adab

5 contoh kegiatan literasi yang bisa dilaksanakan sekolah

Budaya literasi adalah suatu budaya di dalam masyarakat yang meliputi segala usaha manusia yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Komponen utama dalam pembentukan budaya literasi adalah kegiatan membaca, menulis dan berpikir kritis. Budaya literasi ini umum dilaksanakan di sekolah, oleh karena itu sekolah adalah salah satu gerbang pembuka budaya literasi, ketika sekolah tidak mampu untuk memikat siswanya untuk menyukai budaya literasi, tidak akan ada satupun lembaga yang bisa mengganti peranan sekolah, maka dari itu sekolah harus mampu memberikan fasilitas literasi dan memiliki program agar siswa menyukai atau memiliki hobi berliterasi maka dari itu fasilitas kreatif dan metode pembelajaran menjadi peran penting dalam pembentukan budaya literasi di sekolah.

Jika selama ini kita menganggap budaya literasi hanyalah sebatas pembiakan para siswa untuk membaca buku dan menulis serta berhitung, kita salah. Literasi di sekolah bukan sekedar membaca menulis dan berhitung, tapi budaya literasi ini mencangkup keterampilan berpikir siswa menggunakan sumber daya pengetahuan dalam membentuk cetak, visual, digital dan auditori. Pada era revolusi industri 4.0 kemampuan seperti ini disebut juga sebagai budaya literasi informasi.

Budaya literasi  informasi dapat diartikan sebagai sebuah pembiasaan seseorang atau kelompok orang dalam melakukan pemeriksaan atau mengecek kebenaran informasi melalui berbagai sumber. Semua pemahaman tentang literasi atau sumber informasi dibutuhkan pembiasaan atau tradisi untuk membaca. Intinya budaya literasi dengan budaya literasi informasi merupakan satu hal yang sama hanya yang berbeda adalah media yang digunakan jika budaya literasi adalah buku dan berbagai macam media lainnya sedangkan budaya literasi informasi media yang digunakan adalah media berbau digitalisasi dan komputerisasi.

Di pendidikan modern seperti saat ini, budaya literasi sudah mulai bergeser ke budaya literasi informasi, bagaimana tidak banyak anak anak yang sudah malas membaca buku tapi lebih suka mencari sumber informasi di internet padahal di internet belum tentu ada pembenarannya, jika di buku pelajaran mungkin sudah terstandarisasi sedangkan di internet tidak, maka tidak aneh jika dalam sebuah jurnal atau karya tulis bahkan skripsi, kadang ada beberapa universitas yang tidak mengijinkan mahasiswanya untuk mengutip dari internet karena berbagai macam informasi di internet belum tentu ada pembenarannya dan belum tentu ada standar yang menjadi patokan sebuah artikel.

Di sekolah sendiri, baik itu budaya literasi hingga literasi informasi dilaksanakan secara sejajar atau diajarkan secara bersamaan. Karena mau bagaimanapun sekolah memang harus mampu mengikuti perkembangan zaman, bayangkan saja jika di era digitalisasi seperti ini sebuah sekolah masih menggunakan mesin TIK, bagaimana siswa kita bisa bersaing dengan siswa lainnya? Maka dari itu penting bagi sebuah sekolah untuk mampu mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Meskipun akhirnya siswa lebih menyukai literasi digital atau literasi informasi dari pada literasi secara umum. Namun meski begitu sekolah kreatif tidak akan kehilangan cara untuk menjadikan budaya literasi menjadi sebuah hal yang bisa dilaksanakan di sekolah secara menyenangkan, dan berikut adalah 5 contoh kegiatan literasi yang bisa dilaksanakan sekolah di era digital : 

  1. Diskusi Hasil Resensi Buku
  2. Pojok Baca
  3. Pameran Buku
  4. Kunjungan ke penerbit buku terdekat
  5. Kontes Menulis

Diskusi hasil resensi buku

Menjadikan membaca adalah hal yang menyenangkan ada berbagai cara salah satunya adalah cara paksaan seperti Diskusi hasil resensi buku. Betul kenapa saya katakan ini paksaan? Karena memang guru memaksa siswa untuk membaca sebuah buku untuk nanti didiskusikan dengan teman atau sekelompok atau dengan teman sekelas. Disini guru dapat mendapatkan beberapa kesimpulan dari berbagai macam sudut pandang siswa yang akhirnya semua kesimpulannya bisa dibahas lagi di depan kelas.

Pojok Baca

Membuat pojok baca baik di kelas maupun di beberapa spot sekolah memang menjadi salah satu langkah baik untuk mengajarkan budaya literasi kepada siswa di sekolah. Bagaimana tidak, anak anak kadang suka malas untuk membaca, tapi ketika mereka diberikan sebuah fasilitas yang nyaman untuk membaca, buku yang ramah di otak seperti manga, light novel dan berbagai macam buku remaja, anak anak pasti akan suka. Maka jangan aneh, jika pojok baca menjadi salah satu fasilitas menarik untuk meningkatkan budaya literasi siswa di sekolah.

Pameran Buku

Demi meningkatkan budaya literasi sudah sepantasnya setiap sekolah untuk mengajak siswanya datang ke pameran buku, jika memang tidak bisa kenapa tidak membawa atau membuka pameran buku di sekolah? Ini lah salah satu fungsi Pustakawan dan Pustakawati atau seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan / atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan untuk bisa memaksimalkan kreativitasnya di sekolah. Yaitu bekerjasama dengan toko buku, penerbit atau bahkan membuka pameran buku di sekitar sekolah untuk memaksimalkan budaya literasi siswa.

Kunjungan ke penerbit buku terdekat

Setiap sekolah pasti memiliki jadwal untuk melaksanakan kunjungan atau studi banding bahkan berdarmawisata, jika biasanya sekolah selalu mendatangi wahana yang memang bisa digunakan untuk healing, kenapa tidak sesekali datang atau menjadwalkan untuk berkunjung ke penerbit buku terdekat? Selain siswa bisa belajar untuk mengetahui bagaimana buku dicetak hingga disebarluaskan, siswa juga bisa banyak belajar untuk mulai mencintai buku dan menyukai budaya membaca.

Kontes Menulis

Hal yang paling mudah dilaksanakan sekolah terutama sekolah swasta adalah mengadakan kontes menulis bagi siswanya sebagai bahan untuk mengajarkan budaya literasi secara tidak langsung. Jangan lupa juga sertakan hadiah menarik bagi mereka yang berhasil menjadi juara.