{"id":16402,"date":"2025-05-05T14:36:38","date_gmt":"2025-05-05T06:36:38","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=16402"},"modified":"2025-05-05T14:36:38","modified_gmt":"2025-05-05T06:36:38","slug":"membangun-budaya-berpikir-kritis-di-lingkungan-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/membangun-budaya-berpikir-kritis-di-lingkungan-sekolah\/","title":{"rendered":"Membangun Budaya Berpikir Kritis di Lingkungan Sekolah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era informasi yang berkembang pesat, kemampuan <\/span><b>berpikir kritis<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi salah satu keterampilan esensial bagi siswa untuk menghadapi tantangan global. Berpikir kritis memungkinkan siswa menganalisis informasi, membuat keputusan yang rasional, dan menyelesaikan masalah secara kreatif. Dalam konteks pendidikan, membangun budaya berpikir kritis di lingkungan sekolah bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga melibatkan siswa, orang tua, dan seluruh komunitas sekolah. Artikel ini mengulas pentingnya budaya berpikir kritis, strategi penerapannya, serta pendekatan Yayasan Al Ma\u2019soem dalam mendukung keterampilan ini melalui pendidikan berbasis nilai.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengapa Berpikir Kritis Penting?<\/b><\/h2>\n<p><b>Berpikir kritis<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara objektif, mengidentifikasi asumsi, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Dalam dunia yang penuh dengan informasi yang berlimpah, sering kali bercampur dengan hoaks dan opini, siswa perlu dilatih untuk:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memilah informasi yang relevan dan kredibel.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengembangkan solusi inovatif terhadap masalah kompleks.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membuat keputusan yang etis dan bertanggung jawab.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berpartisipasi aktif dalam diskusi yang konstruktif.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, <\/span><b>Kurikulum Merdeka<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> menekankan pengembangan <\/span><b>profil pelajar Pancasila<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, yang mencakup kemampuan berpikir kritis sebagai salah satu kompetensi inti. Sekolah memiliki peran strategis untuk menciptakan lingkungan yang mendorong siswa bertanya, menganalisis, dan berpikir mandiri, sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya dan keimanan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Strategi Membangun Budaya Berpikir Kritis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membangun budaya berpikir kritis memerlukan pendekatan yang terintegrasi dalam kurikulum, metode pengajaran, dan kegiatan sekolah. Berikut beberapa strategi efektif:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Guru dapat merancang kegiatan yang mendorong siswa mengatasi masalah nyata, seperti isu lingkungan atau sosial. Misalnya, siswa diminta menganalisis dampak sampah plastik di lingkungan mereka dan mengusulkan solusi. Pendekatan ini melatih siswa untuk mencari data, mengevaluasi opsi, dan berpikir kreatif.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Diskusi dan Debat Terbuka<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Mengadakan sesi diskusi kelas atau debat tentang topik kontroversial, seperti dampak media sosial atau kebijakan pendidikan, dapat melatih siswa menyampaikan argumen berbasis fakta. Guru berperan sebagai fasilitator untuk memastikan diskusi tetap konstruktif dan inklusif.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Pertanyaan Terbuka<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Guru dapat mengganti pertanyaan tertutup (misalnya, \u201cApa ibu kota Jawa Barat?\u201d) dengan pertanyaan terbuka (misalnya, \u201cMengapa Bandung dipilih sebagai ibu kota Jawa Barat?\u201d). Ini mendorong siswa untuk menganalisis, bukan sekadar menghafal.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Penggunaan Teknologi Digital<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Memanfaatkan <\/span><b>platform pembelajaran digital<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk mengakses sumber informasi yang beragam membantu siswa melatih keterampilan evaluasi. Misalnya, siswa dapat diminta membandingkan dua artikel daring tentang topik yang sama untuk mengidentifikasi bias atau keakuratan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Proyek Kolaboratif<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan seperti <\/span><b>proyek penguatan profil pelajar Pancasila<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam Kurikulum Merdeka memungkinkan siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas kompleks. Ini mengasah kemampuan berpikir kritis sekaligus kerja sama.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Pembinaan Karakter<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Berpikir kritis harus diimbangi dengan nilai-nilai etika. Sekolah dapat mengintegrasikan pembelajaran tentang kejujuran, empati, dan tanggung jawab untuk memastikan siswa menggunakan keterampilan mereka secara bertanggung jawab.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h2><b>Peran Guru dan Siswa<\/b><\/h2>\n<p><b>Guru<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki peran sentral dalam menciptakan budaya berpikir kritis. Mereka harus:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mendorong siswa untuk bertanya \u201cmengapa\u201d dan \u201cbagaimana\u201d alih-alih menerima informasi begitu saja.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memberikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu siswa memperbaiki proses berpikir mereka.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengikuti pelatihan untuk menguasai metode pengajaran inovatif, seperti <\/span><b>pembelajaran berbasis inkuiri<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Activities<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, di sisi lain, perlu dilatih untuk:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berani menyampaikan pendapat meskipun berbeda dengan mayoritas.