Adversity Quotien (AQ), Penunjang Keberhasilan Belajar

12 Agustus 2015 | Dibaca : 954x | Oleh : admiral
Oleh: Siti Suwarni   Siapa sih yang tidak pernah punya masalah dan kesulitan selama hidupnya? Tentu setiap orang pernah mengalaminya hanya berbeda bentuk dan porsinya. Seorang teman pernah berkata,”bukan hidup namanya jika tidak ada masalah, karna sesungguhnya hidup ini sendiri adalah masalah”. Setuju atau tidak dengan pernyataan itu yang jelas setiap orang memiliki masalah nya sendiri dan masalah itu datang silih berganti. Belajar dan berbagai tugas yang menyertainya sering menjadi masalah buat sebagian siswa. Hal ini bisa dilihat dari reaksi yang muncul saat diberi tugas tersebut. Ada tiga reaksi siswa/anak ketika  di beri tugas atau masalah yang harus diselesaikan; ada yang antusias, ada yang diam tanpa reaksi, ada juga yang menolak atau enggan melakukannya. Hal ini wajar saja karna sikap tersebut berkorelasi dengan “Adversity Quotient” masing -masing siswa yang berbeda. Adversity Quotient (AQ) adalah kemampuan atau kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk  mengatasi setiap masalah, hambatan, atau  rintangan dan menjadikannya sebagai sebuah peluang untuk mencapai keberhasilan. Ada tiga tingkatan/golongan dalam AQ yaitu: Tingkat yang paling rendah (QUITTER), siswa/anak yang berada pada tingkat ini cenderung menolak  atau menghindari masalah, tantangan atau kesulitan. Mereka juga menganggap belajar hanya untuk menunaikan kewajiban atau memenuhi tuntutan orang tua/guru.Lebih jauh mereka tidak suka bahkan cenderung  melawan serta lari dari segala bentuk  perubahan. Kata-kata yang sering dipakai sebagai bentuk penolakan seperti “Gak bisa akh”, “Mana mungkin”, “Itu mah konyol”. Siswa/anak dengan adversity quotient yang paling rendah ini memiliki ciri gampang menyerah dan putus asa. Golongan kedua adalah CAMPER. Siswa/anak pada golongan ini masih memiliki inisiatif, sedikit semangat dan usaha ketika dihadapkan pada tantangan, masalah dan kesulitan, hanya mudah puas ketika mencapai tahapan tertentu. Kelompok ini masuk kategori kelompok cari “aman”. Bahasa kompromis yang sering dipakai seperti: “Ngapain capek-capek, segini aja udah cukup”, “Ini cukup bagus kok”, dan “Sampai di sini aja ah”. Karna itu siswa/anak pada golongan ini cenderung tidak  memiliki prestasi  tinggi. Disamping itu mereka  cukup bisa menahan diri terhadap perubahan walau kadang tidak menyukainya. Golongan dengan Adversity Quotient yang tinggi disebut CLIMBER. Siswa/ anak dengan AQ yang tinggi memiliki ciri tidak mudah mengeluh dan berputus asa walau dalam kondisi seburuk apapun. Mereka juga tidak mudah menyalahkan pihak lain atas kesulitan dan hambatan yang mereka hadapi dan bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah. Dalam keterbatasannya, siswa/anak dalam go;ongan ini mampu berpikir, bertindak dan menyiasati diri agar bisa berhasil dan berprestasi. Mereka juga memiliki paradigma atau pola pikir “Karna sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Bukan kah kesulitan atau masalah adalah bagian dari hidup ini sendiri”. Oleh karna ini, mereka menikmati setiap proses menuju keberhasilan. Setiap orang tua atau guru pasti menginginkan setiap anak/siswanya berada pada golongan CLIMBER. Namun pada kenyataannya tidak seperti yang diharapkan.  Ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk meningkatkan kemampuan AQ siswa/anak, antara lain: menonton film-film yang bertema motivasi  tentang keberhasilan orang/tokoh sukses dunia dan juga prestasi orang- orang yang memiliki keterbatasan fisik. Dengan menonton film-film tersebut dapat diambil pelajaran bahwa banyaknya hambatan, dan kesulitan serta keterbatasan fisik  tidak menjadi hambatan untuk meraih prestasi dan keberhasilan. Disamping itu terus memberi pemahaman tentang esensi dari suatu masalah atau kesulitan sehingga bisa mengubah paradigma atau pola pikir anak terhadap masalah, kesulitan dan tantangan menjadi lebih positif. Menyakinkan mereka bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Masalah atau kesulitan itu bukan untuk melemahkan seseorang tetapi  justru membuat dirinya lebih kuat mental. Seperti pepatah “Dimana ada kemauan disitu ada jalan (Where there is a will there is a way)”. Pepatah itu mengandung pesan bahwa akan ada jalan keluar dari setiap masalah. Jika  mereka mampu menyelesaikan setiap kesulitan yang dihadapi akan timbul kepuasan tersendiri dan itu akan menambah kepercayaan diri yang semakin besar.Dengan begitu diharapkan akan timbul motivasi dalam diri siswa/anak untuk terus berusaha dan tidak putus asa ketika dihadapkan pada masalah.  Tetap terus memberi tugas yang harus diselesaikan anak/siswa dan memberi kepercayaan pada mereka untuk menyelesaikannya akan menjadi latihan tersendiri yang cukup baik dalam  meningkatkan AQ. Sesungguhnya orang yang berhasil dan orang yang gagal adalah sama. Sama-sama menghadapi kesulitan. Hanya orang yang berhasil memiliki kecerdasan yang lebih dalam mengolah kesulitan yang dihadapi sebagai tantangan untuk mencapai keberhasilan. Satu kata bijak yang sangat populer  “Kegagalan adalah awal menuju keberhasilan”. Dengan mengalami sebuah kegagalan, akan bisa diketahui dimana letak kelemahan dan kesalahan sehingga bisa memperbaikinya diwaktu mendatang. Memahami keberadaan siswa/anak secara keseluruhan baik bakat, kemampuan dan juga kesulitan -kesulitan yang mereka hadapi adalah sebuah cara bijak untuk menentukan tindakan yang tepat dalam rangka menunjang keberhasilan belajar mereka. “Kalau satu pintu tertutup, lainnya terbuka. Tetapi kita sering memandang terlalu lama dan terlalu penuh penyesalan kepada pintu yang tertutup itu, sehingga kita tidak melihat pintu yang terbuka bagi kita” (Alexander Graham Bell)  
Bagikan :  

