taxonomy_id":28,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":3652,"filter":"raw","cat_ID":28,"category_count":3652,"category_description":"","cat_name":"Kegiatan","category_nicename":"kegiatan","category_parent":0},{"term_id":1,"name":"Umum","slug":"uncategorized","term_group":0,"term_taxonomy_id":1,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":3345,"filter":"raw","cat_ID":1,"category_count":3345,"category_description":"","cat_name":"Umum","category_nicename":"uncategorized","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":7274,"name":"PembelajaranSains","slug":"pembelajaransains","term_group":0,"term_taxonomy_id":7274,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":59,"filter":"raw"},{"term_id":9258,"name":"SainsAnak","slug":"sainsanak","term_group":0,"term_taxonomy_id":9258,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":4,"filter":"raw"},{"term_id":9981,"name":"SaintisMuda","slug":"saintismuda","term_group":0,"term_taxonomy_id":9981,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6901,"name":"sdalmasoem","slug":"sdalmasoem","term_group":0,"term_taxonomy_id":6901,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":262,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29404","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29404"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29404\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29454,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29404\/revisions\/29454"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21881"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29404"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29404"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29404"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}