ANAK DELINKUEN

2 April 2015 | Dibaca : 2774x | Oleh : admiral
Oleh: Udin Nashruddin, S.Si (Staff Pengajar  SMA Al Ma’soem) Anak delinkuen adalah anak yang mempunyai sifat selalu melanggar aturan, namun aturan-aturan yang mereka langgar biasanya adalah aturan-aturan yang ringan. Anak seperti  ini kadang sering kita temukan di sebuah sekolah. Mereka secara sadar atau pun tidak sadar melakukan pelanggaran seperti berpakaian seragam tidak sesuai aturan yang telah ditentukan, datang terlambat, tidak sekolah tanpa alasan yang jelas, kabur dari sekolah, tidak mengerjakan PR, dan ribut  atau membuat onar di dalam kelas. Menurut hasil sebuah penelitian  kurang lebih 51% dari anak-anak delinkuensi berasal dari keluarga yang  tidak utuh (keadaan broken home). Ketidakutuhan keluarga itu dapat disebabkan karena: perceraian orang tua, ayah atau ibu atau kedua-duanya telah meninggal, tidak senang tinggal di rumah, juga karena sering cekcok dengan orang tuanya.  Mereka berada di dalam keluarga  yang interaksi sosialnya berjalan tidak wajar dan kurang baik. Sehingga mereka merasa segan untuk menceritakan segala isi hatinya kepada orang tuanya. Hal ini terjadi karena  hilangnya rasa simpati dan cinta kasih di dalam keluarga. Menghadapi masalah seperti ini maka sekolah haruslah turun tangan. Sekolah sebagai sebuah institusi bukan sekedar untuk mempertinggi taraf intelegensi siswa. Tetapi sekolah berperan lebih luas lagi yaitu  sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas hidup bagi masyarakat suatu bangsa. Untuk itulah dituntut peranan guru untuk  menghadapi dan mengatasi  anak delinkuen ini. Guru harus mampu mengatasi anak delinkuen sesuai dengan  salah satu fungsinya yaitu sebagai konselor, selain fungsinya sebagai pelatih, manajer belajar, partisipan, pemimpin dan pelajar. Sebagai konselor, guru akan menjadi  sahabat siswa, teladan dalam pribadi yang mengundang rasa hormat dan keakraban dari siswa. Persahabatan adalah konsep sosial yang murni. Pada umumnya persahabatan terjadi karena kecenderungan adanya persamaan yang melibatkan setiap individu sebagai satu kesatuan. Di sini guru dan siswa mempunyai satu persamaan yaitu berada di dalam dunia pendidikan. Kesamaan inilah yang akan menguntungkan bagi guru untuk masuk ke dalam wilayah pribadi siwa. Guru dianggap  telah mengetahui karakter siswa  sehingga bisa menyelami apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang diinginkan oleh siswa. Melalui pendekatan personal yang humanis, siswa akan merasa akrab terhadap gurunya. Di sinilah guru bisa leluasa menanamkan pengaruh yang besar pada siswa  baik lewat wejangan, petuah, kritikan, dan saran, secara sederhana dan penuh kasih sayang. Inilah yang disebut interaksi emosional, yaitu interaksi yang terjadi ketika individu melakukan kontak satu sama lain dengan melakukan curahan perasaan. Dalam interaksi emosional, guru harus  menyadari  adanya dua aspek penting yang berperan. Aspek itu adalah aspek objektif dan aspek subjektif. Aspek objektif adalah keadaan nyata dari peristiwa yang terjadi pada saat interaksi siswa dengan orang lain atau pada saat anak delinkuen melakukan tindakan yang melanggar aturan. Sedangkan aspek subjektif adalah keadaan nyata yang dipersepsi oleh anak delinkuen pada saat interaksi berlangsung. Kita akan mengetahui motivasi  apa yang ada di belakang suatu tindakan yang dilakukan anak delinkuen itu. Dengan demikian akhirnya kita bisa meramu  obat  yang tepat untuk penyembuhannya. Terakhir, sebagai konselor guru dapat memanfaatkan figurnya sebagai tokoh yang sangat penting dalam kehidupan siswanya. Karena selain sebagai tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu, sering siswa lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru dari pada kepada orang tuanya. Posisi guru seperti inilah yang sangat strategis bila digunakan untuk  mengatasi anak delinkuen. Udin Nashruddin, S.Si  Pak Udin
Bagikan :  

Informasi Menarik Lainnya

Siswa/Santri Al Ma'soem Semangat Hadapi Ujian
6 Oktober 2016
Semenjak hari Senin kemarin (3/10) SD, SMP dan SMA Al Ma’soem melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS) bagi seluruh peserta didiknya, dan alhamdulillah ...
Sambut Bulan Bahasa dengan Prestasi
9 November 2016
Dua orang siswa SMP Al Ma’soem meraih Juara II dan Juara Harapan dalam Kegiatan Bulan Bahasa yang digelar oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa ...
Siswa SMP Al Ma'soem; Setor Hafalan Surat di Akhir Semester
23 Desember 2016
Jatinangor (23/12) – Para siswa SMP Al Ma’soem berbondong-bondong setor hafalan surat Juz 29 pada penghujung semester ini. Semester I akan berakhir hari ...
Cageur – Bageur – Pinter
2 April 2015
Oleh : Mohamad Mustadjab Beberapa gejala-gejala penyakit sosial di dunia pendidikan atau masyarakat pada umumnya yang perlu dicermati : Berkecamuk penyakit ...
How to Handle the Fear of Asking Questions
16 Oktober 2015
written by Siti Suwarni “Do you understand? Do you get the point? Any questions? These are the usual questions the teacher states after explaining the new ...
Banner Pendaftaran
Download File
Keseharian Santri
Kunjungan Jokowi ke Al Ma'soem
Presiden Joko Widodo memberikan pidato dan bingkisan bagi siswa Al Ma'soem

Almasoem Group

Yayasan Al Ma'soem Bandung (YAMB)
Jl. Raya Cipacing No. 22
Jatinangor – Sumedang
Telp. (022) 7798204 – 7798243 – 7792448 –  +628112206666
E-mail: info@masoem.com

Bagikan :
Copyright © almasoem.sch.id 2019
All rights reserved
Scroll Top