Belajar dari Buku Best seller dalam Sejarah Jepang Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela dalam mendidik siswa

30 Agustus 2019 | Dibaca : 222x | Oleh : Bilal M. Ramdan
Belajar dari Buku Best seller dalam Sejarah Jepang Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela dalam mendidik siswa

Ada yang pernah membaca buku Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela? Judul asli buku ini adalah 窓ぎわのトットちゃん (Madogiwa no Totto-chan) karya Tetsuko Kuroyanagi. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1981 dan menjadi bestseller di Jepang. Buku ini berkisah mengenai nilai pendidikan yang Kuroyanagi terima di Tomoe Gakuen, SD di Tokyo yang didirikan oleh pendidik Sosaku Kobayashi selama Perang Dunia II.

Buku ini bercerita dimulai ketika ibu dari Totto-chan mengetahui kabar bahwa putrinya dikeluarkan dari sekolah negeri. Ibu Totto-chan menyadari bahwa Totto-chan membutuhkan sekolah yang tidak membatasi kebebasan berekspresi. Dia kemudian mengajak Totto-chan untuk bertemu kepala sekolah di sekolah yang baru, Pak Kobayashi. Mulai saat itu, pertemanan terbentuk antara kepala sekolah dan muridnya.

Buku ini berlanjut untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa yang dialami Totto-chan, teman-temannya, pelajaran-pelajaran yang diterimanya, dan atmosfer hangat yang ia hirup. Buku ini ditutup dengan peristiwa dimana Tomoe Gakuen terkena bom dari pesawat pembom dan sekolah ini tidak pernah dibangun kembali. Peristiwa ini mengakhiri tahun-tahun Totto-chan sebagai murid di Tomoe Gakuen.

Nah dalam buku tersebut terdapat beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari cara Mr. Kobayashi mendidik anak didiknya diantaranya adalah cara menumbuhkan rasa percaya diri pada siswanya. dalam ceritanya ia memiliki seorang murid yang bernama Akira Takahashi dimana siswa tersebut memiliki kekurangan fisik. Mr. Kobayashi meminta Akira Takahashi, siswa laki-laki yang memiliki lengan dan tungkai kaki pendek (tubuhnya tidak dapat tumbuh lagi) untuk ikut lomba. Akira awalnya meragukan dirinya untuk dapat menang dalam lomba tersebut. Namun, Mr. Kobayashi sengaja mengatur agar Akiralah pemenangnya. Sejak saat itu, Akira tidak lagi ‘minder’ akan tubuhnya. 

Penah juga dalam novel tersebut ada siswa yang berulah, beliau tidak memarahinya, namun memberikan penjelasan agar siswa tersebut mengerti akan kesalahannya. Ia percaya semua anak pada dasarnya baik, tidak perlu diberi hukuman atas ulahnya. dan akhirnya siswa yang berulah tersebut merasa malu sendiri (karena pada dasarnya budaya malu Jepang itu sangat tinggi sekali) akhirnya siswa berulah itu menjadi siswa yang baik dan tidak mengulang kesalahannya lagi. 

Sebelum menjadi siswa di Tomoe (sekolah Mr. Kobayashi), setiap anak ‘diwawancara’ terlebih dulu. Wawancara di sini bukan untuk menentukan diterima atau tidak, melainkan untuk mengenal karakter setiap siswa. Selain itu, juga memancing agar siswa berani bebicara mengenai kejadian yang pernah dialaminya. selain wawancara siswa juga dituntut untuk bertanggung jawab dalam apa yang pernah mereka lakukan seperti saat ketika Totto Chan kehilangan dompetnya, ia mencari di septic tank dan membuat halaman jadi kotor. Lalu Mr. Kobayashi mengatakan, “Kamu akan mengembalikan semua ke tempatnya semula, kan?”. Ini membuat siswa merasa harus lebih bertanggung jawab atas apa pun yang dilakukan.

Buku karya Tetsuko Kuroyanagi ini sangat menginspirasi dan sangat recomended untuk dibaca dan dipelajari bagi setiap guru. karena selain mengajarkan tanggung jawab buku tersebut mengajarkan agar siswa patuh tanpa harus dengan cara kekerasan. teringat juga dalam membangun kararkter seseorang itu sulit maka kadang sebuah kecurangan kecil bisa merubah sebuah anak menjadi lebih baik. Melihat dan membaca buku tersebut mengingatkan penulis sendiri pada Yayasan Pendidikan Al Ma'soem Bandung dimana hampir setiap Guru dan walikelasnya mendidik siswanya "hampir" dengan cara yang sama. 

Pernah penulis sendiri bertemu dan bercakap dengan Ir. Deni Purwadi Mp.d selaku kepala sekolah SMA Al Ma'soem, berliau pernah berkata "cara terbaik dalam mendidik anak adalah dengan menanyakan apa yang mereka senangi, dan jika ada anak nakal jangan bilang anak nakal. tapi dekati dengan cara perlahan dan berkatalah dengan kata kata positive seperti "kamu jangan kaya gitu, itu tidak baik. kamu anak baik kan?" sebuah perkataan yang dapat merubah mindset siswa bahwa mereka itu tidak nakal, hanyab saja belum mengerti bahwa apa yang dia lakukan itu salah.

Bagikan :  

Informasi Menarik Lainnya

Alhamdulilah Pembangunan Musola dan BSG Al Ma'soem sudah 50%
12 Mei 2020
Almasoem.sch.id,- Pembangunan terus di lakukan Al Ma'soem guna memberikan fasilitas yang terbaik bagi semua cititasnya. di balik pandemi ini Al ...
INKUBATOR BISNIS AMIK AL MA’SOEM
4 Mei 2015
Oleh: Encep Supriatna, S.Kom, MM Apa istimewanya AMIK Al Ma’soem dibanding PTS lain di Jawa Barat ini ? AMIK Al Ma’soem adalah perguruan tinggi yang ...
Daftar peserta KPAM yang menjadi siswa terbaik di KPAM 2019/2020
11 Juli 2019
                Alhamdulilah sebagai bentuk apresiasi kami, ada beberapa daftar ...
Berhasil menjadi Runner Up Di ELIMINASI DAN KUALIFIKASI STANDAR BOW serta LOMBA NASYID
30 Juli 2019
                Al Ma’soem Sekolah Pencetak generasi Juara. Selain sering ...
M. Sonhaji Raih Juara I Kejuaraan Taekwondo Tingkat Provinsi
28 Februari 2019
Sonhaji siswa SMA Al Ma’soem kembali menorehkan prestasi yang impresif dalam bidang olahraga Taekwondo. Sonhaji berhasil meraih Juara I (1st Place) pada ...

Informasi Pendaftaran

asdasdasd
klm
Banner Pendaftaran
Download File
Keseharian Santri
Kunjungan Jokowi ke Al Ma'soem
Presiden Joko Widodo memberikan pidato dan bingkisan bagi siswa Al Ma'soem

Almasoem Group

Yayasan Al Ma'soem Bandung (YAB)
Jl. Raya Cipacing No. 22
Jatinangor – Sumedang
Telp. (022) 7798204 – 7798243 – 7792448 –  +628112206666
E-mail: info@masoem.com

IG : almasoembdg

Bagikan :
Copyright © Almasoem.sch.id 2020
All rights reserved
Scroll Top