{"id":18320,"date":"2026-06-17T11:24:57","date_gmt":"2026-06-17T03:24:57","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=18320"},"modified":"2026-06-17T11:24:57","modified_gmt":"2026-06-17T03:24:57","slug":"sudahkah-kita-menjadi-guru-yang-dirindukan-atau-sekadar-menggugurkan-kewajiban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/sudahkah-kita-menjadi-guru-yang-dirindukan-atau-sekadar-menggugurkan-kewajiban\/","title":{"rendered":"Sudahkah Kita Menjadi Guru yang Dirindukan, atau Sekadar Menggugurkan Kewajiban?"},"content":{"rendered":"<p data-path-to-node=\"6\">Ada dua jenis guru yang akan selalu menetap dalam ingatan siswa, meski dengan rasa yang bertolak belakang.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"7\">Jenis pertama adalah guru yang namanya terus disebut hingga belasan tahun setelah kelulusan. Diucapkan dengan nada penuh hormat dan rindu di sela-sela reuni: <i data-path-to-node=\"7\" data-index-in-node=\"158\">&#8220;Coba kalau dulu Bu Sari yang megang kelas kita, pasti ceritanya bakal beda.&#8221;<\/i> Lalu ada jenis kedua. Guru yang hanya diingat sebagai sosok yang pernah berdiri di depan papan tulis, berbicara satu arah, lalu melangkah pergi begitu bel berbunyi. Tanpa bekas, tanpa kesan, apalagi kenangan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"8\">Pertanyaannya sederhana, namun cukup untuk membuat dada kita berdegup agak kencang: <b data-path-to-node=\"8\" data-index-in-node=\"84\">Di ingatan murid yang mana, nama kita akan menetap?<\/b><\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"10\">Terjebak Rutinitas, Kehilangan Jiwa<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"11\">Di tengah kepungan administrasi yang seolah tak ada habisnya\u2014mulai dari menyusun RPP, mengejar target kurikulum yang kejar tayang, hingga mengisi tumpukan berkas penilaian\u2014mudah sekali bagi seorang pendidik untuk kehilangan arah. Mengajar perlahan bergeser dari sebuah panggilan menjadi sekadar daftar tugas (<i data-path-to-node=\"11\" data-index-in-node=\"309\">checklist<\/i>) harian. Masuk kelas, buka buku, jelaskan materi, beri latihan, nilai, lalu pulang. Besok ulangi lagi.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"12\">Namun, jika kita mau sejenak menepi dari kebisingan itu, kita tahu ada sekat yang sangat tebal antara &#8220;mengajar karena tugas&#8221; dan &#8220;mengajar dengan hati&#8221;.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"13\">Guru yang bergerak karena tuntutan tugas biasanya hanya akan bertanya, <i data-path-to-node=\"13\" data-index-in-node=\"71\">&#8220;Apakah bab ini sudah selesai saya sampaikan?&#8221;<\/i> Fokusnya adalah dokumen dan ketepatan waktu. Sebaliknya, guru yang mengajar dengan hati akan gelisah dan bertanya, <i data-path-to-node=\"13\" data-index-in-node=\"233\">&#8220;Apakah anak-anak benar-benar paham? Adakah materi tadi yang bisa mereka bawa pulang sebagai bekal hidup?&#8221;<\/i><\/p>\n<p data-path-to-node=\"14\">Ketika bel pulang berbunyi, guru yang sekadar menggugurkan kewajiban akan bernapas lega karena beban hari itu telah usai. Sementara guru yang mengajar dengan hati, langkah kakinya menuju parkiran mungkin masih tertahan oleh pikiran tentang si Andi yang tadi mendadak murung di pojok kelas, atau si Putri yang belakangan ini kehilangan binar di matanya saat ujian.<\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"16\">Cermin Retak di Depan Kelas: Saat Mengajar Kehilangan Rasa<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"17\">Mari kita berani menatap cermin itu jernih-jernih. Kadang, tanpa sadar kita telah berjalan terlalu jauh ke zona &#8220;menggugurkan kewajiban&#8221;.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"18\">Tandanya sering kali halus. Dimulai ketika kita merasa nyaman menggunakan materi dan <i data-path-to-node=\"18\" data-index-in-node=\"85\">slide<\/i> presentasi yang sama selama bertahun-tahun, tanpa pernah peduli bahwa anak-anak yang duduk di bangku kelas kita telah berubah generasinya. Kita gagap membaca kebutuhan mereka karena kita menolak mengevaluasi diri.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"19\">Di titik yang lebih ekstrem, siswa tak lebih dari sekadar angka di buku absensi atau barisan nilai di dalam rapor. Kita kesulitan mengingat nama mereka, apalagi mengenali apa yang membuat mereka cemas atau apa yang sedang mereka impikan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"20\">Kita juga kerap berubah menjadi pemadam kebakaran yang reaktif: baru bergerak ketika ada masalah besar yang meledak\u2014seperti siswa yang tawuran, nilai yang mendadak anjlok, atau protes keras dari orang tua. Kita kehilangan kepekaan untuk membaca gejala awal sebelum masalah itu membesar. Tameng kita selalu sama dan terasa aman: <i data-path-to-node=\"20\" data-index-in-node=\"328\">&#8220;Yang penting, semua materi di kurikulum sudah saya ajarkan.