{"id":13740,"date":"2023-01-19T09:49:40","date_gmt":"2023-01-19T01:49:40","guid":{"rendered":"https:\/\/almasoem.sch.id\/?p=13740"},"modified":"2023-11-28T15:53:13","modified_gmt":"2023-11-28T07:53:13","slug":"makna-cageur-dalam-moto-al-masoem","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/makna-cageur-dalam-moto-al-masoem\/","title":{"rendered":"Boarding School: Pendidikan Alternatif untuk Melahirkan Pemimpin"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14029\" src=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/IMG_4423-Large.jpg\" alt=\"IMG_4423 (Large)\" width=\"713\" height=\"475\" srcset=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/IMG_4423-Large.jpg 713w, https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/IMG_4423-Large-300x200.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 713px) 100vw, 713px\" \/><\/p>\n<p>Ada dua fenomena menarik\u00a0 dalam dunia pendidikan di Indonesia yakni munculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah); dan penyelenggaraan sekolah bermutu yang sering disebut dengan\u00a0<i>boarding school<\/i>. Nama lain dari istilah boarding<i>\u00a0school<\/i>\u00a0adalah sekolah berasrama. Para murid mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam anak didik berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru pembimbing.<\/p>\n<p>Di lingkungan sekolah ini mereka dipacu untuk menguasai ilmu dan teknologi secara intensif sedangkan selama di lingkungan asrama mereka ditempa untuk menerapkan ajaran agama atau nilai-nilai khusus serta\u00a0 mengekspresikan rasa seni dan keterampilan hidup di hari libur. Hari-hari mereka adalah hari-hari berinteraksi dengan teman sebaya dan para guru. Rutinitas kegiatan \u00a0 tersebut berlangsung dari pagi hingga malam sampai bertemu pagi lagi. Mereka menghadapi makhluk hidup yang sama, orang yang sama, lingkungan yang sama, dinamika dan romantika yang seperti itu pula.<\/p>\n<p>Sistem pendidikan seperti itu secara tradisional\u00a0 jejaknya dapat kita selami dalam dinamika kehidupan pesantren, pendidikan gereja, bahkan di bangsal-bangsal tentara. Pendidikan berasrama telah banyak melahirkan tokoh besar dan mengukir sejarah kehidupan umat manusia mulai dari Filosof Plato hingga cendekiawan Nurcholish Madjid. Yang perlu menjadi catatan adalah bahwa mereka memang orang-orang yang bercikal bakal menjadi\u00a0<i>the great man<\/i>\u00a0and\u00a0<i>indigenous people<\/i>. Apakah\u00a0<i>boarding\u00a0 school<\/i>\u00a0memang bukan untuk pendidikan orang biasa? Atau sekolah ini khusus melahirkan calon-calon orang besar?<\/p>\n<p>Kehadiran\u00a0<i>boarding school<\/i>\u00a0adalah suatu keniscayaan zaman kini. Keberadaannya adalah suatu konsekuensi logis dari perubahan lingkungan sosial dan keadaan ekonomi serta cara pandang religiusitas masyarakat.\u00a0<i>Pertama<\/i>, lingkungan sosial kita kini telah banyak berubah terutama di kota-kota besar. Sebagian besar penduduk tidak lagi tinggal dalam suasana masyarakat yang homogen, kebiasaan lama bertempat tinggal dengan keluarga besar satu\u00a0<i>klan<\/i>\u00a0atau marga telah lama bergeser ke arah masyarakat yang heterogen, majemuk, dan plural. Hal ini berimbas pada pola perilaku masyarakat yang berbeda karena berada dalam pengaruh nilai-nilai yang berbeda pula. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat yang terdidik dengan baik menganggap bahwa lingkungan sosial seperti itu sudah tidak lagi kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual dan moralitas anak.<\/p>\n<p><i>Kedua<\/i>, keadaan ekonomi masyarakat yang semakin membaik mendorong pemenuhan kebutuhan di atas kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Bagi kalangan menengah-atas yang baru muncul akibat tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi sehingga mendapatkan posisi-posisi yang baik dalam lapangan pekerjaan berimplikasi pada tingginya penghasilan mereka. Hal ini mendorong niat dan tekad untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak melebihi pendidikan yang telah diterima orang tuanya.<\/p>\n<p><i>Ketiga<\/i>, cara pandang religiusitas. Masyarakat telah, sedang, dan akan terus berubah. Kecenderungan terbaru masyarakat perkotaan sedang bergerak ke arah yang semakin religius. Indikatornya adalah semakin diminati dan semaraknya kajian dan berbagai kegiatan keagamaan. Modernisasi membawa implikasi negatif dengan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan rohani dan jasmani. Untuk itu masyarakat tidak ingin hal yang sama akan menimpa anak-anak mereka. Intinya, ada keinginan untuk melahirkan generasi yang lebih agamis atau memiliki nilai-nilai hidup yang baik mendorong orang tua mencarikan sistem pendidikan alternatif.<\/p>\n<p>Dari ketiga faktor di atas, sistem pendidikan\u00a0<i>boarding school<\/i>\u00a0seolah menemukan pasarnya. Dari segi sosial, sistem\u00a0<i>boarding school mengisolasi<\/i>\u00a0anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. Di lingkungan sekolah dan asrama di konstruksi suatu lingkungan sosial yang relatif homogen yakni teman sebaya dan para guru pembimbing. Homogen dalam tujuan yakni menimba ilmu untuk menggapai harapan hidup yang lebih berkualitas.