BERBAHASA INGGRIS SEBAGAI SEBUAH KEBIASAAN DI SEKOLAH

12 Maret 2015 | Dibaca : 1939x | Oleh : admiral
Oleh : Ahmad Zeni, S.S. Menyikapi usulan pemerintah daerah yang mengajukan agar tidak mencantumkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal (Mulok) di SD. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dipertimbangan sebelum pernyataan tersebut bergulir menjadi sebuah keputusan. Apabila persoalannya dikaitkan dengan jati diri bangsa, sebenarnya bukan terletak pada ketidakcintaan kepada bahasa sendiri, tetapi bagaimana kita mempersiapkan anak didik untuk mampu membuka cakrawala berpikir dan berperan  dalam kancah pergaulan internasional. Pada akhirnya nanti, mereka dapat diterima eksistensinya sebagai bagian dari warga dunia. Pertimbangan lainnya bahwa sudah begitu banyak orang tua yang memasukkan anaknya ke berbagai kursus bahasa asing, utamanya bahasa Inggris.  Mereka berpendapat bahwa anak-anak perlu diajarkan bahasa tersebut sejak dini. Sedangkan orang tua yang menyekolahkan buah hatinya  di sekolah yang mengajarkan atau mengenalkan bahasa asing sejak dini, pada dasarnya mengharapkan  mereka untuk lebih cepat menguasai bahasa tersebut, serta  lebih awal mengenal berbagai informasi. Beberapa dari mereka bahkan mengantisipasi arus globalisasi dengan mempersiapkan kompetensi masing-masing sebagai bekal di masa mendatang. Bagi beberapa sekolah dasar, terutama sekolah swasta, ada suatu keharusan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan citra baik di tengah masyarakat. Diantaranya dengan menawarkan beberapa program unggulan, salah satunya adalah pembiasaan berbahasa Inggris di sekolah  bagi siswa dan segenap civitasnya. Sejauh mana sekolah mampu mengelola kurikulum dengan baik, mempersiapkan dan merencanakan program tersebut dengan matang? Akan terjawab dengan sendirinya.  Apalagi jika dikaitkan dengan beberapa pernyataan  psikolog perkembangan anak yang mengaitkan kondisi usia anak SD dengan periode kritis (critical period) pembelajar bahasa yaitu rentang waktu ideal untuk mencapai kemampuan berbahasa seperti penutur asli. Dalam menjalankan program  pembiasaan berbahasa Inggris, sekurang-kurangnya ada dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu faktor psikologis dan faktor sosial. Faktor psikologis berkenaan dengan proses intelektual, ingatan atau memori, serta  keterampilan motorik yang melibatkan alat-alat ucap untuk memproduksi bahasa yang dipelajari. Dalam proses pembelajaran bahasa, faktor memori ini sangat berperan dalam proses mengingat struktur dan aturan di dalam bahasa Inggris tadi. Anak-anak,  terutama yang belum lancar membaca dan menulis, biasanya lebih mengandalkan pendengaran serta belajar dari situasi yang diterimanya. Pada masa pertumbuhan, otak sebagai pengendali alat-alat ucap anak bersifat sangat lentur. Hal ini mempermudah anak-anak menirukan pengucapan kata-kata tertentu karena pada usia tersebut ia masih harus melatih berbagai keterampilan motoriknya, termasuk di antaranya adalah alat ucapnya. Penguasaaan bahasa Inggris disertai aksen yang mendukung  dapat diperoleh dengan beberapa catatan. Pertama, pada usia belia mereka sudah beradaptasi dengan bahasa tersebut. Kedua, menjelang usia kritis, mereka mendapat kesempatan untuk mengujarkan bahasa itu. Ketiga, lingkungan di sekitarnya juga aktif menggunakan bahasa Inggris. Dengan demikian dapat dikatakan, menguasai bahasa Inggris dapat diusahakan kapan saja dan di mana saja, jika syarat-syarat tersebut terpenuhi. Selanjutnya faktor sosial yang berkenaan dengan situasi dan interaksi. Dalam hal ini lingkungan tempat anak itu belajar, terutama sekolah. Sekolah merupakan lingkungan tempat anak belajar yang tiada terbatas. Di sinilah peran penting sekolah dalam menciptakan suasana pembelajaran yang mampu mendukung dalam membiasakan seluruh warga sekolah untuk berbahasa Inggris, di samping tentunya bahasa nasional. Sekolah dapat mengenalkan para penutur asli bahasa Inggris (native teacher) terlibat dalam proses KBM di sekolah. Faktor sosial merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa. Untuk anak-anak akan lebih mudah belajar bahasa Inggris dalam situasinya yang alami. Lingkungan  tempat tinggalnya menggunakan bahasa yang sedang dipelajarinya. Dalam hal ini, kemampuan di sekitarnya harus mendukung dan mutlak diperlukan. Anak-anak juga akan lebih mudah belajar bahasa Inggris karena beban mereka sebagai makhluk sosial  belum banyak. Mereka mempunyai banyak kesempatan belajar sambil bermain peran, bernyanyi, berhitung, dan sebagainya. Jadi, pada akhirnya mereka memiliki keunggulan  dalam keterampilan berbicara. Dalam hal ini para guru harus memahami pula faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan  bahasa anak didiknya, yakni jenis kelamin, kelas sosial dan kesiapan anak untuk belajar yang sering dilupakan. Ketidaksiapan anak untuk belajar, apalagi jika dibarengi dengan ketidakmampuan orang dewasa di lingkungan anak tersebut dalam bahasa yang sedang dipelajari, tentunya akan menghambat proses pembelajaran. Satu hal lain yang perlu dipertimbangakan adalah bahwa proses belajar berbahasa adalah proses pembentukan mental. Dengan demikian, pembelajaran bahasa pada dasarnya merupakan proses  membentuk  identitas seseorang, termasuk identitasnya sebagai bagian dari suatu kelompok.Sementara itu, konteks anak mensyaratkan agar bahasa yang dipelajari itu harus sesuai dengan lingkungan, kebutuhan dalam pergaulan, kematangan jiwa, dan minat anak. Mengajar dengan pengantar bahasa Inggris kepada siswa adalah sebuah keniscayaan. Bahkan dapat diupayakan menjadi suatu kebiasaan. Untuk saat ini, tidak hanya siswa yang harus belajar bahasa Inggris, guru-gurunya pun dituntut demikian. Menjadi suatu keharusan juga manakala sekolah sudah mengikrarkan diri sebagai sekolah berwawasan internasional. Di samping untuk membendung para ekspatriat yang terus berdatangan ke tanah air, kita pun berkesempatan meningkatkan kompetensi dalam berkomunikasi dan menyampaikan ide-ide  secara luas. Mengapa tidak? Kita bisa membuka hubungan lebih terbuka dengan sekolah atau lembaga pendidikan di luar negeri guna bertukar pikiran dan berbagi pengalaman dalam membimbing dan mengembangkan potensi anak didik. Jadi, berikanlah kesempatan kepada para siswa SD untuk memperoleh pelajaraan bahasa Inggris di sekolah, serta biarkanlah guru-gurunya mengembangkan kompetensinya untuk mampu berbahasa dan berkomunikasi di tingkat internasional. Serta dukunglah sekolah yang menyelenggarakan program unggulan berbasis penggunakan bahasa Inggris tersebut sebagai buah dari inovasi dan kreasi dari para pengelolanya. Ahmad Zeni, S.S. adalah Kepala SD Al Ma’soem ahmad zeni
Bagikan :  