&#8221;<\/i><\/p>\n<p data-path-to-node=\"21\">Secara fisik, kita mungkin selalu hadir tepat waktu di depan kelas. Namun jiwa, pikiran, dan empati kita tertinggal di luar ruangan. Kita ada, tapi sekaligus tiada bagi mereka.<\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"23\">Mereka yang Menetap di Hati Murid<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"24\">Lantas, apa yang membedakan guru yang dirindukan dengan guru yang sekadar &#8220;lewat&#8221;? Mereka bukan manusia super yang tanpa cela. Mereka juga sering lelah. Namun, mereka memilih untuk meletakkan &#8220;ruh&#8221; pada setiap interaksi.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"25\">Guru yang dirindukan selalu melihat murid sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar botol kosong yang siap dijejali rumus-rumus matematika atau hafalan sejarah. Mereka tahu si Budi punya jemari yang magis saat menggambar, mereka peka bahwa Sari sedang tidak baik-baik saja karena badai di rumahnya, dan mereka percaya si Rian punya potensi besar yang belum berani ia tunjukkan pada dunia.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"26\">Saat melangkah ke dalam kelas, guru-guru ini membawa seluruh perhatian mereka. Mata mereka menatap hangat, telinga mereka mendengar getaran suara yang ragu-ragu, dan hati mereka membaca atmosfer kelas. Mereka tidak pelit memberikan waktu ekstra\u2014entah itu sepuluh menit setelah jam pulang untuk mendengarkan keluh kesah murid yang tertinggal pelajaran, atau sekadar bisikan pendek, <i data-path-to-node=\"26\" data-index-in-node=\"381\">&#8220;Ibu perhatikan tulisanmu hari ini bagus sekali, pertahankan ya.&#8221;<\/i><\/p>\n<p data-path-to-node=\"27\">Mereka memimpin lewat keteladanan, bukan dengan rentetan aturan yang diteriakkan lewat pengeras suara. Dan yang paling indah: mereka selalu mampu melihat emas di dalam diri anak yang oleh guru lain dianggap &#8220;bermasalah&#8221;.<\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"29\">Dampak Nyata yang Melampaui Angka Rapor<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"30\">Mengajar dengan hati bukanlah romantisme belaka. Secara psikologis, ruang kelas yang penuh dengan rasa aman dan penerimaan adalah pupuk terbaik bagi otak anak untuk menyerap ilmu. Murid yang merasa dipedulikan oleh gurunya akan tumbuh menjadi pribadi yang berani bertanya, tidak takut salah, dan memiliki motivasi internal yang kuat untuk belajar.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"31\">Di era sekarang, saat kesehatan mental remaja berada di titik yang cukup rapuh, kehadiran guru yang empatik bisa menjadi penyelamat jiwa. Bagi sebagian anak, rumah mungkin menjadi tempat yang penuh tekanan. Dan sekolah\u2014melalui kehadiran satu-dua orang guru yang mendengarkan tanpa menghakimi\u2014berubah menjadi satu-satunya perlindungan aman bagi mereka.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"32\">Nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, ketekunan, dan welas asih tidak pernah bisa diajarkan melalui lembar kerja siswa (LKS) atau ceramah satu jam pelajaran. Nilai-nilai itu menular melalui bagaimana cara kita menyapa mereka di pagi hari, bagaimana cara kita memaafkan kesalahan mereka, dan bagaimana cara kita bersikap adil.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"33\">Dampaknya sering kali tidak terlihat di hari pembagian rapor. Ia bekerja seperti benih yang tertidur di dalam tanah. Baru bertahun-tahun kemudian, ketika murid kita menghadapi badai kehidupan di dunia luar, mereka tiba-tiba teringat kata-kata penguat dari kita dulu. Di situlah esensi pendidikan yang sesungguhnya bekerja.<\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"35\">Menatap Realita: Membakar Lilin di Tengah Badai<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"36\">Tentu saja, mempertahankan idealisme &#8220;mengajar dengan hati&#8221; di tengah realita pendidikan kita saat ini mirip seperti menjaga nyala lilin di tengah embusan angin kencang. Tantangannya nyata dan melelahkan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"37\">Bagaimana bisa seorang guru fokus menyentuh hati muridnya jika energinya sudah terkuras habis untuk mengisi aplikasi administrasi yang rumit? Bagaimana bisa kita mengenal anak secara personal jika dalam satu kelas kita harus berhadapan dengan empat puluh kepala sekaligus?<\/p>\n<p data-path-to-node=\"38\">Belum lagi masalah kelelahan emosional (<i data-path-to-node=\"38\" data-index-in-node=\"40\">burnout<\/i>). Berinvestasi pada perasaan murid membutuhkan energi psikologis yang luar biasa besar. Ketika sistem di sekolah tidak suportif, ketika kesejahteraan finansial masih sering diabaikan, dan ketika apresiasi dari lingkungan sekitar seminim itu, perlahan-lahan api idealisme guru bisa padam, menyisakan rutinitas yang dingin.