MENYOAL SEKOLAH UNGGULAN

2 April 2015 | Dibaca : 111x | Oleh : admiral
Oleh: Kurnia Agustini, S.Pd.   Anak adalah generasi harapan orangtua dan negara. Pada pundak generasi muda digantungkan masa depan sebuah bangsa. Oleh karena itu layak, segala daya dikerahkan  dalam  membentuk para generasi penerus bangsa ini, agar menjadi manusia yang seutuhnya, memiliki jati diri khas, serta bermartabat luhur. Setiap anak memiliki potensi yang terus berkembang. Sebagai makhluk sosial, tentunya anak membutuhkan bantuan dari lingkungannya, ketika mengembangkan seluruh potensi bawaannya secara optimal, baik fisik maupun mental, agar mampu menyesuaikan diri dengan nilai agama, masyarakat, dan negara. Anak mengembangkan potensinya sejak dalam kandungan ibunya, sehingga stimulus pendidikan diberikan sejak saat itu. Pada usia balita hingga anak-anak, kemampuan menyerap pengetahuan dan perkembangan otaknya mencapai 80%. Maka, lingkungan pendidikan yang tepat pada usia ini adalah lingkungan  yang  memaksimalkan kemampuan berpikirnya. Adapun, saat anak memasuki usia remaja, yaitu saat mereka sedang mengembangkan jati diri, saat jiwa mereka penuh rasa ingin mencoba, kritis, dan idealis, maka pada masa transisi ini , bantuan pengembangan potensi dari lingkungan pendidikannya yaitu selain menguatkan kemampuan berpikirnya,  juga disertai penyaluran potensinya yang sedang bergelora. Oleh karena itu, pengembangan potensi anak perlu diupayakan sebelum dan di saat masa sekolah oleh berbagai lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan yang secara langsung  menumbuhkembangkan potensi anak  adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lingkungan pendidikan ini masing-masing memiliki fungsi dan tugas tersendiri yang berbeda, tetapi saling memperkuat. Untuk membangun potensi anak seutuhnya, harus dibangun sinergi antara  pertama, keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama yang  memberi  warna  kepribadian anak, dasar moral, dasar sosial, serta dasar agama. Kedua , sekolah yang berfungsi memperkuat potensi anak. Ketiga, masyarakat yang bertugas sebagai pengontrol berjalannya peran dan fungsi pendidikan keluarga dan sekolah. Adapun peran negara,  sebagai lingkungan pendidikan  tidak langsung,berkewajiban menyediakan fasilitas sarana dan prasarana lengkap, untuk penyelenggaraan pendidikan berkualitas, yang bisa dinikmati seluruh rakyatnya,  sebagai hak seluruh rakyat, tanpa kecuali. Termasuk di dalamnya membentuk sistem dan kurikulum pendidikan yang kuat dan unggul, serta pendaanaan pendidikan yang sangat memadai dalam APBN. Negara menjadi satu-satunya penjamin penyelenggaraan pendidikan berkualitas, baik negeri maupun swasta.  Negara juga harus memberikan contoh lewat penyelenggaraan pendidikan, peraturan dan perundangan, perpolitikan, perekonomian, dsb,  sebuah  sistem yang benar. Demikian juga dengan sikap para pemimpin, penyelenggara pemerintahan, harus menjadi teladan yang baik bagi rakyatnya. Sekolah sebagai sebuah lembaga formal, memiliki program pendidikan yang bersifat terbatas, baku, terencana, terarah dan terpimpin.  Sehingga yang bisa diharapkan dari sekolah adalah melesatkan potensi anak secara kuantitatif, sesuai target kurikulum jenjang pendidikan tsb. Contohnya, waktu sekolah atau belajar terbatas dan baku, materi pelajaran tetap dan baku, evaluasi bersifat kuantitatif, nilai berbentuk angka, dsb. Sebaliknya, pendidikan dalam keluarga dan masyarakat  akan lebih mewujudkan hasil yang bersifat kualitatif. Keluarga dan masyarakat memiliki keleluasaan waktu , materi, dan kefleksibelan program pendidikan. Bahkan keluarga dan masyarakat menyediakan ruang luas bagi anak untuk mengaplikasikan dan menguji kemampuannya dalam kehidupan nyata, sehingga pendidikan lebih bermakna.  Artinya, keutuhan pengembangan potensi anak, hanya bisa terwujud  bila  lingkungan pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara berfungsi maksimal serta saling mendukung. Hanya saja, banyak orangtua yang menempatkan  fungsi sekolah seperti bengkel, yaitu memperbaiki komponen yang telah rusak agar bekerja baik.  Ataupun sekolah diposisikan sebagai lembaga super yang secara ajaib bisa membentuk anak  berkualitas. Hal ini diikuti oleh asumsi, bahwa sekolah Islam unggulan dengan fasilitas lengkap dapat memenuhi fungsi-fungsi tersebut. Ketika sudah membayar sekolah mahal, maka orangtua merasa otomatis lepaslah peran dan kewajibannya dalam menyediakan lingkungan pendidikan keluarga yang kondusif.  Gugur pula kontrol masyarakat atas pendidikan yang baik. Masyarakat merasa cukup, aman, tenteram, dengan maraknya sekolah unggulan, sebagai jaminan kualitas pendidikan.  Akibatnya, sekolah unggulan menjadi jaminan tunggal keberhasilan pengembangan potensi anak. Padahal, sikap ini sejatinya kontraproduktif dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan. Mengapa demikian? karena faktanya, anak adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari pengaruh stimulus seluruh lingkungan pendidiknya, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, dan negaranya . Walaupun misalnya, ia bersekolah di lembaga yang  notabene steril dari interaksi dengan masyarakat, tetap saja, ia akan berinteraksi dengan media masyarakat.  