Informasi Menarik Lainnya

Juara II & III di Kejuaraan Renang se-Priangan
1 November 2017
Salah satu siswa SMP Al Ma’soem kembali menunjukan kemampuan yang dimiliki dengan meraih medali dalam Kejuaraan Renang antar Pelajar se-Priangan Piala ...
Sosialisasi UN, US/USBN dan UNBK di Pertemuan Orang Tua
10 September 2018
Pertemuan Orang Tua peserta didik SMA kelas XII dan SMP kelas XI yang dilaksanakan pada hari sabtu, 8 September 2018 lalu bertempat di Aula SMA Al ...
Sekolah Favorit = Restoran Favorit ?
27 Maret 2015
Oleh: M. Iqbal Ridha, S. Si Sekolah favorit, bisa diibaratkan restoran favorit. Sebuah restoran menjadi favorit karena memiliki menu-menu favorit yang  ...
1 Januari 1970
...
Metode KWL, Sebuah Bentuk Penyegaran
4 Desember 2015
Oleh: Siti Suwarni Beberapa minggu yang lalu, UKG menjadi kata yang sangat populer di kalangan guru-guru. Terpaksa atau tidak, suka atau tidak, semua guru ...
Banner Pendaftaran
Download File
Keseharian Santri
Kunjungan Jokowi ke Al Ma'soem
Presiden Joko Widodo memberikan pidato dan bingkisan bagi siswa Al Ma'soem

Almasoem Group

Yayasan Al Ma'soem Bandung (YAMB)
Jl. Raya Cipacing No. 22
Jatinangor – Sumedang
Telp. (022) 7798204 – 7798243 – 7792448 –  +628112206666
E-mail: info@masoem.com

Bagikan :
Copyright © almasoem.sch.id 2019
All rights reserved
Scroll Top