<\/p>\n<p>Dari segi ekonomi,\u00a0<i>boarding school<\/i>\u00a0memberikan pelayanan yang paripurna sehingga menuntut biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu, anak didik akan benar-benar terlayani dengan baik melalui berbagai layanan pendidikan dan fasilitas yang baik. Terakhir dari segi semangat religiusitas,\u00a0<i>boarding school<\/i>\u00a0menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani, intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir peserta didik yang tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secara iman dan amal soleh.<\/p>\n<p>Kondisi di atas memungkin siswa\u00a0<i>boarding school<\/i>\u00a0berkembang menjadi pribadi yang utuh (insan kamil) sebagai prasyarat untuk menjadi pemimpin. Pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang baik seperti:\u00a0<i>creativity, morality, courage, knowledge, dan commitment.<\/i>\u00a0Calon pemimpin minimal harus memiliki kelima sifat-sifat positif tersebut, mengingat pemimpin bisa menjadi simbol moral dan pemersatu bagi komunitasnya, pemimpin harus bisa menjadi\u00a0<i>agent of development<\/i>\u00a0menuju kesejahteraan, kemakmuran. Seorang pemimpin harus mampu membawa komunitasnya melangkah jauh kedepan bukan hanya sekedar menjadi\u00a0<i>one step ahead<\/i>\u00a0tapi lebih\u00a0<i>leading to the farthest<\/i>.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada dua fenomena menarik\u00a0 dalam dunia pendidikan di Indonesia yakni munculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah); dan penyelenggaraan sekolah bermutu yang sering disebut dengan\u00a0boarding school. Nama lain dari istilah boarding\u00a0school\u00a0adalah sekolah berasrama. Para murid mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6231,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","slim_seo":{"title":"Boarding School: Pendidikan Alternatif untuk Melahirkan Pemimpin - Yayasan Al Ma&#039;soem Bandung","description":"Ada dua fenomena menarik\u00a0 dalam dunia pendidikan di Indonesia yakni munculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah); dan penyelenggaraan"},"_slim_seo_primary_term_category":0,"_slim_seo_primary_term_post_tag":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-13740","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":8}},"acf":[],"featured_image_urls_v2":{"full":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/panahan.jpeg",1276,1021,false],"thumbnail":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/panahan-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/panahan-300x240.jpeg",300,240,true],"medium_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/panahan-768x615.jpeg",768,615,true],"large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/panahan-1024x819.jpeg",1024,819,true],"1536x1536":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/panahan.jpeg",1276,1021,false],"2048x2048":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/panahan.jpeg",1276,1021,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/panahan.jpeg",15,12,false]},"post_excerpt_stackable_v2":"<p>Ada dua fenomena menarik\u00a0 dalam dunia pendidikan di Indonesia yakni munculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah); dan penyelenggaraan sekolah bermutu yang sering disebut dengan\u00a0boarding school. Nama lain dari istilah boarding\u00a0school\u00a0adalah sekolah berasrama. Para murid mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam anak didik berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru pembimbing. Di lingkungan sekolah ini mereka dipacu untuk menguasai ilmu dan teknologi secara intensif sedangkan selama di lingkungan asrama mereka ditempa untuk menerapkan ajaran agama atau nilai-nilai khusus serta\u00a0 mengekspresikan&hellip;<\/p>\n","category_list_v2":"<a href=\"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/category\/uncategorized\/\" rel=\"category tag\">Umum<\/a>","author_info_v2":{"name":"Editor","url":"#"},"comments_num_v2":"0 comments","taxonomy_info":{"category":[{"value":1,"label":"Umum"}]},"featured_image_src_large":["https:\/\/almasoem.sch.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/panahan-1024x819.jpeg",1024,819,true],"author_info":{"display_name":"Editor","author_link":"#"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":1,"name":"Umum","slug":"uncategorized","term_group":0,"term_taxonomy_id":1,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":459,"filter":"raw","cat_ID":1,"category_count":459,"category_description":"","cat_name":"Umum","category_nicename":"uncategorized","category_parent":0}],"tag_info":false,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13740","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13740"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13740\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6231"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13740"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13740"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/almasoem.sch.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13740"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}