{"id":16413,"date":"2025-05-08T09:14:54","date_gmt":"2025-05-08T01:14:54","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=16413"},"modified":"2025-05-08T09:14:54","modified_gmt":"2025-05-08T01:14:54","slug":"belajar-sejarah-dari-dua-sisi-hindari-narasi-tunggal-di-kelas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/belajar-sejarah-dari-dua-sisi-hindari-narasi-tunggal-di-kelas\/","title":{"rendered":"Belajar Sejarah dari Dua Sisi: Hindari Narasi Tunggal di Kelas"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa anak-anak di India dan Pakistan, yang mungkin tidak pernah bertemu, tumbuh dengan kebencian terhadap satu sama lain? Jawabannya terletak pada buku sejarah yang mereka pelajari di sekolah. Narasi sejarah yang disampaikan sering kali hanya menonjolkan satu sudut pandang, mengabaikan kompleksitas dan kebenaran dari perspektif lain. Fenomena ini juga relevan di Indonesia, di mana pendekatan narasi tunggal dalam pembelajaran sejarah dapat membatasi kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan memahami keragaman sudut pandang. Artikel ini mengulas bahaya narasi tunggal, dampaknya, dan solusi praktis untuk membangun budaya belajar sejarah yang inklusif.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ilustrasi Kasus: India\u2013Pakistan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konflik antara India dan Pakistan menjadi contoh nyata bagaimana narasi sejarah yang bias dapat membentuk persepsi generasi muda. Buku-buku sejarah di kedua negara menggambarkan perang 1947, 1965, dan Kargil dengan versi yang saling bertentangan. Di India, Pakistan sering digambarkan sebagai agresor, sementara di Pakistan, India dipandang sebagai penyebab utama konflik. Latar belakang historis, seperti dinamika politik atau faktor sosial, jarang disampaikan secara seimbang. Akibatnya, siswa di kedua negara tumbuh dengan kebencian bawaan terhadap tetangganya, meskipun mereka tidak memiliki pengalaman pribadi terkait konflik tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Narasi tunggal ini bukan hanya soal fakta yang dipilih, tetapi juga emosi yang ditanamkan. Buku sejarah menjadi alat untuk membentuk identitas nasional, sering kali dengan mengorbankan empati dan pemahaman terhadap pihak lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan sejarah yang tidak seimbang dapat memperpetuasi konflik antargenerasi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Masalah Narasi Tunggal di Indonesia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, pendekatan narasi tunggal juga terlihat dalam pengajaran beberapa peristiwa sejarah, seperti gerakan tiga puluh september (G30S) 1965, konflik di Papua, atau integrasi Timor Leste. Sering kali, hanya satu versi resmi yang diajarkan, mengabaikan sudut pandang kelompok lain, fakta yang kurang populer, atau konteks sosial-politik yang kompleks. Misalnya, narasi seputar G30S cenderung menonjolkan satu pihak sebagai penutup, sementara suara kelompok lain atau dampak kemanusiaannya kurang dibahas. Akibatnya, siswa kehilangan kesempatan untuk memahami keragaman perspektif dan melatih <\/span><b>berpikir kritis<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, yang merupakan salah satu kompetensi inti dalam <\/span><b>Kurikulum Merdeka<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan ini juga tampak dalam pengajaran sejarah lokal. Di beberapa daerah, sejarah perjuangan kemerdekaan atau tokoh lokal sering disampaikan dengan narasi heroik tanpa menggali sudut pandang pihak lain, seperti kolonial atau kelompok masyarakat yang berbeda pandangan. Hal ini membatasi kemampuan siswa untuk melihat sejarah sebagai proses dinamis yang melibatkan berbagai aktor dan kepentingan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengapa Narasi Tunggal Berbahaya?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Narasi tunggal dalam pendidikan sejarah memiliki dampak jangka panjang yang merugikan, baik secara individu maupun sosial:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Polarisasi dan Konflik<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Siswa yang hanya mengenal satu versi sejarah cenderung memandang kelompok lain sebagai \u201cmusuh\u201d atau \u201csalah\u201d. Ini dapat memicu konflik sosial, terutama di masyarakat yang beragam seperti Indonesia.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Kurangnya Empati<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Tanpa paparan terhadap sudut pandang lain, siswa sulit memahami penderitaan atau motivasi pihak lain, yang menghambat pembentukan <\/span><b>akhlak mulia<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagaimana diharapkan dalam profil pelajar Pancasila.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Minimnya Berpikir Kritis<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Narasi tunggal mendorong siswa menerima informasi secara pasif tanpa mempertanyakan kebenarannya, bertentangan dengan semangat Hardiknas 2025 yang mengutamakan keterampilan abad 21.