Dampak Sosial dan Kriminal serta Moratorium UN

29 November 2016 | Dibaca : 773x | Oleh : Bambang Irawan
img_8543-large Moratorium Ujian Nasional adalah langkah positif yang perlu memperoleh dukungan, pro dan kontra yang sudah lama berkembang selama ini sudah mulai terjawab. Pemberlakuan moratorium tidak lepas dengan diperolehnya data kualitas sekolah. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mendapatkan data bahwa hanya 30% sekolah di republik ini yang kualifikasinya berstandar nasional, dengan kata lain 70% lainnya dibawah standar nasional, padahal soal yang dibuat mengacu pada standar nasional. Atas kondisi di atas yang akan jadi korban adalah siswa, karena tidak semua prilaku siswa lurus. Tidak bisa dipungkiri tidak sedikit siswa, karena kesulitan yang dihadapi dalam menjawab soal, mereka berusaha mencari jalan untuk mendapatkan kemudahan sehingga mereka siap menghadapi soal Ujian Nasional. Pihak orang tua memahami kesulitan anaknya turut terlibat mencari jalan mendapatkan bocoran soal, sekalipun harus berhadapan dengan proses hukum, dan rela mengeluarkan koceknya yang tidak sedikit. Penulis kurang mengetahui secara persis, bagaimana caranya mendapatkan bocoran tersebut, yang pasti ternyata Ujian Nasional bertolak belakang dengan target proses pendidikan. Disatu sisi arah pendidikan bertujuan melahirkan generasi yang berintelektual dan berakhlaqul kahrimah, pada sisi yang lain, UN justru mendorong oknum siswa berprilaku curang, dan ditunjang dengan berkembangnya medsos yang semakin pesat semakin membuka lebar kecurangan tersebut. Dari uraian diatas, hal yang perlu disoroti bahwa Ujian Nasional yang seolah-olah di paksakan, secara tidak langsung berdampak pada penyimpangan sosial yang bisa megarah pada aspek kriminal. Penulis sangat setuju jika ujian Nasional di moratorium bahkan mungkin ditutup permanen. Dampak positif yang ditimbulkan untuk para guru adalah kreadibilitas dan eksistensi guru mejadi terangkat, karena guru akan menjadi pihak yang memiliki kewenangan untuk menentukan kualifikasi para siswa. Karena melalui dana yang semula akan dialokasikan untuk UN kini akan dialihkan untuk peningkatan kompetensi guru. Meningkatnya kemampuan guru tertunya akan berkorelasi positif dengan peningkatan kualifikasi siswa. Kedepan tidak perlu lagi ada kasak kusuk demi menghadapi momen UN yang selalu dikesankan menakutkan para siswa. Demikian sisi lain pertimbangan mengapa setuju UN di moratorium. foto-drs-asep-sujana-m-m_crop           Penulis: Drs. Asep Sujana, M.M., Guru dan Dir. Pendidikan Yayasan Al Ma’soem Bandung
Bagikan :  

Informasi Menarik Lainnya

Hafiz Quran Gratis Mesantren di Al Ma’soem
25 September 2015
Pemberian penghargaan dalam bentuk beasiswa untuk setiap siswa-siswi berprestasi yang bersekolah di Yayasan Pendidikan Al Ma’soem baik untuk prestasi ...
Siswa SMA Al Ma'soem Berhasil Tahfidz 30 Juz
23 Januari 2018
“Menghafal Al Qur’an menjanjikan kebaikan, keberkah, dan kenikmatan bagi para penghafalnya. Selain itu dapat membuat otak menjadi hangat, karena ...
Kegiatan Sosial Donor Darah Al Ma’soem
14 Februari 2017
Segenap sivitas Yayasan Al Ma’soem Bandung kembali melaksanakan kegiatan Donor Darah yang diselenggarakan hari ini Selasa, 14 Februari 2017. Kegiatan yang ...
sehari bersama duafa, khitan massal, dan juga pengobatan dan pemeriksaan mata gratis serta donor darah 2019
16 Juni 2019
               Sebagai bentuk penghormatan para pendiri, maka Direksi dan management ...
Juara I Ngadongeng FLS2 Tingkat Kabupaten Sumedang
3 April 2017
Juara I lomba ngadongeng tingkat SMP pada Festival dan Lomba Seni Siswa (FLS2) wilayah Kabupaten Sumedang, berhasil diboyong oleh salah satu wiswi SMP Al ...
Banner Pendaftaran
Download File
Keseharian Santri
Kunjungan Jokowi ke Al Ma'soem
Presiden Joko Widodo memberikan pidato dan bingkisan bagi siswa Al Ma'soem

Almasoem Group

Yayasan Al Ma'soem Bandung (YAB)
Jl. Raya Cipacing No. 22
Jatinangor – Sumedang
Telp. (022) 7798204 – 7798243 – 7792448 –  +628112206666
E-mail: info@masoem.com

Bagikan :
Copyright © almasoem.sch.id 2019
All rights reserved
Scroll Top