{"id":18232,"date":"2026-06-01T09:56:56","date_gmt":"2026-06-01T01:56:56","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=18232"},"modified":"2026-06-01T09:56:56","modified_gmt":"2026-06-01T01:56:56","slug":"mengenal-sejarah-1-juni-mengapa-hari-lahir-pancasila-penting-bagi-siswa-masa-kini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/mengenal-sejarah-1-juni-mengapa-hari-lahir-pancasila-penting-bagi-siswa-masa-kini\/","title":{"rendered":"Mengenal Sejarah 1 Juni: Mengapa Hari Lahir Pancasila Penting Bagi Siswa Masa Kini?"},"content":{"rendered":"<div class=\"container\">\n<article>\n<p class=\"lead\">Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila \u2014 momentum bersejarah ketika Bung Karno pertama kali mengucapkan dasar-dasar negara di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bagi siswa hari ini, memahami peristiwa ini bukan sekadar menghafal tanggal, melainkan menemukan akar identitas diri sebagai warga bangsa.<\/p>\n<p><!-- BAGIAN 1 --><\/p>\n<h2>Mengapa Tanggal 1 Juni Begitu Istimewa?<\/h2>\n<p>Pada 1 Juni 1945, di tengah suasana penjajahan yang belum sepenuhnya berakhir, Ir. Soekarno tampil di hadapan sidang BPUPKI dan menyampaikan pidato yang kelak dikenal sebagai <em>&#8220;Lahirnya Pancasila.&#8221;<\/em> Dalam pidatonya, beliau merumuskan lima prinsip dasar yang ia namakan sendiri: <strong>Pancasila<\/strong> \u2014 dari bahasa Sanskerta <em>panca<\/em> (lima) dan <em>sila<\/em> (prinsip atau dasar).<\/p>\n<p>Gagasan itu bukan muncul tiba-tiba. Soekarno meramu nilai-nilai yang hidup di masyarakat Nusantara \u2014 semangat gotong royong, keberagaman keyakinan, keadilan sosial \u2014 dan mengangkatnya menjadi fondasi sebuah negara modern yang hendak lahir. Proses perumusan ini merupakan salah satu momen intelektual dan politis paling gemilang dalam sejarah Indonesia.<\/p>\n<div class=\"highlight-box\">\n<div class=\"box-title\">\ud83d\udcdc Kilasan Fakta Sejarah<\/div>\n<p>Sidang BPUPKI berlangsung dalam dua periode: 29 Mei\u20131 Juni 1945 dan 10\u201317 Juli 1945. Pada sidang pertama, tiga tokoh menyampaikan usulan dasar negara: Mohammad Yamin (29 Mei), Soepomo (31 Mei), dan Soekarno (1 Juni 1945).<\/p>\n<p>Penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila diresmikan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 oleh Presiden Joko Widodo, sekaligus menjadikannya hari libur nasional.<\/p>\n<\/div>\n<p><!-- BAGIAN 2 --><\/p>\n<h2>Lima Sila yang Menjadi Jiwa Bangsa<\/h2>\n<p>Pancasila yang kita kenal hari ini adalah hasil penyempurnaan dari sidang-sidang BPUPKI dan PPKI, hingga akhirnya ditetapkan bersamaan dengan Pembukaan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945. Kelima silanya merangkum cita-cita luhur bangsa Indonesia:<\/p>\n<div class=\"sila-grid\">\n<div class=\"sila-item\">\n<div class=\"sila-nomor\">Sila I<\/div>\n<div class=\"sila-teks\">Ketuhanan Yang Maha Esa<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"sila-item\">\n<div class=\"sila-nomor\">Sila II<\/div>\n<div class=\"sila-teks\">Kemanusiaan yang Adil dan Beradab<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"sila-item\">\n<div class=\"sila-nomor\">Sila III<\/div>\n<div class=\"sila-teks\">Persatuan Indonesia<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"sila-item\">\n<div class=\"sila-nomor\">Sila IV<\/div>\n<div class=\"sila-teks\">Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan\/Perwakilan<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"sila-item\" style=\"grid-column: 1 \/ -1;border-left-color: var(--emas)\">\n<div class=\"sila-nomor\" style=\"color: var(--merah)\">Sila V<\/div>\n<div class=\"sila-teks\">Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Kelima sila ini tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan yang utuh dan hierarkis. Sila pertama menjadi landasan spiritual, sila kedua mengatur hubungan antarmanusia, sila ketiga memperkuat persatuan, sila keempat mengatur mekanisme pengambilan keputusan, dan sila kelima menjadi tujuan akhir kehidupan bernegara.<\/p>\n<p><!-- PULLQUOTE --><\/p>\n<blockquote class=\"pullquote\"><p>Pancasila bukan hanya sebuah dasar negara; ia adalah bintang pandu yang harus selalu bersinar dalam setiap langkah kehidupan berbangsa kita.<\/p><\/blockquote>\n<p><!