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Sejarah sebagai Propaganda<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Jika hanya satu perspektif yang diajarkan, sejarah berisiko menjadi alat politik untuk memperkuat kekuasaan atau ideologi tertentu, bukan sarana pembelajaran yang objektif.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dampak ini terutama terasa di era informasi digital, di mana siswa mudah terpapar narasi yang terpolarisasi melalui media sosial. Tanpa kemampuan untuk mengevaluasi sumber secara kritis, mereka rentan terjebak dalam hoaks atau konflik berbasis identitas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengajarkan Sejarah sebagai Dialog, Bukan Dogma<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengatasi bahaya narasi tunggal, pendidikan sejarah harus dirancang sebagai proses dialog yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, empati, dan terbuka terhadap berbagai perspektif. Berikut adalah solusi praktis yang dapat diterapkan di kelas:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Membandingkan Sumber dari Perspektif Berbeda<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Guru dapat memperkenalkan dua atau lebih sumber sejarah tentang peristiwa yang sama, misalnya dokumen resmi, memoar tokoh, atau laporan media dari pihak yang berbeda. Contohnya, untuk mempelajari G30S, siswa dapat membandingkan narasi dalam buku teks resmi dengan wawancara tokoh yang terlibat atau analisis akademik. Diskusi kelas kemudian dapat menggali mengapa versi-versi ini berbeda dan apa implikasinya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Mendiskusikan Kontroversi Sejarah Secara Terbuka<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih menghindari topik sensitif, guru dapat memfasilitasi diskusi terbuka tentang peristiwa kontroversial, seperti konflik 1965 atau isu Papua, dengan pendekatan yang netral dan berbasis fakta. Siswa diajak untuk mengemukakan pendapat berdasarkan bukti, bukan emosi, yang melatih mereka untuk menghormati perbedaan pandangan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Proyek Berbasis Riset Lokal atau Keluarga<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Guru dapat memberikan tugas riset di mana siswa mewawancarai keluarga atau tokoh masyarakat tentang peristiwa sejarah lokal, seperti perjuangan kemerdekaan atau berdirinya komunitas tertentu. Proyek ini membantu siswa melihat sejarah sebagai pengalaman hidup yang beragam, bukan hanya fakta dalam buku teks.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Integrasi Nilai Agama dan Moral<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks sekolah Islam seperti Al Ma\u2019soem, pembelajaran sejarah dapat diimbangi dengan nilai-nilai Islam, seperti keadilan (<\/span><b>adl<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">) dan kebenaran (<\/span><b>siddiq<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">). Misalnya, siswa dapat mendiskusikan bagaimana prinsip keadilan dalam Islam dapat diterapkan untuk memahami konflik sejarah secara lebih objektif.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Penggunaan Teknologi Digital<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Manfaatkan <\/span><b>platform pembelajaran digital<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk mengakses arsip sejarah, video dokumenter, atau artikel akademik dari berbagai perspektif. Siswa dapat dilatih untuk mengevaluasi kredibilitas sumber, seperti membedakan laporan berita yang objektif dari opini yang bias.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h2><b>Jadikan Sejarah sebagai Pembelajaran Holistik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yayasan Al Ma\u2019soem, dengan moto <\/span><b>Cageur, Bageur, Pinter<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, menawarkan pendekatan unik dalam mengajarkan sejarah yang selaras dengan solusi di atas. Sebagai sekolah Islam dan pesantren, Al Ma\u2019soem mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dengan pembelajaran sejarah untuk menciptakan siswa yang tidak hanya kritis, tetapi juga berakhlak mulia. Berikut cara Al Ma\u2019soem menerapkan pendekatan ini:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Pembelajaran Sejarah Berbasis Nilai Islam<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Siswa diajarkan untuk memahami sejarah melalui lensa nilai-nilai Islam, seperti keadilan dan kebenaran. Misalnya, saat mempelajari sejarah penjajahan, siswa menganalisis bagaimana prinsip <\/span><b>jihad<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><b>sabar<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> tercermin dalam perjuangan tokoh seperti Sultan Agung atau Diponegoro, sambil juga mempertimbangkan perspektif pihak lain.