Informasi Menarik Lainnya

7 April 2015
Oleh:  Momon, S.S Go blog yang saya maksud dalam judul tulisan ini, bukanlah satu kata dalam bahasa Sunda, goblog yang artinya kurang ajar. Jadi, guru go blog bukan berarti guru kurang ajar.  Akan tetapi, go blog yang saya maksud dalam tulisan ini adalah seorang guru masa kini harus mempunyai ...
Kebohongan Ilmu Sejarah yang Sudah Kita Pelajari Selama Sekolah
22 Agustus 2019
1. Penemu Pertama Bola Lampu Pijar Banyak sekali siswa yang tahu betul siapa penemu bola lampu pijar, mereka pasti akan menjawab Thomas Alva Edison. padahal ...
Duta Hemat Energi Di Sekolah
12 November 2019
Jatinangor,- Indonesian Institute For Energy Economics (IIEE) kembali menyelenggarakan Lomba Hemat Energi se Jawa Barat dimana diikuti oleh 10 sekolah terbaik ...
lingkungan belajar
17 Maret 2021
Foto : Lingkungan belajar kondusif di Al Masoem Almasoem.sch.id,- Salah satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran bagi anak ...

Informasi Pendaftaran

png
SMP SMA
sd
tk
masoem TV
yt psam
YT ALM

Almasoem Group

Yayasan Al Ma'soem Bandung (YAB)
Jl. Raya Cipacing No. 22
Jatinangor – Sumedang

Telp. (022) 7798204 – 7798243 – 7792448
info@masoem.com

 0811224337 (Ayi Miraz)
 081122700227 (Humas/Kantor)
 08112194421 (Sri Hanipah)

 

Bagikan :
Copyright © Almasoem.sch.id 2021
All rights reserved
Scroll Top