<\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"40\">Memulihkan Kembali Makna<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"41\">Oleh karena itu, sekolah sebagai institusi tidak boleh tinggal diam. Memastikan guru mengajar dengan hati memerlukan ekosistem yang sehat. Pihak manajemen sekolah perlu mulai memangkas beban-beban administratif yang tidak esensial agar guru punya waktu untuk &#8220;mengobrol&#8221; dengan muridnya. Rasio kelas harus dibuat manusiawi, ruang-ruang refleksi bersama sesama guru perlu dibuka, dan budaya apresiasi yang tulus harus dihidupkan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"42\">Namun, sembari menunggu sistem itu membaik, mari kita kembalikan ruang refleksi ini ke dalam diri kita masing-masing. Di penghujung hari, saat kelas sudah sepi dan kursi-kursi sudah dinaikkan ke atas meja, cobalah ajukan beberapa pertanyaan ini pada hati kecil kita:<\/p>\n<ul data-path-to-node=\"43\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"43,0,0\"><i data-path-to-node=\"43,0,0\" data-index-in-node=\"0\">Kapan terakhir kali saya benar-benar menatap mata murid saya dan mendengarkan ceritanya tanpa terburu-buru?<\/i><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"43,1,0\"><i data-path-to-node=\"43,1,0\" data-index-in-node=\"0\">Apakah saya sudah mengenal nama dan setidaknya satu hal yang disukai oleh anak yang duduk di pojok belakang itu?<\/i><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"43,2,0\"><i data-path-to-node=\"43,2,0\" data-index-in-node=\"0\">Jika besok adalah hari terakhir saya berdiri di depan kelas, warisan apa yang akan tertinggal di kepala mereka tentang sosok saya?<\/i><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"43,3,0\"><i data-path-to-node=\"43,3,0\" data-index-in-node=\"0\">Kapan terakhir kali saya merasa dada saya bergetar bahagia hanya karena melihat seorang anak akhirnya paham setelah berulang kali gagal?<\/i><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-path-to-node=\"44\">Tidak perlu ada jawaban yang muluk-muluk. Kejujuran kita untuk mengakui kekurangan adalah langkah pertama untuk memperbaiki arah kompas kita yang mungkin sempat bergeser.<\/p>\n<h3 data-path-to-node=\"46\">Pilihan yang Selalu Ada di Tangan Kita<\/h3>\n<p data-path-to-node=\"47\">Setiap pagi, saat jemari kita memutar kunci pintu ruang kelas, kita sebenarnya selalu dihadapkan pada pilihan mendasar yang sama: <i data-path-to-node=\"47\" data-index-in-node=\"130\">Apakah hari ini saya hanya akan datang untuk menggugurkan kewajiban, atau saya memilih untuk hadir dengan seluruh hati saya?<\/i><\/p>\n<p data-path-to-node=\"48\">Pilihan ini jelas tidak pernah mudah. Ia menuntut pengorbanan rasa lelah, kesabaran yang lapang, dan keikhlasan yang dalam. Namun, justru di sanilah letak kemuliaan tertinggi dari profesi ini. Di tengah segala keterbatasan fasilitas dan tekanan sistem, kita tetap memegang kendali penuh atas bagaimana cara kita memperlakukan jiwa-jiwa muda di hadapan kita.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"49\">Guru yang dirindukan bukanlah guru yang tanpa cela atau selalu benar. Mereka adalah guru-guru yang memilih untuk tetap menyalakan cinta di hatinya, sekecil apa pun itu, setiap hari, untuk setiap anak yang melangkah masuk ke kelasnya.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"50\">Jadi, mari kita tanyakan sekali lagi sebelum esok pagi menjelang: <b data-path-to-node=\"50\" data-index-in-node=\"66\">Sudahkah kita menjadi guru yang dirindukan?<\/b><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada dua jenis guru yang akan selalu menetap dalam ingatan siswa, meski dengan rasa yang bertolak belakang. Jenis pertama adalah guru yang namanya terus disebut hingga belasan tahun setelah kelulusan. Diucapkan dengan nada penuh hormat dan rindu di sela-sela reuni: &#8220;Coba kalau dulu Bu Sari yang megang kelas kita, pasti ceritanya bakal beda.&#8221; Lalu ada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":18321,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Sudahkah Kita Menjadi Guru yang Dirindukan, atau Sekadar Menggugurkan Kewajiban? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Ada dua jenis guru yang akan selalu menetap dalam ingatan siswa, meski dengan rasa yang bertolak belakang. Jenis pertama adalah guru yang namanya terus disebut"},"_slim_seo_primary_term_category":0,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[6793,6789,6786,6791,6787,6792,6785,6790,207,6788],"class_list":["post-18320","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-empati-pendidik","tag-evaluasi-diri-guru","tag-guru-yang-dirindukan","tag-kompetensi-afektif","tag-mengajar-dengan-hati","tag-motivasi-belajar-siswa","tag-muhasabah-guru","tag-panggilan-jiwa","tag-pendidikan-karakter","tag-refleksi-pendidik"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-03-at-07.43.21.jpeg",2048,2560,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-03-at-07.43.21-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-03-at-07.43.21-240x300.jpeg",240,300,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-03-at-07.43.21-768x960.jpeg",768,960,true],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-03-at-07.43.21-819x1024.jpeg",819,1024,true],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-03-at-07.43.21-1229x1536.jpeg",1229,1536,true],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-03-at-07.43.21-1638x2048.jpeg",1638,2048,true],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-03-at-07.43.21.jpeg",10,12,false]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Ada dua jenis guru yang akan selalu menetap dalam ingatan siswa, meski dengan rasa yang bertolak belakang. Jenis pertama adalah guru yang namanya terus disebut hingga belasan tahun setelah kelulusan. Diucapkan dengan nada penuh hormat dan rindu di sela-sela reuni: &#8220;Coba kalau dulu Bu Sari yang megang kelas kita, pasti ceritanya bakal beda.&#8221; Lalu ada jenis kedua. Guru yang hanya diingat sebagai sosok yang pernah berdiri di depan papan tulis, berbicara satu arah, lalu melangkah pergi begitu bel berbunyi. Tanpa bekas, tanpa kesan, apalagi kenangan. Pertanyaannya sederhana, namun cukup untuk membuat dada kita berdegup agak kencang: Di ingatan murid yang&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>","author_info_v2":{"name":"Editor","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"}],"post_tag":[{"value":6793,"label":"empati pendidik"},{"value":6789,"label":"evaluasi diri guru"},{"value":6786,"label":"guru yang dirindukan"},{"value":6791,"label":"kompetensi afektif"},{"value":6787,"label":"mengajar dengan hati"},{"value":6792,"label":"motivasi belajar siswa"},{"value":6785,"label":"muhasabah guru"},{"value":6790,"label":"panggilan jiwa"},{"value":207,"label":"pendidikan karakter"},{"value":6788,"label":"refleksi pendidik"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-06-03-at-07.43.21-819x1024.jpeg",819,1024,true],"author_info":{"display_name":"Editor","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":3877,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":3877,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":6793,"name":"empati pendidik","slug":"empati-pendidik","term_group":0,"term_taxonomy_id":6793,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6789,"name":"evaluasi diri guru","slug":"evaluasi-diri-guru","term_group":0,"term_taxonomy_id":6789,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6786,"name":"guru yang dirindukan","slug":"guru-yang-dirindukan","term_group":0,"term_taxonomy_id":6786,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6791,"name":"kompetensi afektif","slug":"kompetensi-afektif","term_group":0,"term_taxonomy_id":6791,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6787,"name":"mengajar dengan hati","slug":"mengajar-dengan-hati","term_group":0,"term_taxonomy_id":6787,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6792,"name":"motivasi belajar siswa","slug":"motivasi-belajar-siswa","term_group":0,"term_taxonomy_id":6792,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6785,"name":"muhasabah guru","slug":"muhasabah-guru","term_group":0,"term_taxonomy_id":6785,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6790,"name":"panggilan jiwa","slug":"panggilan-jiwa","term_group":0,"term_taxonomy_id":6790,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":207,"name":"pendidikan karakter","slug":"pendidikan-karakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":207,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":134,"filter":"raw"},{"term_id":6788,"name":"refleksi pendidik","slug":"refleksi-pendidik","term_group":0,"term_taxonomy_id":6788,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18320","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18320"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18320\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18322,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18320\/revisions\/18322"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18321"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18320"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18320"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18320"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}