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Diskusi Reflektif dalam Kitab Kuning<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Pembelajaran <\/span><b>kitab kuning<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> di pesantren Al Ma\u2019soem tidak hanya menghafal, tetapi juga mengajak siswa mendiskusikan relevansi sejarah Islam, seperti masa khilafah atau penyebaran Islam di Nusantara, dengan sudut pandang yang beragam. Ini melatih siswa untuk berpikir kritis dan menghargai kompleksitas sejarah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Proyek Berbasis Komunitas<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Al Ma\u2019soem mendorong siswa untuk meneliti sejarah lokal, seperti perjuangan kemerdekaan di Jawa Barat atau berdirinya yayasan oleh Haji Ma\u2019soem. Siswa di Rumah Solusi Aisyah Ma\u2019soem, misalnya, melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat untuk memahami sejarah keluarga atau kampung mereka, yang memperkaya perspektif mereka.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Lingkungan Disiplin yang Mendukung<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Kebijakan nol toleransi terhadap kekerasan, seperti pengeluaran siswa yang melakukan pemukulan, menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif. Ini memungkinkan siswa untuk fokus pada diskusi sejarah yang mendalam tanpa gangguan, seperti tawuran, yang telah dicegah selama puluhan tahun.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Kolaborasi dengan Orang Tua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Al Ma\u2019soem melibatkan orang tua melalui laporan perkembangan dan kegiatan seperti haul pendiri, di mana sejarah yayasan dibahas sebagai bagian dari pembelajaran. Ini membantu siswa memahami sejarah sebagai warisan yang hidup, bukan sekadar fakta masa lalu.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan ini sejalan dengan <\/span><b>Kurikulum Merdeka<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, yang menekankan proyek penguatan profil pelajar Pancasila. Dengan mengintegrasikan sejarah lokal, nilai agama, dan diskusi terbuka, Al Ma\u2019soem menciptakan siswa yang <\/span><b>pinter<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> (cerdas secara kritis), <\/span><b>bageur<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> (berakhlak mulia), dan <\/span><b>cageur<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> (sehat dalam berpikir dan bertindak).<\/span><\/p>\n<h2><b>Sejarah untuk Memahami, Bukan Membenci<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika sejarah hanya diajarkan dari satu sisi, kita hanya melatih siswa untuk mempercayai satu \u201ckebenaran\u201d dan membenci pihak lain. Namun, jika sejarah dipelajari sebagai dialog yang mengakomodasi berbagai sudut pandang, kita membekali siswa dengan empati, kepekaan sosial, dan kemampuan berpikir kritis. Dari pemahaman inilah benih perdamaian dan keadilan dapat tumbuh, sebagaimana diharapkan dalam semangat <\/span><b>Hardiknas 2025<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yayasan Al Ma\u2019soem menunjukkan bahwa pendekatan berbasis nilai Islam, disiplin, dan keterlibatan komunitas dapat menjadikan sejarah sebagai alat pembelajaran yang memperkaya, bukan memecah belah. Mari bersama-sama mengajarkan sejarah sebagai cermin keberagaman, bukan dogma yang membatasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengapa anak-anak di India dan Pakistan, yang mungkin tidak pernah bertemu, tumbuh dengan kebencian terhadap satu sama lain? Jawabannya terletak pada buku sejarah yang mereka pelajari di sekolah. Narasi sejarah yang disampaikan sering kali hanya menonjolkan satu sudut pandang, mengabaikan kompleksitas dan kebenaran dari perspektif lain. Fenomena ini juga relevan di Indonesia, di mana pendekatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15565,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Belajar Sejarah dari Dua Sisi: Hindari Narasi Tunggal di Kelas - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Mengapa anak-anak di India dan Pakistan, yang mungkin tidak pernah bertemu, tumbuh dengan kebencian terhadap satu sama lain? Jawabannya terletak pada buku