-- BAGIAN 3 --><\/p>\n<h2>Perjalanan Sejarah Menuju Pancasila<\/h2>\n<p>Untuk memahami betapa pentingnya Pancasila, siswa perlu menelusuri konteks sejarahnya secara lebih luas. Proses kelahiran Pancasila bukan sekadar rapat formal, melainkan buah dari pergulatan panjang para pendiri bangsa.<\/p>\n<div class=\"timeline\">\n<div class=\"timeline-item\">\n<div class=\"timeline-tahun\">29 Mei 1945<\/div>\n<div class=\"timeline-teks\">Mohammad Yamin mengusulkan lima asas dasar negara dalam sidang pertama BPUPKI: peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"timeline-item\">\n<div class=\"timeline-tahun\">31 Mei 1945<\/div>\n<div class=\"timeline-teks\">Prof. Dr. Soepomo menyampaikan gagasan integralistik mengenai dasar negara yang menekankan persatuan antara pemimpin dan rakyat.<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"timeline-item\">\n<div class=\"timeline-tahun\">1 Juni 1945<\/div>\n<div class=\"timeline-teks\">Ir. Soekarno menyampaikan pidato bersejarah yang merumuskan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"timeline-item\">\n<div class=\"timeline-tahun\">22 Juni 1945<\/div>\n<div class=\"timeline-teks\">Panitia Sembilan menghasilkan &#8220;Piagam Jakarta&#8221; \u2014 sebuah naskah yang memuat rumusan Pancasila dalam rancangan pembukaan UUD.<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"timeline-item\">\n<div class=\"timeline-tahun\">18 Agustus 1945<\/div>\n<div class=\"timeline-teks\">PPKI mengesahkan UUD 1945 berikut Pembukaan yang memuat Pancasila dalam rumusan final yang berlaku hingga kini. Pancasila resmi menjadi dasar negara Republik Indonesia.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p><!-- BAGIAN 4 --><\/p>\n<h2>Relevansi Pancasila di Era Digital dan Globalisasi<\/h2>\n<p>Siswa masa kini hidup dalam era yang sangat berbeda dari tahun 1945. Internet, media sosial, dan globalisasi telah membuka dunia tanpa batas. Di satu sisi, ini adalah berkah \u2014 akses informasi menjadi mudah, jaringan pergaulan meluas hingga lintas benua. Namun di sisi lain, ancaman terhadap persatuan dan nilai-nilai kebangsaan juga semakin nyata.<\/p>\n<p>Hoaks dan disinformasi menyebar dengan kecepatan kilat, memecah belah masyarakat berdasarkan suku, agama, dan pandangan politik. Paham-paham ekstremisme masuk melalui konten digital yang dikonsumsi kaum muda setiap hari. Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya yang paling mendesak: sebagai filter dan kompas moral di tengah banjir informasi.<\/p>\n<div class=\"highlight-box\">\n<div class=\"box-title\">\ud83d\udca1 Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Siswa<\/div>\n<p><strong>Sila I<\/strong> \u2014 Menghormati teman yang berbeda agama atau keyakinan, tidak mempermasalahkan perbedaan cara beribadah.<\/p>\n<p><strong>Sila II<\/strong> \u2014 Menolak perundungan (<em>bullying<\/em>) dalam bentuk apapun, baik di dunia nyata maupun di media sosial.<\/p>\n<p><strong>Sila III<\/strong> \u2014 Bangga menggunakan produk lokal dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah antar kelompok.<\/p>\n<p><strong>Sila IV<\/strong> \u2014 Menyelesaikan perbedaan pendapat di kelas melalui musyawarah, bukan kekerasan atau dominasi suara terbanyak semata.<\/p>\n<p><strong>Sila V<\/strong> \u2014 Peduli terhadap teman yang kurang mampu, aktif dalam kegiatan sosial dan gotong royong di lingkungan sekolah.<\/p>\n<\/div>\n<p><!-- BAGIAN 5 --><\/p>\n<h2>Mengapa Generasi Muda Harus Menjadi Penjaga Pancasila?<\/h2>\n<p>Pancasila tidak akan terjaga dengan sendirinya. Ia membutuhkan manusia \u2014 generasi demi generasi \u2014 yang memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Bung Karno sendiri pernah mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya musuh dari luar, melainkan juga ancaman dari dalam: perpecahan, korupsi, dan lunturnya semangat kebersamaan.<\/p>\n<p>Generasi muda \u2014 para siswa \u2014 adalah pewaris sejati Pancasila. Bukan karena diperintahkan oleh aturan, melainkan karena mereka adalah generasi yang akan menentukan wajah Indonesia dua puluh, tiga puluh, bahkan lima puluh tahun ke depan. Pemahaman yang mendalam tentang sejarah 1 Juni adalah titik awal yang penting: dari memahami, lahirlah kecintaan; dari kecintaan, lahirlah tanggung jawab.