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengembangkan kebiasaan memverifikasi informasi sebelum mempercayainya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Belajar dari kesalahan sebagai bagian dari proses berpikir kritis.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><b>Tantangan dalam Membangun Budaya Berpikir Kritis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun penting, membangun budaya berpikir kritis menghadapi sejumlah tantangan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Kebiasaan Menghafal<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Sistem pendidikan yang masih berorientasi pada hafalan membuat siswa cenderung pasif.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Keterbatasan Sumber Daya<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Tidak semua sekolah memiliki akses ke teknologi atau pelatihan guru yang memadai.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Resistensi Budaya<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Dalam beberapa kasus, budaya hierarkis membuat siswa enggan mempertanyakan otoritas guru.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Tekanan Akademik<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Fokus pada nilai ujian sering kali mengesampingkan pengembangan keterampilan berpikir.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solusi untuk tantangan ini meliputi pelatihan guru yang berkelanjutan, penyediaan fasilitas pembelajaran yang memadai, dan komunikasi dengan orang tua untuk mendukung pendekatan baru ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pendekatan Yayasan Al Ma\u2019soem dalam Mendorong Berpikir Kritis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yayasan Al Ma\u2019soem, melalui program pendidikan seperti Rumah Solusi Aisyah Ma\u2019soem, menunjukkan bagaimana budaya berpikir kritis dapat dibangun dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan pendidikan modern. Berbasis visi \u201c<\/span><b>cageur, bageur, pinter<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d (sehat, berbudi mulia, cerdas), Al Ma\u2019soem menerapkan pendekatan berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Pembelajaran Agama yang Reflektif<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Pelajaran <\/span><b>tahsin<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><b>tahfidz<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, dan kitab kuning tidak hanya menghafal, tetapi juga mendorong siswa menganalisis makna dan relevansi ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa diajak mendiskusikan bagaimana prinsip kejujuran dalam hadis dapat diterapkan dalam situasi modern.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Proyek Berbasis Komunitas<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Siswa terlibat dalam kegiatan seperti bakti sosial atau proyek lingkungan, yang mengharuskan mereka mengidentifikasi masalah, mencari solusi, dan mengevaluasi hasilnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Lingkungan Disiplin Tanpa Kekerasan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Dengan kebijakan nol toleransi terhadap kekerasan, Al Ma\u2019soem menciptakan lingkungan aman yang mendorong siswa berpikir jernih tanpa tekanan. Siswa yang melakukan tindakan seperti pemukulan langsung dikembalikan ke orang tua, sebuah pendekatan yang telah efektif mencegah kenakalan selama puluhan tahun.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Fasilitas Pendukung<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Perpustakaan, laboratorium, dan akses teknologi di Al Ma\u2019soem memungkinkan siswa mengembangkan keterampilan riset dan analisis.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan ini menunjukkan bahwa berpikir kritis dapat dikembangkan tanpa mengorbankan nilai-nilai moral dan budaya. Al Ma\u2019soem juga melibatkan orang tua melalui laporan perkembangan dan kegiatan seperti haul pendiri, memastikan dukungan keluarga dalam proses pembelajaran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Peran Orang Tua dan Komunitas Sekolah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua berperan penting dalam memperkuat budaya berpikir kritis di rumah. Mereka dapat:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mendorong anak untuk bertanya dan mendiskusikan topik sehari-hari, seperti berita atau keputusan keluarga.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menyediakan akses ke buku, artikel, atau media edukasi yang merangsang pemikiran.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi teladan dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta dan logika.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komunitas sekolah, termasuk staf dan alumni, dapat mendukung melalui kegiatan seperti seminar, lokakarya, atau mentoring, yang memperluas wawasan siswa dan mendorong mereka berpikir kritis.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kesimpulan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membangun budaya berpikir kritis di lingkungan sekolah adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Melalui strategi seperti pembelajaran berbasis masalah, diskusi terbuka, dan integrasi teknologi, sekolah dapat melatih siswa untuk menganalisis informasi dan membuat keputusan yang bijak. Yayasan Al Ma\u2019soem memberikan contoh nyata bagaimana pendekatan berbasis nilai Islam, disiplin tanpa kekerasan, dan keterlibatan komunitas dapat mendukung keterampilan berpikir kritis yang seimbang dengan akhlak mulia. Dalam semangat <\/span><b>Kurikulum Merdeka<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, semua pemangku kepentingan\u2014guru, siswa, orang tua, dan komunitas\u2014harus bersinergi untuk menciptakan lingkungan belajar yang merangsang intelektual dan moral.