Apalagi globalisasi meniscayakan interaksi lewat media. Juga, apakah  mungkin, anak bisa disterilkan dari interaksi keluarga? Oleh karena itu, seluruh lingkungan pendidikan yang mempengaruhi anak, harus sama baik kualitasnya. Perlu adanya kesepahaman antara orangtua, sekolah, masyarakat, dan negara, untuk menjalankan tugas dan fungsi masing-masing pihak. Bagaimanapun, perlakuan sekolah unggulan terhadap anak didiknya, sangat dipengaruhi oleh tuntutan orangtua, masyarakat, serta sistem yang berlaku di negaranya. Sekolah saat ini, terutama swasta,akan mati-matian berusaha memenuhi selera peminatnya. Contohnya dengan adanya program MEA yang dicanangkan pemerintah, maka sekolah dituntut menjadi wadah penyedia kebutuhan pasar kerja.  Dengan kata lain, bermunculannya sekolah dengan berbagai kriteria unggulan seperti agama, sainsdan teknologi, olahraga, bahasa, matematika,  disiplin, akhlak,  keterampilan, wirausaha,dsb, tak lepas dari tuntutan masyarakat dan peran negara, dimana sekolah itu tumbuh. Akhirnya,  jika orangtua dan masyarakat salah meminta, atau meminta membabi-buta, ditambah negara yang abai terhadap kualitas pendidikan, maka  bukan hanya sekolah akan babak-belur dibuatnya, melainkan  orangtua pun akan mengejar fatamorgana. Sekolah yang berkualitas adalah suatu keniscayaan kebutuhan dalam pengembangan potensi anak. Akan tetapi hendaknya dengan standar  serta paradigma yang benar . Lalu bagaimana cara memilih sekolah khususnya bagi remaja, yang bagus saat ini dan memosisikannya dengan benar? Inilah beberapa cara yang bisa digunakan. Orang tua harus jeli, kritis, dan bijaksana dalam memilih sekolah untuk buah hatinyaPertama, sebagai langkah awal, bisa dengan melihat penampilan fisik sekolah. Kelengkapan fasilitas, kebersihan dan sanitasi bangunan, keteraturan dan keindahan penataan,  memang bisa menjadi salah satu standar kasat-mata. Bagaimanapun kelengkapan dan keindahan fasilitas  fisik sekolah, menyamankan anak dalam belajar. Kedua, ada dialog bernas antara orangtua dan orang yang berkompeten dari pihak sekolah, untuk menguji kualitas isi sekolah tsb. Orangtua harus sedikit mengenal kurikulum sekolah itu, apakah cukup mampu mengembangkan potensi pengetahuan dan kecerdasan anak? Apakah proses pembelajaran  didukung oleh pengajar yang ahli dalam mendidik dan ahli di bidang pelajarannya.? Apakah alat, media, sarana dan prasarana pembelajaran lengkap dan menunjang pencapaian materi pelajaran? Ketiga, orang tua harus memahami benar sistem tatatertib sekolah tersebut, apakah secara mendasar mencerminkan pembiasaan pendidikan perilaku yang baik buat anak? Oleh karena peraturan yang baik bukan hanya berkutat pada keseragaman penampilan fisik, tetapi lebih menonjolkan keseragaman tingkah-laku berdasarkan standar yang jelas, yaitu agama. Pembiasaan perilaku berdasarkan agama ini akan tercermin dalam butir-butir peraturan yang diberlakukan di sekolah. Ditunjang dengan kekonsistenan sanksi bila aturan tidak dilaksanakan. Aturan yang baik pun bukan harus detil dan rinci, tetapi justru mendasar, mencakup, dan menyeluruh. Aturan  sekolah yang berbasis aturan agama, diyakini memenuhi standar mutu ketercakupan mendasar dan kemenyeluruhan perilaku siswa yang benar. Keempat, tidak kalah penting adalah kegiatan kokulikuler dan ekstrakulikuler yang ada di sekolah tsb. Kegiatan ini adalah media penyaluran potensi remaja yang begitu menggelora dalam bentuk positif. Ragam kegiatan ini harus mampu mewadahi seluruh potensi bermacam anak, menumbuhkan kreativitas anak dengan benar.  Selain  juga, kegiatan kulikuler menjadi sarana pembiasaan anak untuk mandiri, bertanggung-jawab, berani berpendapat, berkomitmen, mampu berkerjasama, memimpin, dipimpin, dll. Kelima, warna dan aroma pendidikan harus dirasakan oleh orangtua ketika memasuki  lingkungan sekolah. Walaupun dituntut memberi pelayanan maksimal, tetapi sekolah yang baik adalah berani bersikap,  tegas, serta konsisten. Sistem pelayanan sekolah bersifat terbuka, memudahkan,  mengayomi, membimbing, mendampingi, memotivasi kepada setiap komponen pendidikan. Penampilan, perkataan, sikap, dan bahasa tubuh  para penyelenggara pendidikan santun, rendah hati, saling menghargai, dan saling mendukung. Sekolah adalah lingkungan pendidikan, maka yang kental di dalamnya seharusnya adalah nuansa pendidikan. Jika pun sekolah itu harus mahal, tetapi bukan kesan komersil yang ditonjolkan. Tak ada gading yang tak retak, maka tak ada sekolah formal yang sempurna. Akan tetapi  alternatif pilihan bagi kita adalah sekolah mana yang  mendekati standar , walau tidak memenuhi seluruh kualifikasi yang kita tetapkan. Bila sekolah seperti itu sudah ditemukan, maka orangtua harus tetap menjadi partner setia untuk mendukungnya, dengan memberi pendidikan terbaik di rumah. Pula,  sebagai bagian masyarakat, orangtua tetap  mendampingi, mengawasi, memberi masukan, bersikap proaktif  kepada sekolah, demi kemajuan buah hati tercinta. Sekolah  unggulan sama sekali tidak bisa menggantikan fungsi orangtua. Demikian juga orangtua, tidak bisa dengan sempurna menggantikan fungsi sekolah formal. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara berjalan beriringan untuk mewujudkan cita-cita yang sama tentang generasi terbaik harapan masa depan. Sekolah harus menjadi tempat yang dirindukan anak yang haus ilmu. Tempat yang aman bagi para orangtua untuk menitipkan putra-putrinya. Tempat benih yang telah tumbuh dengan baik, dapat berbuah sempurna. Semoga masa sekolah menjadi masa yang terindah untuk generasi tersayang…amiin Anda sudah menemukan kriteria sekolah pilihan itu di Yayasan Pendidikan Al-Masoem? Bersyukurlah lalu jadilah bagian di dalamnya….   Kurnia Agustini, S. adalah Guru SMA Al-Masoem.
Bagikan :  