sejar"},"_slim_seo_primary_term_category":0,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[3269,6011,6009,2439,6007,6012,6010,6013,6008,201],"class_list":["post-16413","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-berpikir-kritis","tag-empati-dan-toleransi","tag-konflik-generasi","tag-kurikulum-merdeka","tag-narasi-tunggal","tag-nilai-islam-dalam-pendidikan","tag-pendidikan-sejarah","tag-proyek-sejarah-lokal","tag-sejarah-india-pakistan","tag-yayasan-al-masoem"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Maulid-Nabi-di-Al-Masoem-bersama-Dr-Ucup-Pathudin-Al-Maarif-M.Ag_.jpeg",2560,1921,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Maulid-Nabi-di-Al-Masoem-bersama-Dr-Ucup-Pathudin-Al-Maarif-M.Ag_-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Maulid-Nabi-di-Al-Masoem-bersama-Dr-Ucup-Pathudin-Al-Maarif-M.Ag_-300x225.jpeg",300,225,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Maulid-Nabi-di-Al-Masoem-bersama-Dr-Ucup-Pathudin-Al-Maarif-M.Ag_-768x576.jpeg",768,576,true],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Maulid-Nabi-di-Al-Masoem-bersama-Dr-Ucup-Pathudin-Al-Maarif-M.Ag_-1024x768.jpeg",1024,768,true],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Maulid-Nabi-di-Al-Masoem-bersama-Dr-Ucup-Pathudin-Al-Maarif-M.Ag_-1536x1153.jpeg",1536,1153,true],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Maulid-Nabi-di-Al-Masoem-bersama-Dr-Ucup-Pathudin-Al-Maarif-M.Ag_-2048x1537.jpeg",2048,1537,true],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Maulid-Nabi-di-Al-Masoem-bersama-Dr-Ucup-Pathudin-Al-Maarif-M.Ag_.jpeg",16,12,false]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Mengapa anak-anak di India dan Pakistan, yang mungkin tidak pernah bertemu, tumbuh dengan kebencian terhadap satu sama lain? Jawabannya terletak pada buku sejarah yang mereka pelajari di sekolah. Narasi sejarah yang disampaikan sering kali hanya menonjolkan satu sudut pandang, mengabaikan kompleksitas dan kebenaran dari perspektif lain. Fenomena ini juga relevan di Indonesia, di mana pendekatan narasi tunggal dalam pembelajaran sejarah dapat membatasi kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan memahami keragaman sudut pandang. Artikel ini mengulas bahaya narasi tunggal, dampaknya, dan solusi praktis untuk membangun budaya belajar sejarah yang inklusif. Ilustrasi Kasus: India\u2013Pakistan Konflik antara India dan Pakistan menjadi contoh nyata&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>","author_info_v2":{"name":"Editor","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"}],"post_tag":[{"value":3269,"label":"berpikir kritis"},{"value":6011,"label":"empati dan toleransi"},{"value":6009,"label":"konflik generasi"},{"value":2439,"label":"Kurikulum Merdeka"},{"value":6007,"label":"narasi tunggal"},{"value":6012,"label":"nilai Islam dalam pendidikan"},{"value":6010,"label":"pendidikan sejarah"},{"value":6013,"label":"proyek sejarah lokal"},{"value":6008,"label":"sejarah India-Pakistan"},{"value":201,"label":"yayasan al masoem"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Maulid-Nabi-di-Al-Masoem-bersama-Dr-Ucup-Pathudin-Al-Maarif-M.Ag_-1024x768.jpeg",1024,768,true],"author_info":{"display_name":"Editor","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":6032,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":6032,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":3269,"name":"berpikir kritis","slug":"berpikir-kritis","term_group":0,"term_taxonomy_id":3269,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":16,"filter":"raw"},{"term_id":6011,"name":"empati dan toleransi","slug":"empati-dan-toleransi","term_group":0,"term_taxonomy_id":6011,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6009,"name":"konflik generasi","slug":"konflik-generasi","term_group":0,"term_taxonomy_id":6009,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":2439,"name":"Kurikulum Merdeka","slug":"kurikulum-merdeka","term_group":0,"term_taxonomy_id":2439,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":27,"filter":"raw"},{"term_id":6007,"name":"narasi tunggal","slug":"narasi-tunggal","term_group":0,"term_taxonomy_id":6007,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6012,"name":"nilai Islam dalam pendidikan","slug":"nilai-islam-dalam-pendidikan","term_group":0,"term_taxonomy_id":6012,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6010,"name":"pendidikan sejarah","slug":"pendidikan-sejarah","term_group":0,"term_taxonomy_id":6010,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6013,"name":"proyek sejarah lokal","slug":"proyek-sejarah-lokal","term_group":0,"term_taxonomy_id":6013,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":6008,"name":"sejarah India-Pakistan","slug":"sejarah-india-pakistan","term_group":0,"term_taxonomy_id":6008,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":201,"name":"yayasan al masoem","slug":"yayasan-al-masoem","term_group":0,"term_taxonomy_id":201,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":46,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16413","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16413"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16413\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15565"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16413"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16413"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16413"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}