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di era informasi yang berkembang pesat, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan esensial bagi siswa untuk menghadapi tantangan global. Berpikir kritis memungkinkan siswa menganalisis informasi, membuat keputusan yang rasional, dan menyelesaikan masalah secara kreatif. Dalam konteks pendidikan, membangun budaya berpikir kritis di lingkungan sekolah bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga melibatkan siswa, orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15138,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Membangun Budaya Berpikir Kritis di Lingkungan Sekolah - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Di era informasi yang berkembang pesat, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan esensial bagi siswa untuk menghadapi tantangan global. Berpiki"},"_slim_seo_primary_term_category":0,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[3269,5992,2439,5990,5991,5507,5995,5994,5993,201],"class_list":["post-16402","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-berpikir-kritis","tag-diskusi-terbuka","tag-kurikulum-merdeka","tag-pelajar-pancasila","tag-pembelajaran-berbasis-masalah","tag-pembinaan-karakter","tag-peran-guru-dan-orang-tua","tag-proyek-kolaboratif","tag-teknologi-digital-dalam-pendidikan","tag-yayasan-al-masoem"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/WhatsApp-Image-2024-07-16-at-08.19.50.jpeg",1600,898,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/WhatsApp-Image-2024-07-16-at-08.19.50-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/WhatsApp-Image-2024-07-16-at-08.19.50-300x168.jpeg",300,168,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/WhatsApp-Image-2024-07-16-at-08.19.50-768x431.jpeg",768,431,true],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/WhatsApp-Image-2024-07-16-at-08.19.50-1024x575.jpeg",1024,575,true],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/WhatsApp-Image-2024-07-16-at-08.19.50-1536x862.jpeg",1536,862,true],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/WhatsApp-Image-2024-07-16-at-08.19.50.jpeg",1600,898,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/WhatsApp-Image-2024-07-16-at-08.19.50.jpeg",18,10,false]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Di era informasi yang berkembang pesat, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan esensial bagi siswa untuk menghadapi tantangan global. Berpikir kritis memungkinkan siswa menganalisis informasi, membuat keputusan yang rasional, dan menyelesaikan masalah secara kreatif. Dalam konteks pendidikan, membangun budaya berpikir kritis di lingkungan sekolah bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga melibatkan siswa, orang tua, dan seluruh komunitas sekolah. Artikel ini mengulas pentingnya budaya berpikir kritis, strategi penerapannya, serta pendekatan Yayasan Al Ma\u2019soem dalam mendukung keterampilan ini melalui pendidikan berbasis nilai. Mengapa Berpikir Kritis Penting? Berpikir kritis adalah kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara objektif, mengidentifikasi asumsi, dan menarik kesimpulan&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">Artikel<\/a>","author_info_v2":{"name":"Editor","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":12,"label":"Artikel"}],"post_tag":[{"value":3269,"label":"berpikir kritis"},{"value":5992,"label":"diskusi terbuka"},{"value":2439,"label":"Kurikulum Merdeka"},{"value":5990,"label":"pelajar Pancasila"},{"value":5991,"label":"pembelajaran berbasis masalah"},{"value":5507,"label":"Pembinaan Karakter"},{"value":5995,"label":"peran guru dan orang tua"},{"value":5994,"label":"proyek kolaboratif"},{"value":5993,"label":"teknologi digital dalam pendidikan"},{"value":201,"label":"yayasan al masoem"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/WhatsApp-Image-2024-07-16-at-08.19.50-1024x575.jpeg",1024,575,true],"author_info":{"display_name":"Editor","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":12,"name":"Artikel","slug":"artikel","term_group":0,"term_taxonomy_id":12,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":8921,"filter":"raw","cat_ID":12,"category_count":8921,"category_description":"","cat_name":"Artikel","category_nicename":"artikel","category_parent":0}],"tag_info":[{"term_id":3269,"name":"berpikir kritis","slug":"berpikir-kritis","term_group":0,"term_taxonomy_id":3269,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":16,"filter":"raw"},{"term_id":5992,"name":"diskusi terbuka","slug":"diskusi-terbuka","term_group":0,"term_taxonomy_id":5992,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":2439,"name":"Kurikulum Merdeka","slug":"kurikulum-merdeka","term_group":0,"term_taxonomy_id":2439,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":27,"filter":"raw"},{"term_id":5990,"name":"pelajar Pancasila","slug":"pelajar-pancasila","term_group":0,"term_taxonomy_id":5990,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":3,"filter":"raw"},{"term_id":5991,"name":"pembelajaran berbasis masalah","slug":"pembelajaran-berbasis-masalah","term_group":0,"term_taxonomy_id":5991,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":5507,"name":"Pembinaan Karakter","slug":"pembinaan-karakter","term_group":0,"term_taxonomy_id":5507,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":4,"filter":"raw"},{"term_id":5995,"name":"peran guru dan orang tua","slug":"peran-guru-dan-orang-tua","term_group":0,"term_taxonomy_id":5995,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":5994,"name":"proyek kolaboratif","slug":"proyek-kolaboratif","term_group":0,"term_taxonomy_id":5994,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":5993,"name":"teknologi digital dalam pendidikan","slug":"teknologi-digital-dalam-pendidikan","term_group":0,"term_taxonomy_id":5993,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":1,"filter":"raw"},{"term_id":201,"name":"yayasan al masoem","slug":"yayasan-al-masoem","term_group":0,"term_taxonomy_id":201,"taxonomy":"post_tag","description":"","parent":0,"count":46,"filter":"raw"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16402","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16402"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16402\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15138"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16402"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16402"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16402"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}