Informasi Menarik Lainnya

SMP Al Ma'soem Berprestasi di LKJS Tingkat Nasional
19 Oktober 2015
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menyelenggarakan Lomba Karya Jurnalistik Siswa (LKJS) Tingkat Nasional 2015, jenjang Sekolah Menengah Pertama ...
The Al Ma’soem Library
1 September 2016
There’s been a new addition to Yayasan Al Ma’soem Bandung’s vast developing facilities; the Al Ma’soem Library. The library which located near the ...
Masa Sekolah di Al Ma’soem
16 Maret 2015
Oleh: Ir. Tonton Taufik, MBA Masa sekolah - Bel sekolah berbunyi setiap pagi di SMA Al Ma’soem, berlari ke kelas, kejar teman yang ngumpetin buku pelajaran, ...
SMA Al Ma’soem Toreh Prestasi Pada Pasanggiri Monolog Bahasa Sunda 2015
13 Oktober 2015
Tim seni sunda SMA Al Ma’soem pada 9 Oktober 2015 lalu mengikuti kejuaran Pasanggiri Monolog Basa Sunda II/SMA/SMK/Satata Sa-Jawa Barat yang ...
INKUBATOR BISNIS AMIK AL MA’SOEM
4 Mei 2015
Oleh: Encep Supriatna, S.Kom, MM Apa istimewanya AMIK Al Ma’soem dibanding PTS lain di Jawa Barat ini ? AMIK Al Ma’soem adalah perguruan tinggi yang ...

Informasi Pendaftaran

Banner Almasoem
Keseharian Santri
Kunjungan Jokowi ke Al Ma'soem
Presiden Joko Widodo memberikan pidato dan bingkisan bagi siswa Al Ma'soem

Almasoem Group

Yayasan Al Ma'soem Bandung (YAMB)
Jl. Raya Cipacing No. 22
Jatinangor – Sumedang
Telp. (022) 7798204 – 7798243 – 7792448
E-mail: info@masoem.com

Bagikan :
Copyright © Almasoem.sch.id 2017
All rights reserved
Scroll Top