<\/p>\n<p>Memperingati Hari Lahir Pancasila bukan sekadar upacara bendera atau menghafalkan teks Pancasila. Lebih dari itu, peringatan ini adalah undangan untuk merenungkan kembali: sudahkah kita hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diperjuangkan para pendiri bangsa? Sudahkah kita memperlakukan sesama dengan adil dan beradab? Sudahkah kita ikut menjaga persatuan di tengah keberagaman yang menjadi kekayaan terbesar Indonesia?<\/p>\n<p><!-- BAGIAN 6 --><\/p>\n<h2>Cara Merayakan Hari Lahir Pancasila yang Bermakna<\/h2>\n<p>Perayaan yang bermakna tidak harus selalu besar dan formal. Berikut beberapa cara nyata yang bisa dilakukan para siswa untuk menghidupkan semangat Hari Lahir Pancasila:<\/p>\n<h3>1. Belajar Sejarah Secara Mendalam<\/h3>\n<p>Luangkan waktu untuk membaca atau menonton dokumentasi tentang sidang BPUPKI, kehidupan para pendiri bangsa, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemahaman sejarah yang otentik akan membangun rasa hormat dan kecintaan yang tulus terhadap Pancasila.<\/p>\n<h3>2. Berdiskusi dan Berbagi Perspektif<\/h3>\n<p>Ajak teman untuk berdiskusi: apa makna Pancasila bagi kehidupan kita hari ini? Bagaimana kita bisa menerapkannya secara konkret di sekolah, di rumah, dan di media sosial? Diskusi yang jujur dan terbuka adalah bentuk pengamalan sila keempat yang paling nyata.<\/p>\n<h3>3. Berkreasi Merawat Nilai Kebangsaan<\/h3>\n<p>Tuliskan esai, buat konten media sosial, atau ciptakan karya seni yang mengangkat nilai-nilai Pancasila. Di era digital, suara generasi muda memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menyebarkan pesan-pesan positif tentang persatuan dan keberagaman.<\/p>\n<h3>4. Bertindak Nyata di Lingkungan Sekitar<\/h3>\n<p>Mulai dari hal-hal kecil: membantu tetangga yang membutuhkan, menjadi mediator saat teman berselisih, atau sekadar mengucapkan salam kepada orang yang berbeda latar belakang. Pancasila paling hidup justru dalam tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari.<\/p>\n<\/article>\n<p><!-- PENUTUP --><\/p>\n<div class=\"penutup\">\n<h3>Penutup: Pancasila Adalah Kita<\/h3>\n<p>Sejarah 1 Juni 1945 mengajarkan kepada kita bahwa Pancasila lahir dari semangat kebersamaan dan tekad untuk menjadi satu bangsa. Hari ini, delapan puluh satu tahun kemudian, tanggung jawab itu kini ada di tangan para siswa \u2014 generasi yang akan membawa Indonesia ke masa depan. Pancasila bukan hanya warisan masa lalu; ia adalah janji untuk masa depan yang lebih adil, beradab, dan bersatu.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<footer>Artikel ini ditulis dalam rangka peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026 \u00a0\u00b7\u00a0 Untuk kalangan pendidikan<\/footer>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila \u2014 momentum bersejarah ketika Bung Karno pertama kali mengucapkan dasar-dasar negara di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bagi siswa hari ini, memahami peristiwa ini bukan sekadar menghafal tanggal, melainkan menemukan akar identitas diri sebagai warga bangsa. Mengapa Tanggal 1 Juni Begitu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":18233,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Mengenal Sejarah 1 Juni: Mengapa Hari Lahir Pancasila Penting Bagi Siswa Masa Kini? - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila \u2014 momentum bersejarah ketika Bung Karno pertama kali mengucapkan dasar-dasar negara di"},"_slim_seo_primary_term_category":0,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[6769,6771,3588,4350,3587,4336,4349,6772,6768,6770],"class_list":["post-18232","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bpupki","tag-dasar-negara-indonesia","tag-generasi-muda","tag-hari-lahir-pancasila","tag-kemerdekaan-indonesia","tag-nilai-nilai-pancasila","tag-pancasila","tag-pendidikan-kewarganegaraan","tag-sejarah-1-juni","tag-soekarno"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ternyata-PERPUS-seseru-ini-ya-1-scaled.png",2048,2560,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ternyata-PERPUS-seseru-ini-ya-1-150x150.png",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ternyata-PERPUS-seseru-ini-ya-1-240x300.png",240,300,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ternyata-PERPUS-seseru-ini-ya-1-768x960.png",768,960,true],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ternyata-PERPUS-seseru-ini-ya-1-819x1024.png",819,1024,true],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ternyata-PERPUS-seseru-ini-ya-1-1229x1536.png",1229,1536,true],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ternyata-PERPUS-seseru-ini-ya-1-1638x2048.png",1638,2048,true],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ternyata-PERPUS-seseru-ini-ya-1-scaled.png",10,12,false]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila \u2014 momentum bersejarah ketika Bung Karno pertama kali mengucapkan dasar-dasar negara di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bagi siswa hari ini, memahami peristiwa ini bukan sekadar menghafal tanggal, melainkan menemukan akar identitas diri sebagai warga bangsa. Mengapa Tanggal 1 Juni Begitu Istimewa? Pada 1 Juni 1945, di tengah suasana penjajahan yang belum sepenuhnya berakhir, Ir. Soekarno tampil di hadapan sidang BPUPKI dan menyampaikan pidato yang kelak dikenal sebagai &#8220;Lahirnya Pancasila.&#8221; Dalam pidatonya, beliau merumuskan lima prinsip dasar yang ia namakan sendiri: Pancasila \u2014 dari bahasa Sanskerta&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>","author_info_v2":{"name":"Editor","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"}],"post_tag":[{"value":6769,"label":"BPUPKI"},{"value":6771,"label":"Dasar Negara Indonesia"},{"value":3588,"label":"generasi muda"},{"value":4350,"label":"hari lahir pancasila"},{"value":3587,"label":"kemerdekaan indonesia"},{"value":4336,"label":"Nilai-nilai Pancasila"},{"value":4349,"label":"pancasila"},{"value":6772,"label":"Pendidikan Kewarganegaraan"},{"value":6768,"label":"Sejarah 1 Juni"},{"value":6770,"label":"Soekarno"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ternyata-PERPUS-seseru-ini-ya-1-819x1024.png",819,1024,true],"author_info":{"display_name":"Editor","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":6032,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":6032,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":6769,"name":"BPUPKI","slug":"bpupki","term_group":0,"term_taxonomy_id":6769,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6771,"name":"Dasar Negara Indonesia","slug":"dasar-negara-indonesia","term_group":0,"term_taxonomy_id":6771,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":3588,"name":"generasi muda","slug":"generasi-muda","term_group":0,"term_taxonomy_id":3588,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":4,"filter":"raw"},{"term_id":4350,"name":"hari lahir pancasila","slug":"hari-lahir-pancasila","term_group":0,"term_taxonomy_id":4350,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":2,"filter":"raw"},{"term_id":3587,"name":"kemerdekaan indonesia","slug":"kemerdekaan-indonesia","term_group":0,"term_taxonomy_id":3587,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":2,"filter":"raw"},{"term_id":4336,"name":"Nilai-nilai Pancasila","slug":"nilai-nilai-pancasila","term_group":0,"term_taxonomy_id":4336,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"},{"term_id":4349,"name":"pancasila","slug":"pancasila","term_group":0,"term_taxonomy_id":4349,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"},{"term_id":6772,"name":"Pendidikan Kewarganegaraan","slug":"pendidikan-kewarganegaraan","term_group":0,"term_taxonomy_id":6772,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6768,"name":"Sejarah 1 Juni","slug":"sejarah-1-juni","term_group":0,"term_taxonomy_id":6768,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6770,"name":"Soekarno","slug":"soekarno","term_group":0,"term_taxonomy_id":6770,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18232","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18232"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18232\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18234,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18232\/revisions\/18234"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18233"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18232"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18232"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18232"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}